Fakta.blogsome.com ! www.Fakta.cjb.net ! www.Fakta.info.tm :: FAKTAkan yang Haq

22 - June - 2007

Abu Ihsan, Ustadz Parlente dari Medan!

Filed under: Umum, Fakta

ABU IHSAN, USTADZ PARLENTE (PAMBOHONG) DARI MEDAN! (UPDATE 25/06/07)

Telah berlalu buktinya ketika si “parlente” al-atsari al-maidani menjual kehormatan diri dan manhajnya dengan menerjemahkan pujian terhadap Abdurrahman Abdul Khaliq dan cs hizbinya dalam buku yang diterjemahkan oleh At-Tibyan.
http://img483.imageshack.us/img483/3496/sururiaihsantibyansz5.jpg 
http://img166.imageshack.us/img166/1634/qsururiabuihsan2st6.jpg 
http://fakta.blogsome.com/2006/12/dua-sejoli-yg-mengelu-elukan-gembong-ihkwani
At-Tibyannya Abu Ihsan inilah yang mempropagandakan buku gembong Sururi Internasional yang menjadi "wakil" Salman Al-Audah: http://img504.imageshack.us/img504/4369/karyawakilsalmanalaudahsv2.jpg
http://img509.imageshack.us/img509/7749/karyawakilsalmanalaudahaq6.jpg                                   Di bawah ini adalah bukti lainnya bagaimana Mister plin-plan yang banyak penggemarnya ini sedang beraksi mempertontonkan ketegasannya….yang tiada bukti kenyataannya… sampai sekarang! Dan entah, sampai kapan…

Kutipan Fakta :
Ini perkembangan terakhir sebelum saya meninggalkan At-Turots. Termasuk juga hubungan dengan beberapa orang, misal Muhammad Khalaf[24] dan dengan beberapa jum’iyyah. Salah satunya At-Turots yang santer disoroti para ulama. Terutama tentang misi di belakang itu tidak bisa ditutup-tutupi, memang ada misi di belakangnya dan itu akan nampak sendiri[25].
Insya Allah [pernyataan saya] ini bukan diplomasi. Seandainya [perbaikan] itu tidak terlaksana, sediakan saja mobil untuk mengangkat barang-barang saya dari sana. Misalnya terlaksana, saya tetap akan ke sini dalam jangka satu tahun lagi, sebab di sana masih ada binaan. Misalnya ini bisa terwujud, berarti mereka menyadari. Dan ini suatu perkembangan yang besar, kita katakan kegemparan bagi semua pihak. Kalau tidak terjadi, apa boleh buat. Mungkin santri-santrinya akan saya bawa seluruhnya, sebab yang menangani santri-santri itu adalah saya. Memang saya akui, selama ini saya tidak santer dan karena kurang perhatian. Dan ini kekurangan, kelemahan, ini saya akui. Saya banyak mengurusi santri, saya sering ke dalam dan kurang gencar keluar. Itu akan kita lihat kejelasannya di lapangan.” (Abu Ihsan, Parlente dari Medan)

Komentar Nyata:
Tampaknya mobil “omprengan” Salafiyyin Medan tidak cukup kuat untuk memikat hati Abu Ihsan agar berpaling dari iming-iming menggiurkan misi di belakang Ihya’ut Turats dan beberapa jum’iyyah yang santer disoroti para ulama yang tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Bukan hanya Abu Ihsan “tidak berhasil memperbaiki’ (seperti ucapannya di atas) tetapi bahkan “diperbaiki’ oleh kenikmatan dakwah At-Turots yang santer disoroti para ulama! Abu Ihsan hingga saat ini tetap lengket-ket kayak prangko nempel di amplop mereka. Inilah kejelasan Abu Ihsan di lapangan “yang menyebabkan slip dan keliru yang fatal sehingga terjadilah apa yang terjadi.”
Semoga Allah Ta’ala memberi kekuatan iman kepada kita semua dari dakwah hizbiyyah dan iming-iming harta mereka dan semoga Allah teguhkan kita sebagai orang-orang yang jujur baik ucapan maupun perbuatan, amin. Na’am, jujur dalam membela kebenaran dan menyingkap kebatilan para pengusungnya.
Mukadimah:
Telah menjadi jalannya para Salafush Shalih dan termasuk da’wah ilallah (menyeru ke jalan Allah) bahkan jihad fi sabilillah, adalah dengan menerangkan aqidah Ahlus Sunnah dan membelanya, membongkar aurat ahlul bid’ah, mulhiddin (orang-orang yang menyimpang), dan mentahdzirnya (mengingatkan akan bahayanya keadaan mereka). Allah berfirman, artinya:

"Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap…" (Al-Anbiyaa`: 18).
Semoga Allah merahmati para Salaf yang telah menjadikan tahdzir terhadap ahli bid’ah sebagai metodologi yang ditempuh dan prinsip yang dijunjung luhur sepanjang sejarah kehidupan mereka.
Akhir-akhir ini telah banyak permintaan mengenai penjelasan seputar "Siapakah Abu Ihsan?". Pasalnya, terlalu banyak para penuntut ilmu yang baru mengenal Manhaj Salaf dibuat bingung. Muncul anggapan “di sini ada Salafy dan di situ ada Salafy”. Untuk penjelasan ini, sepatutnya kita simak hasil dialog antara Al-Ustadz Muhammad Faishal bin Jamil dengan Abu Ihsan agar syubhat yang beredar selama ini terjawab.
Sengaja di sini hanya dibawakan dialog antara Al-Ustadz Muhammad Faishal dengan Abu Ihsan, yang membicarakan seputar munculnya fitnah dakwah Sururiyyah dan tokoh-tokohnya di Indonesia. Serta  keberadaan yayasan Ihya’ut Turots. Agar terfokus perhatian kita padanya.

Abu Ihsan berkata:
Syarif bin Fuad Hazza’[1] orangnya memang suka buat ulah menurut informasi Abu Uqbah. Sikap kita akan memblokir apa-apa yang datang dari Syarif ini, baik berupa tulisan maupun ceramah-ceramah. Telah nyata bagi kita dari orang-orang yang mengenalnya. Kita tidak keberatan untuk melepas hubungan-hubungan dengannya, baik berupa buku-buku dan lainnya[2].
Asy-Syaikh Ali Hasan Al-Halabi Al-Atsari[3] berpesan bahwa kita berkonsultasilah pada para ulama yang tsiqoh jika ada masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaan, dan jangan diputuskan sendiri. Konsultasi dengan informasi yang jujur, akurat, ittiba’ul haq (ikut kebenaran), dan terbuka.
Kita sibukkan diri menuntut ilmu kepada mereka yang terpecaya dan dinyatakan tsiqoh oleh para ulama, jadi tidak dengan Qila wa Qala (kata-kata orang tanpa bukti/saksi)
At-Turots[4] adalah lembaga Ta’awun ’alal birri wa taqwa dan tidak ada misi pemikiran dan manhaj, hanya saja terpengaruh oleh hal-hal yang ada di dalamnya. Itu yang menyebabkan slip dan keliru yang fatal sehingga terjadilah apa yang terjadi. Beberapa masalah yang berhubungan dengan jum’iyyah (Yayasan/Organisasi) yang ada, dan ini akan kita tanya pada Ulama secara resmi, mana saja yang boleh, yang tidak boleh. Jika tidak boleh, kita tidak keberatan meninggalkannya dan kita akan balik ke majelis ilmu. Latar belakang fitnah, saya tidak tahu persis[5], tanya saja mereka yang berkecimpung. Saya baru ikut setelah Asy-Syaikh Ali Hasan ke sini. Selama ini memang di sini slipnya.
Kita jangan cenderung menyalahkan kelompok tertentu. Mencari kebenaran butuh bimbingan para Ulama, di sini kuncinya. Dan satu lagi adalah kejujuran.
Imam Al-Auza’i, berkata: “Tidak akan samar bagi kita pada orang yang menyembunyikan kebid’ahannya, kita lihat kepada siapa dia loyal. Jika dia loyal pada ulama ahlul bid’ah, jelaslah itu”.
Ishlah di antara manusia adalah amalan yang sangat baik. Mengusahakan Ishlah diantara para ikhwah Salafiyyin. Saya pribadi tidak ada kecondongan kepada At-Turots[6]. Bahkan saya ada upaya untuk memperbaiki. Alhamdulillah, sudah ada perkembangan yang bagus di tubuh mereka sendiri (At-Turots). Berusaha mendinginkan perseteruan yang memuncak, yang akan menjurus kepada bentrok fisik.
Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhaly, berkata: “Jika benar seseorang itu ahli bid’ah, bantahlah dia (ahli bid’ah), perangi dan tumpaslah mereka”.
Di Jogja mereka perlu contoh dan selama ini tidak didapatkan orang yang bisa dicontoh. Dan kita juga minta dana[7] ke At-Turots untuk menyediakan anggaran khusus untuk masalah apa saja agar ditanyakan pada Ulama. Dan untuk periode ini Saya diangkat menjadi Ra’is Majlisul Amal (Ketua dewan Assatidz) yang bertugas mengontrol operasional yang ada di At-Turots.
Kita akan putuskan hubungan dengan Tengaran[8] karena Yusuf Ba’isa[9] yang selama ini kita percayai ternyata mengulah kembali. Pemutusan hubungan ini dilandasi dengan penerapan manhaj yang benar.
Demikianlah semoga dapat dipahami, dan saya agak kecewa karena selama saya di sini, tidak ada yang menanyakan pada saya hal-hal yang ilmiah. Hendaknya kita mengambil kebenaran itu dari mana saja datangnya.

Al-Ustadz Muhammad Faishal berkata :
Alhamdulillah, sesuai pengetahuan saya tentang fitnah di Jogja karena saya santri disana, sehubungan dengan pembicaraan Al-Akh Abu Ihsan, saya lihat beberapa unsur perbedaan yang menyolok dari apa yang saya pahami selama ini di Jogja. Saya memandang bahwasanya perselisihan dakwah yang ada di Jogja, tidaklah menyebabkan akan runtuhnya dakwah Salafiyyah ketika itu. Tetapi malahan sebaliknya, Alhamdulillah, dengan ini memunculkan mana sesungguhnya dakwah Salafiyyah secara hakekatnya. Dan kita terdorong untuk mengenal kitab besar yang agung yang berisikan manhaj yang haq yakni Kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah oleh Al-Imam Al-Lalikai, apa sesungguhnya hakekat dakwah Salafiyyah dan siapa yang berhak menyandangnya agar makin jelas umat bagi ini. Saya selalu teringat terus dengan pesan Ibnu Abbas  , bahwa tidak ada satu zamanpun, kecuali di situ hidup satu bid’ah dan mati satu sunnah sampai akhirnya semua bid’ah hidup dan mati semua sunnah. Dengan zaman seperti itu berarti umat perlu kepastian, mana yang sunnah mana yang bid’ah, maka kita butuh menonjolkan bagaimana sesungguhnya hakekat dakwah Salafiyyah.
Kemudian tentang kedatangan Asy-Syaikh Ali Hasan Al-Halabi Al-Atsari ke Indonesia, yang saya sesalkan dari Ikhwan yang tinggal di At-Turots dan sekitarnya adalah, tentang mereka hanya mengambil beberapa ucapan Asy-Syaikh Ali Hasan yang terkesan di situ mendukung belajarnya mereka selama ini kepada Syarif Hazza’, padahal Syarif yang sudah sering kita khabarkan, – terus terang saya bukan karena lancang -, bahwa ikhwan At-Turots hanya sekedar omongan saja,  kalau mereka mencari yang al-haq dan mencari keterangan ulama. Karena Asy-Syaikh Rabi’ telah bicara siapa itu Syarif. Tetapi selebaran yang diterjemahkan dari hasil telepon diremehkan, dengan sekian banyak lontaran, mengatakan Syaikh itu sebagai Syaikh biasa, tidak kibar Ulama, dengan lontaran-lontaran yang tidak pantas diucapkan[10].
Kemudian mereka ambil dari Asy-Syaikh Ali Hasan perkataan yang bolehnya belajar kepada Syarif, untuk menetralisir keadaan yang ada. Padahal seharusnya, sebagaimana yang dianjurkan tadi pada kita, untuk mencari yang al-haq (kebenaran), ittiba’ul haq (mengikuti yang benar), dan ta’zhimul haq (mengagungkan kebenaran).
Tetapi kenapa ta’zhimul haq yang selalu Asy-Syaikh Ali Hasan dengungkan ketika mengisi di Degolan[11], atau di Jamilurrahman[12], kok nggak ada dan nggak diterapkan, mungkin hanya sebagian kecil saja yang tidak seperti itu.
Tentang keterangan Asy-Syaikh Rabi’, padahal itu haq, yang mendukung Asy-Syaikh Rabi’ bukan hanya Masyaikh sekitar itu, tetapi juga Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Muqbil. Bukankah itu al-haq? Itu yang saya tanyakan. Kalau bukan al-haq, lantas itu apa? Yang katanya kita selalu untuk ittiba’ dan ta’zhimul haq, itulah al-haq dari ucapan beliau, dari keterangan tentang Syarif. Bukti konkrit tidak adanya ta’zhimul haq dari ikhwan kita, yakni bukan mereka tidak mengerti al-haq, tapi memang tidak ada ta’zhim (pengagungan) di situ, mereka terus belajar pada Syarif, padahal Asy-Syaikh Rabi’ telah menjelaskan pada Al-Akh Usamah Mahri dalam telepon, “Jangan belajar pada dia (Syarif), peringatkan ikhwan jangan mendekati dia, mubtadi’! “ kata beliau.
Ada yang menganggap bahwa perkataan (mubtadi’) itu karena emosional beliau. Karena di situ ada sedikit dialog, mungkin ada masalah pribadi antara Syarif dengan Syaikh Rabi’. Tetapi kaset ini berisi Jarh (kritikan) dari Asy-Syaikh Rabi’ dan pencabutan tazkiyah (rekomendasi) yang pernah diberikan. Kaset ini dibawa langsung kepada Asy-Syaikh Rabi’ oleh Ustadz Ja’far[13] dan Ustadz Muhammad[14]. Dan di stel di situ, lalu ditanyakan, apakah beliau emosi dan setuju dengan rekaman itu? Syaikh Rabi’ menjawab, “hapus kalimat yang terakhir!”, – yakni akhir dari kalimat dialog ada kata ‘laknat’ -, “tetapi kalimat yang lainnya biarkan![15]”, jadi tahdzir terhadap Syarif bukan emosi dari Asy-Syaikh Rabi’.
Kemudian yang penting bahwa sekarang sudah diketahui umat perlu kejelasan, sehingga Al-Akh Abu Ihsan tidak usah heran dengan kedatangan Antum kesini, tidak banyak ikhwan yang menanyakan ilmu yang ilmiah. Karena zaman sekarang perlukan kejelasan, dengan siapa kita mengambil ilmu, karena yang saya ketahui keberadaan Antum di Jogja, saya tidak ada melihat sikap tegas yang antum tunjukkan dan tidak ada suara lantang yang antum angkat di permukaan tentang penentangan antum yang antum katakan tadi terhadap At-Turots, Yusuf, dan Syarif [16].
Padahal seharusnya kalau Antum ingin menunjukkan bencinya Antum kepada kesalahan yang dia lontarkan, sikap kita ialah menunjukkannya, agar umat jelas siapa kita. Itulah seharusnya yang disikapi oleh seorang da’i, di zaman fitnah seperti ini.
Kemudian tentang pengakuan Askari[17], Saya juga kenal dia karena dia juga santri beberapa bulan di pondok[18] itu.
Dia telah mengakui kesalahan Syarif. Tetapi pengakuan itu setelah Syarif pergi ke Mesir, setelah meninggalkan Indonesia. Dimana selama ini tahdziran Asy-Syaikh Rabi’ diremehkan. Kalau memang sadar tentang salahnya Syarif, lontarkan didepan umum, karena umat sedang bingung, tentang apa sikap At-Turots selama ini. Dan tidak ada sedikitpun urusan pribadi dalam masalah ini (ini murni urusan manhaj). Memang benar sabda Rasulullah, artinya  :
”Seseorang itu sesuai dengan agama temannya…” (Silsilah Ahadits Ash-Shahihah, karya Syaikh Al-Albani, no. 927).
Agamanya Syarif, itulah agama para pengikutnya! Itulah yang dipahami dari hadits Rasulullah  .
Kemudian kalau kita ingin ishlah, jangan kita menutup diri, tapi tunjukkan siapa kita, apa sikap kita, ini zaman butuh kejelasan. Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi atau perbaikan dari dalam, tapi kita tunjukkan bahwa kita sudah bara’ (berlepas diri) dari fulan bin fulan dengan kesalahan yang ada pada dia. Kalau dia kembali – kepada kebenaran -, kitapun seluruhnya kembali pada dia. Kita bukan suka berpecah belah, kita ingin ikhwah itu kuat, saling bersaudara. Sudah berulang kali jalan ishlah kita tempuh. Kalau Al-Akh Abu Ihsan ingin mengadakan ishlah, ketahuilah bahwa jalan ishlah itu bukan dengan tabayyun (mencari keterangan) sana tabayyun sini, sebagaimana yang Antum ketahui. Tapi dengan jalan mengajarkan ilmu dan menjelaskan siapa kita sebenarnya didepan umat. Sehingga tidak ada lagi istilah omong kosong, katanya mau ta’zhimul haq, tapi keterangan dari para ulama kita anggap remeh. Malahan terlontar dari murid Aunur Rofiq[19] dari Gresik, “Itukan hanya Asy-Syaikh Rabi’….”. Perkataan ini sudah meremehkan al-haq, padahal yang bicara ulama ‘alim.
Kita sangat butuh kejelasan, kenapa selama ini Antum tidak menunjukkan sikap tegas. Tidak cukup kita sekedar mengatakan “kita tidak usah mengurusi perselisihan yang ada, kita urusi ilmu saja…”. Perkataan itu keliru, karena menurut saya mengurusi perkara ini juga termasuk ilmu. Ini juga harus diurusi. Karena kita sedang mencari kepastian kepada siapa kita menuntut ilmu. Berbahaya di zaman seperti ini sembarangan dalam mengambil ilmu.
Dalam Ta’zhimus Sunnah, As-Sahibani menjelaskan bahwasanya Ahlus Sunnah itu benar-benar bersikap tegas kepada Ahlul Ahwa wal Bida’. Bukan itu saja, tapi juga pada orang yang nggak mau tegas pada Ahlul Ahwa wal Bida’ juga harus ditegasi. Jadi semua orang yang nggak mau tolong menolong dalam bersikap tegas kepada Ahlul Ahwa wal Bida’ juga harus disikapi. Karena bahaya mereka lebih tersembunyi.
Kita tidak meng-counter Syi’ah, Khawarij dan lainnya, karena bahaya mereka lebih ringan dibandingkan bahaya Sururiyyah didalam tubuh Salafiyyun. Mereka memakai baju Salafiyyah sehingga orang menganggap itu dakwah Salafiyyah, ternyata bukan dakwah Salafiyyah. Sehingga rusaklah apa yang telah ditetapkan oleh ulama Salaf tentang sikap kita terhadap Mubtadi’ dan para pengikut-pengikutnya. Sehingga betul jelas di sini. Selama ini Antum di Jawa disoroti sebagai orang yang tidak tegas dalam menyikapi adanya fitnah ini. Padahal ini bukan fitnah biasa, tapi fitnah penentu apa sikap umat pada perusak-perusak agama ini, yaitu Mubtadi’. Fitnah ini diremehkan oleh Syarif dan Yusuf Ba’isa dengan istilah Muwazanah (adil dalam menilai kesalahan seseorang), yang tersebar dikasetnya, dengan istilah: “adil ya ikhwan.., inshaf…”, dll. Semua ini terjawab dalam kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah, Asy-Syaikh Shalih Fauzan membantah istilah Muwazanah dipakai untuk mengkritik.
Itu yang perlu saya jelaskan. Jadi saya minta Antum tidak menutup-nutupi apa yang terjadi di Jawa kepada ikhwan di kota Medan ini. Tunjukkan mana yang haq mana yang batil, walaupun itu menyinggung sikap kita selama ini, atau mengkritik orang-orang yang dekat dengan kita selama ini. Karena yang kita cari adalah kebenaran dan kepastian dalam berdakwah, dan dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau tegas terhadap da’i yang menentang Sunnah dan menyebarkan bid’ah. Wallahu Ta’ala A’lam.

Abu Ihsan berkata:
Saya tidak menanggapi apa yang telah disampaikan, sebagaimana yang telah dikatakan, perlunya kejelasan. Kejelasan ini akan ditunjukkan di lapangan. Sebagai orang yang sudah disana , saya mempunyai tanggung jawab moril atau lainnya, untuk mengadakan usaha terakhir dalam menjelaskan ini. Kemudian saya akan mendatangi Ustadz Ja’far setelah kepulangan saya dari Medan ini[20], Untuk membicarakan masalah ini. Kemudian penegasan secara umum, baik itu mereka suka ataupun tidak suka dari pihak At-Turots. Itu memang tanggung jawab kita. Saya juga ada pemikiran untuk lari ke sini (ke Medan, pen.), tapi kita sebagai orang yang di situ, dianggap tidak bertanggung jawab. Jadi kita bertanggung jawab menyelamatkan mereka-mereka yang sudah terimbas ini dengan membuat suatu pernyataan  terakhir kali. Dan misalnya mereka nggak mau, saya tarik diri. Perlu diketahui, sekarang yang menjalankan secara operasional (di At-Turots) adalah saya, tidak lagi Sholeh Suaidi[21]. Tentu akan saya buat kebijaksanaan baru setelah dari sini. Dan konsultasi dengan Ustadz Ja’far, juga Ustadz Yazid[22] kalau ada waktu, tentang penyelesaian masalah ini dan kebijaksanaan baru tentang masalah ini. Itu ada dua point. Satu hubungan dengan Tengaran, kemudian masalah Syarif dan hubungan dengan jum’iyyah. Insya Allah kita bicarakan langsung dengan para Masyaikh dan minta kejelasan. Kalau mereka tidak menyetujui, jelaslah selama ini. Dan misal jika disetujui akan kita sebarkan pernyataan resmi[23] tersebut, dan memang ini sudah jadi pembicaraan pokok pada rapat terakhir disana. Ini perkembangan terakhir sebelum saya meninggalkan At-Turots. Termasuk juga hubungan dengan beberapa orang, misal Muhammad Khalaf[24] dan dengan beberapa jum’iyyah. Salah satunya At-Turots yang santer disoroti para ulama. Terutama tentang misi di belakang itu tidak bisa ditutup-tutupi, memang ada misi di belakangnya dan itu akan nampak sendiri[25].
Insya Allah [pernyataan saya] ini bukan diplomasi. Seandainya [perbaikan] itu tidak terlaksana, sediakan saja mobil untuk mengangkat barang-barang saya dari sana. Misalnya terlaksana, saya tetap akan ke sini dalam jangka satu tahun lagi, sebab di sana masih ada binaan. Misalnya ini bisa terwujud, berarti mereka menyadari. Dan ini suatu perkembangan yang besar, kita katakan kegemparan bagi semua pihak. Kalau tidak terjadi, apa boleh buat. Mungkin santri-santrinya akan saya bawa seluruhnya, sebab yang menangani santri-santri itu adalah saya. Memang saya akui, selama ini saya tidak santer dan karena kurang perhatian. Dan ini kekurangan, kelemahan, ini saya akui. Saya banyak mengurusi santri. Saya sering kedalam dan kurang gencar keluar. Itu akan kita lihat kejelasannya di lapangan, bagaimana realisasinya. Kesalahan yang sudah terjadi mudah-mudahan tidak terulang lagi[26]. Kita akan buat pernyataan resmi. Sebenarnya sudah terancang, akan tetapi karena kepergian saya kesini, maka tertunda. Yang saya ketahui Abu Nida’[27] hanya ikut Sholeh Suaidi, kebijaksanaan-kebijaksanaan At-Turots selama ini dari Sholeh.

Abu Ihsan berkata:
Dari keterangan yang saya ketahui, kesalahan hanya terjadi di dalam penerapan dan penempatan manhaj. Saya baru datang dan tidak tahu asal usul fitnah ini. Mungkin Al-Akh Faishal yang lebih mengetahui, karena mengikutinya dari awal. Sedangkan Saya baru mulai ikut setelah kedatangan Asy-Syaikh Ali Hasan. Informasi terakhir memang Yusuf berulah lagi, menyebarkan Muwazanah. Dan mungkin dia tidak akan berubah. Kita akan buat sikap terakhir bagi Yusuf, sekaligus akan kita buat pernyataan. Karena akan khianat jika ditutupi. Misalnya hal ini terjadi di Jogja, saya tidak akan lama lagi berada di sana[28], karena hanya tinggal tanggung jawab moril.

Penutup
Demikianlah transkrip kami yang berisi dialog antara Al-Ustadz Muhammad Faishal dengan Abu Ihsan. Dan ini bukanlah untuk menganggap Abu Ihsan sebagai Ahlul Bid’ah, tetapi dikarenakan Abu Ihsan berteman dan bergaul dengan Ahlul Ahwa’, yang justru menjadikan dirinya sebagai Shohibul Hawa’ (pengikut hawa nafsu). Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Barbahari:
“Apabila engkau melihat seseorang duduk bersama Ahlul Ahwa’, maka berilah peringatan kepadanya dan beritahukan tentang keadaan orang tersebut. Dan apabila dia tetap duduk bersamanya setelah dia mengetahui, maka hati-hatilah darinya, karena dia adalah pengikut hawa nafsu” (Syarhus Sunnah, hal. 121)
Semua ini semata-mata bertujuan untuk menyingkap kebenaran yang mungkin selama ini masih tersamar bagi sebagian pihak. Mudah-mudahan dengan ini kita bisa kembali ke jalan yang benar di atas manhaj yang lurus. Dan semoga Allah menjadikan ini sebagai nasehat bagi orang-orang yang masih memiliki hati yang bersih.

Footnote:
[1] Syarif bin Muhammad Fuad Hazza’. Seorang yang dianggap Ulama dari Mesir. Datang ke Indonesia dan mengajar di Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga, pimpinan Yusuf Utsman Ba’isa. Syarif sebelumnya adalah pengurus organisasi Ihya’ut Turots Al-Islami cabang Yordania. Kemudian dipindahkan ke Indonesia pada pesantren Al-Irsyad Tengaran. Markas besar Ihya’ut Turots sendiri berada di Kuwait. Pimpinan tertingginya adalah Abdurrahman Abdul Khaliq, seorang yang memiliki pemahaman Ikhwaniyyah. Dia membela pemikiran Takfir (pengkafiran kaum muslimin) Muhammad Surur (pencetus paham Sururiyyah) serta membela dan menyanjung tokoh besar Ikhwanul Muslimin Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Datangnya Syarif ke Indonesia ini menyebarkan pemikiran Abdurrahman Abdul Khaliq, sekaligus sebagai awal mula munculnya fitnah dakwah Sururiyyah di Indonesia. Dakwah inilah yang memecah belah Salafiyyun hingga saat ini. Syarif juga telah terbukti mencerca, mencemooh, dan merendahkan Ahlul Hadits masa kini, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali. Diantaranya adalah menuduh Asy-Syaikh Al-Albani berbuat bid’ah di majelisnya. Kemudian menghina ilmu ushul fiqh Asy-Syaikh Muqbil yang dianggapnya berbeda dengan ilmu ushul fiqh para Ulama. Dan membuat forum di Al-Irsyad untuk membantah buku yang disebar oleh Asy-Syaikh Rabi’. Buku yang menjelaskan tentang kesesatan pemikiran Sayyid Quthb, justru dibantah oleh Syarif !! Sikap mencerca Ahlul Hadits seperti ini adalah tanda Ahlul Bid’ah, sebagaimana kata Imam Abu Hatim Ar-Razi dlm kitabnya Ashlus Sunnah wa I’tiqadud Dien, hal. 24:
“Dan tanda Ahlul Bid’ah ialah membicarakan kejelekan Ahlul Hadits”.
[2] Setelah terjadinya dialog ini, Abu Ihsan masih bermesraan dengan Syarif, yang telah ditahdzir (diperingatkan akan bahayanya) oleh Asy-Syaikh Rabi’. Jadi omongan Abu Ihsan itu hanyalah ucapan kosong belaka.
[3] Salah seorang murid senior Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
[4] Yayasan ini memecah belah da’i ilallah pimpinan Abdurrahman Abdul Khaliq, yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil sebagai khabiits (busuk), pada wawancara tanggal 22 Syawal 1416 H bertepatan dengan 23 Maret 1995.
[5] Tapi kenapa Abu Ihsan justru seakan-akan merasa tahu dan tidak bertanya kepada yang mengerti tentang masalah ini?
[6] At-Turots Indonesia bertempat di Jogja dan dipimpin oleh Abu Nida’. Tentu saja para "hamba" Abu Nida’ (baca:Ihya’ut Turats) merasakan manisnya dinar karena persahabatan dakwah ini:  http://img247.imageshack.us/img247/7637/lampiran18abunidaberkubwn2.jpg Betapa naifnya bahwa bos Ihya’ut Turats ini (akibat kemesraannya dengan harta Ihya’) dalam perkara manhaj ternyata lebih "loyo" daripada seorang Akhwat Bantul: http://img292.imageshack.us/img292/2606/abunidaalbanavsakhwatbarp1.jpg Haihata…haihata dinar Ihya’ yang digembar-gemborkan "tanpa syarat" itu menjadikan seorang lelaki menjadi loyo dan lemah manhaj!! 
[7] Dinar (fulus) yang dapat menyesatkan para da’i.
[8] Pondok Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga. Perhatikan bukti kliknya dengan Ihya’ut Turats: http://img504.imageshack.us/img504/3465/irsattengaranihyakl7.jpg 
[9] Yusuf Utsman Ba’isa, ketika itu menjabat sebagai pimpinan pesantren Al-Irsyad Tengaran (Sekarang “naik pangkat” sebagai Wakil Ketua Majelis Dakwah Al-Irsyad Illegal Farouk Badjabir, salah satu promotor penyelenggaraan Daurah masyayikh yang rutin diselenggarakan oleh Ma’had Al-Irsyad illegal Chalid Bawazir-Abdurrahman Tamimi). Dialah orang yang memfasilitasi dan membantu Syarif Hazza’ dalam menyebarkan pemahaman Abdurrahman Abdul Khaliq di Indonesia, sehingga Salafiyyun tercerai-berai. Dia juga pembela tokoh-tokoh Sururiyyin (para pengikut Muhammad Surur) seperti, Salman Al-‘Audah, ‘Aidh Al-Qarni, Safar Al-Hawali, dll, seraya menganjurkan para pemuda untuk membaca dan mengambil manfaat dari buku-buku mereka. Majalah kaum yang mengklaim sebagai Salafiyyin pejuang dakwah "lemah lembut dan bijaksana bijaksini" inipun tanpa rasa malu mempromosikan para ‘dai hizbi kaliber internasional di atas: http://img244.imageshack.us/img244/4263/elfatapromogembongsururzl3.jpg  Lihatlah wahai saudaraku bukti “bualan” Abu Ihsan dan teman-temannya di atas.
Bahkan, ketika Abdurrahman Abdul Khaliq datang ke Indonesia pada tahun 1995, Yusuf pun menjadikan pesantrennya sebagai tempat bagi Abdurrahman Abdul Khaliq untuk menularkan pemikirannya kepada para da’i Salafiyyin yang ada di Indonesia.
Dengan cara apa Abu Ihsan Al-Atsari merealisasikan ucapannya: “Pemutusan hubungan (dengan Yusuf Ba’isa) ini dilandasi dengan penerapan manhaj yang benar?” Dengan cara berselingkuh mesra di acara-acara daurah Masyayikh yang diselenggarakan oleh Al-Irsyad!! Silakan lihat buktinya di daftar peserta daurah Masyayikh yang dibocorkan kepada kita. Sungguh serapat-rapat menyimpan bangkai pada akhirnya hidung si penyimpan sendiri tidak akan kuat dengan bau bangkai hizbiyyah yang disimpannya!!
[10] Inilah penghinaan At-Turots cs terhadap Ulama Ahlus Sunnah! Tetapi lihatlah wahai saudaraku sekalian akan kelicikan Turatsiyyun yang luar biasa! http://img77.imageshack.us/img77/9182/gembongturotsinebengsyrai6.jpg Ketika mereka "butuh" dengan Syaikh Rabi’ maka dalam sekejap beliaupun menjadi aset berharga untuk menghantam Salafiyyin (dan ini hanyalah sebatas dugaan mereka!!) Waqi’nya bahwa sampai saat ini beliau tetap memperingatkan segenap Salafiyyin agar berhati hati dari iming-iming kesesatan Ihya’ut Turats!
[11] Pondok Pesantren Ihya’us Sunnah, Degolan, Yogyakarta. Dulunya adalah pesantren yang mengajarkan manhaj Salaf yang haq dibawah bimbingan Ustadz Ja’far Umar Thalib dan Ustadz Muhammad Umar As-Sewed. Namun, saat ini Ustadz Ja’far telah menyimpang jauh dari manhaj yang benar. Semoga Allah Ta’ala mengembalikannya ke jalan yang lurus sebelum kematian menghampirinya.
[12] Pondok Pesantren Jamilurrahman, Yogyakarta. Pesantren ini berada di bawah yayasan At-Turots. http://img230.imageshack.us/img230/252/admuslimoridjamilurrahmpr5.jpg Saat dialog ini terjadi, Abu Ihsan adalah pengajar di pesantren itu.
[13] Ustadz Ja’far Umar Thalib. Pimpinan pondok pesantren Ihya’us Sunnah, Degolan, yang juga mantan panglima Laskar Jihad. Dia saat ini sudah menyimpang dari manhaj Salaf yang dahulu dia pegang dan dia dakwahkan. Sekarang “asyik” bergaul dengan da’i-da’i sesat, Ahlul Ahwa wal Bida’.
[14] Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed. Bekas pengajar di pondok pesantren Ihya’us Sunnah, Degolan. Beliau telah berlepas diri dari Ustadz Ja’far Umar Thalib dan sekarang mengajar di pondok pesantren Dhiya’us Sunnah, Cirebon, Jawa Barat.
[15] Berarti Asy-Syaikh Rabi’ tetap mentahdzir Syarif Hazza’.
[16] Karena Abu Ihsan adalah orang-orangnya mereka, dan hidup dari mereka. Tidak mungkin dia berani berbicara tegas hingga saat ini!
[17] Al-Ustadz Abu Karimah Askari. Saat ini bermukim di Balikpapan, Kalimantan Timur, menjadi pengajar di pondok pesantren Ibnul Qayyim, Balikpapan.
[18] Saat itu Al-Ustadz Askari sempat menjadi santri di pondok pesantren Ihya’us Sunnah, Degolan, namun kemudian bergabung ke At-Turots. Alhamdulillah beliau saat ini telah bara’ berlepas diri dari At-Turots dan dakwahnya serta dari orang-orang yang terkait dengannya. Bahkan beliaulah salah satu asatidzah yang sering menjelaskan kesesatan dan penyimpangan Ihya’ut Turats. Jazahumullahu khairan katsira.
[19] Aunur Rofiq bin Ghufron, pimpinan pondok pesantren Al-Furqon di Gresik, Jawa Timur. Salah seorang pembela yang paling gigih dakwah Irsyadiyyah Surkatiyyah Lotreiyyah Halaliyyah Pan Islamiyyah si Jamaluddin Al-Afghani Ar-Rafidhi: http://img292.imageshack.us/img292/5027/aunurrofiqorangalirsyadus9.jpg Beliau menerbitkan majalah yang berjudul ‘Al-Furqon’ yang hingga saat ini masih terkait dengan At-Turots dan dakwahnya. Kami sadar bahwa akan ada para "tuna netra al-haq" yang akan mengingkari keterkaitan antara Al-Furqon Aunur Rafiq Gresik dengan At Turats. Alhamdulillah kami telah menyediakan bagi mereka huruf braille (baca:bukti FAKTA) BUESAR agar mata mereka yang pura-pura memejam bisa terbelalak menyaksikan koalisi dakwahnya. Silakan klik gambar sampul depan dan belakang majalah ini: http://img75.imageshack.us/img75/2407/alfurqonturatsisampuldpzs5.jpg  Sungguh patut untuk dikasihani ternyata kita melihat kenyataan bahwa Islamic Center Bin Bazz adalah salah satu pasien Ihya’ut Turats yang paling kronis dan akut yang tergolek tanpa daya di ruang UGD Rumah Sakit Bobrok Manhaj Ihya’ut Turats: http://img241.imageshack.us/img241/3305/binbazugdrsihyajc7.gif Hanya satu kalimat: "Berhati-hatilah dari mereka!"
[20] Tetapi mengapa setelah Abu Ihsan mendatangi Ustadz Ja’far, justru beberapa saat setelah itu membuat acara yang bertema: ‘Pedang Terhunus atas Ja’far Umar Thalib’, yang isi ceramahnya mengatakan bahwa Ustadz Ja’far dan orang-orang yang bersamanya adalah Haddadi! Sampai hari ini, tuduhan "usang dan kadaluwarsa" inilah yang diteriakkan oleh pembela fanatikus Surkatiyyah Irsyadiyyah demi memalingkan umat dari kenyataan bahwa "guru besar Salafi"nya ternyata memiliki jabatan keren pula sebagai guru yang sangat dihormati oleh para pejabat penjajah kafir harbi Belanda! 
{Haddadi = Pengikut gerakan Mahmud Al-Haddad Al-Mishri, yang berasal dari Mesir. Gerakan ini menghukumi para Ulama yang mempunyai kesalahan sebagai Mubtadi’ (Ahlul Bid’ah)! Tidak tanggung-tanggung, bahkan Ulama besar seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam Nawawi di vonis Mubtadi’ oleh Mahmud Al-Haddad!!}
[21] Sholeh Suaidi. Bergaul dengan Yusuf Ba’isa dan Syarif Hazza’ menjadikan rancu manhaj yang dipegangnya. Sama seperti Abu Ihsan, Sholeh Suaidi juga pernah menimba ilmu di Pakistan. Sholeh juga pernah menganggap bantahan kepada Abdurrahman Abdul Khaliq adalah sebagai penghinaan terhadap Ulama.
[22] Yazid bin Abdul Qadir Jawwas. Dia saat ini juga bergabung dengan Aunur Rofiq bin Ghufron, Abu Nida’, dll. Yazid Jawwas juga terkait dengan At-Turots.
[23] Sampai saat ini belum terdengar realisasi “resmi”nya bahkan yang kita pegang adalah bukti “resmi” bahwa Abu Ihsan benar-benar menjadi anggota “resmi” komunitas mereka!
[24] Muhammad Khalaf. Pendiri Yayasan Al-Muntada di Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi Al-Shofwa, sebuah organisasi "nikmat" bagi para pecinta harta walaupun mereka tahu benar bahwa undang-undang dasar yayasan ini berisi kedustaan yang sangat besar terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para salaful ummah dengan undang-undang dasar "amar mungkar nahi ma’ruf"nya: http://img241.imageshack.us/img241/5074/buktiyayasanalsofwaamarvc1.jpg    

Gedung kuat nan megah berdiri dengan pongahnya menebar hizbiyyah dan pecah belah: http://img59.imageshack.us/img59/1391/masjidjamialsofwaxk3.jpg 

Lihatlah buku sururi ini (pentolan yayasan amar mungkar nahi ma’ruf) yang diterbitkannya sendiri: http://img122.imageshack.us/img122/6509/muhkhalafsofwawd2.jpg                                  Muhammad Khalaf adalah seorang tokoh yang sangat berbahaya dengan pemahaman sururi yang punya hubungan dekat dengan Salman Al-‘Audah. Dia juga memperoleh bantuan-bantuan dari Ihya’ut Turots. Dengarkan kesaksian Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed dalam bentuk suara:
http://www.thullabul-ilmiy.or.id/blog/?p=69

Atau baca persaksian beliau tentang Muhammad Kholaf dan yayasannya,  al Sofwah:
http://fakta.blogsome.com/go.php?http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=557  cadangan :
http://fakta.blogsome.com/go.php?http://www.electronicfiles.net/files/8018/persaksian-alsofwah.jpg  Bagi anda yang belum puas dengan hakekat Al-Sofwa yang disamarkan oleh Abdullah Taslim dan yang sejenis dengannya, lihat promo istimewa  Sayyid Sabiq, Hasan al Banna, Yusuf al Qaradhawy dan Al-Sofwa:
http://fakta.blogsome.com/go.php?http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&id=96
Cadangan, kalau-kalau…
http://fakta.blogsome.com/go.php?http://www.electronicfiles.net/files/8018/alsofwah-hasanalbanna-yusufqaradhawi.jpg 

Dalam mengambil urusan agama kita, lain kali dan ‘kali lain’, hati-hati kang…
Semoga kita semua dapat mengingat ucapan Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu ketika berkata,”Lihatlah dari mana kamu mengambil ilmu, karena ilmu adalah agama.” (At Tankil, Al Khatib Al Baghdadi, hal. 121). Pernyataan ini dinukil dari beberapa ulama salaf seperti Ibnu Sirin Adh Dhahak bin Muzahim dan yang lain. (Lihat Syarh Shahih Muslim, vol I, hal 14, Sunan Ad Darimi, vol. 1 hal 124).
Silakan pembaca yang menilai bagaimana seolah Fakta yang tersimpan secara rapi seperti sedikit contoh di atas  kemudian di balik menjadi tuduhan tidak terdata (dusta), bahkan bukankah kita sudah menghadirkan kepada anda semua BUKTI FAKTA bagaimana dalam Daurah Masyayikh Yordan kalian nyata-nyata telah mengundang jaringan Teroris Khawarij dari Al-Mukmin Solo dan Darusy Syahadah Boyolali? Maka hanya dengan mengharap wajah Allah, kami memperingatkan seluruh kaum muslimin agar berhati-hati dari propaganda dusta dengan mengatasnamakan Dakwah Salafiyyah Al-Mubarakah yang dilancarkan oleh Ma’had Al-Irsyad pimpinan pendusta kelas kakap Abdurrahman Tamimi dan penyandang dana acara Daurah Masyayikh (Chalid Bawazeer) beserta seluruh para da’i yang terlibat dalam acara tersebut!! Kita menunggu, apakah mereka mampu mendustakan bukti-bukti yang mereka buat sendiri. Na’am, mereka telah melibatkan jaringan Teroris Khawarij dalam Daurah Masyayikh yang telah mereka selenggarakan!! Apakah Masyayikh Yordan dan Madinah mengetahui? Bukan itu yang terpenting saat ini, yang terpenting dan paling penting adalah kaum Muslimin Indonesia dapat mengakses dan menyaksikan secara langsung bukti-bukti yang kita hadirkan keterlibatan mereka dengan jaringan teroris Khawarij dalam daurah yang diselenggarakannya sekaligus mengukur sejauh mana dan sebesar ap kedustaan pengakuan mereka selama ini!! Apakah masih ada diantara kaum muslimin yang “silau” dengan kemampuan mereka dalam mendatangkan masyayikh?! Jangan heran kalau Muhammad Arifin dan Firanda kemudian tergopoh-gopoh membantah Ustadz Luqman Ba’abduh dengan menyoal kata “teroris” di dalam buku MAT, walaupun pada akhirnya mereka berdua (think-tank STIS/Sekolah Tinggi Ihya’ut turatS Jember) harus babak belur karena “Tragedi Kata-Katanya sendiri-walhamdulillah), kenapa dua sejoli “Madinah (baca:Ihya’ut Turats) connection” ini meradang dengan istilah “teroris” yang dipakai MAT? Ternyata kita baru tahu bahwa Ma’had Al-Irsyad dan Chalid Bawazeer (orang yang mendanainya dalam membelikan tiket) yang mendatangkan para Masyayikh tersebut juga TERBUKTI mengundang jaringan TERORIS yang sesungguhnya!! http://img242.imageshack.us/img242/3249/khawarijalmukmindarusyact1.jpg
Haihata..haihata sesungguhnya dakwah ini milik Allah Ta’ala, jangan bermimpi bahwa dengan fulus dan dana yang melimpah mereka akan dapat menggilas dan menghancurkan dakwah. Kalaulah demikian kenyataannya, tentulah Salafiyyin Kuwait yang paling pertama HABIS BINASA DIMAKAN FULUS DAN HARTA IHYA’UT TURATS! Subhanallah, justru para masyayikh di sanalah sampai hari ini tetap gigih kuat bertahan di garis terdepan dalam peperangan ini! Membela Salafiyyin dak dakwahnya dari rongrongan jahat harta-harta mereka dan rongrongan jahat orang-orang yang memiliki kecintaan  kepada harta! Na’am antara Turatsiyyun dengan Salafiyyun!! Ini bukanlah "pertikaian" wahai Firanda dan Turatsiyyun tetapi ini adalah "peperangan!" Bagaimana mungkin dirimu berlagak sebagai wasit yang akan menengahi "pertikaian ini" sementara di dalam bukumu itu jelas-jelas engkau dalam posisi melakukan pembelaan terhadap dakwah Ihya’ut Turats? Menggunakan buku propaganda (induk) Kantor Pusat Ihya’ untuk menyerang Salafiyyin dan dirimu hendak menipu umat dengan berperan sebagai "wasit"? Haihata…haihata… Walhamdulillah, Allah benar-benar tunjukkan kebobrokan Ihya’ut Turats dan para pembelanya, baik mereka dibayar ataupun secara sukarela membela organisasi hizbiyyah ini. Justru di saat mereka telah mengetahui dengan jelas berbagai bukti kesesatan yayasan pemecah belah dari Kuwait ini!! Kita bersyukur kepada Allah bahwa sampai saat ini para Masyayikh kita terus menunjukkan dan menerangkan kesesatan dan kejahatan Ihya’! Walhamdulillah. Semuanya kita kembalikan kepada Allah keselamatannya dari makar orang-orang jahat seperti ini. Wallahul Musta’an.
[25] Inilah pengakuan langsung dari Abu Ihsan tentang At-Turots. Namun amat disayangkan, pengakuan tinggallah pengakuan. Ucapan “tegas”nya di atas sekarang telah meningkat judul derajatnya menjadi “bualan” Abu Ihsan si parlente dari Medan, tiada buktinya…tiada kenyataannya. Memang, lidah tidak bertulang!
[26] Sekali lagi, inilah pengakuan bersalah dari Abu Ihsan yang kemudian dia batalkan dengan kembali ke pangkuan At-Turots cs. Dan dialog yang terjadi ini, sekarang dianggapnya hanyalah main-main saja. Sungguh tragis!
[27] Abu Nida’ Chomsaha Shofwan. Gembong At-Turots Indonesia. Menerbitkan majalah ‘Fatawa’, yang bertempat di Islamic Centre Bin Baz, Bantul, Yogyakarta. http://fakta.blogsome.com/go.php?http://img231.imageshack.us/img231/8364/fatawacovrredaksiev1.jpg  Abu Nida’-lah wakil Abdurrahman Abdul Khaliq untuk wilayah Indonesia. Nasehat Ulama tentang kesalahan Abdurrahman Abdul Khaliq tidak dia gubris dan terus menjalankan pemikiran Abdurrahman melalui At-Turots Indonesia.
[28] Dusta, sungguh dusta!
Medan, 3 Jumadil Akhir 1427 H
Transkriptor:
Anhar Ali bin Harmeini
Muhammad Ihsan

7 - June - 2007

(Dokumen) Data Rahasia Seputar Daurah Masyayikh -bagian kedua

Filed under: Umum, Jarh

QIBLATI AL-IKHWANI SEMANGKIN MENJADI-JADI (UPDATE 22/06/’07)

(BAGIAN KEDUA dari tulisan sebelumnya: (Dokumen) Data Rahasia Seputar Daurah Masyayikh)

Bismillahirrahmanirrahim.
Sebelum kita membahas topik di atas, kami akan menambahkan bukti-bukti perselingkuhan Ihya’ut Turats (karena wakil-wakil resminya yang ada di Indonesia telah nyata-nyata diundang oleh Ma’had Al-Irsyad Surabaya dalam acara daurah Masyayikh yang mereka selenggarakan) dengan komunitas hizbi lainnya. Sampai kapan? Insya Allah sampai para pembelanya tersentuh sikap “wara’ dan rasa malunya dalam memamerkan dan mengeksploitasi “kebaikan-kebaikan duniawiyah” yang mereka terima. Tidaklah perlu bagi anda wahai Firanda dan cs-nya berpeluh-peluh “berijtihad” dalam masalah “khilaf” yang benar-benar jelas seperti ini, apalagi sampai menulis dan menyusun buku setebal itu untuk membela dakwah “hartanya”! Inilah bukti manhaj selingkuhnya!
http://img478.imageshack.us/img478/908/selingkuh1abf9.jpg
http://img166.imageshack.us/img166/4759/selingkuh2bz4.jpg
http://img475.imageshack.us/img475/5928/selingkuh3aur3.jpg
http://img53.imageshack.us/img53/8733/selingkuh4aiy8.jpg
http://img407.imageshack.us/img407/5268/selingkuh5anz2.jpg
http://img475.imageshack.us/img475/1281/selingkuh6adq7.jpg
Sekali lagi (dan sekali lagi) untuk keterangan lebih rincinya, silakan anda membanjiri pertanyaan kepada website kebanggaan “tetangga sebelah” JEBOLAN KURSUS CTPAT/ANTI TERORISME AMERIKA yang kelihaian berbahasa arabnya dipamerkan di acara open housenya untuk menjelaskan secara “lihai” (baca:jujur!) bukti-bukti yang kita paparkan di atas (daripada mengumbar tantangan, “ana tantang ente”, “siap direkam”, “risalah banci” dst). Kita akan melihat dan menyaksikan risalah  kejantanannya yang sesungguhnya dalam permasalahan ini.
Sungguh, diamnya seorang pendusta dan pembela kedustaan yang telah diselimuti oleh hawa panas kematian lawan-lawannya bukanlah diam untuk menyusun kebaikan. Tetapi diamnya mereka adalah untuk menyusun makar berikutnya dan upaya licik berikutnya dalam memalingkan umat dari bukti-bukti yang hadir di depan mata!
Silakan pilih, manhaj salaf yang wajib kita pegang atau lebih mengedepankan harta “selingkuh” Ihya’ yang masuk kantong atau….(tutup mata kebobrokan manhajnya) adapun masalah dana, itu sih masalah lain, kami tidak bisa lepas dari “dot” yang diletakkan di mulut kami dan selang-selang “infus” yang tertancap di lengan. Haihata, haihata “selamat” menjadi pasien Ihya’ut Turats yang “sejati” dan selamat menikmati ruang UGD Rumah Sakit (bobrok manhaj) Ihya’ut Turats!
Tampaknya, masalah manhaj adalah sisi lain dari masalah fulus, keduanya bukanlah sesuatu yang pantas untuk “dipertentangkan”, bahkan fulus yang masuk ke kantong akan me”match”kan frekuensi manhaj yang harus ditempuh sebagaimana contoh yang lalu ketika Agus Hasan Bashari “Bos Qiblati” menerjemahkan fatwa keji Majelis Ifta’ dan Tarjih Al-Irsyad. Iya, atas nama “amanat ilmiyah” dia tega menikam kehormatan para ulama pewaris para nabi!! Karena apa wahai ikhwah sekalian? Karena imbalan fulus yang diterimanya!!
Mungkin ada yang bertanya, adakah contoh lainnya? Ada, simak bukti di bawah ini:
http://img483.imageshack.us/img483/3496/sururiaihsantibyansz5.jpg
Lihatlah bagaimana Abu Ihsan “Al-Atsary” melemparkan “al-atsary”nya demi fulus hizbi yang ada di depan mata:
http://img166.imageshack.us/img166/1634/qsururiabuihsan2st6.jpg
Mampukah seorang “salafi” yang “asli” menggerakkan penanya mengkhinati dakwah Salafiyyah dengan menerjemahkan pujian pada gembong-gembong hizbi? Bisa! buktinya? Lihat sendiri.
Kepada Agus Hasan Bashari dan Abu Ihsan, ada sebuah petuah berharga yanganda muat sendiri di majalah kebanggaan anda:
Celakalah para pencari dunia
Sedangkan ia adalah hina!
Demi Allah! Sungguh bani Israil telah menyembah berhala
setelah mereka menyembah Allah Yang Maha Rahman, karena
kecintaan mereka kepada dunia.*

(Qiblati edisi 05 tahun II-Februari 2007 M, hal.27)
Saatnya sekarang kita membahas hakekat Majalah Qiblati, profil kedua (setelah ma’had Al-Irsyad Surabaya) yang memiliki program tahunan mendatangkan para Masyayikh dalam acara daurah para da’i seluruh Indonesia sebagaimana dipublikasikan dengan bangga oleh tetangga sebelah. Agar para pembaca dapat memahami secara utuh permasalahan ini dari awalnya serta keterkaitan Qiblati dengan institusi lainnya maka kami mengutip sebagian artikel yang ditulis oleh Abu Dzulqarnain yang kami muat di website ini beberapa waktu yang lalu dengan memberikan beberapa catatan tambahan dan bukti pendukungnya.

Kutipan:
"Orang yang jujur akan dipimpin oleh ketulusan budinya
Tetapi orang yang berkhianat akan dirusak oleh kecurangannya
Dengan tulisannya orang jahat menyesatkan & membinasakan manusia
Tetapi orang yang benar akan diselamatkan karena pengetahuannya
Syahdan, di ibukota Jakarta berdiri sebuah organisasi yang diberi nama L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) pada hari Rabu, 10 Ramadhan 1421 H bertepatan dengan tanggal 6 September 2000 M, dengan akte notaris H.M. AFDAL GAZALI, SH. no. 48 dan terdaftar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, tanggal 9 Januari 2001 yang dipimpin oleh Muhammad Yusuf Harun (penerjemah elite al-Sofwa al-Muntada). Beliaupun dipromosikan oleh Al-Sofwa sebagai pimpinan L-DATA Pusat, hal mana cukup sebagai bukti tambahan betapa antara Al-Sofwa Al-Muntada dengan L-DATA dan Ikhwanul Muslimin beserta para da’i kondang yang tidak asig lagi ternyata memiliki kekerabatan manhaj yang erat sekali.[1]
http://img143.imageshack.us/img143/9599/sururisofwaldataimklikik8.jpg
Nuansa Ikhwani terasa begitu kentalnya di organisasi ini, satu contoh:
aldakwah.mweb.co.id_009info_2002_index.php_idn20_.html menunjukkan bahwa Farid Okbah (Ketua Majelis Dakwah Al-Irsyad LIAR kelompoknya Farouk Badjabir, Chalid Bawazer dan Abdurrahman Tamimi)serta eks-Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia, DR. Didin Hafidhudhin adalah penerima beasiswa L-DATA Al-Ikhwani
http://img474.imageshack.us/img474/6076/ldatafaridokbahdidinga5.jpg
Karena itulah, bukan hal yang mengejutkan bahwa L-DATA ini berani secara berterang muka mempropagandakan buku sesat Tafsir fi Dhilalil Qur’an karya gembong penyesat umat, bapak pengkafiran internasional,  Sayyid Quthb, jilid 1 408 halaman/Rp.60.000 (aldakwah.mweb.co.id_005buku_islam_resensi_index.htm).
http://img53.imageshack.us/img53/7052/ldatasayidqutubdh2.jpg

Beberapa nama yang dapat kami sebutkan yang berta’awun dakwah dengan organisasi ini[2]:
(i) DR. Didin Hafidhuddin, mantan Presiden PK Al-Ikhwani!! Penerima beasiswa L-DATA yang baru menyelesaikan Doktornya di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Dia juga mempropagandakan pemikirannya Sayyid Quthb (aldakwah.org/modules.php?name=News&file=article&sid=365)
http://img53.imageshack.us/img53/3984/ldatadidinsayidqutubct9.jpg
Inilah salah satu jenis aksi “binaan” Partai Keikhwanul muSliminan (dalam kliping koran) ketika mendemo penguasa:
http://img112.imageshack.us/img112/1251/imdemopenguasaop0.jpg
(ii) Farid Ahmad Okbah (Takfiriyyin-Ba’asyiriyyin, telah berlalu penjelasannya), penerima beasiswa L-DATA (keterlibatan dua nama di atas lihat aldakwah.mweb.co.id_009info_2002_index.php_idn20_.html).
Dia juga mempropagandakan pemikiran Hasan Al-Banna dan Salman Al-Audah (aldakwah.org/modules.php?name=News&file=article&sid=274).
http://img490.imageshack.us/img490/5345/ldataokbahalbanacf1.jpg
Al-Sofwa Al-Muntada mempropagandakan rojul ini sebagai Doktor Univ. Aqidah Jakarta
(alsofwah.or.id_index.php_pilih_lihatkegiatan_id_48_id_layanan_15.html)
(iii) DR. Salim Segaf Al-Jufri (dedengkot Ikhwani). Di belakang namanya diberi tambahan keterangan oleh L-DATA: pakar syari’ah yang juga dosen Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.,serta salah satu narasumber yayasan Al-Haramain Al-Ikhwani (alharamain.or.id_ yayasan.htm) Dr. Salim juga memegang Pusat Konsultasi Syari’ah Al-Ikhwani. Di sini dia menjadi ketua Badan Pendiri merangkap Konsultan ahli (Syariahonline.com_artikel_?act=view&id=39)
(iv) Zainal Abidin (Wakil Ketua Dept. Dakwah Al-Sofwa)
Keterlibatan kedua nama tersebut dalam acara L-DATA berupa konsultasi seputar ramadhan 1421H lihat: aldakwah.mweb.co.id_009info_2002_print.php_idn_06.htm.
Zainal Abidin ini berduet dengan Mubarak Bamu’allim (tangan kanan Abdurrahman At-Tamimi Al-Kadzab) menjadi penerjemah VCD ceramah Masyayikh Yordan di Masjid Istiqlal Jakarta. Justru setelah Abdurrahman At-Tamimi mengucapkan sumpah laknat Mubahalah yang mengingkari memiliki hubungan dengan Al-Sofwa Jakarta. Bukankah Zainal Abidin ini pejabat teras Jum’iyyah Hizbiyyah Al-Sofwa Al-Muntada wahai Pembesar Hizby? Dan bukankah Yazid Jawaz yang tertera di VCD tersebut juga dedengkot Al-Sofwa Al-Muntada wahai Tuan?
(v) Lihatlah bagaimana L-DATA mendatangkan dua orang pembesar partai Ikhwanul Muslimin, Mushih Abdul Karim dan Ahzami Sami’un:
http://img501.imageshack.us/img501/2205/ldata2bosimcn9.jpg
(vi) Khalid Syamhudi (Gembong Ihya’ut Turots dan Al-Sofwa) bersama Zainal Abidin (Waka. Dept. Dakwah Al-Sofwa) dalam acara bedah buku di gedung University Centre UGM, Jogjakarta. Keterlibatan dua nama itu lihat: aldakwah.mweb.co.id_009info_2002_index.php_idn_33.htm
http://img166.imageshack.us/img166/1088/ldatakhalidzainal1od3.jpg
Perhatikan wahai saudaraku sekalian mengenai keterlibatan LBIA Al-Atsary dengan L-DATA Al-Ikhwani di atas!! Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa LBIA Al-Atsary ini identik dengan Muslim.or.id yang sekarang dikendarai oleh Muhammad Arifin dan teman-temannya dengan merk “Khilafiyah Ijtihadiyah”! Perhatikan lagi bukti-bukti IM-nya L-DATA.
(vii) Musthafa Aini (Quthbiyyun, Ketua Dept. Dakwah Al-Sofwa) yang juga diundang sebagai peserta resmi Daurah Irsyadiyyah sebagai wakil dari institusi al-Sofwa.
(viii) Abu Qatadah (murid durhaka yang bergabung dengan kaki tangan musuh besar mantan gurunya, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I Rahimahullah-baca artikel tentang rajul ini yang ditulis oleh Ustadz Abu Hamzah Yusuf)!! Terlibatnya kedua nama itu dalam bedah buku “Aliran dan Faham Sesat di Indonesia” lihat di: (aldakwah.mweb.co.id_009info_2002_index.php_idn_23.htm)
(ix) Hartono Ahmad Jaiz (wartawan) yang menjadi peserta resmi daurah masyayikh. Keterlibatan nama-nama di atas bersama Farid Okbah dapat disaksikan buktinya:
http://img231.imageshack.us/img231/5617/ldatabedahbukualfurqontc1.jpg
(x)Mahfudz Shiddiq (Ikhwani, merujuk pada pemikiran Hasan Al-Banna) lihat aldakwah.org/modules.php?name=News&file=article&sid=513 dan aldakwah.org/modules.php?name=News&file=article&sid=273
http://img485.imageshack.us/img485/8186/ldatamahfudalbanasx1.jpg dan http://img74.imageshack.us/img74/7472/ldatamahfudalbana2el4.jpg

Itulah beberapa nama yang terlibat langsung dengan dakwah L-DATA Al-Ikhwani.
Walhasil, L-DATA Al-Ikhwani bukanlah sosok “fiktif’ tetapi benar-benar memiliki hakekat Ikhwani yang tidak lagi bisa ditutup-tutupi lagi! Dan dengan siapa saja lembaga Ikhwani ini menjalin kemesraan!!
L-DATA inilah yang kemudian mendirikan cabang di Jogjakarta dengan nama PP. Taruna Al Qur’an yang dipimpin Umar Budiargo, Lc dengan anak buahnya, Khudlori, Lc, Aris Munandar, SS, Ridwan Hamidi, Lc (alumni Madinah, disebut tokoh freeline).
http://img67.imageshack.us/img67/3525/ldatatarunagrupjgjabk5.jpg
PP Taruna Al Qur’an alias L-Data cabang Jogjakarta ini akrab dengan ikhwani dimanapun. Aris Munandar disebut tampil bersama penceramah tetap masjid IM, Mardliyah, yakni Syatori Abdurrouf, Sigit Yulianta. Aris Munandar bersama Ridwan Hamidi, bersama Umar Budiargo pun nampak akrab dengan acara di sarang aktifis NII, masjid Nurul Hujjaj, bersama orang At Turots Abu Mush’ab, Abu Sa’ad, sekaligus aktifis MMI/Khawarij, Irfan S Awwas (MMI), Abu Umar Abdillah (majalah Ar Risalah, Solo). Abu Umar Abdillah juga pernah klik dengan tokoh Khawarij, Farid Ahmad Okbah dari PP Al Irsyad liar.
Bahkan kaset tokoh Khawarij terkemuka, Abubakar Ba’asyir-pun “dipelihara” oleh L-DATA pusat bersama kaset para da’i tersohor lainnya
http://img217.imageshack.us/img217/5383/qkasetldata1akk1.jpg
http://img67.imageshack.us/img67/4050/ldatateroris1ei6.jpg
Kami berharap dengan bukti-bukti yang kita ungkapkan di sini, para pembaca sekalian tidak ada lagi yang merasa ragu bahwa L-DATA Al-Ikhwani benar-benar sangat berbahaya dengan pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin yang ditebarkannya serta para da’i kondang semacam Abu Qatadah, Farid Okbah Al-Irsyad illegal, Khalid Syamhudi At-Turots Jogja, Musthofa ‘Aini Al-Sofwa, Zainal Abidin Al-Sofwa, LBIA Al-Atsary Muslim.or.id yang jelas-jelas terlibat dengan kegiatan harokah ini, harokah yang menjadi “motor’ kedua dalam upayanya mendatangkan para masyayikh dalam acara daurah mereka.
Kalaulah kesalafiyyahan seseorang/organisasi ditentukan oleh keberhasilan dan kemampuan dalam mendatangkan masyayikh, tentulah Al-Irsyad (baca: Chalid Bawazeer) adalah sosok yang paling Salafi! Qiblati, Fariq An-Nuz dan Agus Hasan adalah tokoh-tokoh yang paling salafi! Orang-orang kaya itulah yang paling salafi!
Akan tetapi kesalafiyyahan tidaklah cukup didasarkan hanya kepada hingarbingarnya pamflet dan tiket undangan terbatas yang mampu mereka sebarkan, tetapi yang lebih penting daripada itu adalah bukti-bukti “FAKTA HIZBIYYAH” dan “PERSELINGKUHAN IKHWANIYYAH” telah mendustakan klaim-klaim sepihak mereka. Segala puja dan puji hanya kepada Allah yang telah memudahkan kaum muslimin untuk mengumpulkan bukti dan klaim-klaim dusta mereka. Walhamdulillah. 

KAITAN ANTARA L-DATA DENGAN MAJALAH QIBLATI
L-DATA Al-Ikhwani cabang Jogjakarta pimpinan Umar Budihargo kemudian menerbitkan majalah yang diberi nama Qiblati dengan awak kapal: Penasehat: Fariq An-Nuz, Pemimpin Umum: Umar Budihargo, Pemred: Agus Hasan Bashari, Redaksi: Aris Munandar, SS dst dengan alamat Pesantren Taruna Al-Qur’an Lempong sari 4a, Jogjakarta.
http://img67.imageshack.us/img67/7831/qiblatibudiargouu2.jpg
Beberapa edisi mereka pegang sebelum pada akhirnya “tim Jogja” pindah kantor ke  “Malang” yang langsung dipimpin oleh Agus Hasan Bashari Lc, MAg. (penasehatnya tetap Fariq An-Nuz), seorang lulusan LIPIA Jakarta dengan predikat Cumlaude dan lulusan Master IAIN (demikianlah gelar yang dipropagandakan oleh situs Al-Sofwa Al-Muntada[3]) untuk melanjutkan penerbitannya.
Inilah ucapan tim Malang yang berterima kasih kepada tim Ikhwani Jogja (Ponpes Taruna Al-Qur’an pimpinan Umar Budihargo)
http://img201.imageshack.us/img201/7452/qtrimsketimjogjaky2.jpg
Tentu anda sekalian masih ingat betapa penting peran Master IAIN Sunan Ampel ini[4] dalam rangkaian acara daurah Masyayikh Yordan yang telah lalu dimana dia menjadi salah satu pendamping dan pemasok informasi bagi Syaikh Ali Hasan hafidhahullah.
http://img405.imageshack.us/img405/1690/hizbijahatdampingisyaikdm6.jpg
Lebih dari itu, kitapun masih merasakan betapa sakit dan marahnya Salafiyyin dengan tindakan kejinya ketika bersama PP.Al-Irsyad LIAR pimpinan Farouk Badjabir (kubu Farid Okbah, Yusuf Utsman Ba’isa, Chalid Bawazer dan Abdurrahman Tamimi) menerjemahkan dan menerbitkan buku Himpunan Tiga Risalah yang berisi tikaman-tikaman keji terhadap para ulama pewaris para Nabi (lebih jelasnya lihat uraian di bundel Badai Fitnah Dakwah Ihya’ At-Turats).
http://img405.imageshack.us/img405/1603/coveragusbashariirsattiff6.jpg
http://img405.imageshack.us/img405/1438/irsatliaragusbashorisikom7.jpg
Semoga Allah Ta’ala membalas kejahatan keji mereka dengan balasan yang setimpal, amin.
Dikutip dari artikel berjudul :[AGUS HASAN QIBLATI, KEMANA ENGKAU AJAK UMAT BERQIBLAT? (Residu Tragedi Sebuah Kata)]
Inilah Qiblati, sebuah majalah “fiktif” yang boleh dipasarkan jika “bertujuan dan dapat mewujudkan nilai-nilai yang luhur”
http://img245.imageshack.us/img245/6142/qbolehceritakhayalqm2.jpg
Dengan mengantongi fatwa tersebut maka merekapun “bebas” melenggang menciptakan tokoh khayalan idaman anak-anak “Salafi” (baca: Qiblati) masa depan yang bernama Kinan!
Untuk apa (wahai saudaraku sekalian yang semoga dirahmati Allah) semua ini mereka lakukan? Tentu saja Qiblati dengan tegas dan mantap akan menjawab: Untuk “Menanam Iman Meraih Ridha Ar-Rahman!”
http://img245.imageshack.us/img245/3305/qkinanidolakhayalanpp8.jpg
Barang siapa tidak percaya bahwa sebuah tokoh khayalan ciptaan Agus Hasan Bashari dan segenap kru Qiblatinya dapat menumbuhkan keimanan dan ridha Ar-Rahman, maka sungguh dia telah mengingkari “kenyataan” Kinan di Qiblati.
Jika tokoh “khayalan” ini bisa “dilaunching” dengan sukses, maka anak-anak komunitas “salafi”( baca:Qiblati) masa depan jika ditanya: “Siapa idolamu nak?” Jangan heran jika bukan nama-nama para shahabat atau shahabiyat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka sebutkan tetapi seorang tokoh khayalan idola mereka untuk meraih ridha Ar-Rahman yang bernama Kinan!! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tampaknya Qiblati benar-benar sudah kehabisan akal dan kehabisan panutan untuk mencari tokoh-tokoh “nyata” dari kalangan kaum Muslimin sehingga merekapun menoleh kepada alternatif lain, yaitu Kinan tokoh khayalan idola anak-anak masa depan.
Adalah hal yang “tabu” bagi anak-anak tersebut jika bertanya: “Siapa bapaknya?” Bukankah para pahlawan Islam dari kalangan shahabat dan selainnya memiliki “jalur nasab” orang tua yang jelas? Jangan paksa diri anda untuk menjawab kepada mereka: “Kinan bin Khayalan Agus Hasan”.
Jawablah dengan jujur kepada mereka: “Wahai anakku, Kinan yang engkau idolakan itu tidak pernah ada di muka bumi, dia adalah tokoh rekaan ustadz Agus Hasan agar kalian sejak dini sudah dididik untuk berkhayal keluar dari alam kenyataan!! Tetapi jangan engkau buruk sangka wahai anakku karena beliau sudah memikirkan hal ini dengan matang agar iman kalian tertanam ‘tuk menggapai ridha Ar-Rahman!
Anakku, beliau bukanlah orang sembarangan, bahkan ustadz Agus Hasan adalah pendamping Syaikh Ali Hasan!!
Jika demikian halnya, maka jangan lagi ada yang bertanya: “Bagaimana mungkin dengan wasilah tokoh khayalan kita bisa meraih ridha Ar-Rahman?” Wallahul Musta’an.
Lihatlah bagaimana  mereka membentuk sejak dini generasi masa depannya dengan komik fiktif “Islami” bergambar yang sungguh sangat menyedihkan bagi sebuah majalah yang berkoar-koar dengan slogan: “Menyatukan hati dalam sunnah Nabi”:
http://img67.imageshack.us/img67/5343/qkomikharokiyp1.jpg
Nabi siapa yang mencontohkan manhaj dakwah dengan gambar-gambar memalukan seperti ini wahai Qiblati? Dengan cara fiktif seperti ini kalian mengharapkan tertanam iman dan ridha Ar-Rahman wahai Qiblati?! Bualan, mimpi, fiktif dan hanya sebatas khayalan Qiblati semata! Kalau anda merasa malu menjual komik seperti ini, maka sungguh Ustadz Umar Jawas merasa tertantang untuk menjadi sales “khayalannya”! Allahu yahdik.
Saudaraku rahimakumullah, lihatlah bagaimana kartunis-kartuni Qiblati bebas mengembara menggerakkan penanya untuk mewujudkan nilai-nilai yang luhur dengan profil “khayalan” Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah (Pembesar At-Tabi’in) ketika masih muda dan ketika sudah tua yang dikelilingi oleh para murid-muridnya.
http://img201.imageshack.us/img201/381/qhbashrifiktifage5.jpg
Jangan salah sangka, semua “rekaan” ini dilakukan oleh Qiblati agar “bertujuan fiktif dan dapat mewujudkan nilai-nilai khayalan yang luhur!”
Begitu tergila-gilanya Qiblati dengan proyek ambisius “fiktifisasi alias khayalisisasi” umat Islam dan generasi mudanya, sampaipun dengan bangga telah membuka lowongan pekerjaan di Mekah sebagai Ahlussunnah Kartunis atau Kartunis Ahlussunnah!!
http://img201.imageshack.us/img201/7709/qkartunismekah3kp3.jpg
Sungguh suatu hal yang membikin hati hamba penasaran, ustadz “Ahlus Sunnah” mana saja yang tanpa rasa malu (kepada Allah tentunya) telah merekomendasi murid-muridnya menjadi kartunis Mekah!! La haula wa quwwata illa billah.
Sungguh Ka’bah adalah “Qiblati” kaum muslimin yang berada di Mekah dan sekarang profesi Kartunis adalah “Qiblati” Fariq An-Nuz & Agus Hasan di Mekah!!
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Saudaraku rahimakumullah,
Kita hidup di bumi ini untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Allah Ta’ala juga menciptakan matahari dengan berbagai manfaatnya yang setiap hari bisa kita rasakan. Seberapa besar bumi jika dibandingkan matahari? Tentu diantara kita tidak ada yang bisa memastikannya, Allah Ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam-pun tidak menjelaskan detailnya, itu adalah “faktanya”. Tetapi kalau “fiktif dan khayalan” dikedepankan untuk dijadikan  “tujuan untuk dapat mewujudkan nilai-nilai yang luhur”, maka Qiblati-pun dapat memastikan perbandingan antara besarnya bumi dengan matahari dan planet-planet lainnya. “Inilah ukuran planet bumi kita jika dibandingkan dengan matahari”, demikian Qiblati berupaya keras meyakinkan kepada kita agar “meyakini” khayalan fiktifnya (baca:dugaannya)! Kok yakin? Tentu saja jurus “sok tahu” dengan menyandarkan (baca:membenarkan) keyakinannya kepada referensi “huruf kanji” yang nampak “nyata” di depan mata:
http://img169.imageshack.us/img169/6168/inilahukuranbumikitasokaw4.jpg
Demikianlah sejenak kita telah menjelajahi alam “fiktif” dan “khayalan” hutan belantara Qiblati yang tumbuh pohon-pohon syubhat yang banyak menipu dan menyesatkan orang. Adakah para orang tua kaum muslimin yang tega menyerahkan iman anak-anaknya untuk dididik dan dikendalikan oleh khayalan Qiblati sejak dini?
Jangan bermimpi bahwa dengan cara “fiktif” seperti ini dapat menumbuhkan iman, apalagi meraih ridha Ar-Rahman. Sungguh jauh panggang dari api.
Kalaupun tumbuh, maka inilah iman yang “fiktif” dan ridha Ar-Rahman yang “fiktif” pula!! 
Tahukah anda siapa saja diantara asatidzah yang memperjualbelikan dan menjadi corong-corong (baca: samma’una lahum) “fiktifisasi” dan “khayalisasi” komik “Islami” bergambar (Qiblati Al-Ikhwani), tertera sebuah nama yang tidak asing lagi bagi kita, Ust.Umar Jawas dengan nomor HP:081559541599 untuk daurah Jember dan sekitarnya yang sekarang telah asyik mesra berangkulan dengan Muhammad Arifin cs-nya jaringan (bobrok manhaj) Ihya’ut Turats! Yassalam.
Lihatlah bagaimana para da’i hizbi ini klik dengan tokoh IM dan bos L-DATA:
http://img143.imageshack.us/img143/9599/sururisofwaldataimklikik8.jpg
Sekarang saatnya bagi kita utuk menikmati “sajian” hidangan bukti bagaimana Qiblati Ust. Umar Jawas turut menjadi samma’una lahum para hizbi kelas kakap…

Kebersamaan Qiblati dengan Tokoh-Tokoh Hizbi Kelas Kakap
(1) Abdul Majid Az-Zindani Pahlawan Qiblati
Siapa yang tak kenal dengan tokoh tersohor Ikhwanul Muflishin di Yaman ini? Yang selalu dan selalu menyibukkan Ahlus Sunnah dengan pemikiran-pemikiran nylenehnya seperti nikah “friends”, angin di bulan, tafsir Al-Qur’an surat Al-‘Alaq ayat 16 mengenai ubun-ubun dengan merujuk kepada pemaparan seorang ilmuwan Kanada (inna lillahi wa inna ilahi raji’un) dan keganjilan-keganjilan pemikiran lainnya di saat sekian besar kaum muslimin belum memahami tata cara wudhu yang benar, tata cara shalat yang benar dan (apalagi) memahami ketauhidan dengan sebenar-benarnya!!
Betapa bangganya Qiblati dengan “penemuan” tafsir aneh sang dokter:
http://img201.imageshack.us/img201/7742/qrujukzindaniimnj8.jpg
Lihat pula bagaimana jaringan L-DATA (baca:Qiblati) sampai menurunkan berita khusus tentangnya:
http://img291.imageshack.us/img291/896/qzindaniherork9.jpg
Tetapi apakah Salafiyyun juga layak mempahlawankan gembong Ikhwani Abdul Majid Az-Zindani sebagaimana Qiblati Al-Ikhwani mengelu-elukan jasa-jasa anehnya?

Berikut Fatwa Ulama tentang Abdul Majid Az-Zindani (pahlawan Qiblati) yang Sesat (fatwa asli dalam bahasa arab: http://www.misrsalaf.com/vb/showthread.php?t=744 )

1. FATWA ASY-SYAIKH AL-IMAM MUQBIL BIN HADI AL-WADI’I RAHIMAHULLAH
a.Beliau rahimahullah berkata dalam kitab beliau “Tuhfatul Mujiib ‘alaa as’ilatil Haadlir wal Gharib”
“…orang-orang Yaman yang ada di sini telah melancarkan peperangan terhadap Ahlussunnah, mereka mendukung Ikhwanul Muslimin, bahkan mereka menolongnya. Lebih dari itu Ikhwanul Muslimin telah bersekongkol dengan mereka serta meminta saran mereka tentang bagaimana cara menyibukkan Ahlussunnah. Mereka mengira bahwa kita akan tersibukkan oleh Muhammad Al-Mahdi. Siapakah Muhammad Al-Mahdi? Dia adalah orang yang tolol. Bihamdillah, sungguh Allah telah membongkar jatidirinya kepada kita tanpa perlu bantuan kaset. Kita mengetahuinya melalui orang yang membuktikan kesesatannya. Sesungguhnya ia adalah Ikhwanul Muslimin. Yang semodel dengan dia adalah Abdul Majid Az-Zindani, Abdurrahman Abdul Khaliq serta orang-orang Ihya’ut Turats.”

b.Beliau rahimahullah ditanya:
(Penanya berkata): Az-Zindani berkata: “Langkah awal ini membutuhkan adanya keterlibatan dalam pemilihan umum dan perlunya memasuki parlemen. Mengembalikan umat serta menerjunkannya agar bermusyawarah dalam parlemen pada hakikatnya memiliki landasan syar’i yang shahih”
Bagaimana tanggapan Syaikh terhadap pernyataan Az-Zindani di atas?
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab:
“Sebelumnya aku perlu mengatakan bahwa Abdul Majid Az-Zindani adalah orang yang sesat, menyesatkan orang lain dan berpikiran kacau. Sungguh pada hari kiamat nanti dia akan menanggung seluruh dosanya dan dosa-dosa orang yang disesatkannya tanpa ilmu.
Diantara kesesatannya adalah pujiannya terhadap Al-Khumaini yang kafir yang mengatakan:
“Para imam kita memiliki suatu kedudukan yang tak dapat dicapai oleh seorang Nabi-pun yang diutus, tidak pula oleh malaikat yang didekatkan. Artinya, imam-imam ahlul bait lebih utama dibandingkan para nabi dan malaikat.”
Ia juga mengatakan:
“Sesungguhnya teks-teks ucapan para imam kita bagaikan Al-Qur’an”
Al-Khumaini menyebutkan kedua pernyataannya ini dalam kitabnya: “Al-Hukuumah Al-Islaamiyyah”
Melalui siaran media Teheran ia mengatakan:
“Sesungguhnya para nabi dan imam ahlul bait tidak berhasil mendapatkan harapan-harapan pentingnya, namun Al-Mahdi-lah yang akan memperolehnya.”
Yang dimaksud Al-Mahdi (menurut Khumaini) adalah penghuni gua yang tengah bersembunyi (menurut dugaannya) sejak lebih dari seribu tahun.
Sebagian Ahlussunnah mengatakan:
Alangkah dekat masanya bagi gua,
Untuk melahirkan orang yang menurut kebodohan kalian,
Kalian sangat mendambakan kemunculannya,
Alangkah dekat masanya…
Namun menurut akal-akal kalian yang rusak,
Sesungguhnya kalian,
Telah mengambil sepertiga bencana dan kebinasaan

Tiga poin di atas adalah bukti kekafiran Khumaini (yang dipuji oleh Az-Zindani,pent).
Surat kabar Al-Mustaqbal mengajukan pertanyaan kepada Abdul Majid Az-Zindani: “Apakah anda setuju dengan demokrasi?”
Dia menjawab: “Saya dan ulama Yaman setuju dengan demokrasi.”

Abdul Majid Az-Zindani ketika bertemu dengan orang sufi, ia tampakkan wajah sufi, ketika bersama orang Syi’ah, ia pasang wajah Syi’ah dan ketika bertemu orang Sunni, ia tampilkan wajah Sunni. Padahal Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
Sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah orang yang bermuka dua, datang kepada suatu kaum dengan wajahnya dan kepada kaum lainnya dengan wajah yang lain pula”

Abdul Majid telah mengeluarkan dua kaset untuk membela (bolehnya) berkoalisi dengan orang-orang dari partai Ba’ats (berhaluan sosialis,pent)

Dia juga pernah bergabung dalam muktamar lintas agama yang dia istilahkan: Dialog agama-agama dan persaudaraan”. Orang Sudan menyebutnya sebagai bentuk penyatuan agama-agama.

Dia pernah duduk di suatu pertemuan di kota Aden. Di dalamnya ada penari dan penyanyi wanita. Ketika ditegur: “Mengapa engkau datang?”, jawabnya: “Wallahi, saya kira mereka anak-anak kecil.”

Presiden Yaman, Ali Abdullah Shaleh, pernah menugaskan Abdul Majid Az-Zindani untuk melakukan acara penyambutan rombongan tamu dari Spanyol atau dari negara lainnya. Diantara mereka terdapat sejumlah wanita yang setengah telanjang. Dan aku menasehati Az-Zindani dengan mengikhlaskan niat hanya mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla:
“Semestinya engkau menasehati orang yang menugasimu.”

Abdul Majid Az-Zindani tengah menyimpan dendam terhadap Ahlussunnah. Dia cemooh dan dia sifati Ahlussunnah sebagai orang yang menggantungkan hidupnya di masjid-masjid.

Dia juga memprovokasi orang-orang yang jiwanya lemah seperti orang-orang yang aktif di Jam’iyyah Al-Hikmah dan Jam’iyyah Al-Ihsan. Akibatnya mereka terpengaruh Az-Zindani dan sama-sama bersekongkol untuk melakukan permusuhan terhadap Ahlussunnah….

*Tak selayaknya ia mengeluarkan fatwa, karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Maka bertanyalah kepada ulama, jika kamu tidak mengetahui”
Akan tetapi orangorang yang tidak bisa dianggap remeh oleh Abdul majid Az-Zindani seperti Muhammad bin Isma’il Al-Imrani sempat berkilah: “Mereka tidak menganggapku sebagai orang ‘alim kecuali jika sedang butuh aku!!
Maka aku katakan: “Sesungguhnya mereka telah bersekongkol denganmu, wahai Hakim Muhammad! Maka berhati-hatilah (jazakallahu khairan) karena engkau telah menjadi pendukung pemilu dan berdalil secara batil untuk mendukung pemilu.
Aku nasehatkan kepada Abdul majid hendaknya ia bertanya (tentang pemilu) kepada Asy-Syaikh Ibn Baaz dan Asy-Syaikh Al-Albani. Namun janganlah engkau mengaburkan informasi kepada beliau tentang hakekat pemilu yang sebenarnya.
Aku nasehatkan juga, hendaklah ia mencari tempat yang aman untuk belajar dan menyebarkan ilmu. Hal itu lebih baik baginya daripada sibuk menyesatkan orang-orang Yaman.
Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan ahlul ilmi agar berkata dengan benar. Dan agar menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan. Allah tidak akan meninggikan derajat ahlul ilmi kecuali jika mereka berani berkata kepada orang dhalim: “Wahai orang dhalim”, dan berkata kepada orang yang menerima suap: “Wahai penerima suap”, serta mampu mengambil sikap di hadapan kemungkaran, Allah Ta’ala berfirman, artinya: “Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan Perkataan bohong dan memakan yang haram? “ (QS. Al-Maidah:63)
Telah menjadi keharusan bagi ulama untuk melarang manusia dari berbagai kebatilan dan fitnah-fitnah yang menyerang kita melalui musuh-musuh islam.
Setelah ini, kedustaan-kedustaan ahlul batil akan terus berlangsung tiada henti, maka aku menasehati setiap Ahlussunnah agar berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta berupaya mengembalikan umat kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Sungguh, sejumlah orang di Ma’rib dan Sha’dah serta dari berbagai kota di Yaman telah rujuk kepada Al-Haq. Maka sirnalah berbagai kedustaan yang ada.
Oleh sebab itu kita tak akan menyia-nyiakan waktu kita hanya untuk membahas mereka, karena agama mereka dibangun di atas khayalan, keraguan, dan tipuan. Hakekat mereka telah jelas.
Demikian pula telah ada tiga buah kaset milik Abdul majid Az-Zindani yang sampai kepadaku. Kaset-kaset ini hanya akan menyusahkan orang-orang yang mendengarkannya. Aku berpendapat, sebaiknya kita tinggalkan saja mereka, karena ngelanturnya omongan mereka dan penipuan-penipuannya yang tiada henti.

Beliau rahimahullah berkata:
“Kelompok sufi dan Ikhwanul Muflishin dan orang-orang Jam’iyyah Al-Hikmah berusaha membatasi gerak ikhwan kita di Aden. Namun usaha mereka gagal dan merugi. Apakah mereka mengira akan mampu memutus dakwah. Justru melalui makarnya ini, binasalah diri mereka sendiri. Dan masyarakatpun menjadi paham siapa sesungguhnya mereka.
Demikianlah nasib para tukang tipu dari kalangan Ikhwanul Muflishin semisal Abdul Majid Az-Zindani dan Muhammad Ash-Shadiq. Adapun Sha’tar, dia adalah orang yang dungu, aku tak butuh untuk membantahnya. Dia orang yang jatuh, tak perlu kita perhatikan.”

Beliau rahimahullah berkata:
“Banyak orang yang terkecoh oleh sebagian “da’i ilallah”. Ketika mereka melihat orang yang berjenggot lebat, mengenakan gamis hingga pertengahan betis, dan sorban yang melilit di kepala, niscaya mereka berkata: “Inilah da’i ilallah”.
Kalau demikian kriterianya, niscaya di kalangan jin-pun ada profil seperti itu. Aku akan tunjukkan berbagai contoh kepada kalian tentang orang-orang hizbiyyun yang ada di sekitar kita, yang gemar menyelewengkan kata dari makna-makna yang semestinya.
Pernah suatu ketika aku dan Abdul majid Az-Zindani duduk di sebelah Presiden (Yaman), maka aku berkata kepada keduanya, “Aku tantang kalian berdua untuk menunjukkan bukti-bukti apa benar kami ini mutasyaddidun (orang-orang yang keras).
Ia (Abdul Majid, pent) menjawab: “Ahlussunnah adalah orang-orang yang keras.” Sang Presiden tampak terdiam mendengar jawaban tersebut.
Selanjutnya Az-Zindani berkata: “Adapun aku, aku telah memiliki bukti ucapan kerasmu terhadap beberapa orang.”
Aku balas ucapannya, :Sesungguhnya nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur (dengan keras) perbuatan Mu’adz: “Apakah engkau telah menjadi tukang fitnah wahai Mu’adz?” dan juga teguran beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar, “Sesungguhnya pada dirimu ada sifat jahiliyyah.”
Kemudian Presiden menoleh kepada Abdul Majid Az-Zindani seakan mengucapkan: “Bagaimana pendapatmu?!!”
Tak ada kalimat lain yang terucap dari mulut Abdul Majid Az-Zindani kecuali perkataan: “Dalil-dalil itu telah mansukh (terhapus).”
Aku ingin kalimat yang diucapkannya itu direkam di sini, agar para ulama kaum muslimin mengetahui orang-orang yang membela hizbiyyun, seperti apa cara mereka menghukumi dalil-dalil. Adakah ulama yang mendahuluimu wahai Abdul Majid tentang ucapanmu: “Sesungguhnya dalil-dalil itu telah mansukh?” Bertanyalah kamu kepada ulama, jika kamu setuju. Bukankah kamu pernah tinggal di Saudi selama bertahun-tahun?
Bukankah engkau pernah menganjurkan seseorang agar mau masuk ke Jami’ah (Universitas) dari Jami’ah-jamiah yang ada serta mengambil faidah ilmu darinya?”

2.FATWA ASY-SYAIKH AL-MUHADDITS YAHYA BIN ALI AL-HAJURI HAFIDHAHULLAH

Pertanyaan:
“Bagaimana pendapat anda tentang kaset Az-Zindani yang terakhir yang berbicara masalah adzab barzakh (kubur)?

Jawaban Asy-Syaikh Yahya hafidhahullah:
“Kaset itu kaset yang cabul, terutama kaset Az-Zindani yang terakhir. Kukatakan kepada para ikhwan saat kaset tersebut keluar, “Tahukah kalian siapa sebenarnya orang ini?” Kalau dia diam selama beberapa bulan maka maknanya adalah ia tidak diam di atas kebaikan. Namun diamnya karena menyiapkan keduataan, diam untuk menyusun problem yang lain, kedustaan yang lain dan masalah yang lain yang digunakan untuk membikin fitnah di tengah umat manusia. Hingga detik ini dan dengan diamnya saat ini, kita tak yakin bahwa dia akan diam dan tenang. Akan tetapi kita yakin bahwa dia tengah menyiapkan makar lainnya.
Tunggu! Ia tengah menyiapkan rencana berikutnya. Terkadang ia tampil menyiapkan “sapi merah’, maksudnya ia mengadakan seminar tentang sapi merah.
Pada kesempatan lain ia juga menyiapkan….yakni sebagaimana kalian tahu, beberapa hari yang lalu dia sengaja menyibukkan masyarakat dengan perkara-perkara yang asing. Padahal mereka masih banyak yang tidak mengerti tentang cara berwudhu dan cara shalat. Banyak pula diantara mereka yang tenggelam dalam lumpur kesyirikan. Namun dia tetap membahas masalah tiupan angin yang ada di bulan. Dan terus melakukan kajian dan riset tentang hal-hal yang asing agar masyarakat mengatakan: “Orang ini memiliki ilmu yang tidak ada di tengah-tengah masyarakat”. Walaa haula walaa quwwata illa billah.
Barangsiapa mendengar, Allah-pun mendengar pula. Beberapa waktu yang lalu dia juga melontarkan pendapat (kontroversial) seputar pernikahan “friend” (bahasa Inggris). Namun Allah memberikan kemudahan untuk membantah kasetnya. Dalam kaset tersebut dia membolehkan “nikah friend”.
Ketika itu para wartawan melontarkan tanggapan bahwa “nikah friend” adalah salah satu bentuk perzinahan. Hal ini dikatakan oleh para wartawan yang notabene orang terbaik diantara mereka tak lebih dari orang fasiq. Ya, para wartawan yang orang terbaiknya adalah orang fasiq. Dengan keadaannya yang demikian mereka masih menolak “nikah friend” dan menganggapnya sebagai perzinahan.
Az-Zindani mengekspos “nikah friend’ ini secara sengaja, yaitu terbukti ketika ia mengatakan: “(Memang) aku menghendaki dan menyengaja. Dan pendapatku ini tak lepas dari pendapat ulama-ulama Al-Azhar, mereka pernah mengatakannya.”
Sebagian alumni Al-Azhar sendiri membantah Az-Zindani. Bahkan bantahannya pernah dirilis oleh beberapa majalah dan surat kabar. Melalui media tersebut mereka mengatakan: “Laki-laki ini (Az-Zindani, pent) bukanlah orang yang alim, dia tak lebih dari seorang alumnus farmasi yang lemah. Maka tak selayaknya…yaitu, mengambil pendapat-pendapatnya sebagai pedoman. Dia pernah belajar bersama kami sewaktu di mesir. Namun dia lemah. (Sekali lagi) dia adalah mahasiswa farmasi yang lemah. Maka tak selayaknya…yakni, menjadikan pendapat-pendapatnya sebagai rujukan, dia bukan orang yang pakar.”
Setelah keluar dan berhenti dari Al-Azhar, dia langsung terjun menekuni masalah-masalah ghaib. Ia telah melakukan kajian masalah-masalah ghaibiyah. Hingga akhirnya, sebagian teman-teman kuliahnya dulu sempat membantahnya dengan bantahan yang cukup menggelikan dalam sebuah kaset yang pernah kami dengarkan, padahal si penanya sendiri adalah orang yang tipis (ilmunya). Akan tetapi perkara ini yaitu perkara yang menyangkut masalah-masalah ghaib. Ya, masalah ghaib. Az-Zindani telah berdalil dengan cara pengambilan dalil yang tidak semestinya.

Maka semestinya ia mau mencukupkan diri dengan mengambil dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, Allah Ta’ala berfirman (artinya):
"Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran?” (QS. Al-A’raf:18)

Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Dan Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al kitab (Al-Quran) sedang Dia dibacakan kepada mereka? “ (QS. Al-Ankabut:51)
 
Benar, Allah Ta’ala juga berfirman (artinya):
“Maka jika mereka tidak Menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).” (QS. Al-Qashash:50)

Wallahi, jika ada orang yang tidak merasa cukup dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim: “…maka tak ada yang bisa memuaskannya kecuali neraka jahannam” atau yang semakna dengan ucapan ini. Maka benarlah (barakallahu fiikum) Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al-Isra’: 9)

Di dalam Al Kitab dan As Sunnah terdapat ketetapan adanya adzab kubur. Orang-orang kafir diseru kepada keyakinan ini, mereka diseru kepada hal ini. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya menyeru mereka, maka Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". (QS. Ali Imran:64)
Orang-orang kafir Yahudi, mereka mengakui adanya siksa kubur. (Dalam riwayat disebutkan) ada wanita Yahudi yang menemui Aisyah dan berkata kepadanya: “Semoga Allah melindungimu dari siksa kubur”

Bahwasanya telah muncul sekelompok orang dari generasi “penjahat” yaitu orang-orang rafidhah yang mengingkari siksa kubur. Berdasarkan kenyataan ini sudah seharusnya kaum muslimin dijelaskan dengan dalil-dalil.
Adapun berbagai bentuk kekacauan pemikiran yang menyertai Az-Zindani, yaitu apa…? Yaitu berupa cerita-cerita fiktif. Masyarakatpun sempat terpengaruh olehnya. Az-Zindani menginginkan agar masyarakat merasa puas dengan berbagai bualan bikinannya. Itulah Az-Zindani. Benar, dialah Az-Zindani. Aku sungguh heran dengannya, mengapa dia tidak merasa cukup dengan dalil-dalil sehingga perlu mengambil ucapan orang-orang Skandinavia. Dia mengatakan: “Bukti-bukti ini dikuatkan oleh orang-orang Skandinavia”. Pernyataan ini tidaklah menunjukkan bahwa hal itu benar. Nas’alullahal ‘aafiyah. Nas’alullahal ‘aafiyah.
Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran “ (QS. Al-Hadid:16)
Maka orang ini (yakni Az-Zindani), Wallahi, aku tak mengerti, aku tak habis mengerti mengapa ia kurang qana’ahnya terhadap Al Kitab dan As Sunnah. Sungguh ia kurang qana’ahnya. Dia diuji dengan minimnya qana’ah sehingga dia butuh kepada ucapan-ucapan orang-orang Nashrani. Dan mereka, yaitu apa? Yaitu gaya  hidup kependetaan dan kerahiban yang dia anggap dan dia nyatakan (seakan-akan) seperti itulah Al Haq .
Ia memberi jaminan bahwa mereka akan rujuk. Dan rujuk pula hasil-hasil penelitiannya. Ia juga memberi jaminan bahwa mereka akan rujuk. (Awalnya) mereka mengatakan: “Saat ini asal usul manusia diyakini berasal dari kera”. Ia menjamin, ketika mereka mengucapkan hal ini, esok hari ia akan rujuk dengan mengatakan: “Kami menyesal dan mengakui sesungguhnya manusia tidak berasal dari kera.” Dengan kata lain mereka mengakui bahwa hipotesanya selama ini salah. Tapi mengapa bukti-bukti empirisnya turut rujuk mengikuti rujuknya?
Ini adalah pernyataan yang batil yang tak mungkin keluar dari mulut orang yang berakal yang bisa memahami ucapannya. Na’am.
Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Haa miim. Demi kitab (Al Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul” (QS. Ad-Dukhan:1-5)

Juga firman Allah Ta’ala (artinya):
“Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku” (QS. Qaaf:29)

Juga firmanNya (artinya):
“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm:3-4)
Juga firman Allah Ta’ala (artinya):
“Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Maka bagaimana ini? Ternyata mereka merendahkan dalil-dalil dengan cara mengadopsi perkataan orang-orang yang berlepotan air kencing, yaitu orang-orang Nashrani yang mengencingi celana dan pakaiannya. Wallahi jika mereka kencing, ia berdiri sementara air kencingnya “berserakan’ di bajunya.”
(Sumber: Kaset dengan judul “Tahdziirul ‘Uqaal min Thuruuqidh Dhalal” side-B)
15 Shafar 1426H.
Direkam oleh Al Ikhwah Syabab Salafi di Masjid Al Kaumani, Dzimar, Yaman.

Asy-Syaikh Yahya (hafidhahullah) memberikan kata sambutan risalah “Al-Fathurrabbani li nasfi ba’dli abaathili ‘Abdil Majid Az-Zindani” tulisan Abul Hasan Amin bin Ahmad bin Husain Asy-Syaami Al-Kharifi Al-Haasyidi:
Khutbah pembuka….
Amma ba’du
Az-Zindani telah mengeluarkan sebuah kaset beberapa hari menjelang pemilu yang lalu. Dalam rekaman tersebut dia mengeluarkan statemen-statemen yang menunjukkan sangat jauhnya dia dari kebenaran dan bimbingan yang lurus. Hal ini menjadi bukti yang jelas adanya kesesatan dan kerusakan pada dirinya. Dia sanjung orang-orang Nashrani dan orang-orang barat. Dia muliakan ide-ide mereka. Dia sangat respek dengan kemajuan pemilu yang mereka capai dan kemenangan mereka di berbagai ajang pemilu. Serta penyimpangan-penyimpangan lain yang dapat menggelincirkan kalangan awam dan yang semisalnya. Mengecoh pikiran mereka, sejak saat itu hingga seterusnya. Penyimpangan itu tak akan berani dilakukan kecuali oleh orang yang minim rasa takutnya kepada Allah “Azza wa Jalla.
(Artinya: Sesungguhnya Allah akan memberi tangguh orang yang dhalim, hingga ketika Ia mengadzabnya, Allah tak akan melepaskannya”)

Kaset tersebut. Yaitu kaset yang berisi ide-ide dan ajakan kepada manhaj orang-orang kafir telah dia sebarluaskan. Dan sampailah di tangan saudara kita, Al Fadhil, Ad-da’I ilallah Amin bin Ahmad Asy Syami Al Kharifi. Dia ingkari Az-Zindani dengan segenap rasa cemburu terhadap agamanya. Dia beberkan segenap kebatilan, pengkhianatan dan kemungkaran Az-Zindani dalam sebuah risalah yang berjudul “Al Fathurrabbani li nasfi ba’dli abaathili ‘Abdil Majid Az Zindani". Dalam risalah ini ia curahkan segenap tenaga untuk membantahnya, ia jabarkan dengan keterangan-keterangan yang mantap sejauh kemudahan yang telah diberikan Allah kepadanya. Mudah-mudahan Allah membalasnya dengan kebaikan dan membimbingnya kepada ilmu yang bermanfaat serta kesabaran untuk memperolehnya.

Ttd
Yahya bin Ali Al-Hajuuri
———————-selesai———————
Komentar:
Demikianlah profil sesat dan menyesatkan salah satu tokoh Qiblati . Qiblati telah bangga menjadi samma’una lahum gembong penyesat umat, tokoh hizbi kelas kakap Ikhwanul Muslimin di Yaman yang gemar merendahkan dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah dengan cara mengadopsi perkataan orang-orang yang berlepotan air kencing (dalam memahami keduanya), yaitu dari kalangan orang-orang Nashrani yang mengencingi celana dan pakaiannya tanpa memiliki kewajiban untuk menghindar dan bersuci dari najisnya.  Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Qiblati, baju? Salafi. Bau? Ikhwani tanpa ragu lagi!
(Bersambung Insya Allah)

Footnote:
[1] aldakwah.mweb.co.id_009info_2002_index.php_idn_26.htm, Divisi Perpustakaan Lembaga Dakwah dan Taklim Jakarta bersama Masjid Al-Furqon, Kramat Raya Jakarta menampilkan Musthafa Aini Lc, Abu Qotadah, Farid Okbah dalam Bedah buku Perpustakaan L-Data
Muhammad Yusuf Harun yang diberi keterangan/promosi oleh Al Sofwa sebagai Direktur L-DATA (alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkegiatan&id=20&id_layanan=25)
[2] Penjelasan lebih lengkap silakan merujuk pada bundel artikel Badai Fitnah Dakwah Ihya’ At-Turats ketika membahas tentang LDATA Al-Ikhwani.
[3] Sekarang mereka/Qiblatiyyun (baru) merasa keberatan dengan publikasi Al-Sofwa yang menerangkan bahwa Agus Hasan Bashari adalah master IAIN (setelah Agus Hasan mendapatkan pegangan “dana’ yang jauh lebih kuat melalui link Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi di Mekah).
http://img53.imageshack.us/img53/4729/agusiainxqe6.jpg
Tampaknya mereka “lebih sreg” dengan publikasi Al-Sofwa lainnya yang menunjukkan bahwa Agus Hasan Bashari adalah Master Universitas Muhammadiyah, wallahu a’lam.
http://img53.imageshack.us/img53/9090/agusunmuhnq4.jpg
[4] Lihat footnote sebelumnya

abdul hadi————






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham