Fakta.blogsome.com ! www.Fakta.cjb.net ! www.Fakta.info.tm :: FAKTAkan yang Haq

8 - August - 2007

Jauhilah Bermajelis dengan Mereka!

Filed under: Umum, Jarh

Pengantar (UPDATE:15/08/07)
Apakah anda masih ingat dengan SYUBHAT EMAS Firanda di dalam BUKU EMAS IHYA’nya bahwa berdakwah di Markas Hizbiyyah adalah KESEMPATAN EMAS yang tidak boleh disia-siakan? Sebagaimana ucapannya:
“karena itu merupakan perkara yang aneh apabila ada seorang da’i bermanhaj salaf diberi kesempatan untuk berdakwah di tempat hizbiyyin namun ia malah meninggalkan kesempatan emas ini. Semestinya jika ada kesempatan emas terbuka untuk menampakkan kebenaran di hadapan hizbiyyin maka jangan sampai disia-siakan. Lebih aneh lagi sikap sebagian orang yang mentahdzir saudaranya yang berkesempatan dakwah di lingkungan ahli bid’ah. Merupakan perkara yang menggelikan kalau kita hanya berharap ahli bid’ah di zaman ini datang menemui kita dan ikut mendengarkan pengajian kita. Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi lainnya mendatangi tempat-tempat kesyirikan untuk menyampaikan kebenaran? Mereka tidak hanya diam di masjid menunggu orang-orang musyrik datang mendengarkan kebenaran yang mereka sampaikan.” (Lerai…, hal.142)
Alhamdulillah bahwa syubhat yang sangat sangat berbahaya ini telah sedikit kita bahas dalam artikel terdahulu http://fakta.blogsome.com/go.php?http://fakta.blogsome.com/2007/03/23/bersikap-lemah-lembutlah-kepada-ahli-bidah/  sekaligus kita buktikan kecurangan dan kelicikan Firanda yang “nebeng” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk menyerukan  BERSIKAP LEMAH LEMBUT TERHADAP AHLI BID’AH DENGAN MENUKIL UCAPAN SYAIKHUL ISLAM TERHADAP PELAKU KEMAKSIATAN ( Lerai, hal.153-154) http://img168.imageshack.us/img168/699/firandalicikns0.jpg 
Apakah KECERDASAN Firanda tidak mengetahui perbedaan antara AHLI BID’AH dan PELAKU KEMAKSIATAN (bukan AHLI MAKSIAT!)? Ataukah Firanda menyamakan kedudukan antara Ahli Bid’ah dengan pelaku kemaksiatan? Haihata…haihata..
Kenapa kita tidak mengambil “kemungkinan yang lebih besar” bahwa Firanda telah mengetahui ucapan Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah “yang sangat terkenal kiprahnya dan diketahui oleh banyak orang (baca:thalibul ilmi)” ketika beliau menegaskan:
“Bid’ah itu lebih disukai oleh iblis daripada maksiat, karena maksiat itu adakah perkara yang pelakunya masih dapat diharapkan bertaubat darinya, sedangkan bid’ah tidak dapat diharapkan pelakunya bertaubat darinya.”
Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid (yang sering mereka datangkan) dalam Al Muntaqa An Nafis, halaman 36 berkata : “Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam musnad-nya riwayat ke-1885.”
Kenapa kita mengambil kemungkinan yang lebih kecil bahwa Firanda tidak mengetahui ucapan Imam Sufyan Ats-Tsauri – di atas- yang sangat terkenal kiprahnya dan diketahui oleh banyak orang yang secara tidak langsung juga menuduh Firanda berfatwa (baca:menulis BUKU EMAS IHYA’nya) tanpa mengetahui ilmu dan realitanya? Ini mirip dengan cara-cara “licik” hizbiyyin yang menulis bukunya tanpa memahami fiqhul waqi’! 
http://img61.imageshack.us/img61/2128/firandalicik2okcj4.jpg 
 “Kisah KABAR KEMATIAN musuh besar Syaikhul Islam disulap Firanda menjadi “SIKAP IBNU TAIMIYAH DALAM MENGHADAPI MUSUHNYA”!!
Kisah Ibnu Qayyim rahimahullah yang menunjukkan betapa empatinya Syaikhul Islam dalam MENGAMBIL HATI DAN MENUNJUKKAN KEPEDULIAN TERHADAP NASIB KELUARGA MUSUH BESAR BELIAU disulap Firanda menjadi “SIKAP IBNU TAIMIYAH DALAM MENGHADAPI MUSUHNYA”!![1]
Demi apa wahai ikhwah sekalian Firanda beristidlal dengan cara khianat yang sangat sangat memalukan sekaligus memilukan seperti ini? Demi legalitas untuk berlemah lembut terhadap ahli bid’ah!! Sekali lagi bahwa permasalahan ini tidak akan menjadi fatal jika Firanda hanya menegaskan bahwa memang tidak semua ahli bid’ah harus disikapi dengan keras, TERKADANG ada yang memang lebih tepat disikapi dengan lembut. Tetapi permasalahan ini menjadi PARAH karena cara-cara licik yang digunakannya!!
Sungguh sangat tidak mengherankan bahwa “trik-trik” licik seperti ini memang direkomendasikan oleh para da’i kondang hizbinya. Berikut nama-nama mereka yang merekomendasikan kelicikan sebagai wasilah dakwahnya:
http://img247.imageshack.us/img247/8572/corong2hizbturotssampulqc3.jpg
Permasalahan khusus TERKADANG bersikap lembut terhadap ahli bid’ah berhujjah dengan “nebeng” ucapan Syaikh Abdurrazzaq hafidhahullah: “Oleh karena itu, sikap lembut merupakan wasilah terbesar dalam keberhasilan dakwah” (dalam bukunya hal.154) adalah kalimat haq yang tidak dikehendakinya kecuali kebathilan!
Bagaimana mungkin permasalahan khusus TERKADANG sikap lembut tentang AHLI BID’AH…untuk kemudian disimpulkan menjadi permasalahan dakwah secara umum bahwa SIKAP LEMBUT merupakan WASILAH TERBESAR keberhasilan dakwah?! Inikah “trik-trik” dalam berdakwah wahai Firanda? Sungguh suatu demonstrasi KECERDASAN Luar Biasa yang Diluar Kebiasaan.
Dengan cara-cara inilah Firanda membela para seniornya yang telah kita buktikan bahwa mereka benar-benar bergaul dan bermuamalah dengan ahli bid’ah dari kalangan hizbiyyin dan bahkan mengunjungi markas besar mereka!! Na’am inilah kelihaian Firanda dalam menetralisir bukti-bukti kejahatan seniornya! Kelicikannya dalam berdakwah ataukah berdakwah dalam kelicikannya?” (Lihat artikel Berlemah Lembutlah terhadap ahli bid’ah!)
Yang jelas, karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah yang sering mereka nukil berjudul Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahli Sunnah dan bukan Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahli Bid’ah!
Yang jelas pula, ada perbedaan yang sangat sangat menyolok antara kisah Ibnu Taimiyah rahimahullah dengan seruan Firanda untuk berlemah lembut terhadap Ahli Bid’ah dengan beristidlal dari kisah tersebut. Hal yang paling nyata, musuh Ibnu Taimiyah rahimahullah tersebut telah mati dan tidak mungkin melemparkan syubhat kepada beliau! Adapun ahli bid’ah yang hendak didatanginya? Di sarang mereka pula! Saya tidak berharap bahwa Firanda akan berhelah dengan menyatakan bahwa mereka "hanyalah" komunitas hizbiyyin yang tidak bisa berbicara alias sekumpulan orang-orang bisu yang tidak mampu membela diri dari kebid’ahan dan kesesatan yang mereka yakini dan mereka amalkan!?
Namun demikian, adalah suatu keutamaan bagi Ahlussunnah jika fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri di bawah ini juga kami nukilkan:
“Jauhilah oleh kalian duduk bermajelis dengan mereka, karena hal itu adalah perkara yang sangat membahayakan. MEDAN YANG BERSIH DAN LEBIH MULIA DIBANDINGKAN DENGAN BATANGAN-BATANGAN EMAS ialah: medannya Ahli Sunnah Wal Jama’ah, di sana tidak ada kekeruhan, di sana tidak ada sesuatupun kecuali as-Sunnah, yaitu: Firman Allah, sabda Rasulullah dan perkataan sahabat.”
Maka dimanakah keutamaan KESEMPATAN EMASmu  untuk mendatangi Ahli Bid’ah itu berada wahai Firanda? Apakah dirimu – wahai Firanda- telah lupa dengan peringatan nabimu Shalallahu ‘Alaihi wa sallam yang menyatakan, artinya: "Sesungguhnya serigala itu hanya akan memangsa kambing yang jauh dari kawanannya.” Lalu apa yang harus kita katakan terhadap tindakan yang dilakukan oleh seekor kambing (baca:Firanda) yang meyakini bahwa datang ke sarang (baca:tempat) Serigala adalah KESEMPATAN EMAS yang tidak boleh disia-siakan?! Ataukah engkau – wahai kambing – merasa percaya diri bahwa "kulitmu" kebal dari gigitan para serigala yang mengerubungimu di sarang-sarang mereka? Allahu yahdik. Para ulama sendiri tidak merasa aman bergaul dengan para Hizbiyyin sementara dirimu begitu gagahnya..bagitu beraninya… dan tentu saja begitu …sembrononya! Kami tidak mengatakan bahwa dirimu – wahai Firanda – adalah orang yang bodoh dalam beristidlal dengan suatu kisah. Bagaimana mungkin kami menyebutmu orang bodoh sementara dirimu adalah mahasiswa ranking atas dalam tes menempuh program Magister di Universitas Madinah! Hanya saja, "kecerdasan" yang Allah karuniakan kepada dirimu janganlah engkau salahgunakan untuk "membodohi" umat! Melemparkan syubuhat dan talbis dengan cara-cara licik dan curang seperti di atas! Sungguh syubhat itu menyambar-nyambar, sementara hati kita begitu lemahnya. Jika demikian keadaannya, maka cukupnya keberanian itu menjadi milikmu sendiri, cukuplah Kesempatan Emas itu engkau "nikmati" sendiri dan tidak perlu bagi dirimu untuk mengajak Salafiyyin lainnya menyongsong kebinasaan dengan caramu seperti ini! Masih adakah perkara kebinasaan yang "menggelikan" sebagaimana ucapanmu wahai Firanda? Sungguh, kalau orang sudah tersesat (wal’iyadzubillah) karena jalan kebinasaan yang ditempuhnya, apakah pantas bagi kita untuk menertawakannya? Ataukah kejadian ini merupakan perkara yang menggelikan wahai Firanda? Allahu yahdik.

JAUHILAH BERMAJELIS DENGAN AHLI BID’AH!
(Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri Hafidhahullah)

SOAL KETIGA: Apa pengarahan anda terhadap syubhat-syubhat ahli bid’ah yang tidak henti-hentinya terhadap para pemuda dalam perkara ini?
JAWAB: Kalian tentunya masih ingat hadits, “Sesungguhnya serigala itu hanya akan memangsa kambing yang jauh dari kawanannya.”
Lantas siapakah orang di antara kita yang jauh dari kawanannya? Dialah orang yang tidak terikat dengan ahli ilmu dan keutamaan yang mereka telah dikenal dengan luasnya penelaahan, manhajnya yang lurus, kuatnya pandangan dan ilmu mereka dalam dakwah kepada Allah ‘azza wa Jalla. Orang seperti inilah yang pasti akan dihinggapi oleh syubhat-syubhat (ahli bid’ah) tersebut .
Pada hari ini, seseorang telah menghubungiku, ia mengatakan bahwa dia penuntut ilmu dan pernah belajar kepada Haiah Kibarul Ulama serta mengatakan yang lain, sampai akhirnya dia berkata: Bahwa apabila ia membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang ancaman, maka ia mengatakan: ini adalah siksaan yang menyakitkan, lalu bagaimana bentuk siksaan mereka— makna perkataan dia.
Ini adalah syubhat-syubhat yang telah dilemparkan oleh syaithan ke dalam hatinya, maka perkara yang dapat menjauhkan kalian dari syubhat-syubhat tersebut —mudah-mudahan Allah melindungi kita di dunia dan di akherat— dan mengokohkan tekad kalian, meneguhkan kaki-kaki kalian serta memenuhi hati-hati kalian dengan keyakinan terhadap manhaj kalian dan keteguhan di atasnya, yakni : Memperdalam agama Allah. Dan jalannya adalah, berhubungan dengan ahli ilmu dan keutamaan, yaitu orang-orang yang telah dikenal dengan kebenaran akidahnya dan kelurusan manhajnya.
Kedua: tetaplah kalian menuntut ilmu, janganlah kalian merasa puas dengan ilmu (yang ada pada diri kalian), tambahlah terus ilmu kalian.
Ketiga: Janganlah kalian menyerahkan diri-diri kalian kepada ahli syubhat. Janganlah kamu mencoba menghadapkan diri kamu kepada mereka dengan berkata: Aku akan melihat apa yang ada pada diri mereka. Jangan, jangan kamu lakukan. Perbanyaklah jumlah ahli sunnah dan berpegang teguhlah kamu kepada Allah kemudian kepada ahli sunnah! Gabungkanlah diri kamu dengan mereka! Jadilah bersama mereka! Tinggalkanlah ahli syubhat! Dan kamu tidak akan dimintai pertanggungan jawab.
Janganlah berpikir pada suatu hari nanti kamu akan membelokkan orang-orang Ikhwanul Muslimin, orang-orang Jama’ah Tabligh dan orang-orang Sufi kepada as-Sunnah. Ini yang nampak bagi kita bahwa menurut kemampuan manusia, sesuai dengan sunnatullah adalah perkara yang mustahil. Ini adalah Sunnah Kauniyyah. Namun, menasehati tiap-tiap individunya masih mungkin. Dan Allah akan memberikan manfaat melalui nasehat kepada tiap-tiap individunya. Jauhilah oleh kalian duduk bermajelis dengan mereka, karena hal itu adalah perkara yang sangat membahayakan. Medan yang bersih dan lebih mulia dibandingkan dengan batangan-batangan emas ialah: medannya Ahli Sunnah Wal Jama’ah, di sana tidak ada kekeruhan, di sana tidak ada sesuatupun kecuali as-Sunnah, yaitu: Firman Allah, sabda Rasulullah dan perkataan sahabat.
Kemudian apabila kamu dihadapkan kepada syubhat-syubhat mereka dan kamu diuji dengannya, maka hendaklah kamu menolaknya dengan segera, jika kamu tidak mampu, maka bertanyalah kepada ahli ilmu.
Allah Yang Maha Tinggi telah berfirman, artinya:
“maka bertanyalah kamu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu memang tidak mengetahui}, bertanyalah kamu kepada ahli ilmu.”
Sebenarnya kami perhatikan ada dua jenis —atau tiga jenis golongan— dari para pemuda salafi, dari celah-celah mereka ada kekacauan dan kelemahan:
Jenis pertama: golongan pertama ini tidaklah menentu (keadaannya), sehingga kamu akan mendapatinya setiap hari berada pada arah yang tidak menentu. Ia seperti orang yang membawa buku catatan yang bermacam-macam isinya. Ia tidak menjaga dirinya dari majlis manapun, entah Ikhwani, Tablighi, ataukah Sufi.
Hasil yang diperolehnya adalah kacaunya pemikiran, bahkan sebagian mereka telah lepas serta menyeleweng dari as-Sunnah dan bersikap plin-plan. Sebagian mereka —kita berlindung kepada Allah— mengalami kebingungan sehingga tidak tahu apa yang harus ia perbuat dan mengalami rasa was-was, kegelisahan, serta kekacauan pemikiran.
Jenis kedua: Golongan yang terburu-buru, ia membaca beberapa buku lalu berani tampil. Ia tidak berhubungan dengan ahli ilmu, padahal itulah yang menjadikan pemikirannya dan tekadnya menjadi kuat, dan menjadikan ia mengetahui pokok-pokok ilmu yang dipelajarinya serta manhaj yang diikutinya. Tidak berhubungan dengan ahli ilmu inilah yang menyebabkan para pemuda (penuntut ilmu) lari, karena ia mengeluarkan hukum-hukum sementara ia tidak mengetahui bagaimana caranya mengeluarkan hukum-hukum tersebut.
Imam Malik —mudah-mudahan Allah merahmatinya— berkata dalam satu riwayat yang telah diriwayatkan dari beliau: “Aku tidaklah berfatwa hingga tujuh puluh guruku mengizinkan aku”. Lalu ada seseorang yang bertanya kepada beliau: “Kalau seandainya mereka tidak mengizinkan anda?”, Beliau mengatakan: “Aku tetap tidak akan berfatwa”.
Adapun para pemuda kita (penuntut ilmu) tidak diketahui siapa syaikhnya, dimana ia bermajlis. Mereka (para syaikh) sejak awal memang tidak mendorong muridnya untuk mengajar dan berfatwa sampai si murid meminta izin kepada syaikhnya —sampai di antara mereka memperkenankannya—, bahkan mereka (para syaikhnya) menentukan tempat majlisnya.
Hal ini merupakan bentuk penghormatan yang sangat mulia, para salaf tumbuh terdidik di atas ini, orang yang datang belakangan dan orang yang lebih dulu di antara mereka telah tumbuh terdidik di atas ini, orang yang datang belakangan belajar dari orang yang lebih dulu, mereka semua terdidik di atas ini.
Dan dahulu mereka mengatakan: “Ujilah penduduk Mesir dengan Laits, penduduk Syam dengan Auza’i, dan penduduk Maushil dengan Mu’afa bin Imran…” dan seterusnya.
Jenis ketiga: Pada hakekatnya kelompok ini tidak memiliki furqan (pembeda), mereka tidak mampu untuk memahaminya, mereka hanya mempunyai niat baik saja. Sehingga sangat mungkin dia dihampiri oleh beberapa kecenderungan hati dalam sehari itu. Apabila dilihat dari sisi akidahnya dia baik, dari sisi kecintaannya kepada salafiyyah juga baik.
Akan tetapi dia tidak memiliki furqan sehingga ia dapat mengetahui siapa saja orang yang harus mendapatkan loyalitasnya dan siapa saja orang yang berhak dimusuhi, siapa saja orang yang diingkari dan siapa orang yang mesti melapangkan dada kepadanya. Ini juga sebagai bencana bagi salafiyyin. Terkadang dia memperkuat posisi ahli bid’ah tanpa disadarinya, Ahlul bid’ah menjadi kuat dengan sebab dia. Maka harus ada furqan. Nasehat harus diterima, namun —wahai anak-anakku— nasehat itu mempunyai batasan tertentu.

Maka seorang ahli bid’ah jika engkau melihat bahwa kedekatanmu itu akan dapat memberikan pengaruh padanya dan dapat menghancurkan kekukuhannya di dalam kebid’ahan serta dapat mendekatkannya kepada Salafiyyah, maka harus engkau lakukan, bersamalah dengannya. Akan tetapi bilamana nasehat (yang engkau sampaikan) tidak bermanfaat dan berguna baginya, maka menjauhlah darinya, kemudian setelah itu perlakukanlah dengan apa yang berhak ia terima: bisa jadi dengan boikot, bisa jadi tidak dengan boikot, namun harus ditahdzir pemikiran-pemikirannya. Semua ini kembali ke kaidah “Al Mafaasid wal Mashaalih” yakni: melihat kerusakan-kerusakan serta kemaslahatan-kemaslahatan yang ditimbulkan dari hal tersebut.
Yang penting bahwa seorang salafi harus mempunyai furqan untuk dapat mengetahui siapa yang berhak mendapatkan loyalitas, siapa yang berhak dimusuhi dan siapakah di antara manusia yang dapat mengokohkan kekuatannya dan memperbanyak jumlah mereka.
Bahkan mungkin di sana terdapat jenis golongan keempat, yaitu: Ada sebagian pemuda yang mencintai manhaj salafi, namun ia tidak mau menempuh dakwahnya. Ia menisbatkan dirinya kepada salafiyyah, dan cinta kepada salafiyyin, tetapi kadang ia terjatuh ke dalam beberapa bid’ah dengan alasan ingin mendekatkan mereka (kepada salafiyyah). Salaf selamanya tidaklah berada di atas ini —semoga Allah memberkati kalian semua—, salaf itu menampakkan manhaj salafi dengan terang-terangan, mereka berpandangan bahwa tiada kemuliaan diri bagi siapa saja yang menyamarkan manhaj salafi tersebut.
(Dinukil dari buku: http://img458.imageshack.us/img458/6558/coverberdamai1og4.jpg
Terbitan Maktabah Al-Manshuroh, Ambon)

Footnote:
[1] “…Suatu hari aku mendatanginya dengan menyatakan bahwa aku membawa kabar gembira tentang kematian salah seorang musuh besarnya yang paling keras penentangan serta permusuhannya, dan yang paling sering menyakiti beliau (footnote Firanda: Ibnu Taimiyah adalah salah seorang pengibar utama bendera Ahlus Sunnah di zamannya, sehingga tidak ada yang membenci beliau melainkan ahli bid’ah atau pendengki. Namun perhatikanlah bagaimana sikap Ibnu Taimiyah dalam menghadapi musuhnya. Duhai, sekiranya orang-orang yang sering mengutip pendapat dan pemikiran beliau juga mau mengikuti sikap beliau dalam hal ini…), maka beliaupun menghardik dan mengingkari perbuatanku, kemudian beristirja’ (yaitu mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Selanjutnya beliau bangkit dan menuju rumah musuhnya yang meninggal tersebut. Beliau menta’ziyah (membesarkan hati) keluarganya. Lalu beliau berkata, “Anggaplah aku di sisi kalian seperti halnya dia (musuh beliau yang meninggal) di sisi kalian. Tidak ada satupun yang kalian butuhkan melainkan aku akan berusaha membantu kalian,” atau perkataan yang semisal ini. Merekapun sangat gembira, mendo’akan beliau dan menganggap hal ini sangat bernilai di sisi mereka. Semoga Allah merahmati dan meridhai beliau”(Lihat Madarijus Saalikin (II/345)
Demikianlah Firanda mengisahkan “sikap Ibnu Taimiyah DALAM MENGHADAPI MUSUHNYA”(Lerai…, hal.178-179).
Kita tegaskan kepada Irsyadiyyun “Kelinci – bukan pengangguran- gosok gigi” Abu Salma beserta segenap pengagumnya: “Benar-benar BUKU EMAS….imitasi!”

Awas! Taring-Taring Jum’iyyah Hizbiyyah Pemecahbelah Umat!(3)

Filed under: Umum, Jarh

Pengantar
Alhamdulillah, pada artikel yang telah lalu, ketika kita mengemukakan fakta hizbiyyah salah satu yayasan pemecah belah umat, Al-Sofwa Al-Muntada yang didirikan oleh Muhammad Khalaf, kita telah menghadirkan bukti bahwa pijakan dasar dari dakwah yayasan ini adalah berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan salaful ummah, menegakkan tulang punggung dan mengisi perut para da’i kondangnya dengan kaidah “Amar Munkar Nahi Ma’ruf” sebagaimana yang tertulis dalam Undang-Undang Dasar yayasan ini:
http://img241.imageshack.us/img241/5074/buktiyayasanalsofwaamarvc1.jpg
Walaupun kenyataan FAKTAnya sedemikian jelasnya, dapat diakses siapapun buktinya (karena Al-Sofwa sendiri yang mempublikasikan di dalam situs resminya) Abdullah Taslim dengan Muslim.or.id masih pula tanpa rasa malu berupaya melempar syubhat “murahan” dengan mengaku tidak memiliki informasi yang jelas tentang status yayasan ini. Bukankah dirinya berada satu majelis dengan para pembesar Al-Sofwa dalam daurah-daurah Masyayikh yang diselenggarakan oleh Al-Irsyad illegal Surabaya? Anehnya, solusi ketidakjelasan status yayasan Al-Sofwa tersebut, umat dimintanya agar bertanya kepada para asatidzah yang justru selama ini terbukti erat terkait langsung dengan yayasan tersebut! Haihata, haihata…
Bukan itu saja, walaupun tampak NYATA di depan mata bahwa situs resmi Al-Sofwa mempromosikan para gembong Sururi kaliber Internasional, masih pula “status” yayasan ini tidak jelas bagi mereka! Adapun "kebaikan fulus"nya, adakah mereka juga mengingkari ketidakjelasannya? 
Duhai, bukankah kebaikan dana yayasan pemecahbelah umat dari Kuwait, Ihya’ut Turats juga begitu jelasnya di depan mata mereka, tetapi "giliran" menyaksikan FAKTA kejahatan dan kebobrokan manhaj yayasan ini (walau telah terhidang di depan matanya) juga masih belum jelas bagi mereka?
http://img64.imageshack.us/img64/7177/sofwapromogembongsururife9.jpg  
Kalau cinta buta sudah melekat,
Tanah liatpun serasa nikmat layaknya coklat!
Maka pada kesempatan ini, kita akan menurunkan fatwa Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri untuk menyingkap jati diri salah seorang gembong Sururi-Ikhwani, Thariq As-Suwaidan (lihat nama di nomor 3 dari bawah yang tertulis pada bukti di atas) yang dipromosikan oleh Al-Sofwa Al-Muntada Al-Hizbi.
Apabila sebab itu telah diketahui,
maka gugurlah perasaan takjub.
Juga…
Jika tak kenal,
maka…tak waspada!
Semoga Allah Ta’la memudahkan kita dalam menerima kebenaran dan berpegang teguh dengannya, serta berani berlepas diri dari kesesatan dan para tokohnya, amin.

THARIQ AS-SUWAIDAN,
HIZBI KELAS KAKAP DARI HIZBUL IKHWAN
(Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri Hafidhahullah)

SOAL KEDUA: Bagaimana kita membantah Thariq As-Suwaidan?
JAWAB: Siapakah sebenarnya Thariq Suwaidan? Apa pemahamannya? Siapakah dia sebenarnya?
Dia adalah seorang laki-laki dari Kuwait, dia banyak menulis buku-buku dan kaset-kasetnya pun banyak, dia bukanlah orang yang memiliki ilmu syar’i, dia mengambil spesialisasi dalam bidang ilmu yang lain, kabar terakhir yang telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya dia adalah dosen di Fakultas Tehnologi atau Tehnik. Dan ini cukup (sebagai dasar), bahwa dia dan apa yang diberitakan serta dikatakannya tidak bisa dijadikan sebagai pegangan. Tiap-tiap ilmu mempunyai dasar dan kaidah sebagai landasan pijakan, dan tidak ada yang mumpuni tentang dasar-dasar serta kaidah-kaidah dari suatu ilmu melainkan orang-orang yang memang mengambil keahlian khusus dalam bidang tersebut. Maka, ilmu syar’i itu memiliki dasar-dasar dan kaidah-kaidah, sedangkan Thariq Suwaidan bukanlah orang yang mumpuni dalam bidang tersebut.
Apa pemahaman dia? Dia adalah seorang Ikhwani, dia berpijak di atas kaidah mereka yang cukup masyhur, yang mereka warisi dari Al-Manar, kaidah tersebut pada mulanya adalah kaidah Al-Manar, kemudian menjadi kaidah Ikhwani (yakni: Ikhwanul Muslimin, pent), yaitu kaidah: “Menerima Udzur dan Saling Tolong Menolong”, yang detailnya ialah: “Kita Saling Tolong Menolong Dalam Perkara yang Kita Sepakati dan Kita Menerima Udzur Antara Satu dengan yang Lain Dalam Perkara yang Kita Perselisihkan".
Kaidah ini pun masuk di tengah-tengah kaum muslimin dan menjadi bencana bagi mereka. Ikhwanul Muslimin telah menimpakan bencana besar (kepada kaum muslimin) melalui kaidah ini, aku memohon kehadirat Allah Yang Maha Mulia Pemilik ‘arsy yang agung agar menghadapkan orang-orang yang tidak mau mencari petunjuk kepada kebenaran untuk berdebat pada hari kiamat nanti.
Kaidah tersebut merupakan pintu yang selalu terbuka lebar bagi tiap-tiap aliran kepercayaan yang dapat menimpakan bencana besar terhadap Islam dan kaum muslimin itu sendiri, sama saja apakah aliran kepercayaan ini bernisbat kepada Islam seperti: Rafidhah —orang-orang yang mereka namakan dengan Syiah— atau yang bernisbat bukan kepada Islam, seperti: Yahudi dan Nashrani.
Thariq Suwaidan memiliki satu kaset yang ada padaku, yang memuat perkataan —atau keikut sertaannya— dalam sebuah acara pertemuan yang diadakan di Husainiyyah— Husainiyyah adalah basis-basis dan tempat-tempat berkumpul dan ibadahnya orang-orang Rafidhah— tampak jelas di dalam kaset ini upaya pendekatan yang nyata antara Ahlussunnah dengan Rafidhah.
Maka bila demikian, tidaklah aneh jika laki-laki ini selalu berpijak di atas kaidah ini (yakni kaidah: kita saling tolong menolong dalam perkara yang kita sepakati dan kita menerima udzur antara satu dengan yang lain dalam perkara yang kita perselisihkan, pent), dia mempunyai pendahulu — dan itu sejelek-jelek pendahulu dan panutan—.
Pertama: pada saat jamaah Ikhwanul Muslimin tumbuh berkembang —yang didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir—, aku menduga pada pertengahan abad 20 miladi, hal ini berdasarkan penanggalan mereka dan kami tidak menggunakan penanggalan miladi, bagaimana Hasan al-Banna melahirkan jamaah ini, bagaiman membuat asasnya, dan mendakwahkannya?—.
Pertama: Dia membangun “Gedung (untuk) Pendekatan Antara Sunnah dengan Syiah” di Mesir, ia mengatakan: “bahwa markas-markas dan rumah-rumah Ikhwanul Muslimin selalu terbuka lebar bagi Syiah” dia pernah menjamu para dedengkot Rafidhah semisal Nawwaf Shafawy, dia (Hasan al-Banna) biasa berhubungan dengan mereka ketika haji serta berusaha membangkitkan simpati mereka dan bersikap lunak kepada mereka dengan perkataan-perkataan mereka, di antaranya: “Antara kami dan kalian tidaklah ada perselisihan, antara kami dengan kalian hanya ada beberapa perkara sepele yang mungkin untuk diselesaikan seperti Mut’ah”.
Lantas dimana caci maki dan pengkafiran mereka terhadap para sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam – kecuali hanya tiga atau sepuluh atau tujuh orang sahabat – ?, di manakah ucapan mereka bahwa al-Qur’an telah diselewengkan ? Mereka mempergunakan al-Qur’an yang diselewengkan sampai munculnya al-Mahdi al-Muntadhar (yang ditunggu-tunggu, pent).
Dimanakah tuduhan-tuduhan dusta mereka terhadap Aisyah radhiallahu ‘anha selaku Ummul Mukminin dan istri dari penghulu segenap makhluk Shallallahu ‘alaihi wasallam? Ini semua adalah ucapan-ucapan Rafidhah yang diabaikan oleh Hasan al-Banna dan ia tidak menganggapnya sebagai sesuatu, karena ia berupaya untuk menggabungkan, mengumpulkan sesuatu yang jelek dari sana sini, dan merangkulnya.[1]
Kedua: Ia telah mengatakan suatu perkataan yang pada hakekatnya adalah perkataan kekufuran – dan janganlah kalian menukilkan dariku bahwa aku mengkafirkan al-Banna -, akan tetapi ucapan tersebut merupakan kekufuran, ia (Hasan al-Banna) berkata: “Antara kita dengan Yahudi tidak ada pertikaian karena sentimen agama, namun yang ada hanyalah pertikaian karena faktor ekonomi, dan Allah memerintahkan kita untuk berkasih sayang serta berjabat tangan dengan mereka”, dan dia berdalil dengan ayat:
“Dan janganlah kalian mendebat ahli kitab melainkan dengan cara yang terbaik”.,
Inilah yang telah diriwayatkan oleh Mahmud Abdul Halim – ia merupakan orang-orang terdekatnya Hasan al-Banna – di dalam bukunya:
التاريخ صنعت أحداث الإخوان
{Ikhwanul Muslimin Sang Pengukir Sejarah}
Kemudian setelah itu, setiap orang yang berada di atas manhaj al-Banna dan manhaj Ikhwanul Muslimin dalam berdakwah selalu berdiri di atas kaidah ini. Dari kaidah inilah muncul seruan penyatuan agama-agama dan dialog lintas agama. Maka engkau tidak akan mendapati seorang Ikhwani tulen melainkan dia selalu berada di atas manhaj taqrib (pendekatan antar semua golongan) ini, dan orang-orang yang telah kita ketahui paling tulen dalam dakwah ini adalah: Hasan bin Abdullah at-Turaby as-Sudany dan Yusuf al-Qaradhawy al-Mishry,—. Dan aku memiliki bukti – bukti atas apa yang kunukilkan — bahwa Yusuf Al Qaradhawi menamakan kaidah ini dengan “Kaidah Emas”.
Ia menyebutkan alasan dakwah kepada penyatuan agama-agama ini adalah bahwa kehidupan akan menampung lebih dari satu kebudayaan, dan menampung pula lebih dari satu agama, bahkan satu agama dapat pula menampung lebih dari satu pandangan hidup.
Kaidah tersebut adalah kaidah karet —yakni agama yang sifatnya lentur dan menampung beberapa gagasan-gagasan yang dibangun oleh Al Qaradhawy dan orang-orang semisalnya, (dan) ini sama sekali bukan ajaran agama Islam yang telah dibawa oleh para rasul, semoga sholawat serta salam dilimpahkan atas mereka, yaitu: [Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, dan berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan serta para pelakunya].
Menurut Al Qaradhawy, Islam itu hanyalah sekedar seruan penyatuan dan penggabungan semua orang. Sehingga Rafidhah, Shufiyyah para penganut Wihdatul Wujud, Bathiniyyah, Hululiyyah, Quburiyyah, berdasarkan kaidah ini, mereka semua adalah orang-orang muslim yang sesungguhnya. Karena mereka itu bersepakat dengan ahli Islam dan ahli Sunnah pada perkataan: Laa ilaaha illallah, dan berbeda pendapat pada selain itu, jika demikian, masing-masing dapat berijtihad dan telah sampai kepada apa yang telah ditunaikan oleh ijtihadnya tersebut.
Yang saya maksud dari penjelasan bahwa Thariq As-Suwaidan selalu berpijak di atas kaidah ini dan inilah tabiat umum dari dakwahnya.
Adapun secara detailnya, antara lain:
Dia (Thariq Suwaidan, pent) menyebar luaskan perselisihan yang terjadi di kalangan para sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal ini merupakan perkara yang telah disepakati oleh ijma’ untuk ditinggalkan, yakni diharamkan. Seseorang tidak diperbolehkan menyebar luaskan perselisihan yang terjadi di kalangan sahabat-sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab dapat memunculkan di tengah-tengah kaum muslimin segala bentuk fitnah dan kecenderungan kepada perkara yang para sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri darinya.
Demikian juga ia bersandar kepada metode cerita, dan bukan metode yang berdiri di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahkan laki-laki tersebut pada suatu kesempatan mengatakan di dalam kaset yang telah kusebutkan kepada kalian tadi, bahwa dia menyerukan Taqrib (pendekatan antar semua golongan) dan satu barisan serta menghargai perasaan (orang lain) selama dakwah dan tujuan mereka itu satu, — misalnya —:
“Janganlah kalian mencaci maki Abu Hurairah di hadapanku, tetapi caci makilah ia di rumah-rumah kalian”.
Ini adalah persetujuan darinya untuk mencaci maki para sahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia hanya mengingkari kalau hal ini dilakukan secara mencolok dan terang-terangan, sebab dapat melukai perasaan serta merusak persatuan barisan dan tujuan. Dan barang kali ia mengatakannya pada waktu pemilu.
Inilah penjelasan ringkas tentang siapakah sebenarnya Suwaidan dan pijakannya! Semoga kalian semua mengetahui sebabnya, dan telah lama dikatakan:
Apabila sebab itu telah diketahui,
Maka gugurlah perasaan takjub.
(Dinukil dari buku: http://img458.imageshack.us/img458/6558/coverberdamai1og4.jpg
Terbitan Maktabah Al-Manshuroh, Ambon)

Footnote:
[1] Tentu anda sekalian masih ingat dengan pendiri Jum’iyyah Hizbiyyah Irsyadiyyah, orang yang dilambungkan gelarnya sebagai Syaikh Salafi yang di dalam kitabnya sendiri (yang dibangga-banggakan oleh para pengikut fanatiknya) ternyata menyerukan persatuan dengan Syi’ah, Khawarij Kilabun Naar, Khurafiyyun untuk masuk di dalam barisan dakwah Irsyadnya! http://img405.imageshack.us/img405/8567/abdurrahmanalkadzdzabps7.jpg
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (-ed.)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham