Jauhilah Bermajelis dengan Mereka!
Pengantar (UPDATE:15/08/07)
Apakah anda masih ingat dengan SYUBHAT EMAS Firanda di dalam BUKU EMAS IHYA’nya bahwa berdakwah di Markas Hizbiyyah adalah KESEMPATAN EMAS yang tidak boleh disia-siakan? Sebagaimana ucapannya:
“karena itu merupakan perkara yang aneh apabila ada seorang da’i bermanhaj salaf diberi kesempatan untuk berdakwah di tempat hizbiyyin namun ia malah meninggalkan kesempatan emas ini. Semestinya jika ada kesempatan emas terbuka untuk menampakkan kebenaran di hadapan hizbiyyin maka jangan sampai disia-siakan. Lebih aneh lagi sikap sebagian orang yang mentahdzir saudaranya yang berkesempatan dakwah di lingkungan ahli bid’ah. Merupakan perkara yang menggelikan kalau kita hanya berharap ahli bid’ah di zaman ini datang menemui kita dan ikut mendengarkan pengajian kita. Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi lainnya mendatangi tempat-tempat kesyirikan untuk menyampaikan kebenaran? Mereka tidak hanya diam di masjid menunggu orang-orang musyrik datang mendengarkan kebenaran yang mereka sampaikan.” (Lerai…, hal.142)
Alhamdulillah bahwa syubhat yang sangat sangat berbahaya ini telah sedikit kita bahas dalam artikel terdahulu http://fakta.blogsome.com/go.php?http://fakta.blogsome.com/2007/03/23/bersikap-lemah-lembutlah-kepada-ahli-bidah/ sekaligus kita buktikan kecurangan dan kelicikan Firanda yang “nebeng” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk menyerukan BERSIKAP LEMAH LEMBUT TERHADAP AHLI BID’AH DENGAN MENUKIL UCAPAN SYAIKHUL ISLAM TERHADAP PELAKU KEMAKSIATAN ( Lerai, hal.153-154) http://img168.imageshack.us/img168/699/firandalicikns0.jpg
Apakah KECERDASAN Firanda tidak mengetahui perbedaan antara AHLI BID’AH dan PELAKU KEMAKSIATAN (bukan AHLI MAKSIAT!)? Ataukah Firanda menyamakan kedudukan antara Ahli Bid’ah dengan pelaku kemaksiatan? Haihata…haihata..
Kenapa kita tidak mengambil “kemungkinan yang lebih besar” bahwa Firanda telah mengetahui ucapan Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah “yang sangat terkenal kiprahnya dan diketahui oleh banyak orang (baca:thalibul ilmi)” ketika beliau menegaskan:
“Bid’ah itu lebih disukai oleh iblis daripada maksiat, karena maksiat itu adakah perkara yang pelakunya masih dapat diharapkan bertaubat darinya, sedangkan bid’ah tidak dapat diharapkan pelakunya bertaubat darinya.”
Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid (yang sering mereka datangkan) dalam Al Muntaqa An Nafis, halaman 36 berkata : “Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam musnad-nya riwayat ke-1885.”
Kenapa kita mengambil kemungkinan yang lebih kecil bahwa Firanda tidak mengetahui ucapan Imam Sufyan Ats-Tsauri – di atas- yang sangat terkenal kiprahnya dan diketahui oleh banyak orang yang secara tidak langsung juga menuduh Firanda berfatwa (baca:menulis BUKU EMAS IHYA’nya) tanpa mengetahui ilmu dan realitanya? Ini mirip dengan cara-cara “licik” hizbiyyin yang menulis bukunya tanpa memahami fiqhul waqi’!
http://img61.imageshack.us/img61/2128/firandalicik2okcj4.jpg
“Kisah KABAR KEMATIAN musuh besar Syaikhul Islam disulap Firanda menjadi “SIKAP IBNU TAIMIYAH DALAM MENGHADAPI MUSUHNYA”!!
Kisah Ibnu Qayyim rahimahullah yang menunjukkan betapa empatinya Syaikhul Islam dalam MENGAMBIL HATI DAN MENUNJUKKAN KEPEDULIAN TERHADAP NASIB KELUARGA MUSUH BESAR BELIAU disulap Firanda menjadi “SIKAP IBNU TAIMIYAH DALAM MENGHADAPI MUSUHNYA”!![1]
Demi apa wahai ikhwah sekalian Firanda beristidlal dengan cara khianat yang sangat sangat memalukan sekaligus memilukan seperti ini? Demi legalitas untuk berlemah lembut terhadap ahli bid’ah!! Sekali lagi bahwa permasalahan ini tidak akan menjadi fatal jika Firanda hanya menegaskan bahwa memang tidak semua ahli bid’ah harus disikapi dengan keras, TERKADANG ada yang memang lebih tepat disikapi dengan lembut. Tetapi permasalahan ini menjadi PARAH karena cara-cara licik yang digunakannya!!
Sungguh sangat tidak mengherankan bahwa “trik-trik” licik seperti ini memang direkomendasikan oleh para da’i kondang hizbinya. Berikut nama-nama mereka yang merekomendasikan kelicikan sebagai wasilah dakwahnya:
http://img247.imageshack.us/img247/8572/corong2hizbturotssampulqc3.jpg
Permasalahan khusus TERKADANG bersikap lembut terhadap ahli bid’ah berhujjah dengan “nebeng” ucapan Syaikh Abdurrazzaq hafidhahullah: “Oleh karena itu, sikap lembut merupakan wasilah terbesar dalam keberhasilan dakwah” (dalam bukunya hal.154) adalah kalimat haq yang tidak dikehendakinya kecuali kebathilan!
Bagaimana mungkin permasalahan khusus TERKADANG sikap lembut tentang AHLI BID’AH…untuk kemudian disimpulkan menjadi permasalahan dakwah secara umum bahwa SIKAP LEMBUT merupakan WASILAH TERBESAR keberhasilan dakwah?! Inikah “trik-trik” dalam berdakwah wahai Firanda? Sungguh suatu demonstrasi KECERDASAN Luar Biasa yang Diluar Kebiasaan.
Dengan cara-cara inilah Firanda membela para seniornya yang telah kita buktikan bahwa mereka benar-benar bergaul dan bermuamalah dengan ahli bid’ah dari kalangan hizbiyyin dan bahkan mengunjungi markas besar mereka!! Na’am inilah kelihaian Firanda dalam menetralisir bukti-bukti kejahatan seniornya! Kelicikannya dalam berdakwah ataukah berdakwah dalam kelicikannya?” (Lihat artikel Berlemah Lembutlah terhadap ahli bid’ah!)
Yang jelas, karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah yang sering mereka nukil berjudul Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahli Sunnah dan bukan Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahli Bid’ah!
Yang jelas pula, ada perbedaan yang sangat sangat menyolok antara kisah Ibnu Taimiyah rahimahullah dengan seruan Firanda untuk berlemah lembut terhadap Ahli Bid’ah dengan beristidlal dari kisah tersebut. Hal yang paling nyata, musuh Ibnu Taimiyah rahimahullah tersebut telah mati dan tidak mungkin melemparkan syubhat kepada beliau! Adapun ahli bid’ah yang hendak didatanginya? Di sarang mereka pula! Saya tidak berharap bahwa Firanda akan berhelah dengan menyatakan bahwa mereka "hanyalah" komunitas hizbiyyin yang tidak bisa berbicara alias sekumpulan orang-orang bisu yang tidak mampu membela diri dari kebid’ahan dan kesesatan yang mereka yakini dan mereka amalkan!?
Namun demikian, adalah suatu keutamaan bagi Ahlussunnah jika fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri di bawah ini juga kami nukilkan:
“Jauhilah oleh kalian duduk bermajelis dengan mereka, karena hal itu adalah perkara yang sangat membahayakan. MEDAN YANG BERSIH DAN LEBIH MULIA DIBANDINGKAN DENGAN BATANGAN-BATANGAN EMAS ialah: medannya Ahli Sunnah Wal Jama’ah, di sana tidak ada kekeruhan, di sana tidak ada sesuatupun kecuali as-Sunnah, yaitu: Firman Allah, sabda Rasulullah dan perkataan sahabat.”
Maka dimanakah keutamaan KESEMPATAN EMASmu untuk mendatangi Ahli Bid’ah itu berada wahai Firanda? Apakah dirimu – wahai Firanda- telah lupa dengan peringatan nabimu Shalallahu ‘Alaihi wa sallam yang menyatakan, artinya: "Sesungguhnya serigala itu hanya akan memangsa kambing yang jauh dari kawanannya.” Lalu apa yang harus kita katakan terhadap tindakan yang dilakukan oleh seekor kambing (baca:Firanda) yang meyakini bahwa datang ke sarang (baca:tempat) Serigala adalah KESEMPATAN EMAS yang tidak boleh disia-siakan?! Ataukah engkau – wahai kambing – merasa percaya diri bahwa "kulitmu" kebal dari gigitan para serigala yang mengerubungimu di sarang-sarang mereka? Allahu yahdik. Para ulama sendiri tidak merasa aman bergaul dengan para Hizbiyyin sementara dirimu begitu gagahnya..bagitu beraninya… dan tentu saja begitu …sembrononya! Kami tidak mengatakan bahwa dirimu – wahai Firanda – adalah orang yang bodoh dalam beristidlal dengan suatu kisah. Bagaimana mungkin kami menyebutmu orang bodoh sementara dirimu adalah mahasiswa ranking atas dalam tes menempuh program Magister di Universitas Madinah! Hanya saja, "kecerdasan" yang Allah karuniakan kepada dirimu janganlah engkau salahgunakan untuk "membodohi" umat! Melemparkan syubuhat dan talbis dengan cara-cara licik dan curang seperti di atas! Sungguh syubhat itu menyambar-nyambar, sementara hati kita begitu lemahnya. Jika demikian keadaannya, maka cukupnya keberanian itu menjadi milikmu sendiri, cukuplah Kesempatan Emas itu engkau "nikmati" sendiri dan tidak perlu bagi dirimu untuk mengajak Salafiyyin lainnya menyongsong kebinasaan dengan caramu seperti ini! Masih adakah perkara kebinasaan yang "menggelikan" sebagaimana ucapanmu wahai Firanda? Sungguh, kalau orang sudah tersesat (wal’iyadzubillah) karena jalan kebinasaan yang ditempuhnya, apakah pantas bagi kita untuk menertawakannya? Ataukah kejadian ini merupakan perkara yang menggelikan wahai Firanda? Allahu yahdik.
JAUHILAH BERMAJELIS DENGAN AHLI BID’AH!
(Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri Hafidhahullah)
SOAL KETIGA: Apa pengarahan anda terhadap syubhat-syubhat ahli bid’ah yang tidak henti-hentinya terhadap para pemuda dalam perkara ini?
JAWAB: Kalian tentunya masih ingat hadits, “Sesungguhnya serigala itu hanya akan memangsa kambing yang jauh dari kawanannya.”
Lantas siapakah orang di antara kita yang jauh dari kawanannya? Dialah orang yang tidak terikat dengan ahli ilmu dan keutamaan yang mereka telah dikenal dengan luasnya penelaahan, manhajnya yang lurus, kuatnya pandangan dan ilmu mereka dalam dakwah kepada Allah ‘azza wa Jalla. Orang seperti inilah yang pasti akan dihinggapi oleh syubhat-syubhat (ahli bid’ah) tersebut .
Pada hari ini, seseorang telah menghubungiku, ia mengatakan bahwa dia penuntut ilmu dan pernah belajar kepada Haiah Kibarul Ulama serta mengatakan yang lain, sampai akhirnya dia berkata: Bahwa apabila ia membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang ancaman, maka ia mengatakan: ini adalah siksaan yang menyakitkan, lalu bagaimana bentuk siksaan mereka— makna perkataan dia.
Ini adalah syubhat-syubhat yang telah dilemparkan oleh syaithan ke dalam hatinya, maka perkara yang dapat menjauhkan kalian dari syubhat-syubhat tersebut —mudah-mudahan Allah melindungi kita di dunia dan di akherat— dan mengokohkan tekad kalian, meneguhkan kaki-kaki kalian serta memenuhi hati-hati kalian dengan keyakinan terhadap manhaj kalian dan keteguhan di atasnya, yakni : Memperdalam agama Allah. Dan jalannya adalah, berhubungan dengan ahli ilmu dan keutamaan, yaitu orang-orang yang telah dikenal dengan kebenaran akidahnya dan kelurusan manhajnya.
Kedua: tetaplah kalian menuntut ilmu, janganlah kalian merasa puas dengan ilmu (yang ada pada diri kalian), tambahlah terus ilmu kalian.
Ketiga: Janganlah kalian menyerahkan diri-diri kalian kepada ahli syubhat. Janganlah kamu mencoba menghadapkan diri kamu kepada mereka dengan berkata: Aku akan melihat apa yang ada pada diri mereka. Jangan, jangan kamu lakukan. Perbanyaklah jumlah ahli sunnah dan berpegang teguhlah kamu kepada Allah kemudian kepada ahli sunnah! Gabungkanlah diri kamu dengan mereka! Jadilah bersama mereka! Tinggalkanlah ahli syubhat! Dan kamu tidak akan dimintai pertanggungan jawab.
Janganlah berpikir pada suatu hari nanti kamu akan membelokkan orang-orang Ikhwanul Muslimin, orang-orang Jama’ah Tabligh dan orang-orang Sufi kepada as-Sunnah. Ini yang nampak bagi kita bahwa menurut kemampuan manusia, sesuai dengan sunnatullah adalah perkara yang mustahil. Ini adalah Sunnah Kauniyyah. Namun, menasehati tiap-tiap individunya masih mungkin. Dan Allah akan memberikan manfaat melalui nasehat kepada tiap-tiap individunya. Jauhilah oleh kalian duduk bermajelis dengan mereka, karena hal itu adalah perkara yang sangat membahayakan. Medan yang bersih dan lebih mulia dibandingkan dengan batangan-batangan emas ialah: medannya Ahli Sunnah Wal Jama’ah, di sana tidak ada kekeruhan, di sana tidak ada sesuatupun kecuali as-Sunnah, yaitu: Firman Allah, sabda Rasulullah dan perkataan sahabat.
Kemudian apabila kamu dihadapkan kepada syubhat-syubhat mereka dan kamu diuji dengannya, maka hendaklah kamu menolaknya dengan segera, jika kamu tidak mampu, maka bertanyalah kepada ahli ilmu.
Allah Yang Maha Tinggi telah berfirman, artinya:
“maka bertanyalah kamu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu memang tidak mengetahui}, bertanyalah kamu kepada ahli ilmu.”
Sebenarnya kami perhatikan ada dua jenis —atau tiga jenis golongan— dari para pemuda salafi, dari celah-celah mereka ada kekacauan dan kelemahan:
Jenis pertama: golongan pertama ini tidaklah menentu (keadaannya), sehingga kamu akan mendapatinya setiap hari berada pada arah yang tidak menentu. Ia seperti orang yang membawa buku catatan yang bermacam-macam isinya. Ia tidak menjaga dirinya dari majlis manapun, entah Ikhwani, Tablighi, ataukah Sufi.
Hasil yang diperolehnya adalah kacaunya pemikiran, bahkan sebagian mereka telah lepas serta menyeleweng dari as-Sunnah dan bersikap plin-plan. Sebagian mereka —kita berlindung kepada Allah— mengalami kebingungan sehingga tidak tahu apa yang harus ia perbuat dan mengalami rasa was-was, kegelisahan, serta kekacauan pemikiran.
Jenis kedua: Golongan yang terburu-buru, ia membaca beberapa buku lalu berani tampil. Ia tidak berhubungan dengan ahli ilmu, padahal itulah yang menjadikan pemikirannya dan tekadnya menjadi kuat, dan menjadikan ia mengetahui pokok-pokok ilmu yang dipelajarinya serta manhaj yang diikutinya. Tidak berhubungan dengan ahli ilmu inilah yang menyebabkan para pemuda (penuntut ilmu) lari, karena ia mengeluarkan hukum-hukum sementara ia tidak mengetahui bagaimana caranya mengeluarkan hukum-hukum tersebut.
Imam Malik —mudah-mudahan Allah merahmatinya— berkata dalam satu riwayat yang telah diriwayatkan dari beliau: “Aku tidaklah berfatwa hingga tujuh puluh guruku mengizinkan aku”. Lalu ada seseorang yang bertanya kepada beliau: “Kalau seandainya mereka tidak mengizinkan anda?”, Beliau mengatakan: “Aku tetap tidak akan berfatwa”.
Adapun para pemuda kita (penuntut ilmu) tidak diketahui siapa syaikhnya, dimana ia bermajlis. Mereka (para syaikh) sejak awal memang tidak mendorong muridnya untuk mengajar dan berfatwa sampai si murid meminta izin kepada syaikhnya —sampai di antara mereka memperkenankannya—, bahkan mereka (para syaikhnya) menentukan tempat majlisnya.
Hal ini merupakan bentuk penghormatan yang sangat mulia, para salaf tumbuh terdidik di atas ini, orang yang datang belakangan dan orang yang lebih dulu di antara mereka telah tumbuh terdidik di atas ini, orang yang datang belakangan belajar dari orang yang lebih dulu, mereka semua terdidik di atas ini.
Dan dahulu mereka mengatakan: “Ujilah penduduk Mesir dengan Laits, penduduk Syam dengan Auza’i, dan penduduk Maushil dengan Mu’afa bin Imran…” dan seterusnya.
Jenis ketiga: Pada hakekatnya kelompok ini tidak memiliki furqan (pembeda), mereka tidak mampu untuk memahaminya, mereka hanya mempunyai niat baik saja. Sehingga sangat mungkin dia dihampiri oleh beberapa kecenderungan hati dalam sehari itu. Apabila dilihat dari sisi akidahnya dia baik, dari sisi kecintaannya kepada salafiyyah juga baik.
Akan tetapi dia tidak memiliki furqan sehingga ia dapat mengetahui siapa saja orang yang harus mendapatkan loyalitasnya dan siapa saja orang yang berhak dimusuhi, siapa saja orang yang diingkari dan siapa orang yang mesti melapangkan dada kepadanya. Ini juga sebagai bencana bagi salafiyyin. Terkadang dia memperkuat posisi ahli bid’ah tanpa disadarinya, Ahlul bid’ah menjadi kuat dengan sebab dia. Maka harus ada furqan. Nasehat harus diterima, namun —wahai anak-anakku— nasehat itu mempunyai batasan tertentu.
Maka seorang ahli bid’ah jika engkau melihat bahwa kedekatanmu itu akan dapat memberikan pengaruh padanya dan dapat menghancurkan kekukuhannya di dalam kebid’ahan serta dapat mendekatkannya kepada Salafiyyah, maka harus engkau lakukan, bersamalah dengannya. Akan tetapi bilamana nasehat (yang engkau sampaikan) tidak bermanfaat dan berguna baginya, maka menjauhlah darinya, kemudian setelah itu perlakukanlah dengan apa yang berhak ia terima: bisa jadi dengan boikot, bisa jadi tidak dengan boikot, namun harus ditahdzir pemikiran-pemikirannya. Semua ini kembali ke kaidah “Al Mafaasid wal Mashaalih” yakni: melihat kerusakan-kerusakan serta kemaslahatan-kemaslahatan yang ditimbulkan dari hal tersebut.
Yang penting bahwa seorang salafi harus mempunyai furqan untuk dapat mengetahui siapa yang berhak mendapatkan loyalitas, siapa yang berhak dimusuhi dan siapakah di antara manusia yang dapat mengokohkan kekuatannya dan memperbanyak jumlah mereka.
Bahkan mungkin di sana terdapat jenis golongan keempat, yaitu: Ada sebagian pemuda yang mencintai manhaj salafi, namun ia tidak mau menempuh dakwahnya. Ia menisbatkan dirinya kepada salafiyyah, dan cinta kepada salafiyyin, tetapi kadang ia terjatuh ke dalam beberapa bid’ah dengan alasan ingin mendekatkan mereka (kepada salafiyyah). Salaf selamanya tidaklah berada di atas ini —semoga Allah memberkati kalian semua—, salaf itu menampakkan manhaj salafi dengan terang-terangan, mereka berpandangan bahwa tiada kemuliaan diri bagi siapa saja yang menyamarkan manhaj salafi tersebut.
(Dinukil dari buku: http://img458.imageshack.us/img458/6558/coverberdamai1og4.jpg
Terbitan Maktabah Al-Manshuroh, Ambon)
Footnote:
[1] “…Suatu hari aku mendatanginya dengan menyatakan bahwa aku membawa kabar gembira tentang kematian salah seorang musuh besarnya yang paling keras penentangan serta permusuhannya, dan yang paling sering menyakiti beliau (footnote Firanda: Ibnu Taimiyah adalah salah seorang pengibar utama bendera Ahlus Sunnah di zamannya, sehingga tidak ada yang membenci beliau melainkan ahli bid’ah atau pendengki. Namun perhatikanlah bagaimana sikap Ibnu Taimiyah dalam menghadapi musuhnya. Duhai, sekiranya orang-orang yang sering mengutip pendapat dan pemikiran beliau juga mau mengikuti sikap beliau dalam hal ini…), maka beliaupun menghardik dan mengingkari perbuatanku, kemudian beristirja’ (yaitu mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Selanjutnya beliau bangkit dan menuju rumah musuhnya yang meninggal tersebut. Beliau menta’ziyah (membesarkan hati) keluarganya. Lalu beliau berkata, “Anggaplah aku di sisi kalian seperti halnya dia (musuh beliau yang meninggal) di sisi kalian. Tidak ada satupun yang kalian butuhkan melainkan aku akan berusaha membantu kalian,” atau perkataan yang semisal ini. Merekapun sangat gembira, mendo’akan beliau dan menganggap hal ini sangat bernilai di sisi mereka. Semoga Allah merahmati dan meridhai beliau”(Lihat Madarijus Saalikin (II/345)
Demikianlah Firanda mengisahkan “sikap Ibnu Taimiyah DALAM MENGHADAPI MUSUHNYA”(Lerai…, hal.178-179).
Kita tegaskan kepada Irsyadiyyun “Kelinci – bukan pengangguran- gosok gigi” Abu Salma beserta segenap pengagumnya: “Benar-benar BUKU EMAS….imitasi!”

