Fakta.blogsome.com ! www.Fakta.cjb.net ! www.Fakta.info.tm :: FAKTAkan yang Haq

30 - November - 2007

Rasulullah & Para Shahabat Bukan Demonstran!

Filed under: Umum

 

Masih mengenai topik Berhala Demokrasi…
(Menyambung tulisan terdahulu http://fakta.blogsome/2007/11/25/julukan-wahabi-keranjang-sampah/)
Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Abdurahman Abdul Khaliq (mufti besar Ihya’ At-Turats Al-Kuwaiti) yang mengatakan (artinya): "Termasuk metode atau cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah adalah demonstrasi atau unjuk rasa." (Al-Fushul Minas Siyasah Asy-Syar’iyyah, hal. 31-32)…
Di sana terdapat kesesatan dan tasyabbuh dengan turut sertanya para wanita dalam demonstrasi.
Demikian itu merupakan kesempurnaan tasyabbuh terhadap orang kafir, baik laki-laki atau perempuan. Karena, kita melihat melalui foto-foto, atau berita lewat radio dan televisi atau selainnya, tentang keluarnya beribu-ribu manusia dari kalangan orang-or­ang kafir Afrika maupun Syiria dan yang lainnya. Menurut ungkapan orang-orang Syam, keluarnya laki-laki dan wanita dalam keadaan "meleit temkit”. Meleit temkit maksudnya mereka berdesakan antara punggung dengan punggung, atau pinggul dengan pinggul dan Iain-lain…Dari sini, setiap jama’ah hizbiyah, kelompok Islam jelas telah melakukan kekeliruan besar karena tidak menelusuri jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam merubah keadaan masyarakat. Tidak ada dalam aturan Islam merubah keadaan masyarakat dengan cara bergerombol-gerombol, berteriak-teriak dan demonstrasi (unjuk rasa). Islam mengajarkan ketenangan, dengan mengajarkan ilmu di kalangan kaum muslimin serta mendidik mereka di atas syariat Islam sampai berhasil, walaupun harus dengan waktu yang sangat panjang.
Selengkapnya…Gejolak unjuk rasa atau demonstrasi yang saat ini sedang marak, mengundang komentar banyak pengamat. Sebagian mereka mengatakan: "Aksi ujuk rasa ini dipelopori oleh oknum-oknum tertentu." Adapula yang berkomentar, "Tidak mungkin adanya gejolak kesemangatan untuk aksi kecuali ada yang memicu atau ngompori." Sedangkan yang lain berkata: "Demonstrasi ini adalah ungkapan hati nurani rakyat". Demikian komentar para pengamat tentang demonstrasi yang terjadi di hampir semua universitas di Indonesia. Sebagian mereka menentangnya dan menganggap para mahasiswa itu ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu. Sebagian lain justru mendukung mati-matian dan menganggapnya sebagai jihad.
Namun dalam tulisan ini kita tidak menilai mana pendapat pengamat yang benar dan mana yang salah. Tetapi kita berbicara dari sisi: Apakah demonstrasi ini bisa digunakan sebagai sarana / alat dakwah kepada pemerintah atau tidak? Atau, apakah tindakan ini bisa dikatakan sebagai jihad?[1].

Demonstrasi Pertama dalam Sejarah Islam
Kasus terbunuhnya Utsman bin Affan dan timbulnya pemikiran Khawarij sangat erat hubungannya dengan demonstrasi. Kronologis kisah terbunuhnya Utsman radliyallahu ‘anhu adalah berawal dari isyu-isyu tentang kejelekan khalifah Utsman yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ di kalangan kaum muslimin.
Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam[2]. Sedangkan kita telah maklum bagaimana karakter Yahudi itu karena Allah telah berfirman (artinya):
"Niscaya engkau akan dapati orang yang paling memusuhi (murka) kepada orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin." (Al-Maidah: 82)
Permusuhan kaum Yahudi terlihat sejak berkembangnya Islam, seperti mengkhianati janji mereka terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, merendahkan kaum muslimin, mencerca ajaran Islam dan banyak lagi (makar-makar busuk mereka). Setelah Islam kuat, tersingkirlah mereka dari Madinah. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam, jil. 3 hal 191,199)
Pada jaman Abu Bakar dan Umar radliyallahu ‘anhuma, suara orang-orang Yahudi nyaris hilang. Bahkan Umar mengusir mereka dari jazirah Arab sebagai realisasi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah bersabda (artinya):
"Sungguh akan aku keluarkan orang-orang Yahudi dan Nashara dari Jazirah Arab sampai aku tidak sisakan padanya kecuali orang muslim."
Juga ucapan beliau (artinya): "Keluarkanlah orang-orang musyrikin dari Jazirah Arab!" (HR. Bukhari)
Di tahun-tahun terakhir kekhalifahan Utsman radliyallahu ‘anhu, di saat kondisi masyarakat mulai heterogen, banyak mualaf dan orang awam yang tidak mendalam keimanannya, mulailah orang-orang Yahudi mengambil kesempatan untuk mengobarkan fitnah. Mereka berpenampilan sebagai muslim, dan di antara mereka adalah Abdullah bin Saba’ yang dijuluki Ibnu Sauda. Orang yang berasal dari San’a ini menebarkan benih-benih fitnah di kalangan kaum muslimin agar mereka iri dan benci kepada Utsman radliyallahu ‘anhu. Sedangkan inti dari apa yang dia bawa adalah pemikiran-pemikiran pribadinya yang bernafaskan Yahudi. Contohnya adalah qiyasnya yang batil tentang kewalian Ali radliyallahu ‘anhu. Dia berkata (artinya): "Sesungguhnya telah ada seribu nabi dan setiap nabi mempunyai wali. Sedangkan Ali adalah walinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam." Kemudian dia berkata lagi: "Muhammad adalah penutup para nabi sedangkan Ali adalah penutup para wali."
Tatkala tertanam pemikiran ini dalam jiwa para pengikutnya, mulailah dia menerapkan tujuan pokoknya yaitu melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Utsman bin Affan radliyaliahu ‘anhu. Maka dia melontarkan pernyataan pada masyarakat yang bunyinya (artinya): "Siapa yang lebih dhalim daripada orang yang tidak pantas mendapatkan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (kewalian rasul), kemudian dia melampaui wali Rasulullah (yaitu Ali) dan merampas urusan umat (pemerintahan)!" Setelah itu dia berkata (artinya): "Sesungguhnya Utsman mengambil kewalian (pemerintahan) yang bukan haknya, sedang wali Rasulullah ini (Ali) ada (di kalangan kalian). Maka bangkitlah kalian dan bergeraklah. Mulailah untuk mencerca pejabat kalian, tampakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Niscaya manusia serentak mendukung dan ajaklah mereka kepada perkara ini." (Tarikh Ar-Rasul’  juz 4 hal 340 karya Ath-Thabary melalui Mawaqif).
“Amar ma’ruf nahi mungkar” ala Ibnu Saba’iyah ini sama modelnya dengan “amar ma’ruf” menurut Khawarij yakni keluar dari pemerintahan dan memberontak, memperingatkan kesalahan aparat pemerintahan di atas mimbar-mimbar, forum-forum dan demonstrasi-demonstrasi yang semua ini mengakibatkan timbulnya fitnah. Masalah pun bukan semakin reda, bahkan tambah menyala-menyala. Fakta sejarah telah membuktikan hal ini. Amar ma’ruf nahi mungkar ala Ibnu Saba’iyah dan Khawarij ini mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu, peperangan sesama kaum muslimin dan terbukanya pintu fitnah dari jaman Khalifah ‘Utsman sampai jaman kekhalifahan ‘Ali bin AbiThalib radliyaliahu ‘anhu (Tahqiq Mawaqif Ash-Shahabati fil Fitnati min Riwayat Al-Imam Ath-Thabari wal Muhadditsin juz 2 hal 342).
Sebenarnya amar ma’ruf nahi mungkar yang mereka gembar-gemborkan hanyalah sebagai label dan tameng belaka. Buktinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Utsman (artinya):
“Hai ‘Utsman, nanti sepeninggalku Allah akan memakaikan pakaian padamu. Jika orang-orang ingin mencelakakanmu pada waktu malam —dalam riwayat lain—: Orang-orang munafiq ingin melepaskannya, maka jangan engkau lepaskan. Beliau mengucapkannya tiga kali." (HR Ahmad dalam Musnadnya, juz 6 hal 75 dan At-Tirmidzi dalam Sunannya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/210 no. 2923).
Syaikh Muhammad Amhazurn berkomentar (artinya): "Hadits ini menunjukkan dengan jelas bahwa orang Khawarij tidaklah menuntutkeadilan dan kebenaran, akan tetapi mereka adalah kaum yang dihinggapi penyakit nifaq sehingga mereka bersembunyi di balik tabir syiar perdamaian dan amar ma’ruf nahi mungkar. Tidak diketahui di satu jaman pun adanya suatu jama’ah atau kelompok yang lebih berbahaya bagi agama Islam dan kaum muslimin daripada orang-orang munafiq." (Tahqiq Mawaqif Ash-Shahabati juz 1 hal 476).
Inilah hakikat amar ma’ruf nahi mungkar kaum Ibnu Saba’iyyah dan Khawarij. Alangkah serupanya kejadian dulu dan sekarang?!
Di jaman ini ternyata ada Khawarij gaya baru, yaitu orang-orang yang mempunyai pemikiran khawarij. Mereka menjadikan demonstrasi, unjuk rasa dan sebagainya sebagai alat dan metode dakwah serta jihad. Di antara tokoh-tokoh mereka adalah Abdurahman Abdul Khaliq yang mengatakan (artinya): "Termasuk metode atau cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah adalah demonstrasi atau unjuk rasa."
Sebelum kita membongkar kebatilan ucapan ini dan kesesatan manhaj Khawarij dalam beramar ma’ruf nahi mungkar kepada pemerintahan, marilah kita pelajari manhaj salafus shalih dalam perkara ini.

Manhaj Salafus Shalih Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar kepada Pemerintah
Allah adalah Dzat yang Maha Adil. Dia akan memberikan kepada orang-orang yang beriman seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Sebaliknya dia akan menjadikan bagi rakyat yang durhaka seorang pemimpin yang dhalim. Maka jika terjadi pada suatu masyarakat seorang pemimpin yang dhalim, sesungguhnya kedhaliman tersebut dimulai dari rakyatnya. Meskipun demikian apabila rakyat dipimpin oleh seorang penguasa yang melakukan kemaksiatan dan penyelisihan (terhadap syari’at) yang tidak mengakibatkan ia kufur dan keluar dari Islam, maka tetap wajib bagi rakyat untuk menasihati dengan cara yang sesuai dengan syari’at. Bukan dengan ucapan yang kasar lalu dilontarkan di tempat-tempat umum, apalagi menyebarkan dan membuka aib pemerintah, yang semua ini dapat menimbulkan fitnah yang lebih besar lagi dari permasalahan yang mereka tuntut.
Adapun dasar memberikan nasehat kepada pemerintah dengan sembunyi-sembunyi adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya):
‘Barangsiapa yang hendak menasehati pemerintah dengan suatu perkara; maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima, maka itu (yang dinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh dia telah menyampaikan nasehat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasehati)."
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 5/229, Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah 2/522, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah 2/121. Riwayat ini banyak yang mendukungnya sehingga hadits ini kedudukannya shahih, bukan hasan apalagi dlaif sebagaimana sebagian ulama mengatakannya. Demikian keterangan Syaikh Abdullah bin Barjas bin Nashir Ali Abdul Karim rahimahullah(lihat Muamalatul Hukam fi Dlauil Kitab was Sunnah hal. 54). Dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Dzilalul Jannah fit Takhriji Sunnah 2/521-522.
Hadits ini adalah pokok dasar dalam menasehati pemerintah. Orang yang menasehati jika sudah melaksanakan cara ini, maka dia telah berlepas diri (dari dosa) dan pertanggungan jawab. Demikian dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Barjas rahimahullah.
Bertolak dari hadits yang agung ini, para ulama salaf berkata dan berbuat sesuai dengan kandungannya. Di antara mereka adalah Imam Asy-Syaukani yang berkata (artinya): "Bagi orang-orang yang hendak menasehati imam (pemimpin) dalam beberapa masalah —lantaran pemimpin itu telah berbuat salah—, seharusnya ia tidak menempatkan kata-kata yang jelek di depan khalayak ramai. Tetapi sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seorang tadi mengambil tangan imam dan berbicara empat mata dengannya, kemudian menasehatinya tanpa merendahkan penguasa Allah. Kami telah menyebutkan pada awal kitab As-Sair. Bahwasanya tidak boleh memberontak terhadap pemimpin walaupun kedhalimannya sampai puncak kedhaliman apapun, selama mereka menegakkan shalat dan tidak terlihat kekufuran yang nyata dari mereka. Hadits-hadits dalam masalah ini mutawatir. Akan tetapi wajib atas makmur (rakyat) mentaati imam (pemimpin) dalam ketaatan kepada Allah dan tidak mentaatinya dalam maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala." (As-Sailul Jarar 4/556)
Imam Tirmidzi membawakan sanadnya sampai ke Ziyad bin Kusaib Al-Adawi. Beliau berkata (artinya): "Aku di samping Abu Bakrah, berada di bawah mimbar Ibnu Amir. Sementara itu Ibnu Amir tengah berkhutbah dengan mengenakan pakaian tipis". Maka Abu Bilal[3] berkata, "Lihatlah pemimpin kita, dia memakai pakaian orang fasik." Lantas Abu Bakrah berkata, "Diam kamu! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang menghina (merendahkan) penguasa yang ditunjuk Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya." (Sunan At-Tirmidzi no. 2224)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan tata cara menasehati seorang pemimpin sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syaukani, sampai pada perkataannya (artinya): "….sesungguhnya menyelisihi pemimpin dalam perkara yang bukan prinsip dalam agama dengan terang-terangan dan mengingkari-nya di perkumpulan-perkumpulan masjid, selebaran-selebaran, tempat-tempat kajian dan sebagainya, itu semua sama sekali bukan tata cara menasehati. Oleh karena itu, jangan engkau tertipu dengan orang yang melakukannya, walaupun timbul dari niat yang baik. Hal itu menyelisihi cara salafus shalih yang harus diikuti. Semoga Allah memberi hidayah padamu." (Maqasidul Islam hal. 395)
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, bahwasanya beliau ditanya (artinya): "Mengapa engkau tidak menghadap Utsman untuk menasehatinya?" Maka jawab beliau: "Apakah kalian berpendapat semua nasehatku kepadanya harus diperdengarkan kepada kalian? Demi Allah, sungguh aku telah menasehatinya hanya antara aku dan dia. Dan aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka pintu (fitnah) ini." (HR. Bukhari 6/330, 13/48 Fathul Bari; Muslim dalam Shahihnya 4/2290)
Syaikh Al-Albani mengomentari riwayat ini dengan ucapannya (artinya): "Yang beliau (Usamah bin Zaid) maksudkan adalah (tidak melakukannya – pent) terang-terangan di hadapan khalayak ramai dalam mengingkari pemerintah. Karena pengingkaran terang-terangan bisa berakibat yang sangat mengkhawatirkan. Sebagaimana pengingkaran secara terang-terangan kepada Utsman mengakibatkan kematian beliau[4]."
Demikian metode atau manhaj salaf dalam amar ma’ruf nahi mungkar kepada pemerintah atau orang yang mempunyai kekuasaan. Dengan demikian batallah manhaj Khawarij yang mengatakan bahwa demonstrasi termasuk cara untuk berdakwah, sebagaimana yang dianggap oleh Abdurrahman Abdul Khaliq.
Manhaj Khawarij ini menjadi salah satu sebab jeleknya sifat orang-orang khawarij. Sebagaimana dalam riwayat Said bin Jahm, beliau berkata (artinya): “Aku datang ke Abdullah bin Abu Aufa. beliau matanya buta, maka aku mengucapkan salam.” Beliau bertanya padaku: "Siapa engkau?" "Said bin Jahman", jawabku. Beliau bertanya: "Kenapa ayahmu?" Aku katakan: “Al-Azariqah[5] telah membunuhnya." Beliau berkata: "Semoga Allah melaknat Al-Azariqah, semoga Allah melaknat Al-Azariqah. Rasulullah shallallahu "alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka anjing-anjing neraka." Aku bertanya: "(Yang dilaknat sebagai anjing-anjing neraka) Al-Azariqah saja atau Khawarij semuanya?" Beliau menjawab: "Ya, Khawarij semuanya." Aku katakan: "Tetapi sesungguhnya pemerintah (telah) berbuat kedhaliman kepada rakyatnya." Maka beliau mengambil tanganku dan memegangnya dengan sangat kuat, kemudian berkata: "Celaka engkau wahai Ibnu Jahman, wajib atasmu berpegang dengan sawadul a’dham, wajib atasmu untuk berpegang dengan sawadul a’dham. Jika kau ingin pemerintah mau mendengar nasehatmu, maka datangilah dan kabarkan apa yang engkau ketahui. Itu kalau dia menerima, kalau tidak, tinggalkan! Sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya" (HR. Ahmad dalam musnadnya 4/383)
Dan masih banyak lagi hadits-hadits mengenai celaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang Khawarij sebagai anjing-anjing neraka, karena perbuatan mereka sebagaimana telah dijelaskan.
Oleh karena itu, bagi seorang muslim yang masih mempunyai akal sehat, tidak mungkin dia akan rela dirinya terjatuh pada jurang kenistaan seperti yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagai anjing-anjing neraka). Maka wajib bagi kita apabila hendak menasehati pemerintah, hendaklah dengan metode salaf yang jelas menghasilkan akibat yang lebih baik dan tidak menimbulkan bentrokan fisik antara rakyat (demonstran) dengan aparat pemerintah yang akhirnya membawa kerugian di kedua belah pihak atau munculnya tindak anarki.

Demontrasi atau Unjuk Rasa Merupakan Bentuk Tasyabbuh (menyerupai) Orang-Orang Kafir
Sangat disayangkan, para demonstran ini mayoritas mereka adalah aktivitis-aktivitis Islam. Tetapi rnengapa mereka melakukan hal ini? Mana ciri Islam mereka? Atas dasar apa melakukan hal itu? Apakah berdasarkan dalil ataukah berlandaskan syubhat (kekaburan pemahaman)? Mereka —mahasiswa/rakyat yang beragama Islam— tidak sadar bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, junjungan mereka; yaitu larangan menyerupai orang-orang kafir. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan (artinya): "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka mereka termasuk kaum tersebut." Masalah demonstrasi ini termasuk bentuk tasyabbuh terhadap orang kafir. Telah diterangkan oleh Syaikh Al-Albani hafidhahullah tatkala seorang penanya menyampaikan pertayaan kepada beliau yang lengkapnya demikian (artinya):
Penanya: "Apa hukumnya demonstrasi/ujuk rasa, misalnya para remaja, laki-laki maupun perempuan keluar ke jalan-jalan?"
Syaikh: "Para perempuan juga."
Penanya: "Benar! Sungguh ini telah terjadi."
Syaikh: "Masya Allah."
Penanya: "Mereka keluar ke jalan-jalan dalam rangka menentang sebagian permasalahan yang dituntut atau diperintahkan oleh orang yang mereka anggap thaghut-thaghut, atau apa yang mereka tuntut dari organisasi/partai-partai politik yang bertentangan dengan mereka. Apa hukumnya perbuatan ini?"
Syaikh: "Aku katakan —wabillahit taufiq—, jawaban dari soal ini masuk pada kaidah dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikeluarkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya. dari Abdullah bin ‘Amr bin "Ash radliyallahu ‘anhu atau hadits Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu —saya ragu apakah beliau Abdullah bin Amr atau Ibnu Umar—, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Aku diutus dengan pedang dekat sebelum hari kiamat sampai hingga hanya Allah-lah yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombak, dijadikan kerendahan dan kekerdilan atas orang yang menyelisihi pemerintah. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum mereka."
Yang dijadikan dalil dari ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah perkataan: “Barangsiapa yang meyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum mereka."
Maka tasyabbuh (penyerupaan) seorang muslim kepada seorang kafir tidak dibolehkan dalam Islam. Tasyabbuh kepada seorang kafir ada beberapa tingkatan dari segi hukum. Yang tertinggi adalah haram dan yang terendah adalah makruh. Permasalahan ini sudah diterangkan secara rinci oleh Syaikhul Islam di dalam kitabnya yang agung, Iqtidla’ Shirathal Mustaqim, Mukhalafata Ashabil Jahim, secara rinci dan tidak akan didapat selain dari beliau rahimahullah. Aku ingin memperingatkan perkara yang lain, yang sepantasnya bagi thalibul ilmi memperhatikannya agar tidak menyangka bahwa hanya tasyabbuh saja yang dilarang syariat.
Ada perkara lain —yang lebih tersamar— yaitu perintah untuk menyelisihi orang-orang kafir. Tasyabbuh kepada orang-orang kafir adalah menjalankan kesukaan mereka. Adapun menyelisihi orang-orang kafir adalah engkau bermaksud menyelisihi mereka pada apa yang kita dan mereka mengerjakannya tetapi mereka tidak merubahnya. Seperti sesuatu yang ditetapkan dengan ketetapan yang alami. Maka ini adalah ketetapan alami, yang tidak berbeda antara muslim dengan kafir, karena sesungguhnya pada ketetapan ini, tidak ada usaha dan kehendak dari makhluk. Karena yang demikian adalah sunnatullah Tabaraka wa Ta’ala kepada manusia, dan engkau tidak akan mendapati sunatullah itu berubah. Sebagaimana telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya):
"Sesungguhnya or­ang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir rambut-rambut mereka, maka selisihi mereka (2x)."
Sungguh dalam hal ini seorang mukmin mungkin menyerupai orang kafir dalam hal uban. Dan ini tidak ada perbedaannya. Engkau tidak akan menemukan seorang muslim yang tidak beruban kecuali sangat sedikit sekali. Ada kesamaan di sini pada penampilan antara muslim dan kafir yang sama-sama keduanya tidak bisa memiliki/mengatur sebagaimana yang kami katakan tadi. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menyelisihi kaum musyrikin, yakni dengan menyemir uban rambut-rambut kita. Sama saja rambut, jenggot atau kepala. Untuk apa? Agar dengan ini tampak perbedaan antara muslim dan kafir. Maka apa tujuannya kalau apabila seorang kafir mengerjakan suatu amalan, lalu seorang muslim ikut melakukannya dan terpengaruh dengan perbuatan-perbuatan mereka? Ini kesalahan yang lebih parah daripada menyelisihi. Dalam masalah ini, aku memperingatkannya sebelum memasuki bahasan dalam menerangkan jawaban yang ditujukan padaku. Jika telah diketahui perbedaan antara tasyabbuh dengan penyelisihan, maka seorang muslim yang benar keIslamannya hendaknya terus menerus berusaha menjauhi bertasyabbuh dengan or­ang kafir. Sebaliknya harus berusaha menyelisihi mereka. Dengan alasan inilah kami menyunnahkan (membiasakan) meletakkan jam tangan di tangan kanan, karena mereka yang pertama kali membuat jam tangan memakainya di tangan kiri.
Kami mengambil istinbath demikian berdasar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya): "Maka selisihilah mereka." Kalian mengetahui hadits ini (artinya): "bahwa Yahudi dan Nashara tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka". Sebagaimana yang diucapkan Syaikhul Islam dalam kitab tersebut (iqtidla). Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya): "Maka selisihilah mereka," merupakan hujjah yang mengisyaratkan penyelisihan terhadap orang-orang kafir sebagaimana yang dikehendaki oleh As-Sami’ul ‘Alim (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kami mendapati praktek penyelisihan dalam amalan dan hukum-hukum bukan termasuk wajib. Seperti makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau, "Shalatlah kalian diatas sandal-sandal kalian", "Selisihilah Yahudi (2x)." Di sini diketahui bahwasanya shalat memakai san­dal bukan fardlu. Beda dengan memanjangkan jenggot, karena orang yang mencukurnya akan mendapat dosa. Adapun shalat dengan bersandal itu adalah perkara yang sunnah (mustahab). Namun apabila seorang muslim terus menerus tidak memakai sandal ketika shalat, justru telah menyelisihi sunnah, dan bukan menyelisihi Yahudi.
Ada suatu hal yang perlu diperhatikan di sini sebagaimana dalam riwayat sikap tawadlu Ibnu Mas’ud ketika beliau mempersilakan Abu Musa Al-Asy’ari mengimami shalat waktu itu. Padahal kedudukan Ibnu Mas’ud lebih utama dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu. Pada waktu itu Abu Musa Al-Asy’ari melepas sandalnya, dan segera ditegur dengan keras oleh Ibnu Mas’ud. "Bukankah ini perbuatan orang-orang Yahudi? Apakah kau menganggap dirimu ada di lembah Thursina yang disucikan?" Ucapan Ibnu Mas’ud ini menegaskan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,"Shalatlah di atas sandal kalian dan selisihilah Yahudi!"
Apabila dua hakekat ini telah dipahami, yaitu (larangan) tasyabbuh dan (perintah) menyelisihi kaum musyrikin, maka wajib bagi kita untuk menjauhi setiap perilaku kesyirikan dan segala bentuk kekufuran.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya): "Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan yang ditempuh oleh orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan kalaupun mereka menyusuri atau masuk ke lubang biawak niscaya kalian pun akan memasukinya."
Berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mengandung peringatan bagi umat ini. Namun di samping itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan dalam hadits mutawatir (artinya): "Akan selalu ada dari umatku suatu kelompok yang menampakkan al-haq. Tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka sampai datang hari kiamat."
Jadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu telah memberikan kabar gembira dalam hadits shahih ini bahwasanya umat ini terus dalam keadaan baik. Tatkala datang berita ini, yaitu "sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan sebelum kalian," Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memaksudkan dalam hadits ini setiap individu dari umatnya akan mengikuti jalan orang-orang kafir. Maka ucapan itu bermakna peringatan artinya: "hati-hati kalian, jangan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian. Dan sesungguhnya akan ada dari kalian orang-orang yang melakukannya."
Dalam riwayat lain selain riwayat As-Shahihain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan perbuatan orang Yahudi pada tingkat yang sangat parah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (dalam riwayat itu, artinya): "Bahkan ada dari mereka (Yahudi) orang yang mendatangi (menzinahi) ibunya di tengah-tengah jalan, dan niscaya akan ada pula dari kalian yang akan melakukannya."
Kecenderungan pada jaman ini telah membuktikan kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, walaupun masih perlu adanya penelitian yang lebih mendalam.
Dan pada sebagian hadits-hadits yang telah tsabit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ada di antara manusia bersetubuh seperti bersetubuhnya keledai di jalan-jalan." Ini adalah puncak kejelekan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir.
Apabila kalian telah mengetahui larangan bertasyabbuh dan perintah untuk menyelisihi (orang-orang kafir), maka kembali kepada permasalahan demonstrasi (unjuk rasa), kita saksikan dengan mata kepala sendiri saat Perancis menguasai Syiria dan apa yang terjadi di Aljazair. Di sana terdapat kesesatan dan tasyabbuh dengan turut sertanya para wanita dalam demonstrasi.
Demikian itu merupakan kesempurnaan tasyabbuh terhadap orang kafir, baik laki-laki atau perempuan. Karena, kita melihat melalui foto-foto, atau berita lewat radio dan televisi atau selainnya, tentang keluarnya beribu-ribu manusia dari kalangan orang-orang kafir Afrika maupun Syiria dan yang lainnya. Menurut ungkapan orang-orang Syam, keluarnya laki-laki dan wanita dalam keadaan "meleit temkit”. Meleit temkit maksudnya mereka berdesakan antara punggung dengan punggung, atau pinggul dengan pinggul dan Iain-lain. Saya katakan dari segi yang lain (yang berhubungan dengan demonstrasi): Bahwasanya demonstrasi ini, menunjukkan sikap taklid terhadap orang-orang kafir dalam rangka menolak undang-undang yang ditetapkan oleh hakim-hakim mereka. Demonstrasi ala Eropa dengan sikap taklidiyah (ikut-ikutan) dari kalangan kaum muslimin, bukan termasuk cara yang syar’i untuk memperbaiki hukum dan keadaan masyarakat. Dari sini setiap jama’ah hizbiyah, kelompok Islam jelas telah melakukan kekeliruan besar karena tidak menelusuri jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam merubah keadaan masyarakat. Tidak ada dalam aturan Islam merubah keadaan masyarakat dengan cara bergerombol-gerombol, berteriak-teriak dan demonstrasi (unjuk rasa). Islam mengajarkan ketenangan, dengan mengajarkan ilmu di kalangan kaum muslimin serta mendidik mereka di atas syariat Islam sampai berhasil, walaupun harus dengan waktu yang sangat panjang.
Dengan ini saya katakan dengan ringkas, demonstrasi dan unjuk rasa yang terjadi di sebagian negara Islam pada asalnya adalah penyimpangan dari jalan kaum mukminin[6] dan tasyabbuh (menyerupai) golongan kafir. Sungguh Allah telah berfirman (yang artinya): "Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukah jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahanam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa: 115)
Penanya: "Mereka—para demonstran— berdalih dengan dalil Sirah (sejarah Nabi), bahwasanya setelah Umar radliyallahu ‘anhu masuk Islam, kaum muslimin (serentak) keluar. Umar pada suatu barisan sedang Hamzah di barisan lain. Maka mereka (yang pro demonstrasi) mengatakan unjuk rasa ini untuk mengingkari thaghut-thaghut dan orang kafir Quraisy. Bagaimanakah jawaban anda dengan dalil semacam ini?"
Jawab: Jawaban terhadap pendalilan semacam itu adalah: Berapa kali aksi demonstrasi ini terjadi pada masyarakat Islam (dulu)? Hanya satu kali. Padahal Sirah termasuk sunnah yang diikuti, menurut ulama fiqih. Mereka mengatakan kalau tsabit dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ibadah yang disyariatkan, akan diberi pahala orang yang melakukannya. Dan dalam pelaksanaannya pun tidak boleh terus menerus tanpa putus karena dikhawatirkan menyerupai perkara wajib dengan sebab lamanya waktu.
Kebanyakan manusia, —menurut adat mereka— kalau ada salah satu muslim meninggalkan sunnah seperti ini, niscaya akan diingkari dengan keras. Demikian menurut para ahli fikih. Maka bagaimana kalau ada suatu peristiwa yang sekilas terjadi pada waktu tertentu seperti disebutkan di dalam Sirah di atas, kemudian dijadikan sunnah yang diikuti, bahkan dijadikan hujjah untuk mendukung apa yang diperbuat oleh orang-orang kafir secara terus menerus, sedang kaum muslimin tidak secara mutlak melakukannya kecuali pada saat itu saja[7].
Kita mengetahui kebanyakan pemerintahan mempunyai hukum-hukum yang keluar dari Islam dan kadang-kadang manusia dipenjarakan dengan dhalim dan melampaui batas, maka bagaimana sikap kaum muslimin
dalam hal ini? Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan dalam hadits shahih wajibnya taat[8] kepada pemerintah walaupun dia mengambil hartamu dan memukul punggungmu. Namun kenyataannya demonstrasi bukan ketaatan kepada pemerintah seperti yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Inilah yang aku khawatirkan tentang apa yang dinamakan "kebangkitan (shahwah)[9] suara kebenaran", bagaimana kita akan meridlainya? Bagaimana mungkin suatu "kebangkitan" (shahwah) dengan perasaan, bukan dengan ilmu? Padahal ilmu itulah yang menjadikan perkara itu dianggap baik atau buruk.
Tidak diragukan lagi di Aljazair dan di setiap negara Islam, “shahwah” ini lahir dari pemuda Muslim setelah mereka "bangun dari tidur." Akan tetapi engkau akan melihat mereka (yang baru bangun dari tidurnya itu, ed) berjalan di atas jalan yang menunjukkan ketidakgigihan mereka dalam menuntut ilmu Allah ‘Azza wa Jalla.
Kita tidak memperpanjang pembahasan. Cukuplah kita katakan pengambilan mereka terhadap dalil ini menunjukkan kebodohan mereka terhadap fiqh Islam sebagaimana yang kami telah isyaratkan di depan. Kejadian yang sesaat ini terbetik pada diri saya dan saya teringat bahwa kejadian ini tercatat dalam Sirah. Akan tetapi saya belum bisa mendapati shahih atau tidaknya saat ini. Jika riwayat ini shahih sanadnya dan ada salah seorang di antara kalian mendapati riwayat ini pada kitab-kitab hadits standar, tolong ingatkan saya sehingga saya bisa memeriksa barangkali riwayat tentang demonstrasi dalam sirah tersebut shahih[10]. Maka kalaupun shahih, hanya dilakukan satu kali saja. Jika terjadi hanya sekali saja, tentu tidak bisa dijadikan sunnah. Apalagi bila demonstrasi saat ini lebih sering dilakukan oleh orang-orang kafir yang seharusnya kaum muslimin menyelisihinya.
Kejadian ini dilakukan oleh orang-orang kafir kemudian kita mengikutinya. Ulama Hanafiyah telah membuat pijakan di dalam masalah fiqhiyah bahwasanya ada suatu masalah yang merupakan sunnah Muhammadiyah yang tidak sepantasnya ditinggalkan, yaitu sunnah membaca surat Sajadah pada pagi hari Jum’at (saat shalat subuh). Ini terdapat dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim). Walaupun demikian ulama Hanafiyah menganjurkan pada imam-imam masjid agar sesekali meninggalkannya, dikhawatirkan apabila terus menerus diamalkan di kalangan orang awam, akan mengangkat hukumnya keluar dari hukum asalnya.
Kami mempunyai bukti yang mendukung ketelitian dalam fiqih dan pemahaman terhadap sunnah ini. Saya sangat ingat bahwasanya imam di masjid besar Damaskus, yaitu masjid Bani Umayah, mengimami shalat shubuh di masjid tersebut dan dia tidak membaca surat Sajadah. Baru saja imam salam, tiba-tiba mereka membentak dan mendatangi imam tersebut seraya berkata: "Kenapa engkau tidak membaca surat sajadah?" Kemudian ia menerangkan bahwa hal itu adalah sunnah, dan kadang-kadang dianjurkan untuk meninggalkannya.
Kejadian ini terjadi karena imam masjid mengamalkan amalan tersebut secara terus-menerus dan berlangsung lama. Dan saat itu ia tidak mengerjakan amalan tersebut.
Lebih aneh lagi yang terjadi pada diri saya. Pada suatu hari saya berada dalam perjalanan dari Damaskus, kira-kira 60 km ke Madhaya. Maka aku mampir di pagi hari Jum’at untuk shalat berjamaah bersama kaum muslimin di sana. Tatkala itu imam tidak datang. Maka mereka mencari pengganti imam yang cocok. Mereka tidak mendapati pengganti kecuali saya. Pada waktu itu saya masih muda dan jenggot saya baru tumbuh. Dalam keadaan bingung, mereka menyuruh saya maju. Saya sebenarnya belum hafal surat Sajadah dengan baik, maka aku membaca surat Maryam. Aku membaca dua halaman awal. Tatkala aku takbir untuk ruku, maka aku merasakan semua makmum malah sujud. Ini menunjukkan karena apa? Karena adat kebiasaan (yakni mereka sujud tilawah karena kebiasaan dan bukan dengan ilmu, ed).
Seyogyanya para imam menjaga keadaan masyarakatnya agar tidak ghuluw (berlebihan) pada sebagian hukum-hukum. Lalu memberi penjelasan bahwa masalah syariat, wajib untuk diambil dengan tanpa sikap keterlaluan hingga mengangkat derajat hukum sunnah menjadi wajib, dan sebaliknya yang wajib menjadi sunnah. Semua ini adalah ifrath dan tafrith yang tidak diperbolehkan. Inilah jawaban saya terhadap pendalilan (riwayat Umar di atas) yang menunjukkan atas kebodohan orang yang mengambil dalil dengannya." (Kaset Fatawa Jeddah no. 89980, pagi subuh, hari Ahad, 27 Jumadil Akhir l410H)

Bantahan terhadap Syubhat Abdur Rahman Abdul Khaliq
Di awal sudah saya singgung masalah manhaj Abdurrahman Abdul Khaliq terhadap pemerintahan muslimin. Yaitu, bolehnya memakai demonstrasi sebagai alat dakwah dengan berdalil riwayat Umar radliyallahu ‘anhu yang dibawakan oleh seorang penanya di atas. Dan Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa beliau belum tahu shahih dan dlaifnya riwayat tersebut. Syaikh Abdul Aziz bin Baz telah membantah syubhat Abdur Rahman Abdul Khaliq dalam surat menyurat antara beliau dengan Abdurrahman Abdul Khaliq. Kata Syaikh bin Baz (artinya): "Engkau menyebutkan pada kitab Fushul Minasy Syiyasah As Syar’iyah hal. 31-32 bahwasanya termasuk dari uslub (metode) dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah demonstrasi. Aku belum pernah mengetahui nash yang sharih dalam masalah ini. Maka aku mengharap faedah dari siapa engkau mengambil dan dari kitab mana engkau dapatkan. Jika hal itu tidak ada sanadnya, maka engkau wajib untuk rujuk (kembali/bertaubat) dari hal itu. Karena aku tidak tahu samma sekali nash-nash yang menunjukkan hal itu. Dengan menggunakan demonstrasi atau unjuk rasa justru mengakibatkan banyak kerusakan. Jika nash (dalil) itu shahih, maka kamu harus menerangkan dengan jelas dan sempurna sehingga orang-orang yang membuat kerusakan tidak berdalih dengannya dalam demonstrasi-demonstrasi mereka yang batil." (Tanbihat wa Ta’qibat, hal. 41)
Jawaban Abdur Rahman Abdul Khaliq (artinya): "Adapun ucapanku pada kitab Al-Fushul Minas Siyasah As-Syariah fi Da’wah Ilallah hal. 31-33, maka aku katakan: Aku telah menyebutkan demonstrasi-demonstrasi yang digelar itu sebagai wasilah (metode) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menampakkan dakwah Islam, sebagaimana telah diriwayatkan bahwa setelah masuk Islamnya Umar radliyallahu ‘anhu kaum muslimin keluar karena perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua shaf (barisan) dalam rangka menampakkan kekuatan. Dalam satu barisan terdapat Hamzah radliyallahu ‘anhu, sedang barisan yang lain ada Umar bin Al-Khattab radliyallahu ‘anhu beserta kaum muslimin." (Kemudian Abdul Rahman Abdul Khaliq membawakan riwayat dengan sanad-sanad yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah dengan sanad sampai ke Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu 1/40, Ibnu Abi Syaibah dalam As-Shabah 2/512, dan di dalam tarikhnya serta Al-Bazar. Kemudian dia (Abdurrahman) berkata): "Tetapi setelah kedatangan surat anda (Syaikh Ibnu Baz) aku dapatkan bahwa pusat (poros) sanad hadits ini atas Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, dia mungkarul hadits." Demikian pernyataan Abdurrahman Abdul Khaliq.
Tapi anehnya setelah itu ia mengatakan (artinya): "Aku berpandangan metode ini (demonstrasi) bisa untuk dijadikan metode yang benar dalam mendorong/ menganjurkan manusia dalam shalat jum’at dan jamaah…dalam rangka menampakkan banyaknya orang Islam. Demikian juga memamerkan tentara-tentara Is­lam bersama dengan peralatan perang, karena hal ini dapat menaklukkan hati-hati musuh dan menakuti musuh-musuh Allah serta meninggikan syariat Islam."
Demikianlah cara ahlul bid’ah. Setelah ditanya atau dibantah dari sisi pendalilan dan setelah ucapan atau perbuatannya diketahui tidak benar, bahkan palsu, mereka tidak mau merujuk kepada dalil yang shahih dan manhaj yang benar. Bahkan dia berkelit, "Maksud saya demikian, maksud saya demikian." "Boleh saja hadits lemah —dalam hal ini palsu— dijadikan i’tibar" dan berbagai silat lidah lainnya pun meluncur tajam.
Maka saya katakan: "Setelah atsarnya diketahui mungkar, karena adanya rawi yang mungkarul hadits pada sanadnya, tentu saja demonstrasi tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dan dijadikan manhaj amar ma’ruf nahi mungkar. Karena metode dakwah adalah tauqifiyah, yakni harus sesuai dengan metode Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya."
Jikalau kisah Umar itu shahih, maka penjelasannya adalah sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syaikh Al-Albani. Dengan telah diketahui atsarnya dlaif bahkan mungkar, maka tidak bisa lagi dijadikan sebagai dalil bolehnya demonstrasi, sekalipun niatnya baik, sebagaimana telah diterangkan oleh Syaikh bin Baz di atas. Wallahu a’lam.

Kemungkaran-Kemungkaran Pada Acara Unjuk Rasa
Di atas sudah diterangkan sebagian kemungkaran pada acara demo yaitu:
- Bentuk tasyabbuh dengan orang-orang kafir.
- Termasuk khuruj (menentang pemerintah) yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Muslim dan lain-lain.
- Menceritakan aib pemerintah di depan umum dalam bentuk orasi-orasi yang inipun dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Ikhtilath bercampurnya laki-laki dan perempuan, bahkan berdesak-desakan. (Lihat Salafy rubrik Ahkam edisi 4 tahun pertama)
- Tindak anarkis yang seringkali timbul ke sana atau setelah demonstrasi dan orasi-orasi.
- Dan lain-lain.

Solusi Dari Krisis
Pada situasi sekarang, masalah yang timbul bukan saja terjadi akibat satu aspek, misalnya ekonomi. Tetapi juga terkait pada aspek lainnya, seperti sosial dan politik. Dan krisis ini tidak bisa sembuh total manakala dibasmi dengan kebatilan.
(Jika) suatu negara dipimpin oleh pemimpin yang dhalim, yang di dalamnya ditaburi praktek-praktek kolusi, korupsi dan nepotisme (hal ini) merupakan buah dari tindakan rakyatnya juga. Maka kalau rakyatnya baik, nicsaya Al­lah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan kepada mereka pemimpin yang arif dan bijaksana. Hal ini sudah dibuktikan oleh junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khulafaur rasyidin. Situasi yang kacau balau ini solusinya bukan dengan demonstrasi, tetapi dengan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang tepat dan benar. Kemudian menyebarkan ilmu yang haq di kalangan umat agar muncul generasi-generasi yang berbekal ilmu. Akhirnya, diharapkan nanti setiap langkah yang mereka lakukan diukur dengan ilmu syar’i yang haq. Dengan demikian akan musnahlah virus kolusi, korupsi dan vi­rus-virus yang lainnya. Wallahu a’lam bish-shawab. (Sumber: artikel Demonstrasi bukan Jihad, Zuhair Syarif, Majalah SALAFY, Edisi XXVH/1419 H/1998 M)

Footnote:
[1] Seperti pendapat Abdurrahman Abdul Khaliq dan rekan-rekannya.
[2] Orang yang bergabung dengannya disebut golongan (firqah) Ibnu Saba’iyah.
[3] Mirdas bin Udayah, seorang Khawarij, lihat Tahdzibul Kamal oleh Imam Al-Mizzi 7/399.
[4] Mukhtashar Shahih Muslim ta’liq Syaikh Al-Albani no. 335.
[5] Satu aliran dari aliran-aliran Khawarij.
[6] shahabat, ed.
[7] Ini bukti bahwa para shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan seterusnya tidak mengambil kejadian itu sebagai sunnah dalam rangka mengingkari pemerintah.
[8] Taat dalam arti tidak memberontak dan lepas dari baiat dengan tetap meninggalkan kemaksiatan dan tidak taat dalam kemaksiatan.
[9] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam hadits mutawatir (artinya): "Akan selalu ada dari umatku suatu kelompok yang menampakkan al-haq. Tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka sampai datang hari kiamat." juga riwayat lainnya , artinya: “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berjuang di atas kebenaran, mereka menang melawan orang yang menghadang mereka sehingga akhir dari mereka perang melawan Dajjal” (HR. Ahmad 4/429, 437, Abu Dawud 2484, Al Hakim 4/450, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1959).

Perhatikan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, artinya: "Akan selalu ada dari umatku suatu kelompok yang menampakkan al-haq" dan sabda beliau, artinya: “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berjuang di atas kebenaran..sehingga…”.  Maka benarkah bahwa “dakwah” Islamiyah pernah “tertidur” sehingga hizbiyyin memunculkan istilah asing “Ash-Shahwah” (kebangkitan) Al-Islamiyah? Apakah “dakwah” Islamiyah juga pernah “berhenti” sehingga hizbiyyun harus memunculkan istilah aneh “Harokah” (Gerakan) Islamiyah? Penyakit apa yang menghinggapi mereka sehingga Ash-Shahwah Islamiyah dan Harakah Islamiyah lebih "nikmat" daripada dakwah Islamiyah?! Mereka-mereka inikah yang selama ini selalu berteriak dengan lantang sedang berdemonstrasi memperjuangkan syariat Islam? La haula wa quwwata illa billah, ed.
[10] Perhatikan uraian selanjutnya bahwa pada akhirnya Abdurrahman Abdul Khaliq mengakui perawi hadits ini tertuduh mungkarul hadits, artinya: “Tetapi setelah kedatangan surat anda (Syaikh Ibnu Baz) aku dapatkan bahwa pusat (poros) sanad hadits ini atas Ishaq bin Abdullah bin Abi Farwah, dia mungkarul hadits." Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, ed.

25 - November - 2007

Julukan “Wahabi” & Politik Keranjang Sampah

Filed under: Umum

PKS Bak Seorang Pesilat yang Tengah “Uplek” Menebas Bayangannya Sendiri (update 30/11/’07)

Sementara itu, menyikapi “syahwat politik” PKS yang luarbiasa “vulgar” telah memaksa Muhammadiyah mengeluarkan peringatan keras…
“…Segenap anggota Muhammadiyah perlu menyadari, memahami, dan bersikap kritis bahwa seluruh partai politik di negeri ini, termasuk partai politik yang mengklaim diri atau mengembangkan sayap/kegiatan dakwah seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah benar-benar partai politik. Setiap partai politik berorientasi meraih kekuasaan politik. Karena itu, dalam menghadapi partai politik manapun kita harus tetap berpijak pada Khittah Muhammadiyah dan harus membebaskan diri dari, serta tidak menghimpitkan diri dengan misi, kepentingan, kegiatan, dan tujuan partai politik tersebut”

Selengkapnya..
Bumi Pertiwi-FAKTAkan yang Haq walaupun FAhit aKibaTnyA. Aneh nian, karena merasa terfitnah dengan selebaran yang mengatasnamakan DPP PKS maka di bulan suci Ramadhan kemarin, PKS melalui dua pucuk pimpinannya (Presiden dan Ketua Dewan Syari’ah) sampai mempublikasikan klarifikasi yang isinya tidak lebih juga fitnahan keji terhadap dakwatut Tauhid yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah. 
Mempertegas sikap dan manhajnya yang anti “Wahabi”, sebuah julukan “copas (copy paste)” yang keji dan dusta hasil membebek, menjiplak igauan musuh-musuh dakwah dari kalangan kuffar, Ahlul Bid’ah dan Rafidhah. Sebuah parpol yang beranggotakan kaum “intelek” penegak syari’at (katanya) ternyata hanyalah sekumpulan “muqallid”. Betapa tidak? PKS tidak dapat menunjukkan bukti apapun kepada masyarakat siapa pelaku sebenarnya pembuat dan penyebar selebaran “fitnah” yang mengatasnamakan DPP PKS, akan tetapi PKS telah dengan PASTI mengidentifikasi kambinghitamnya, “Tidak seperti kelompok yang disebut Wahabi…”.
Demikianlah, Wahabi yang dituding PKS sebagai “biang kerok” di balik fitnah dan permusuhan ini!
http://img145.imageshack.us/img145/8109/pukisantiwahabixw3.jpg
Tetapi demikianlah, ada hikmah besar dari “Risalah Fitnah di Bulan Penuh Barakah” yang ditandai oleh Ir.Tifatul Sembiring selaku Presiden PKS dan Doktor Surahman Hidayat yang menjabat sebagai Ketua Dewan Syariah Pusat PKS. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyingkap tirai “bergincu” yang selama ini digunakan partai ini untuk “bertabarruj” di depan umat dan masyarakat. Pada akhirnya, di tingkat “grass root” “tarbiyah” terpaksa bermunculan para “mufassirin” yang sibuk menepis ucapan dua pembesarnya, “Oh tidak, maksudnya…”, “Jangan salah sangka…”, “Yang beliau maksudkan adalah Wahabi yang suka mengkafir-kafirkan…” dst
Siapa orangnya yang tanpa rasa malu berkilah dari bukti dan fakta terang benderang tuduhan copy-paste “Wahabi” seperti pernyataan di atas?
Inilah selubung makar di balik julukan Wahabi
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=337  
Merekalah yang sebenarnya menjadi musuh-musuh dakwah Tauhid
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=335
Para hizbiyyun telah memanipulasi sejarah, perjuangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dikesankan sebagai pemberontakan terhadap Khilafah Utsmani yang sah
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=334
Kita mengingkari orang yang berkata dan menyangka bahwa para da’i yang mengajak manusia kembali kepada Allah adalah orang-orang Wahhabi. Kita tahu bahwa mereka memiliki maksud yang sangat jijik dan kotor yaitu ingin memisahkan para ulama dengan masyarakatnya. Inilah aqidah dan manhaj kita!
http://darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=254

Iya Wahabi, sebuah tuduhan usang, kuno dan ketinggalan jaman para intelek yang sama sekali tidak ilmiyah hasil membebek dari para pendahulu mereka! Bagaimana bisa disebut ilmiyah sementara nama beliau bukanlah “Wahhab” sehingga pantas mereka juluki sebagai “Wahhabi, Wahhabiyah”? Kalaulah "sedikit" ilmiyah tuduhan tersebut, tentu mereka akan menjulukinya sebagai “Muhammadi, Muhammadiyah”, pengikut Muhammad yang justru akan semakin mengharumkan nama beliau sebagai pengikut Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akan tetapi sejak awal musuh-musuh dakwah tersebut memang ingin memberikan kesan yang jelek, jahat dan negatif kepada dakwah Tauhid yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka mengikuti aqidah Nasrani “dosa waris” (meminjam istilah AS, tetangga sebelah), dengan tujuan yang jelek dan jahat merekapun menjuluki dakwah (tauhid) beliau dengan “Wahabi”…
http://img107.imageshack.us/img107/6065/surkatirsyadhinawahabi1in1.jpg 
http://img137.imageshack.us/img137/9673/surkatiirsuadhinawahabimw8.jpg
dengan mencomot nama bapak beliau, Abdul Wahhab Rahimahullah. Yang sebenarnya julukan inipun salah, semestinya “Abdul Wahhabiyah” dan bukan “Wahhabiyah”.
Subhanallah, kehinaan musuh-musuh dakwah itu disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Wahhabi, Wahhabiyah (asal kata dari Al-Wahhab) adalah salah satu Asma Allah dari sekian nama-nama Asmaul Husna, Dzat yang telah menciptakan Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Dan sekarang lihatlah wahai saudara-saudaraku sekalian yang semoga dirahmati Allah, PKS yang berteriak-teriak memperjuangkan syariat Islam justru membebek orang-orang kuffar, ahlul bid’ah dan rafidhah ikut-ikutan beristihza’, memperolok-olokkan Al-Wahhab, salah satu nama yang mulia dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, Asmaul Husna!!
Maka, syariat Islam mana yang diperjuangkan PKS sementara Al-Wahhab, Dzat Yang Maha Mulia, yang menurunkan Islam itu sendiri telah diperolok-olokkannya? Bagaimana mungkin Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi) akan memberikan barakahNya kepada Partai ini jika Dzat Maha Pemberi itu sendiri telah dijadikan bahan permainan dan olok-olokan? 
Dengan jelas tanpa ragu PKS telah memproklamirkan diri sebagai partai politik Anti Dakwah Tauhid (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah)!!
Kalau sebelumnya banyak dari kalangan PKS yang merasa “mantap” dengan pengakuan mereka sebagai Ahlus Sunnah, maka dengan keluarnya Risalah Fitnah tersebut tersingkaplah tirai “bergincu” (baca:politik buah bibir) yang selama ini menjadi pemulas bibir (buah mulut) para da’inya untuk mengkamuflasekan hakekat dakwahnya yang sebenarnya memusuhi dakwah ini. Sekarang –alhamdulillah- Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperjelas posisi mereka dalam memusuhi dakwah Tauhid.
Si kabut telah sirna
Jurang menganga tampak jelas di depan mata

Demokrasi & Demonstrasi, Jalani…Jannati (Jalananku…Surgaku)
Logika yang tidak logis. Katanya sih partai yang  memperjuangkan syariat Islam, FAKTAnya?
Assalamu ‘alaikum untuk semua tokoh agama!
http://img407.imageshack.us/img407/3368/qaradhawisalamuntuksmuaci9.jpg
Itukah ajaran Nabimu yang sedang engkau perjuangkan?

Artinya: dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nasrani dengan ucapan salam, maka bila kalian berpapasan dengan salah seorang dari mereka dalam satu jalan, maka paksalah mereka ke tempat yang sempit" (HSR. Muslim, 4/1707)
Mereka pula yang justru menjadi pengekor dan pengawal democrazy barat yang setia..
http://img225.imageshack.us/img225/4352/qaradhawicentengdemocrasj6.jpg
Syari’at Islamkah ini?
Katanya sih membela syariat Islam dan menjunjung tinggi harkat dan martabat muslimah, FAKTAnya?
Para akhwat dan ummahat lengkap beserta anak-anak balitanya yang malah direndahkan kehormatannya, di bawah terik panas matahari dan guyuran hujan digiring keluar rumah oleh para lelaki pentolan PKS berunjuk gigi di jalan-jalan untuk mengamalkan demonstcrazy barat yang hina. Telah shahih berita bahwa salah seorang da’i “Salafy” di Malang, Abdullah Hadrami (AS telah mempublikasikan bagaimana majelis taklim "salafy"nya telah disusupi lelaki bercadar) ternyata tidak lebih dari penguasa “Radio Dakwah Islamiyah (baca:Ikhwaniyah)” yang gencar memasyarakatkan nyanyian Arab dari grup-grup “nasyid” para hizbi dan Ikhwani, bahkan menjadi salah satu provokator alias tukang “kompor” demonstcrazy, berorasi bersama kader-kader KAMMI (underbow PKS) menentang kehadiran parlemen dari “Israel”!
Tidak adakah manusia yang risih dan aneh dengan pengakuannya sementara radio dakwahnya sepenuh hati mempromosikan para artis hizbi tarik suara yang ternyata tidak ada satupun “penyanyi Salafy” yang dipromosikannya?! Ngakunya sih muridnya Syaikh Utsaimin rahimahullah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Benarkah artis tarik suara dan nasyidnya merupakan ciri dari dakwah Ahlussunnah?
http://darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=979
Kalau telah habis rasa malumu,
Dimana lagi dapat kutemukan kehormatanmu?
Kapan mereka membela dan menjaga kesucian serta kehormatan martabat kaum wanita Islam?
Artinya: dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tengah jalan bukanlah bagi wanita" (isnadnya Hasan, ditakhrij Ibnu Hibban dalam Shahihnya, 7/447, di dalam sanadnya ada Muslim Az-Zanji, dia adalah orang yang shaduq)

Pada pokoknya, wanita harus berada di rumah, mengatur urusan rumah tangga dan keluar kecuali hanya untuk suatu keperluan. Kalaupun dia bekerja, maka dia harus bekerja di dalam lingkup yang memang dimubahkan oleh syari’at yang hanif, yaitu urusan-urusan yang memang khusus bagi wanita, tidak terfitnah dan aman dari fitnah. Bahkan amalan mulia yang tertinggi (yakni jihad) yang jelas-jelas untuk meninggikan kalimat Allah tidaklah diwajibkan kepada para wanita, kecuali jihadnya adalah berhaji.

Artinya: dari A’isyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata: "Aku minta ijin pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad, beliau menjawab: "Jihad kalian (para wanita) adalah dengan haji."" (HSR. Bukhari, 6/75)

Lalu bagaimana dugaanmu wahai para muslimah, andaikata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan diri-diri kalian, membawa serta anak-anak kalian berdemonstrasi (bahasa lipstiknya: pawai simpatik) di jalan-jalan, membentangkan spanduk dengan ikat kepala (bertuliskan Laa ilaha illalah) berteriak-teriak sampaipun para petugas keamanan memblokir jalan tersebut? Apa yang akan beliau katakan jika menyaksikan perbuatan para wanita semacam ini? Sadarlah wahai Ukhti muslimah, bukanlah syari’at Islam dan kehormatan para wanita muslimah yang sedang mereka perjuangkan. Cukuplah sudah untuk menyadari bahwa diri-diri kalian telah direndahkan dan dieksploitasi kehormatan kalian demi syahwat kekuasaan politikus-politikus itu. Marilah kita memohon rahmat dan keselamatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baiti Jannati (rumahku surgaku) atau…”Jalani” Jannati (jalananku surgaku)?!
Ingatlah selalu wahai saudaraku, artinya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An Nur: 63)
Artinya: “Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah mendapat keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71)

Kejamnya Politik Keranjang Sampah
Syahwat politiknya memang kejam. Pernyataannya: “Itu upaya politis pencerdasan bangsa” demikianlah dalih PKS dalam upayanya memecah belah umat Islam agar syahwat politiknya untuk menjadikan masjid (tempat ibadah umat Islam) sebagai salah satu tempat perebutan suara dalam ajang demokrasi barat yang diperjuangkannya (kapan memperjuangkan syariat Islamnya?).
http://img225.imageshack.us/img225/731/pukismasjidupecahbelahumj5.jpg
Ya Subhanallah, Baitullah yang merupakan tempat mulia dan suci untuk beribadah kepada Allah hendak mereka cemar dan nistakan dengan menjadikannya sebagai salah satu tempat untuk berkampanye, berdemokrasi, “bertasyabbuh”, meniru cara-cara orang kafir dalam mempraktekkan kedaulatan rakyat yang mereka junjung tinggi?

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk mereka".

Itulah demokrasi yang mereka perjuangkan, kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat! Suara rakyat suara Tuhan, suara terbanyak menjadi penentu nasib umat! Jadi…raup suara rakyat, kuasai parlemen niscaya engkau akan bisa tegakkan syari’at (Ikhwanul Muslimin). Tetapi sebaiknya hentikan semua omong kosong ini, tidak ada yang mereka tegakkan kecuali pemikiran-pemikiran menyimpang tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin.
Kader “tarbiyah” berjilbab besar, apa yang mereka perjuangkan setelah berhasil duduk sebagai Wakil Rakyat? Berganti penampilan lebih “modis” (karena tuntutan keadaan) dengan jilbab berenda yang lebih ciut, sempit dan tentu saja lebih hemat kain! Pas sudah jika duduk-duduk bersama para lelaki asing lainnya. Hijab dan tabir? Hanya  menjadi “syarat” (bukan syari’at) ketika liqa’ saja. Para “murabi”nya masih bisa bertatap muka dengan para pendukungnya.
Cahyadi Takariyawan, nama beken pembesar PKS yang tak asing lagi juga lebih mengakui kebenaran “Bahagiakan dengan Satu Istri” daripada tunduk “sami’na wa atha’na” dengan syari’at “ta’adud az-zawjat” (poligami) yang tak seorangpun dari kaum mukminin mengingkari kebenarannya. Maka syari’at Islam yang mana yang sedang mereka perjuangkan jika mereka-mereka ini yang justru pertama kali menumbangkan dan menghancurkan syari’at Islam itu sendiri (bahkan sebelum kekuasaan itu mereka genggam)?
Dan masjid, Baitullah hendak dijadikan PKS sebagai salah satu sarana dari tempat-tempat kampanye memecahbelah umat?!
Sedikit saja kita jeli dengan politik pecah belah umat yang mereka lontarkan ini, niscaya kita akan merasakan betapa kejam dan kejinya PKS dengan upaya mereka untuk memecahbelah umat dengan upaya mereka untuk menjadikan tempat ibadah (masjid) sebagai ajang perebutan suara dan kekuasaan!!
Betapa anehnya bahwa si Insinyur dan si Doktor-pun masih bisa berkilah bahwa: “Karenanya PKS tidak akan pernah mengeluarkan doktrin untuk mengambil alih apalagi menguasai Masjid,…” (Risalah Fitnah Untuk Wahabi).
Padahal dengan jelas Muhammadiyah memperingatkan:
http://img103.imageshack.us/img103/9180/mdwarningparpoldz3.jpg 
“3. Segenap anggota Muhammadiyah perlu menyadari, memahami, dan bersikap kritis bahwa seluruh partai politik di negeri ini, termasuk partai politik yang mengklaim diri atau mengembangkan sayap/kegiatan dakwah seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah benar-benar partai politik. Setiap partai politik berorientasi meraih kekuasaan politik.”
“5. Seluruh institusi dalam Muhammadiyah termasuk amal usaha, masjid/mushalla, fasilitas milik Persyarikatan, dan kegiatan-kegiatan yang berada di dalamnya tidak boleh digunakan untuk kegiatan-kegiatan partai politik mana pun”.

Tidak perlu analisa seorang Doktor lulusan Madinah untuk memahami, kepada siapa peringatan “terang benderang” ini ditujukan. Apakah PKS lupa bahwa “Wahabi” yang dijadikannya sebagai kambing hitam tidak memiliki “partai politik”? Tidakkah lebih intelek dan bijaksana jika mereka menyelesaikan dulu permasalahan “syahwat politik” di atas sebelum membuka front baru dengan fitnah “Wahabi”? Apa hubungan antara fitnah “Wahabi” yang mereka lontarkan dengan peringatan PP. Muhammadiyah? Bukankah “Wahabi” tidak terlibat dalam  “…kegiatan-kegiatan partai politik mana pun” ?
Apa artinya ajang kampanye di tempat-tempat ibadah yang saat ini getol mereka perjuangkan?! Bukankah dengan merebut hati dan simpati para jama’ah sehingga mereka (na’udzubillah) menjadi anggota/simpatisan parpol anda sudah jauh lebih dari cukup dibandingkan dengan mengambil alih apalagi menguasai Masjid, sebuah benda mati yang tidak dapat memilih dan membela partai mereka?! Ataukah gaya bahasa yang sedang mereka pertontonkan tidak lebih dari gaya bahasa “bergincu” para “Mujahid” politik?
Itulah PKS (Partai iKhwanul muSlimin) yang beraksi bak seorang pesilat yang tengah “uplek” menebas bayangannya sendiri.
Cukuplah bukti kehinaan demokrasi adalah meletakkan kedudukan SATU orang ‘alim dibawah derajat DUA orang jahil, bahkan kafir!

Artinya: "Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas.." (QS.Fathir:19-21)

Artinya: "Adakah orang yang mengetahui, bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran" (QS.Ar-Ra’d:19)

Demokrasi mereka telah meletakkan kedudukan SATU orang ‘alim di bawah DUA orang wanita!
Betapa tidak? Bukankah SATU orang kalah suara dengan DUA orang wahai PKS?

Firman Allah, artinya: "Dan anak-anak lelaki tidaklah seperti anak-anak perempuan." (QS. Ali Imran:36)
Kesaksian seorang lelaki sebanding dengan kesaksian dua orang wanita.
Artinya: “Jika tak ada dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkan yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 282)
Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang telah membedakannya dan demokrasi memaksakan persamaan “suara” antara lelaki dan wanita?

Bahkan demokrasi telah "menghalalkan" seorang wanita menjadi panglima tertinggi pasukan angkatan bersenjata dengan jutaan personilnya, wanita yang memimpin negara sedemikian luasnya dan mengatur ratusan juta rakyatnya. Inilah demokrasi kalian wahai PKS! Kalaulah syari’at Islam yang kalian perjuangkan, tentulah kalian mengimani kebenaran Rasul kalian yang telah menyatakan: "Tidak akan selamat suatu kaum yang urusannya dipimpin oleh wanita" . Beliaupun telah memperingatkan, artinya: "Tidak aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita". Tetapi demikianlah jika senandung "jihad" hanya digunakan sebagai kamuflase untuk melampiaskan hawa nafsu politisnya. Padahal..

Artinya: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka." (QS.Al-Ahzab:36)

Bukankah keIslaman seseorang atau kekafiran orang tersebut (yang telah dengan tegas dibedakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) tidaklah teranggap di alam demokrasi (lipstiknya: jihad politik) yang anda perjuangkan dan teriak-teriakkan?

Firman Allah, artinya: "Maka apakah orang yang beriman, seperti orang yang fasik (kafir)?" (QS. As-Sajdah:18)
Artinya: "Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu" (QS. Al-Jatsiyah:21)

Di alam demokrasi itulah mereka bebas (sebebas-bebasnya) memilih para wakilnya untuk memperturutkan hawa nafsunya dengan menggadaikan prinsip-prinsip agamanya sendiri.
Artinya: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai walinya selain orang-orang mukmin. Barangsiapa yang mengerjakan demikian maka tidaklah dari Allah sedikitpun, kecuali kalau kamu takut dari mereka.” (QS. Ali Imran: 28)
Artinya: “Hanya saja wali-wali kalian adalah Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat serta mereka ruku’. Barangsiapa yang berpaling dari Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman maka sesungguhnya hizbullah pasti akan menang.” (QS.Al Maidah: 55-56)

Itulah satu uraian sederhana untuk membongkar kebatilan pernyataan Qaradhawi, pembesar anda: “Ini sangat membanggakan dan sebagai bukti bahwa Islam dan demokrasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan, " ujar Syeikh yang disampaikan oleh Ketua MPRRI Hidayat Nur Wahid usai mengadakan pertemuan tertutup.”
Tidak syak lagi kebatilan dari pernyataan di atas! Islam bukanlah demokrasi dan demokrasi bukanlah ajaran Islam.
Artinya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’am:116)
Artinya: “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Al A’raf:187)
Artinya: “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik” (QS. Al A’raf: 102)
Suara rakyat tentu saja bukan suara Tuhan, kebenaran bukanlah demokrasi suara terbanyak yang mereka perjuangkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mengisahkan umat-umat terdahulu, betapa sedikitnya yang berada di atas kebenaran:
Artinya: “Dan tidaklah ada yang beriman bersamanya, kecuali sedikit” (QS.Huud:40)
Sekali lagi, ukurannya bukanlah banyaknya suara demokrasi yang bisa mereka raup, akan tetapi hanyalah kebenaran dan yang sesuai dengan kebenaran. Apabila yang mayoritas itu berada di atas kebenaran, maka itu adalah yang baik, akan tetapi sunnatullah Jalla wa ‘Alla telah menentukan bahwa mayoritas manusia itu berada di atas kebatilan.
Artinya: “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya” (QS. Yusuf: 103)
Artinya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’am:116)
Juga Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, artinya:
“Islam pada mulanya dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya” (HSR. Muslim no.146)

Saudaraku rahimakumullah, janganlah kita termasuk mayoritas orang-orang yang membenci kebenaran. Artinya: "Sesungguhnya Kami telah membawa kebenaran kepadamu, tetapi kebanyakan diantara kamu benci pada kebenaran itu" (QS. Az-Zukhruf:78)
Maka apa yang dianggap sebagai suatu kebenaran –walaupun sedikit pengikutnya atau bahkan tidak ada pengikutnya seorangpun, selama itu adalah kebenaran- wajib untuk dijadikan pegangan, karena itulah jalan menuju keselamatan. Adapun kebatilan, tidak akan pernah dikuatkan oleh banyaknya pengikut, inilah timbangan yang wajib untuk selalu dijadikan pegangan oleh setiap muslim.
Jadi, tasyabbuh Demonstrasi ala kuffar& Demokrasi Kekuasaan Yunani-lah yang PKS perjuangkan (sebanyak apapun jumlah pengikutnya), hanya saja “lipstik” jihad politik untuk Menegakkan Syariat Islam tentu saja akan lebih mudah dalam mengecoh masyarakat. Walaupun pada prakteknya di level “grassroot”  semboyan penegakan syariat Islam tidak selantang itu mereka teriakkan (karena besarnya konsekuensi Islamofobia), mereka lebih memilih slogan “anti korupsi” karena orang-orang kafir, musyrik, tidak beragama sekalipun tentu lebih “sepakat” dengan “lipstik” ini.
Katanya sih “boikot produk orang kafir” tetapi menggunakan cara yang sedemikian unik, mengimpor dan larut dalam sampah Demos Kratos produk kafir dari negeri Yunani penyembah berhala dan berhali! Aneh tetapi FAKTA Fahit yang Nyata.
Seperti inikah cara menjunjung tinggi dan memperjuangkan kemuliaan syariat Islam dengan democrazy yang hendak mereka teriakkan di masjid-masjid? Allahul Musta’an.
Demikianlah, Allah melengkapi kehinaan PKS dengan ucapan seorang WANITA yang membantah politisasi masjid dengan berucap: “Apalagi, tempat ibadah. Ruang publik itu juga memiliki fungsi sangat strategis sebagai penyatu umat. Jangan ini kemudian dirusak oleh kepentingan politik praktis”. Siapa yang lebih sehat nurani dan pikirannya?
Itulah “demokrasi” yang sedang diperjuangkan PKS, singsingkan lengan, bulatkan semangat, buka suara, teriakkan slogan-slogan bergincu di jalan-jalan, tidak perlu merasa malu walaupun seorang wanita telah menyingkap aurat dan aib politik keranjang sampah!
Semoga Allah menggagalkan makar mereka dalam menghinakan kemuliaan masjid dan melindungi segenap kaum muslimin dari upaya mereka yang akan menjadikan masjid sebagai tempat untuk memecahbelah umat Islam. Amin.

Siapa yang mengkafirkan para ulama dan Wali Songo?
“Tidak seperti kelompok yang disebut Wahabi…Karena melakukan tabdi’ (membid’ahkan) dan takfir (mengkafirkan) para ulama apalagi para Wali songo yang sangat berjasa itu bukanlah manhaj PKS yang menganut Ahlussunnah Wal Jamaah…”
Sebentar dulu bapak Insinyur  dan pak Doktor, bisakah anda sertakan bukti ilmiyah barang sepenggal dua penggal bahwa “Wahabi” telah membid’ahkan dan mengkafirkan para ulama? Bukankah kewajiban penuduh adalah membawakan bukti agar terbedakan antara bukti penyimpangan dengan fitnah tidak ilmiyah yang gencar anda sebarkan?
“Wahabi” pula yang mengkafirkan Wali Songo?! Rasanya sangat pantas jika gelar Insinyur dan Doktor yang anda cantumkan di depan nama anda berdua merasa malu karena kedua nama di belakangnya telah melemparkan tuduhan tanpa menyertakan selembar benangpun untuk menjaga aurat kehormatannya.
Tidaklah perlu terlalu jauh bagi “Wahabi” untuk mentabdi’ dan mentakfir Wali Songo, sebuah cerita legenda yang berkembang di masyarakat. Anda menyatakan bahwa PKS bermanhaj Ahlussunnah Wal Jamaah (kalau anda jujur) maka seharusnya anda tahu bahwa Ahlussunnah-lah yang paling berhati-hati dalam menerapkan prinsip tabdi’ dan takfir. Tetapi tampaknya anda telah memberikan garis pemisah yang sangat jelas dan gamblang bahwa “Wahabi” bukanlah Ahlussunnah dan Ahlussunnah berbeda dengan “Wahabi”? Sangat disayangkan bahwa garis pemisah yang anda gunakan (lagi-lagi) bak fatamorgana di tengah padang pasir, tidak mengenyangkan yang lapar dan tidak pula menghapus dahaga orang-orang yang kehausan. Sekali lagi, tuduhan tanpa disertai bukti kenyataan hanyalah fitnah tak berperasaan. Inikah hizb keadilan yang anda dengungkan?
Tetapi kalau yang anda berdua dan PKS inginkan adalah agar umat Islam mempercayai kisah perjuangan dan “keluarbiasaan” Sunan Kalijaga (baca: Jaga Kali) yang disuruh Sunan Bonang untuk duduk “bertapa” sambil memegang tongkat yang ditancapkan di pinggir kali sampai tubuhnya lumutan (karena terlalu lamanya bertapa di pinggir kali) dan kisah-kisah “kesaktian” lainnya, maka ada sehelai dua helai pertanyaan untuk pembesar partai intelek di atas:
“Kaidah ilmiyah Ahlussunnah Wal Jamaah yang mana yang mengharuskan kaum muslimin mempercayai kesahihan cerita di atas? Apakah anda (pak Insinyur dan pak Doktor) mampu menunjukkan sanad dan matan dari kisah tersebut? Apakah anda juga mampu menghadirkan bukti ketsiqahan para perawinya? Tentu prinsip sederhana uji “kebenaran suatu berita” seperti di atas tidak asing lagi bagi pembesar lainnya, sang Doktor yang lulus dari Universitas Madinah dengan bimbingan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah. Kalau dari mukadimah uji kebenaran suatu berita saja belum bisa dilalui, maka dari sisi mana PKS sudah berkesimpulan bahwa Wali Songo telah ditabdi’ dan ditakfir oleh “Wahabi”? Pikiran politik anda telah mengembara (memvonis "Wahabi") terlalu jauh ke padang pasir tak bertepian. Demikianlah kalau kepala digunakan untuk berjalan dan kaki difungsikan untuk berfikir. Allahumma…
Jika mereka tetap memaksa juga untuk mempercayai Kisah Sunan Bonang dan Sunan Jaga Kali tanpa melewati uji kebenaran berita sebagaimana prinsip-prinsip Ahlussunnah (sebagaimana yang dianut oleh PKS, katanya) maka kita katakan dengan tegas: Islam melarang mempercayai (apalagi memuliakan) kisah tak bersanad tersebut. Dengan itu mereka telah memaksa kaum muslimin agar mempercayai Wali Songo (yang banyak berjasa bagi penyebaran Islam, katanya) telah mengamalkan ritual bertapa dari agama kafir Hindu dan Budha! Sunan Bonang telah memerintahkan agar Sunan Kalijaga mengamalkan ajaran kafir tersebut! Konsekuensinya, Sunan Kalijaga tidak pernah menyentuh air wudhu, apalagi menegakkan shalat! Tubuh yang sampai lumutan adalah legenda yang tak terelakkan dari penyelenggaraan ritual kafir, bertapa.

Sungguh kalau kita mempercayainya, maka tidak bisa tidak, kita telah menuduh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga  dengan tuduhan yang teramat hina, mengamalkan ajaran kafir. Sejak kecil lingkungan kita “terdidik” dengan kisah-kisah penghinaan semacam ini, Sinkretisme antara Islam dengan ajaran kafir yang dituduhkan (justru) kepada tokoh-tokoh legenda yang dinyatakan sebagai penyebar ajaran Islam di tanah Jawa. Inna lillah…
Jangan karena orang mempertanyakan kebenaran kisah-kisah Wali Songo dan menolak meyakini bahwa Wali Songo telah mengamalkan ajaran kafir dari Hindu dan Budha maka dituduhlah mereka sebagai “tukang” tabdi’ dan takfir para ulama dan Wali Songo! Fikrah ini sama kacaunya dengan kaki yang difungsikan untuk berfikir.
Beginikah cara PKS membela kehormatan para ulama dan Wali Songo? Siapa pula yang mentabdi’ dan mentakfir mereka?  Ikhwanul Muslimin atau…IM? Tentu saja “Wahabi” tidak seperti kelompok yang menamakan dirinya dengan bangga sebagai “Ikhwanul Muslimin” atau IM atau PKS atau Justice Partai…
Kalau PKS tidak dapat membuktikan bahwa “Wahabi”lah yang suka mentabdi’ dan mentakfir, lalu siapakah sebenarnya yang memiliki fikrah, hobi dan kegemaran dalam mengkafirkan umat Islam? Ternyata tokoh Partai iKhwanul muSlimin itu sendiri..
http://ashthy.wordpress.com/2007/06/18/bahayanya-pemikiran-takfir-sayyid-qutub/ 
Dengan bukti fakta di atas, terpaksa harus kita ulang lagi bahwa PKS bak seorang pesilat yang tengah “uplek” menebas bayangan (takfir)nya sendiri. Partai iKhwanul Muslimin pembawa virus takfiri akan tetapi “Wahabi” yang ditudingi. Apa mau dikata jika ini kenyataan fahitnya.

“Karenanya PKS tidak pernah mengeluarkan surat edaran yang berisi hujatan maupun pengharaman terhadap peringatan Maulid, Tahlilan, Barzanji yang dilaksanakan oleh umat Islam di Indonesia penganut Ahlul Sunnah Wal Jamah…Maka tidak aneh bila kader PKS seperti DR Nur Mahmudi Ismail yang juga Walikota Depok, menyelenggarakan peringatan Maulid dengan penceramah K.H Zainuddin MZ dan Habieb Rizieq Shihab”
Sekali lagi bukan syari’at Islam dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dibela dan diperjuangkannya,tetapi bid’ah Maulid, Barzanji dan Tahlilan-lah yang sebenarnya diperjuangkan oleh PKS.
http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=470
http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=332

Kalau tidak, bagaimana PKS dapat mengharapkan agar para pilot (baca:penerbang) jidor dan bedug, ahli Maulid, ahli Tahlilan (bukan tahlil) dan ahli Barzanji akan mencoblos partai dan melubangi gambar wajah-wajah mereka? Maklumlah, “Wahabi” Muhammadiyah telah mengetahui kedok syahwat politiknya yang menggebu-gebu. Jadi siapa lagi yang akan dirangkulnya? Para penerbang jidor dan para doktor kenduri. Kalau ketahuan lagi? “Lipstik” lain urusan nanti…yang penting “Anti Korupsi” (dan bukan “Anti Bid’ah”).

Asal tahu saja, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata,"Diberikan rukshah kepada para wanita untuk menabuh rebana dalam acara pernikahan dan acara-acara yang menggebirakan. Sedangkan kaum lelaki pada masa beliau, maka tak seorangpun diantara mereka yang menabuh rebana. Karena menabuh rebana dan nyanyian merupakan sebagian dari perbuatan para wanita. Maka orang-orang salaf menamakan lelaki yang melakukannya (menabuh rebana) sebagai orang banci, dan mereka menamakan orang laki-laki yang menyanyi sebagai orang yang sangat banci." (Majmu’atur Rasa’ilil Munirriyah).

Tetapi di alam pemilu demokrasi yang di"jihati" oleh politikus PKS tidaklah terlalu mementingkan status para banci. Bukankah yang terpenting bagaimana mereka bisa "mencuri hati" para banci? Akankah para banci/bencong/wadam/waria dapat "jatuh hati"? Allahu a’lam. Tidak ada kawan abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan abadi (baca:duniawi) semata. 

Bukankah sampai sekarang (setiap tahun) kalian masih terus mengirimkan kader-kader Ikhwani untuk "menghisap kemakmuran" hasil barakah dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Universitas-universitas di Kerajaan Saudi yang kalian fitnah dan hinakan?! Betapa bulatnya kehinaan ini wahai Ikhwani dengan FAKTA bahwa di salah satu lembaga pendidikan gratis dan bersubsidi untuk para mahasiswanya yang dibentuk dan didanai oleh “Wahabi” (LIPIA Jakarta) ternyata orang-orang anti “Wahabi”, pembenci dan pengobar fitnah dakwah tauhid itulah yang termasuk paling banyak mengemis fulus dan menikmati barakah gratis segenap fasilitasnya! Walaupun kemudian tanpa rasa malu sedikitpun (dalam keadaan tangannya memegang kitab-kitab gratis dan perutnya disuapi oleh “Wahabi”) masih pula begitu percaya diri berteriak-teriak dengan tuduhan keji dan jahat hasil membebek tuduhan orang-orang kafir dan ahlul bid’ah.
Kalau engkau tidak punya rasa malu
Berbuatlah sesuka hatimu

Terakhir, inilah pujian seorang ulama besar pada masanya yang khusus kita persembahkan untuk membungkam teriakan fitnah PKS, Ikhwanul Muslimin, Ihwan.., Quburiyyun, Rafidhah dan orang-orang kafir yang membenci “Wahabi” (istilah ciptaan mereka sendiri).
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Imam Muhammad bin Ismail Ash Shan’ani rahimahullah yang telah menyatakan pujiannya terhadap Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam bentuk syair (sekaligus menghinakan para tukang fitnah anti “Wahabi”, musuh-musuh dakwah tauhid beliau):
Telah mereka bakar dengan sengaja
Kumpulan bukti-bukti yang mereka dapatkan
Di dalamnya banyak terdapat bukti-bukti yang terlalu tinggi untuk dihitung
Melampaui batas yang dilarang dan kedustaan yang terang-terangan
Tinggalkanlah jika engkau ingin mengikuti petunjuk
Ucapan-ucapan yang tidak pantas untuk disandarkan kepada seorang yang berilmu
yang tidak bernilai sepeserpun dibanding dengan uang tunai
Orang-orang bodoh tersebut menjadikannya sebagai dzikir yang memberikan mudharat
Mereka memandang lenyapnya bukti-bukti tersebut lebih suci daripada pujian
Sungguh sangat membahagiakanku
apa yang datang kepadaku dari jalan beliau
(Qaulul Baligh…, Syaikh Hamud At-Tuwaijiri rahimahullah, hal.91)

Kita lihat saja nasib akhir dari pesilat yang tengah “uplek” menebas bayangan (dakwah)nya sendiri. Mudah saja, lihat bayangannya, kalau bayangan tersebut telah tergeletak atau diam terpaku berarti "si pesilat" telah kehabisan bensin, pingsan atau duduk termangu-mangu karena kelelahan menebas bayangan (dakwahnya) sendiri.

Sekadar nasehat, Buruk muka jangan kaca yang dipecah.*Allahu a’lam (Abdul Hadi).






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham