Fakta.blogsome.com ! www.Fakta.cjb.net ! www.Fakta.info.tm :: FAKTAkan yang Haq

4 - May - 2007

Kenapa Islam dan Al Quran yang dinistakan(1) ?

Filed under: Umum, Ilmu

“KITAB SUCIITU SUDAH LAMA (DI)PORNO!
KENAPA ISLAM & AL-QUR’AN YANG DINISTAKAN?
(Membungkam Gonggongan Para Pendeta, Penyanya/Nyi & Jema’at LPMI)
Bagian pertama——

Bismillahirrahmanirrahim. Betapa sakitnya hati kita ketika menyaksikan Al-Qur’an diangkat tinggi-tinggi sebelum pada akhirnya dilemparkan ke lantai (detik-detik adegan pelemparan sengaja dipotong) oleh seorang penginjil keji yang tergabung dalam wadah LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia) wilayah Jatilira (Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara) untuk kemudian semua yang hadir dalam acara yang dikamuflasekan sebagai “training do’a” di hotel Asida, Batu Malang diajak untuk menudingkan tangannya kepada Al-Qur’an yang telah tergeletak di lantai dan berkomat-kamit menyebut nama Yesus untuk kemudian mengeluarkan hujatan-hujatan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang mengajarkan kesesatan dan berbagai tudingan yang sungguh akan membikin marah setiap orang yang beriman. Semoga Allah segera membinasakan mereka, amin.
Mereka mengira dengan itu sedang menegakkan ajaran Yesus/Isa ‘alaihis salam! Tidak sekali-kali tidak, nabiyullah Isa ‘alaihis salam tidak akan pernah ridha dengan hujatan mereka terhadap Al-Qur’an! Pun Nabiyullah Isa ‘alaihis salam bukanlah Tuhan yang mereka sembah yang mati hampir telanjang di atas kayu salib!!
Jelas bahwa rekaman VCD yang mereka buat itu sengaja 100% untuk bahan provokasi yang akan dikonsumsikan secara luas ke tengah-tengah kaum muslimin. Rekaman VCD tidaklah dihasilkan dari kamera-kamera tersembunyi, terbukti bahwa wajah-wajah close-up yang sengaja mendekat ke arah kamera sehingga menampakkan ekspresi wajah mereka dengan jelas ketika melaksanakan ritual penistaan Islam dan penghujatan terhadap Al-Qur’an ini. Wajah-wajah kafir yang berjilbab, berkerudung, bersarung, berkopyah benar-benar semakin menguatkan keyakinan bahwa mereka ini telah merencanakan secara matang agenda pelecehan dan penistaan ini. Segera ditangkapnya 41 orang pelaku oleh pihak berwenang (jazahumullahu khairan katsira) dari target 100 orang pelaku ritual keji ini dan pengakuan mereka yang menyatakan bahwa acara tersebut telah dipersiapkan dan dikoordinasikan jauh-jauh hari sebelumnya semakin menguatkan kenyataan bahwa memang ada agenda besar bagi mereka untuk memprovokasi kaum muslimin. Tentu tujuan penyebaran VCD tersebut untuk memancing dan meprovokasi kemarahan kaum muslimin dan skenario yang paling jelas adalah agar kaum muslimin kehilangan kontrol sehingga digiring untuk bersikap frontal sebelum pada akhirnya dibenturkan dengan petugas keamanan yang notabene juga mayoritasnya terdiri dari kaum muslimin! Membenturkan sesama kaum muslimin adalah agenda besar yang tidak tersembunyi lagi untuk menciptakan kekacauan secara luas di negeri ini!! Tentu mereka memiliki makar besar seperti ini, apalagi ketika negara kita dipimpin oleh orang-orang muslim!! Menciptakan suasana kekacauan, kerusuhan adalah target final para provokator tersebut.
Para pelaku ritual penistaan Al-Qur’an tersebut tidak lebih hanyalah cecunguk-cecunguk yang menjadi umpan untuk mengail ikan yang jauh lebih besar demi untuk memancing kemarahan kaum muslimin. Mereka tahu benar bahwa ancaman maksimun penistaan agama hanyalah 5 tahun penjara (itupun kalau mereka divonis maksimal) dan waktu itu hanyalah sebentar saja dibandingkan jika kaum muslimin dapat terpancing untuk mengikuti skenario mereka sehingga mau digiring dan dibenturkan dengan penguasa muslimnya.
Bagaimana mungkin orang-orang Kristen LPMI tersebut sampai memiliki keberanian yang luar biasa dengan memampangkan wajah-wajah mereka secara jelas di acara keji tersebut?
Apakah anda percaya bahwa orang-orang kafir itu memiliki keberanian sedemikian tingginya jika memang tidak tersembunyi agenda dan tujuan yang sangat besar dari proyek penistaan dan penghujatan terhadap Al-Qur’an seperti yang mereka demonstrasikan?! 5 tahun penjara sekalipun, bukanlah hal yang berat bagi donatur mereka untuk menanggung kehidupan keluarga-keluarga “martir’ yang sedang dipenjara karena proyek yang sangat besar ini. Makar yang sangat keji, busuk dan jahat. Jangan kaum muslimin sampai terpancing oleh provokasi mereka.
Adalah kewajiban bagi para penguasa muslim kita untuk menjaga dan melindungi agama kita kaum muslimin. Semoga Allah Ta’ala selalu mengikhlaskan niat mereka, meluruskan lisan-lisan mereka dan mengokohkan amal-amal baik mereka, amin.
Para penghujat itu ditangkap, dipenjarakan dan dihukum seberat-beratnya adalah ganjaran yang wajar sebagai hasil penistaan yang dilakukannya, tetapi hujatan-hujatan mereka dan penistaan yang dilakukan terhadap Al-Qur’an tetaplah sebuah gonggongan yang harus disumpal dan dibungkam! Dan biarlah Alkitab mereka dan sejarah orang-orang Kristen sendiri serta tulisan para penulis Kristen sendiri yang akan menyingkap “kualitas” agama para penghujat Al-Qur’an tersebut!!
Artinya: “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” (QS.Ash-Shaf: 8)
“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka” (QS.Al-Baqarah: 15)

KEBENCIAN YANG MENDARAH DAGING
Firman Allah, artinya :
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS.Al-Baqarah:120)
Ini adalah persaksian dari Dzat Yang Maha Benar mengenai kebencian Yahudi dan Nasrani terhadap Islam dan kaum muslimin…

AJARAN ISA/YESUS SUDAH LAMA DIROBOHKAN[1]
Sejenak kita akan menyaksikan alur kekafiran Nashara ketika mempertuhankan seseorang yang diserupakan dengan nabi Isa ‘alaihis salam, ketika “tuhan” yang malang ini disalibkan untuk kemudian mati dan akhirnya…dipertuhankan!!
7 April tahun 30 AD (Anno Domini) bertepatan dengan hari Jum’at, Yesus Kristus putera Tuhan yang diutus pada domba-domba Israel telah dijatuhi hukuman mati disalib! Demikianlah yang tersurat di dalam “kitab suci” umat Kristen, Perjanjian Baru.
Di lembah Golgotta, Betlehem Yerusalem, kira-kira pukul tiga sore pada Jum’at yang na’as itu, dalam keadaan hampir telanjang, Yesus sang Putera Allah dan sekaligus Allah itu sendiri(?!) telah menjalani hukuman matinya (dan kita kaum muslimin sama sekali tidak meyakininya bahwa Yesus/Isa ‘alaihis salam telah meninggal secara “hina” seperti ini sebagaimana penegasan Al-Qur’an dalam surat 4:157).
Itulah anti klimaks dari “keberhasilan” misinya. Ia telah gagal total menanamkan benih-benih keimanan di atas ketandusan bangsanya. James M.Stalker berkata dalam bukunya:
“Belum pernah di dunia ini sesuatu kegagalan begitu mutlak nampaknya seperti kegagalan Tuhan Yesus. Tubuhnya terkapar dalam kubur. Musuh-musuhnya sudah menang. Kematian mengakhiri segala pertentangan dan dari kedua yang bertentangan itu, kemenangan ada pada pihak pemimpin-pemimpin Yahudi. Tuhan Yesus sudah tampak dan menyatakan diri sebagai Messias. Tetapi Ia bukanlah jenis Messias yang mereka idam-idamkan. Pengikut-pengikutnya sedikit saja jumlahnya dan tidak berpengaruh. Masa kerjanya singkat sekali. Sekarang Ia sudah mati dan tamatlah riwayatnya”.[2]
Alangkah ironisnya tragedi tersebut. Betapa tidak, sang Bapa di surga seolah-olah tidak mengenal watak hakiki bangsa Yahudi yang selalu berkhianat terutama terhadap utusan-utusan yang datang. Ah, lagi-lagi Tuhan Bapa itu telah lalai mempersiapkan keamanan menjelang Sang Putera datang ke tengah-tengah domba-domba sesat bani Israil. Ataukah justru ada unsur kesengajaan sang Bapa untuk membunuh Putera-Nya sendiri di tangan makhluk ciptaan-Nya?!
Yang jelas dan yang pasti, Tuhan Anak alias Yesus itu sendiri ternyata tidak (Maha) Tahu akan skenario Bapa surganya untuk melakukan pembunuhan terhadap dirinya, betapa Yesus turun ke dunia (diyakini) telah dipersiapkan oleh Bapa dan dirinya (sendiri) dengan misi menebus dosa manusia. Bagaimana mungkin Yesus tahu skenario pembunuhan berencana dan penyerahan dirinya ini, sementara di akhir-akhir kehidupannya Sang Tuhan Anak ini berteriak-teriak dengan penuh keputusasaan mengharapkan pertolongan kepada Bapanya yang ada di sorga dengan ucapan: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Ia memanggil Elia.” (Matius 27:46-47)
Teriakan putus asa di atas adalah klimaks dari akibat ejekan para prajurit Yahudi yang berkata penuh kesinisan: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diriMu” (Lukas 23:36)
Bahkan salah seorang penjahat yang disalib bersama dengan si tuhan ini pun mengejeknya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!” (ibid:39)
Orang-orang yang lewatpun mengejeknya, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diriMu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” (Matius 27:39)
Tetapi bagaimana bisa “Allah” yang tengah terpaku tanpa daya di atas kayu salib itu menyelamatkan dirinya, sementara ketika bajunya ditanggalkanpun dirinya tidak kuasa menolaknya, “Mereka menanggalkan pakaianNya dan mengenakan jubah ungu kepadanya” (Matius 27:28)
Ketika kepala Tuhan dimahkotai anyaman duripun si Tuhan tiada mampu mengelaknya, “Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepalaNya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanannya..”(ibid:29)
Setelah itu sang Tuhanpun mendapatkan perlakuan yang sangat “kurangajar” dari makhluk-makhluk ciptaanNya..
“Mereka meludahiNya dan mengambil (kembali-pen) buluh itu dan memukulkannya ke kepalaNya” (ibid:30)
Tidak cukup itu, “Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari padaNya dan mengenakan pula pakaianNya kepadaNya. Kemudian mereka membawa Dia keluar untuk disalibkan” (ibid:31)
Bahkan drama ketidakberdayaan salah satu oknum Tuhan terus berlanjut, sesampainya di tempat yang bernama Golgota, artinya Tempat Tengkorak, “mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu!!” (ibid:34)
Tidakkah anda menyaksikan drama penyiksaan luar biasa ini, saat-saat akhir dari seorang yang dipertuhankan sedang menjadi bahan ejekan, ludahan dan permainan tanpa daya para makhluk ciptaanNya(!!) sebelum pada akhirnya berteriak penuh keputusasaan karena pertolongan dari sekutu tuhannya tak kunjung datang? Tuhan mana lagi yang yang diserunya sementara pangkat ketuhanan telah disematkan di atas pundaknya?!
Kalau memang Yesus telah mempersiapkan kematian dirinya untuk menebus dosa umat manusia ((Lukas 22:19-20), bagaimana mungkin ketidakikhlasan dan ketakutan hebat akan bayang-bayang kematian di atas kayu salib sedemikian mendominasi akhir hayatnya? Bukankah semestinya dirinya menghadapi skenario penyerahan nyawa di tangan makhluknya sendiri dengan penuh ketabahan, kebanggaan dan kegagahan? Bukankah diri-nya (diyakini) telah mempersiapkan ritual kematian ini untuk sejarah besar penebusan dosanya? Ataukah kematian tragis di atas kayu salib itu ternyata telah meleset jauh dari skenario kematian yang telah ditetapkan sebelumnya bersama Bapanya yang ada di surga? Ataukah justru Elia tidak membocorkan skenario kematian terkutuk ini kepada sekutu ketuhanan-Nya sekaligus PuteraNya, Yesus? Dan ataukah semua omong kosong ini adalah agama baru ciptaan Paulus?!
Lihatlah bagaimana sang Tuhan menyerahkan nyawanya kepada dirinya sendiri (baca:Tuhan lainnya!!) …
“Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya” (Lukas 23:46)
Kami tidak akan mengajak anda berfilsafat ria sebagaimana matematika iman Kristiani 3=1 dan 1=3, dengan kejadian yang sangat gamblang, mudah dicerna dan dipahami seperti di atas. Cukup gunakan akal sehat anda dan berfikirlah secara jernih dengan teriakan nyaringnya: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?“ yang diperdengarkan Yesus menjelang ajal menghampirinya.
Bukankah hal ini merupakan bukti nyata bahwa Tuhan Bapa tidak memiliki rasa kesetiaTuhanan terhadap oknum tuhan lainnya yang membutuhkan pertolongannya? Bagaimana mungkin tuhan 3=1 dan 1=3 karena jelas-jelas 2 tidak =1, ada dua oknum tuhan ketika tragedi tersebut terjadi, yaitu Allah Anak yang memanggil dan Allah Bapa yang dipanggil (tetapi tidak menjawabnya).
Ataukah iman kristiani mereka akan memperkosa akal sehatnya dengan menafsirkan teriakan Yesus tersebut dengan ucapan: “DiriKu, diriKu, mengapa diriKu meninggalkan Aku?!”
Di bagian lain Alkitab…
“…supaya engkau tahu, bahwa Akulah TUHAN, Allah Israel, yang memanggil engkau dengan namamu. Oleh karena hambaKu Yakub dan Israel pilihanKu, maka Aku memanggil engkau dengan namamu, menggelari engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah…Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semua ini…Akulah TUHAN yang menciptakan semuanya ini” (Yesaya 45:3-8)
kita tanyakan kepada iman Kristiani:
Apakah yang berfirman di dalam perjanjian lama ini Allah ataukah Yesus?!! Apakah Yakub, Israel adalah hamba Yesus? Apakah Yesus yang telah berfirman kepada Adam, Nuh, Abraham, Musa, Yakub, Yunus dan semua nabi-nabi sebelum Yesus itu sendiri lahir ke dunia ini? Apakah Yesus yang menurunkan Taurat kepada Musa? Kalau Allah yang berfirman kepada Yesaya mengenai keEsaanNya ini, dimana Yesus berada sebelum berabad-abad kemudian baru dilahirkan dari rahim seorang perawan bernama Maria?! Tentu iman Kristiani tidak akan mampu menjawab dengan tegas situasi “chaos” mengenai kekosongan kekuasaan keTuhanan Yesus yang sedemikian panjaang dan lamanya!! Dan karena pemaksaan doktrin ketuhanan Trinitas hasil kreasi Paulus inilah lebih dari sejuta orang Kristen yang tetap mempertahankan aqidah kemanusiaan Yesus dan keEsaan Allah dibunuh, dikejar-kejar, ditindas dan disiksa!!

DOGMA TRINITAS DITEGAKKAN DI ATAS LEBIH DARI SEJUTA DARAH KRISTEN UNITARIAN
Sesungguhnya, Isa ‘alaihis salam (sebagaimana para nabi lainnya) hanyalah menyeru umatnya untuk mengEsakan Allah, memurnikan peribadatan hanya kepada Allah semata, artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”, Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau Mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maa-idah: 116-117)
Bagaimana Sejarah Kristen menjelaskan perjalanan gerejanya yang berlumuran darah?
Setelah sekian puluh tahun beliau meninggalkan bumi ini, terjadilah penyimpangan-penyimpangan besar sampai akhirnya doktrin Trinitas diterima sebagai keyakinan resmi yang disahkan pada Konsili Nicea tahun 325M. Akibatnya terjadilah kesimpangsiuran yang sangat hebat mengenai doktrin ini, yang pada akhirnya membuat orang semakin jauh dari pikiran yang sehat, sampai hari ini.
Pada awal-awal waktu sepeninggal beliau, para hawariyyin, murid-murid beliau masih tetap mempertahankan ajaran ketauhidan ini. Ada sebuah naskah kuno yang bernama naskah The Shepherd (Gembala) karya Hermas yang ditulis sekitar tahun 90 M (lk. 90 tahun setelah “Yesus” mati disalib!! Tentu waktu yang sangat lama untuk sebuah ukuran penulisan kitab suci) . Menurut gereja sendiri, naskah tersebut termasuk kitab kanonik (yang dianggap suci). Diantara isi naskah itu:
“Pertama, percayalah bahwa Allah itu Esa. Dialah yang menciptakan dan mengatur segalanya. Dia menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dia meliputi segala sesuatu, tetapi Dia tidak diliputi oleh apapun…”
Menurut Theodore Zahn, sebagaimana yang dikutip oleh E.J. Goodspeed di dalam The Apostolic Father, bahwa sampai sekitar tahun 250M kalimat keimanan itu masih berbunyi:
“Saya percaya kepada Allah Yang Maha Kuasa”
Antara tahun 180M sampai dengan tahun 210M ada yang menambahkan kata “Bapa” di depan kata “Yang Maha Kuasa”. Tindakan “bid’ah” ini dikecam keras oleh beberapa tokoh gereja. Uskup Victor dan Zephysius mengutuk penambahan kata tersebut. Mereka memandangnya sebagai perbuatan keji yang mencemari kemurnian kitab suci dan menentang pendapat yang mengatakan bahwa Yesus itu adalah oknum Tuhan. Mereka menekankan keEsaan Tuhan sebagaimana yang diajarkan Yesus serta menegaskan bahwa Yesus itu adalah seorang nabi Allah yang mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah, sebagaimana para nabi lainnya. Keyakinan serupa juga dipegang teguh oleh penganut-penganut gereja-gereja yang tumbuh di Afrika Utara dan Asia Barat.
Pada tahun 325M doktrin Trinitas diresmikan sebagai keyakinan agama Kristen. Walaupun sebagian besar tokoh gereja yang terpaksa menandatangai kredo itu tidak mempercayainya karena kredo tersebut sama sekali tidak memiliki dasar pada kitab sucinya.
Athanasius (293-373M) yang dipandang sebagai bapak kredo yang diresmikan pada Konsili Nicea itu tidak mempercayainya. Bahkan:
“Setiap berusaha memaksakan diri untuk memahami dan merenungkan konsep ketuhanan Yesus, ia merasa keberatan dan sia-sia. Hingga semakin banyak dia menulis untuk mengungkapkan konsep itu, ternyata ia tidak mampu memahami kesimpulan jalan pikirannya sendiri. Akhirnya ia mengambil kesimpulan bahwa Tuhan itu bukanlah tiga oknum, melainkan hanya satu. Kepercayaan kepada doktrin Trinitas itu sebenarnya bukanlah suatu keyakinan, melainkan hanya disebabkan oleh kepentingan politik dan penyesuaian keadaan di waktu itu”
Keputusan Konsili Nicea yang sangat bersejarah itu lebih banyak berdasarkan kepentingan politik serta pengaruh filsafat Yunani yang berkembang saat itu, terutama ajaran filsafat Trinitas dari Neo-Platonisme yang dikembangkan oleh Plotinus (205-270M) di Alexandria (Iskandariyah) dan Athanasius sendiri yang ketika itu menjabat sebagai uskup di Alexandria.
Sebagai bukti bahwa keputusan itu bertendensi pada kepentingan politik adalah, adalam sejarah Kristen, para pemeluknya dan pemeluk agama Yahudi selalu dikejar-kejar dna disiksa selama pemerintahan kaisar Diolektianus (284-305M). Kemudian Kaisar Konstantin yang langsung memegang kendali Konsili Nicea 325 tersebut masih beragama paganisme (penyembah berhala) dengan Kuil Jupiternya yang sangat terkenal di kota Roma yang konsili ini dihadiri oleh seluruh uskup yang berada di wilayah kekuasaan imperium Romawinya. Hasil-hasil konsili Nicea sendiri tidak lebih dari konsep asimilasi antara agama paganisme dengan Neo-Kristen sebagaimana akan dijelaskan pada pambahasan lebih lanjut.
Orang-orang Kristen yang menentang doktrin trinitas ini (dengan mendasarkan penentangannya dari Alkitab mereka sendiri) harus siap untuk berhadapan dengan Gereja Paulus beserta seluruh pastur dan pendetanya. Mereka menegaskan bahwa doktrin Trinitas itu berdasarkan kepada wahyu khusus yang diturunkan kepada gereja yang disebut “Bride of Yesus” (Pengantin Yesus). Theodore Zahn dalam Article of The Apostolic Creed halaman 33-37 menjelaskan bahwa Fra Fulgentio sampai ditegur oleh Paus dengan suratnya yang berbunyi:
“mengajarkan kitab suci itu perkara yang mencurigakan. Orang yang terlalu berpegang teguh pada kitab suci itu akan menjatuhkan keyakinan yang umum.”
Lebih jauh lagi, dalam surat berikutnya pihak Paus lebih berterus terang memperingatkan bahaya orang yang memegangi kitab yang terpandang suci tersebut:
“…itulah yang disebut kitab suci. Bila orang berpegang teguh kepadanya, niscaya akan menghancurkan gereja Katolik”.
Demikianlah, cara yang paling efektif untuk menyingkirkan ajaran Yesus adalah dengan mengaburkan sebagian besar fakta sejarahnya secara sempurna. Gereja tidak hanya melepaskan agamanya dari kitab sucinya (yang ditulis beberapa puluh tahun sepeninggal Yesus!!) tetapi juga melepaskan kehidupan Yesus yang sebenarnya sepanjang sejarah. Dengan demikian, mereka membuat manusia Yesus disamarkan menjadi Kristus sepanjang mitosnya.
Bagaimanapun juga, mengimani keberadaan Yesus bukanlah berarti harus beriman kepada Kristus yang dibangkitkan. Tetapi gereja Paulus telah mendasarkan keimanannya kepada Kristus yang disalib, mati, kemudian hidup dan bangkit kembali, lalu duduk bersemayam di sebelah kanan Allah. Lihatlah bahwa ajaran Yesus ketika masih hidup tidak lagi menempati kedudukan sedemikian penting dibandingkan keimanan dengan kehidupan Yesus setelah matinya!!
Kristen telah menjadi agama yang benar-benar baru justru setelah “kematiannya’ yang mengenaskan!! Keberhasilan misi kaum Yahudi?!
Lama-kelamaan orang-orang Kristen bertambah sadar bahwa agama Kristen yang mereka kenali selama ini sedikit sekali sangkut pautnya dengan ajaran Yesus yang asli. Dalam dua abad terakhir, yakni abad ke-19 dan 20, hasil riset ahli-ahli sejarah Kristen semakin memojokkan dasar-dasar keyakinannya sendiri. Mereka menyebut doktrin Kristen sebagai “Divine Mysteries” (Misteri Ketuhanan yang harus diimani dan diprcayai begitu saja.Banyak fakta yang membuktikan bahwa Kristus dalam ajaran gereja sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Yesus sepanjang sejarah kehidupannya. Adolf Harnack dalam karyanya yang berjudul “Outline of the History of Dogma” menunjukkan kesulitan fundamental dalam menghubungkan kehidupan Yesus dengan agama Kristus:
“By the fourth century the living Gospel had been masked in Greek philosophy. It was the historians missions on pluck off the mask and thus reveal how different had been the original contours of the faith beneath”
(Pada abad ke-4 M, Injil itu sudah ditopengi dengan filsafat Yunani. Adalah tugas bagi ahlu sejarah untuk menyingkirkan topeng itu, agar nampak jelas betapa jauhnya perbedaan ajaran asli tentang keimanan yang tertutup oleh topeng itu.)
Selanjutnya Harnack menulis:
“The mask acquire a life own- the Trinity, the two natures of Christ, infallibility, and all propositions seconding these dogmas, were the product of historic decisions and of situations that might have turned out quite differently….nevertheless…early or late, product and reshaping force, this dogma remains what it has been from the beginning, a bad habit of intellectualization with the Christian picked up from the Greek when he fled from the Jews”
(Topeng itu telah memperoleh kehidupannya sendiri, yakni Trinitas, dua watak Kristus, tak pernah salah dalam seluruh pernyataan yang menyertai dogma-dogma ini, yang seluruhnya adalah hasil dari keputusan-keputusan bersejarah beserta produk dari situasi yang muncul secara amat berbeda sekali…walaupun begitu…pada awal ataupun di kemudian hari, dogma ini tetap menurut keadaannya semula. Hal ini disebabkan oleh kekuatan yang membentuknya dari kebiasaan jelek intelektual seorang Kristen (Paulus!) yang tercemari filsafat Yunani, ketika dia melarikan diri dari lingkungan Yahudi”)
Demikianlah, peran besar seorang Paulus dalam menciptakan agama baru dengan Kristus (bukan Yesus) sebagai tokoh Tuhannya. Manusia “Yesus” telah mati dan telah bangkit dari kuburnya sosok Kristus yang dipertuhankan!
Johannes Lehman di dalam tulisannya “The Yesus Report” yang dimuat pada Krewz Verlag, Stuttgart, edisi 1960 halaman 112 menemukan kenyataan bahwa para penulis keempat Injil melukiskan Yesus yang sangat berbeda dari Yesus yang dapat dikenali sepanjang kenyataan sejarah. Lehman mengutip keterangan Heinz Zahrant yang menunjukkan beberapa akibatnya:
“If historocal research could prove that and irreconcilable antithesis exists between the historical Yesus and Christ as preached, and therefore that belief in Yesus has no support in Yesus himself, that would not only be absolutely fatal theologically, as N.A. Dahl says, but would also mean we theologians would be able to find a way out –was there ever a time when we couldn’t?- but we are either lying niw or would be lying then…”
(Jika riset sejarah mampu membuktikan bahwa pertentangan antara Yesus dalam sejarah dengan Kristus yang diajarkan dapat didamaikan, hingga kepercayaan kepada Yesus itu sudah tidak berdasarkan bantuan yesus sendiri, maka hal tersebut secara mutlak bukan cuma kefatalan theology, seperti dinyatakan N.A Dahl, tetapi juga bermakna akhir bagi seluruh Kristologi. Namun saya yakin bahwa seandainya ahli-ahli theology mampu mencarikan jalan keluar –adakah waktu di saat kita tidak mampu berbuat apa-apa?- tapi kita tak mau menghadapi salah satu sikap, berbohong sekarang atau nanti…”
Petikan singkat ini menunjukkan dilema “kronis dan akut” yang dihadapi dunia Kristen sekarang ini. Lebih “parah” lagi, Zahrnt menggarisbawahi betapa pentingnya meneliti ulang dan membandingkan ajaran Yesus dengan ajaran gereja beserta seluruh sekte-sektenya, sejauh mana ajaran asli Yesus telah digelapkan dan dimanipulasi.
Theodore Zahn dalam “Apostolic Creed” menuliskan betapa carut marutnya pertentangan di kalangan gereja sendiri. Bagaimana gereja Katolik Romawi menuduh gereja ortodoks Yunani melakukan berbagai perubahan teks kitab suci dengan cara menambah dan mengurangi, dengan maksud baik ataupun jelek. Sebaliknya, gereja Ortodoks Yunani menuduh gereja Katolik Romawi semakin menyimpang dari teks asli kitab suci. Walaupun terdapat perbedaan pendapat yang sedemikian fundamental diantara kedua kubu gereja, tetapi keduanya bersatu ketika menuduh pihak-pihak non conformis di lingkungan Kristen sebagai kelompok yang tersesat dari jalan kebenaran, serta mengutuk mereka sebagai kaum bidat (bid’ah). Sebaliknya, pihak non-conformis menuduh gereja Katolik telah memalsukan kebenaran, seperti seorang pemalsu mata uang. Akhirnya Zahn mengambil kesimpulan:
“Do not facts support these accusations?”
(Bukankah fakta-fakta itu mendukung tuduhan-tuduhan tersebut?”)
Erasmus (1466-1536M) di dalam Erasmi Epistolai jilid V halaman 173-192 mengatakan, nukilan:
“Ketika keimanan itu menjadi bahan tulisan, bukan lagi bahan nurani, maka model keimanan itu sebanyak orang yang menulisnya. Rumusan-rumusan meningkat dan kejujuran menurun. Pertentangan semakin meruncing dan cinta kasih semakin dingin. Pada mulanya ajaran Kristus tidak mengenal pertentangan itu. Dan kini masing-masing pihak saling bersandar pada filsafat. Itulah permulaan kemunduran gereja.”
Konspirasi Gereja Paulus dengan kekaisaran “kafir” paganis Romawi untuk membantai Kristen Apostolic.
Ternyata pihak gereja terpaksa menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, kekerasan dan pedang adalah solusinya. Masing-masing pihak berusaha merangkul Kaisar Romawi untuk memukul pihak lawannya. Erasmus menjelaskannya:
“Tindakan kaisar dalam peristiwa ini sama sekali bukan membantu kepada kejujuran keimanan. Pada saat keimanan itu hanya di mult, bukan di hati, pada saat pengetahuan yang pasti tentang kitab suci itu telah samar dan gagal, apalagi disertai dengan tindakan-tindakan kejam, maka kita telah menuntun orang untuk mempercayai apa yang tidak dipercayainya, mencintai apa yang tidak dicintainya, mengetahui apa yang tidak diketahuinya. Setiap yang dipaksakan itu tidaklah mencerminkan kejujuran.”
Erasmus tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa orang Kristen periode pertama, murid-murid Yesus hanyalah mengenal ajaran tauhid. Tetapi ketika agama itu meluas, berbenturan dengan berbagai aliran dan filsafat telah memunculkan sekian banyak variasi dan kreasi para pembawanya masing-masing. Lambat laun ajaran Yesus pudar dan makna “keEsaan Allah” berubah. Untuk memahami masalah “keEsaan” tersebut, mereka berangkat dari bahasa pemahaman filsafat Yunani sehingga tidak lagi menunjukkan Esa sebagai suatu ajaran Tauhid, bahkan berubah menjadi “Esa dari tiga perwujudan”, Tripartite view of existence. Ajaran sederhana dan murni dari Yesus dikembangkan dan dibengkokkan oleh bahasa yang asing bagi Yesus dan menuju perumusan “bidat”, doktrin Trinitas dengan memberikan sifat ketuhanan bagi Yesus dan Roh Kudus. Kekacauan dan perpecahan tidak dapat lagi dihindarkan…
Salah satu tokoh terkenal yang menentang paham Trinitas yang disebarkan oleh gereja Paulus adalah seorang yang bernama Iranaeus (130-200M). Catatan pertama yang dibuat mengenai Iranaeus adalah pada saat ia membawa sebuah petisi untuk membela Pothinus, uskup dari Lyaons, kepada Paus Elutherus di Roma. Dalam petisi ini, sebuah permohonan diajukan ke Paus Elutherus untuk menghentikan penyiksaan terhadap orang-orang Kristen yang tidak setuju dengan doktrin gereja Paulus. Iranaeus masih berada di Roma ketika ia mendengar bahwa semua orang-orang Kristen “pembelot” tersebut, termasuk uskup Pothinus telah dibunuh. Setelah kembali, Iranaeus menggantikan Pothinus sebagai uskup Lyons.
Pada tahun 190M ia sendiri menulis surat kepada Paus Victor untuk menghentikan pembantaian terhadap orang-orang Kristen yang dibunuh semata-mata karena keyakinan mereka yang berbeda. Cerita lama kembali terulang dan dia sendiri dibunuh pada tahun 200M karena membantu tujuan orang-orang Kristen yang tidak mau mengikuti Paus.
Iranaeus meyakini Tuhan Yang Maha Esa dan mendukung doktrin :”kemanusiaan” Yesus. Dengan sengit ia mengkritik Paulus karena bertanggungjawab memasukkan doktrin-doktrin dari agama berhala dan filsafat Plato ke dalam Kristen. Secara luas Iranaeus mengutip dari Injil Barnabas. Setelah membaca tulisan-tulisan Iranaeus inilah yang mendorong Fra Marino tertarik terhadap Injil Barnabas yang pada akhirnya menyebabkan penemuannya kepada manuskrip dalam bahasa Italia yang berisi tentang Injil Barnabas di perpustakaan kepausan.
Tertullian (160-220M). Adalah anggota dari gereja Afrika. Dia adalah seorang penduduk asli Carthage (Kartago). Dia meyakini keEsaan Tuhan dan mengidentifikasikan Yesus dengan “juru selamat” Yahudi. Dia menentang Paus Callistus karena mengajarkan bahwa “dosa asal” telah diampuni setelah melaksanakan penebusan dosa resmi (di bawah gereja). Paus Callistus-lah yang meperkenalkan istilah “Trinitas” ke dalam tulisan-tulisan “ecclesiastical” Latin ketika ia membahas doktrin baru yang aneh tersebut. Istilah Trinitas sama sekali tidak pernah digunakan dalam kitab-kitab sucinya!!
Lucian (meninggal tahun 312M). Dia memiliki pengetahuan tentang bahasa Ibrani maupun Yunani. Dia tetap berada diluar jamah gereja dari tahun 220-290M. Pengetahuannya yang kokoh telah menarik simpati sejumlah besar orang dan madzhabnya segera menjadi benih-benih yang pada masa berikutnya dikenal sebagai doktrin Arian. Arius adalah salah satu muridnya. Lucian percaya pada penafsiran gramatikal dan literal (sesuai dengan bunyi suatu kata) dari kitab-kitab Injil. Dia menentang kecenderungan untuk mencari-cari makna-makna simbolis dan kiasan dari teks-teks Injil. Ia percaya pada suatu pendekatan empiris dan kritis terhadap kitab-kitab tersebut. Bukti perbedaan ini menunjukkan kenyataan bahwa pada saat itu orang-orang mulai lebih bersandar kepada makna dan kiasan-kiasan isi kitab-kitab suci dan semakin kurangnya bersandar dengan penyampaian lisan dari apa yang disampaikan Yesus. Hal ini menunjukkan betapa cepatnya ajaran Yesus dalam totalitasnya telah lenyap!
Lucian telah melakukan proyek besar dengan merevisi kitab Septuaginta (Alkitab berbahasa Ynani). Dia memisahkan berbagai perubahan yang telah dilakukan terhadap sebagian Injil ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan menghasilkan “empat Injil” yang menurutnya merupakan Injil yang asli. Empat Injil (hasil revisi Lucian) ini tidak sama dengan empat Injil yang secara umum diterima oleh gereja Paulus saat ini.
Dia percaya bahwa Yesus tidaklah sama dengan Tuhan dan karenanya berada di bawah Tuhan. Pandangan inilah yang menyulut kebencian gereja Paulus. Setelah mengalami penyiksaan, Lucian dihukum mati pada tahun 312M.
Arius (250-336M). Kehidupan Arius sangat erat hubungannya dengan sejarah kehidupan kaisar Constantin. Constantin terlibat dengan gereja berawal dari kecemburuannya terhadap putra mahkota yang bernama Crispus. Pangeran muda tersebut sangat terkenal karena ketampanannya, perilakunya yang baik dan keberaniannya di medan perang. Untuk mengukuhkan posisinya sebagai kaisar, Constantin terpaksa membunuhnya. Kematian Crispus menggoreskan kesedihan di seluruh lapisan masyarakat. Telah diketahui bahwa ibu tiri Crispus sangat ingin anak kandungnya bisa menggantikan Constantin. Oleh sebab itu ia memiliki motif untuk membunuh Crispus. Maka Cinstantin membunuhnya dengan menenggelamkannya pada sebuah bak mandi yang penuh dengan air mendidih. Dia ingin menutupi satu kejahatan dengan kejahatan lainnya. Akibatnya para pendukung ratu (ibu Crispus) justru bergabung dengan para pengikut putra mahkota yang mati tersewbut, dan kedua belah pihak menuntut balas. Dalam keadaan putus asa. Constantin pergi ke pendeta-pendeta di kuil Jupiter di Roma untuk meminta tolong. Tetapi mereka berkata kepadanya bahwa tidak ada pengorbanan maupun do’a yang bisa membebaskannya dari dua pembunuhan tersebut.
Karena merasa tidak tenang berada di Roma, ia memutuskan pergi ke Byzantium. Kemudian ia menamakan kota tersebut dengan namanya sendiri dan menyebutnya Constantinopel (Kota Constantin). Di kota ini ia mendapatkan keberhasilan yang tidak disangka-sangka dari gereja Paulus. Mereka berkata kepadanya, jika ia telah melakukan penebusan dosa di gereja, maka dosa-dosanya akan diampuni. Constantin memaafkan sepenuhnya “fasilitas” ini. Tangannya bukan saja berlumuran darah dari dua pembunuhan tersebut, tetapi juga disibukkan dengan masalah-masalah dalam memerintah kekaisarannya. Dia memiliki pel;uang untuk memanfaatkan gereja bagi tujuan kekuasaannya sendiri. Jika gereja setia kepadanya, maka ia akan memberikan dukungan sepenuhnya kepada gereja. Dengan dukungan yang tak disangka-sangka ini, gereja Paulus menjadi kekuatan besar hanya dalam waktu ‘semalam”.
Constantin memanfaatkan sepenuhnya posisi gereja. Negeri di sekitar Mediterania dipenuhi dengan gereja-gereja Kristen, dan kaisar memanfaatkan mereka yang sangat menguntungkan Constantin dalam peperangan yang dihadapinya. Sebagian besar pendeta (gereja) melaksanakan tugas intelijen yang sangat berguna baginya. Salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi pengaruh kekuasaan para pendeta Roma di kuil Jupiter yang telah menolak untuk mendukungnya. Constantin mendorong orang-orang Kristen untuk membangun sebuah gereja di Roma. Tetapi Constantin sendiri tidak masuk Kristen karena rakyatnya masih banyak yang percaya kepada Jupiter dan dewa-dewa lain di kuil pusat (Pantheon) di Roma. Untuk mengurangi kecurigaan, ia membuat keputusan seolah-olah membuktikan bahwa ia juga menyembah dewa-dewa Romawi. Segala sesuatu tampak berjalan dengan baik sampai ketika pertentangan lama antara gereja Paulus dengan gereja Apostolik berkobar lagi.
Pemimpin gereja Apostolik tetap mempertahankan keimanan kepada Tuhan Yang Esa. Pada saat itu muncul seorang Presbyter (ketua majelis agama/gereja) yang bernama Arius. Dia adalah seorang Libia asli yang memberikan kekuatan baru gereja Apostolik. Secara tersirat ia mengikuti ajaran Yesus dan menolak temuan-temuan baru yang diperkenalkan oleh Paulus. “Ikutilah ajaran sebagaimana yang diajarkan  oleh Yesus”  adalah semboyan Arius.
Gereja Paulus menerima kritikan tajam dari Arius. Arius adalah mantan murid dari kritikus terbesar terhadap gereja Paulus, Lucian (meninggal tahun 312M) yang terkenal karena keluasan ilmunya, dan seperti para pendahulunya, ia dibunuh karena mempertahankan pandangannya yang tidak disetujui oleh gereja Paulus. Dengan demikian Arius menyadari akan bahaya yang mengancamnya bila mengajarkan kepercayaan yang berbeda dengan ajaran-ajaran gereja Paulus!
Pada periode setelah hilangnya Yesus dari muka bumi inilah sekian banyak orang-orang Unitarian yang dengan senang hati menyerahkan nyawa mereka daripada melakukan kompromi dengan menjual keimanan mereka. Pedang-pedang penguasa telah diayunkan ke seluruh penjuru negeri untuk melenyapkan keimanan seperti ini. Ketika Constantin melakukan persekutuannya yang pertama kali dengan gereja, terjadilah perubahan yang dramatis. Sekalipun ia tetap menjadi Pontifex Maximus (pendeta tertinggi dalam kuil Roma) dan kapasitasnya tetap sebagai pemimpin agama berhala yang secara resmi merupakan agama negara, tetapi secara terbuka ia mulai mendukung gereja Kristen. Mungkin ia sedikit mengetahui perbedaan antara gereja Paulus dengan gereja Apostolik. Tanda-tanda yang menguntungkan ini telah menempatkan Kristen dalam posisi baru dan akhirnya benar-benar menjadi satu-satunya peribadatan resmi di kekaisaran Romawi. Bagi banyak orang, agama Kristen secara tiba-tiba telah menjadi masalah kebijaksanaan politik dan kepentingan. Agama Kristen telah menjadi suatu gerakan massal [3] . Tetapi gerakan ini sekaligus menjadi potensi yang menyulut kembali perbedaan antara gereja Paulus dengan gereja Apostolik.

AMBISI MENYULAP ROMA SEBAGAI “YERUSALEM BARU
Pada tahapan ini, Constantin yang tidak mengerti dan juga tidak percaya terhadap agama Kristen (Kaisar hanya menjadikan agama Kristen sebagai alat untuk mengokohkan kekuasaannya), melihat keuntungan politik jika memiliki suatu kekuatan gereja kesatuan yang mematuhinya, dan pusatnya akan berada di Roma dan bukannya di Yerusalem!!
“Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagiNya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umatNya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah Tuhan, Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem” (Ezra 1:2-3)
Yang di kemudian hari “revolusi bid’ah terbesar” ini dapat disaksikan wujudnya pada hari ini, gereja bukan lagi berpusat di Yerusalem sebagai kota Allah seperti isi Alkitab di atas tetapi berada di kota bid’ah, ibukota kekaisaran Romawi, yang salah satu gubernurnya (Pilatus) merupakan eksekutor penyaliban Yesus, pusat penyembahan berhala, kuil Jupiter di Roma!! Tentu saja Paus tidak akan pernah mendapatkan ayatnya untuk melegalisasi revolusi kota Yerusalem ke kota Roma karena memang tidak ada satu ayatpun di Bibel yang menjelaskan keutamaan Roma!!
Demikianlah, keberanian orang-orang Kristen dalam melawan (baca:merevolusi) “rumah Tuhan, Allah Israel, yakni Allah yang tidak berdiam di Roma”
Tetapi revolusi bid’ah tersebut tidak berjalan dengan mulus. Anggota gereja Apostolik menolak untuk memenuhi keinginannya. Constantin berusaha memaksa mereka dengan kekerasan. Tetapi tekanan kerasnya ternyata tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkannya. Sejumlah komunitas kekuasaan uskup Roma memandang perubahan ini sebagai siasat politis dari seorang penguasa asing yang “kafir” dan jauh menyimpang dari ajaran Yesus.
Pemberontakan pertama berasal dari kalangan komunitas Barbar di Afrika Utara. Pemberontakan ini tidak dipimpin oleh Arius tetapi oleh Donatus. Orang-orang Barbar selalu mempertahankan keyakinan-keyakinan tertentu, yang terkuat diantaranya adalah keyakinan mereka tentang keEsaan Tuhan. Mereka bisa mempercayai Yesus sebagai manusia, bukan sebagai Tuhan. Karena Yesus tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Allah yang mesti disembah. Pun Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Roma akan menjadi pusat ajarannya, mereka tidak bisa menerima rencana kaisar. Pada tahun 313M Donatus terpilih sebagai uskup dan selama 40 tahun ia tetap menjadi pemimpin gereja Apostolik yang terus berkembang secara bertolak belakang dengan uskup di kota bid’ah, Roma.
Selama beberapa generasi, orang-orang Kristen Afrika utara telah mengalami penyiksaan di tangan para pejabat kekaisaran dan memandang mereka sebagai utusan setan. Pada masa lalu mereka telah disiksa (oleh kekaisaran Roma-wi) karena beragama Kristen dan sekarang mereka disiksa karena menganut jenis Kristen yang “keliru”. Orang-orang Afrika tidak bisa menerima bahwa para pejabat kekaisaran Romawi telah menjadi pelayan-pelayan Tuhan dalam waktu “semalam”. Karena mereka semata-mata berupaya untuk memperkuat seorang uskup gereja Paulus di Roma yang sedang berkuasa. Sampai pada titik ini, Donatus tetap menjadi uskup mereka yang paling masyhur.
Gereja Roma, yang saat itu telah mengambil sebutan “Katolic” untuk menunjukkan universalitas pendekatannya dalam menyembah Tuhan (Catholic berarti “luas” dan “menyeluruh”) meminta orang-orang Donatus untuk bersatu/bergabung. Suatu hukum yang sangat keras dikirimkan ke Afrika: Gereja-gereja yang dimiliki oleh orang-orang Donatus harus diambil alih dan para pemimpinnya dibuang ke pengasingan. Pada awalnya Cacealian yang pro Roma (seteru Donatus) berusaha menyuap para pemimpin gereja Donatus tetapi tidak berhasil. Mereka menentang perintah kaisar, mengabaikan suapannya dan mengumumkan upaya penyuapan tersebut secara luas. Cacealian dicap sebagai “seorang yang lebih kejam dari pembunuh dan lebih brutal daripada seorang tiran”[4]
Donatus menolak penyerahan gerejanya kepada Cacealian. Akhirnya, tentara Romawi bertindak. Terjadilah pembunuhan besar-besaran, mayat-mayat dilemparkan ke dalam sumur dan uskup-uskup dibunuh di dalam gerejanya. Tetapi orang-orang Donatus yang lolos dari pembantaian tersebut tetap teguh dan gerakan mereka menjadi lebih kuat dari sebelumnya! Mereka menamakan gerejanya dengan “Gereja Para Syahid”.
Peristiwa ini semakin memperlebar jurang perbedaan antara gereja-gereja Donatus dan gereja Katolik karena gereja-gereja Katolik bersekutu dengan hakim-hakim kafir dan pasukannya, maka orang-orang Katolik disebut sebagai “Schismatic” (yang memecah belah) dan gereja mereka diidentifikasikan sebagai tempat-tempat berhala kebencian. Constantin menyadari kesalahannya dengan mencoba membangun harmoni keagamaan dan persatuan dengan cara kekerasan. Dengan menimbang bahwa kebijaksanaan lebih baik daripada keberanian, maka ia membiarkan penduduk Afrika Utara untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Tetapi dari peristiwa mengerikan itulah Constantin mengajak seluruh sekte-sekte gereja untuk melaksanakan siding umum yang dikenal dengan konsili Nicea.
Pada saat pemerintahan Constantin berakhir, orang-orang Donatus tetap menjaga kebebasan gereja mereka dan menentang setiap campur tangan kaisar atau pejabat-pejabatnya dalam masalah agama. Tetapi mereka bukanlah orang sectarian yang picik. Augustin sendiri mengamati bahwa orang-orang Donatus tidak menindas orang-orang Katolik ketika jumlahnya minoritas. Tetapi orang-orang Katolik yang selalu mengklaim sebagai orang yang toleran ternyata tidak menjamin kelangsungan hidup orang-orang Donatus ketika sekali lagi kekuatan kekaisaran dikirim untuk menaklukkan orang-orang yang tidak mengenal rasa takut ini. Tetapi, disamping adanya penyiksaan yang terus berlanjut, orang-orang Donatus menolak kaisar merubah cara peribadatan mereka. Dalam pandangan mereka, “Orang-orang Katolik adalah pendeta-pendeta jahat yang bekerjasama dengan raja-raja dunia. Karena mengharapkan restu istana, mereka telah menurunkan derajat Yesus”[5]
Vatikan di Roma adalah bukti tak terbantahkan adanya sisa kerjasama Katolik dengan kekuasaan kafir (ketika itu) dalam upayanya memberangus gerakan Apostolik yang anti trinitas dan menolak perpindahan Yerusalem ke Roma yang ini merupakan upaya untuk menurunkan derajat Yesus!
Setelah kematian Donatus, penduduk Afrika utara tetap mengikuti tauladannya dan selama tiga ratus tahun ajarannya tentang apa yang telah dibawa Yesus tetap diikuti. Ketika Islam datang kepada mereka, mereka segera memeluknya karena mereka telah lama mempersiapkan diri untuk menerima keEsaan Allah, sehingga Islam merupakan penyempurna dan penegasan terhadap ajaran yang selama ini mereka yakini.
Sampai detik ini, argumentasi Arius yang gigih menentang doktrin Trinitas ketika membabat habis dan menghinakan argumentasi Alexander (seputar kejadian yang melingkupi Konsili Nicea), bahkan setelah sekian abad dari keputusan Konsili Nicea tersebut, pembahasan dan perdebatan yang melingkupi doktrin Trinitas ternyata tidak ada seorangpun yang mampu menjelaskan bahwa doktrin tersebut dan istilah-istilah yang digunakannya terbebas dari penjelasan yang bertele-tele dan tidak mampu mengelak dari pertanyaan yang rumit-rumit. Argumentasi Arius (tokoh Kristen Unitarian) berdiri tegak dan menentang setiap orang untuk mendefinisikannya. Alexander menyerah secara total. Semakin ia mencoba menjelaskan doktrin Trinitas ini, maka semakin bingung dibuatnya. Arius dengan bersandar kepada otoritas Injil sendiri ternyata mampu membuktikan bahwa doktrin tersebut palsu!
Arius mengajukan penolakan terhadap penjelasan-penjelasan Alexander dengan mengacu kepada Yesus. Jika Yesus memang benar “anak Tuhan”, maka akan segera disertai pengertian bahwa “Bapa” pastilah ada sebelum “anak” ada. Oleh sebab itu, pasti terdapat rentang waktu ketika “anak” belum ada. Jadi, “anak” adalah makhluk yang tersusun dari sebuah “esensi” atau makhluk yang tidak “selalu” ada. Allah adalah “Dzat” yang Mutlak (abadi, tak bermula) dan “eksistensi” yang Maha Ada (selalu ada), maka Yesus tidak mungkin bisa menjadi “esensi” yang sama sebagaimana Allah.
Alexander tidak mampu mematahkan argumentasi Arius, ia selalu kalah dan kehilangan kesabarannya. Akhirnya dengan nada putus asa Alexander berkata: “Dimanakah kelemahan deduksi saya dan manakah silogisme saya yang salah?”
Pada tahun 321M (kl. 2 abad sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lahir), Arius menjadi seorang pendeta “pembelot” yang terkenal, ia sangat teguh memegang keyakinannya.
Setelah kekalahannya, Alexander memanggil Synode (majlis gereja) daerah untuk mengumumkan keputusan terhadap doktrin Arius. Sekitar 100 uskup Mesir dan Libia hadir dalam synode tersebut. Arius dengan jantan mempertahankan sikapnya, dan dengan kemampuan yang kuat ia menyatakan pandangannya: “Terdapat suatu rentang waktu ketika Yesus tidak ada, sementara Tuhan telah ada (tak bermula). Karena Yesus diciptakan oleh Tuhan, maka keberadaannya terbatas (berawal dan berakhir) sehingga ia tidak mungkin memiliki sifat kekal dan tak bermula. Hanya Tuhan yang abadi. Karena Yesus hanyalah seorang makhluk, maka ia adalah subyek yang bisa berubah seperti makhluk lainnya. Arius juga mendukung argumentasinya dengan berbagai ayat Bibel yang tidak pernah mengajarkan Trinitas.
Jika Yesus berkata:
“Aku pergi kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku” (Yohanes 14:28)
“dan barangsiapa menerima aku, ia menerima Dia yang mengutus aku” (ibid 13:20)
“Barangsiapa percaya kepadaku, ia bukan percaya kepadaku, tetapi kepada Dia yang telah mengutus aku” (ibid 12:44)
“Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku, tetapi Bapa yang mengutus aku. Dialah yang memerintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakana dan aku sampaikan. Dan aku tahu, bahwa perintaNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang aku katakana, aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaku” (ibid 12:49-50)
Maka barangsiapa yang mempercayai bahwa Tuhan dan Yesus adalah sama, berarti dia jelas-jelas telah menolak kebenaran Yesus!
Argumen-argumen Arius tidak terbantah, tetapi Alexander dengan posisinya yang menguntungkan akhirnya memecatnya.  Namun, Arius telah memiliki pengikut yang besar  sehingga ia tidak bisa diabaikan begitu saja oleh gereja Paulus, terutama karena uskup-uskup daerah timur tidak mau menerima keputusan Alexander. Perbedaan yang telah membara hampir tiga ratus tahun meledak. Alexander merasa gundah dan terganggu karena begitu banyaknya uskup-uskup timur yang mendukung Arius, dan Eusebius dari Nocomedia adalah sekutu terbesarnya.Terdapat sepucuk surat yang ditulis Arius kepada Eusebius di Constantinopel setelah pemecatannya oleh Alexander. Arius mengeluh terhadap penyiksaan yang dilakukan Alexander yang mencona untuk mengusirnya dari Alexandria (Iskandariyah) sebagai seorang “atheis kotor” karena dia dan sahabat-sahabatnya tidak mau meyakini doktrin-doktrin “yang memalukan” yang diyakini uskup tersebut:
“Kami disiksa karena mengatakan bahwa Yesus memiliki permulaan, sementara Tuhan tidak bermula”[6]
Di sisi lain, surat-surat yang ditulis oleh Alexander memperlihatkan bahwa uskup tersebut menggunakan kata-kata kasar dalam menentang Arius dan para pendukungnya. Ia menulis:
“Mereka dikuasai setan yang bersemayam dalam diri mereka dan mendorong mereka kepada kemarahan; mereka adalah pendusta dan penipu, pembicara-pembicara cerdik dengan kata-kata yang mengagumkan, mereka adalah perampok yang memiiliki sarang di siang mapun malam hari, mereka menghina Kristus…mereka menarik penganut melalui agen wanita-wanita muda tuna susila di kota-kota” (ibid)
Penggunaan bahasa yang kasar (tanpa argumentasi) oleh seorang Patriarch (ketua dewan gereja kota) menimbulkan kecurigaan yang sangat kuat bahwa dirinya sendiri sebenarnya menyadari kelemahan pendapatnya.
Masalah-masalah yang menajdi perdebatan di kalangan uskup akhirnya diketahui juga oleh orang-orang awam, Gregory dari Nicea menulis:
“Setiap sudut Konstantinopel dipenuhi perdebatan-perdebatan mereka; jalan-jalan, pasar, agen penukaran uang dan toko-toko obat. Tanyakan kepada seorang pedagang berapa banyak keti uang yang ia inginkan untuk beberapa barang dalam tokonya, maka ia akan menjawab dengan uraian panjang lebar tentang “anak” tersebut diciptakan atau tidak. Tanyakan harga roti hari ini dan tukang roti akan mengatakan kepada anda: “anak lebih rendah dari Bapa”. Tanyakan kepada pembantu anda, apakah bak mandi telah siap, ia akan menjawab: “Anak berasal dari ketiadaan”. Bila orang Katolik mengatakan satu-satunya “anak Tuhan” dan orang-orang Arian segera menjawab: “Tetapi Dia lebih besar dari anak-Nya” (ibid).
Konsili Nicea sendiri masih terus menyisakan tanda tanya besar sampai hari ini, sebuah acara penghancuran manuskrip-manuskrip Injil yang merupakan tragedi paling mengenaskan dari Injil itu sendiri. Pada saat itu paling tidak terdapat 270 versi Injil yang berbeda-beda, sementara sumber lainnya menyatakan terdapat 4000 Injil yang berbeda-beda. Bahkan jika seseorang menerima catatan jumlah versi Injil yang paling konservatif sekalipun, jumlah tersebut pastilah sangat besar bagi kesusasteraan “kitab suci’ pada masa itu. Penyusunan suatu keyakinan yang berisi dogma-dogma yang tidak ditemukan di dalam Injil, dan dalam beberapa kasus bertentangan langsung dengan apa yang ada dalam Injil pastilah menjadikan masalah tersebut semakin membingungkan bagi kebanyakan orang, sementara keberadaan sekian banyak Injil tersebut pastilah sangat mengganggu keimanannya!
Diputuskanlah bahwa semua Injil yang berbeda-beda itu ditempatkan di bawah sebuah meja di dalam ruangan konsili tersebut. Kemudian semua orang meninggalkan ruangan itu dan pintu ruangan dikunci. Para uskup diminta untuk berdoa sepanjang malam sehingga versi yang benar dari Injil tersebut bisa berada di atas meja. Inilah mukjizat terbesar setelah “kematian” Yesus yang diharapkan terjadi pada malam harinya agar Yesus sendiri yang menyeleksi dan memilih dari 270 sampai dengan 400 versi Injil yang dikumpulkan di bawah meja!! Mungkin bagi sebagian orang harapan mukjizat ini terlalu “sarkasme” dan konyol, tetapi siapa tahu…
Di pagi hari berikutnya, Injil-Injil yang bisa diterima dan diakui oleh Athanasius (wakil Alexander yang selalu terkalahkan oleh Arius) ditemukan dengan rapi berada di atas meja. Kemudian diputuskan bahwa semua Injil yang masih berada di bawah meja harus dibakar! Tidak ada catatan mengenai siapa yang memegang kunci tersebut pada malam harinya.
Inilah sejarah besar gereja sampai saat ini! Inilah misteri dibalik pemegang kunci yang memiliki otoritas secara licik dan curang untuk menentukan keabsahan versi Injil yang sedemikian banyak jumlahnya. Dan tentu saja anda harus yakin bahwa bukan kelompok Arius yang mewakili Unitarianisme/paham keEsaan Allah-lah yang melakukan kelicikan terbesar bagi sejarah gereja dan kitab sucinya demi kelangsungan agama Trinitasnya!! Kecuali anda memiliki keyakinan (rusak) bahwa Yesus sendirilah yang duduk di sebelah kanan Bapa langsung turun tangan menyelesaikan kemelut dahsyat ini dengan melakukan mukjizat terbesar yang jauh lebih besar daripada kebangkitannya sendiri dari kuburnya sehingga pada malam harinya masuk ke ruangan tersebut dengan kunci keTuhananNya untuk menyeleksi dan memilih Injil-Injil yang direstuiNya dan diletakkannya secara rapi di atas meja
Setelah Konsili itu, memiiliki sebuah Injil yang tidak diakui bisa dikenakan hukuman mati. Akibatnya, lebih dari sejuta orang Kristen dibunuh pada tahun-tahun setelah keputusan konsili tersebut. Inilah upaya Athanasius untuk mempersatukan orang-orang Kristen di bawah Injil yang direstuinya!!
Bahkan setelah 30 tahun konsili tersebut, hasil-hasilnya masih tetaplah asing di telinga orang-orang Kristen di masa itu, Saint Hillary menulis:
“Kita mengutuk kepercayaan yang justru kita pertahankan. Kita mengecam doktrin orang lain dengan doktrin kita dan sebaliknya, dan kita saling merobek catatan masing-masing, kita telah menjadi penyebab kehancuran masing-masing pihak. Penerjemahan kepercayaan tersebut dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin tidaklah sempurna, karena istilah-istilah Yunani dan filsafat Plato yang disucikan oleh gereja telah gagal menjelaskan rahasia-rahasia keimanan Kristen. Penyelewengan-penyelewengan verbal dalam kitab-kitab suci bisa jadi telah diperkenalkan ke dalam theology Latin tersebut menjadi suatu rangkaian kesalahan yang panjang dan terus-menerus”[7]
Dengan demikian Konsili Nicea (yang memunculkan Athanasius sebagai penerus Alexander yang dengan kegigihannya memasukkan doktrin Trinitas ke dalam lingkaran gereja) bukanlah menjembatani jurang pemisah antara sekte-sekte Kristen, tetapi justru melebarkannya, pertikaian diantara mereka justru meningkat. Demikianlah perangai gereja, dengan kebebalan pendirian dan persuasinya dalam mempelajari kekuatan kekuasaan dan kekerasan maka darah orang-orang Arian ditumpahkan.

ATHANASIUS PAHLAWAN TRINITAS AKHIRNYA DIKUTUK!
Sementara di istana Kaisar Constantin, saudara perempuannya (Constantina) tetap melakukan oposisinya dengan mempertahankan keEsaan Tuhan tetap menentang pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang Kristen. Dia menganggap Arius mewakili ajaran Yesus yang sebenarnya. Dia juga menentang perlakuan kaisar yang membuang Eusebius karena keyakinannya. Dengan usahanya yang gigih akhirnya Eusebius diperbolehkan kembali. Kembalinya Eusebius merupakan pukulan berat bagi kelompok penganut Athanasius. Kaisar secara perlahan-lahan mulai condong ke pihak Arius. Ketika ia menerima berita bahwa pemilihan Athanasius dipertentangkan, dia memanggil uskup baru tersebut ke ibukota. Akan tetapi Athanasius meminta ma’af dan tidak mau pergi ke Konstantinopel. Pada tahun 335M, sebuah Konsili diselenggarakan di Tyree untuk merayakan kekuasaan Konstantin yang ketiga puluh tahun. Di sinilah Athanasius diadili. Dia dituduh melakukan tirani keuskupan, suasana sangat memberatkannya sehingga ia meninggalkan konsili tanpa menunggu keputusan yang akan diambil. Dia dikutuk. Para uskup kemudian berkumpul di Yerusalem dimana pengutukan terhadap Athanasius ditegaskan. Arius dikembalikan ke gereja dan diijinkan melakukan pelayanan terhadap umat.

ATHANASIUS “TRINITAS’ MENDALANGI PEMBUNUHAN TERHADAP ARIUS “UNITAS”
Roda sejarah tampaknya terus berputar, ketika hujjah tak mampu lagi dibantah, gaya preman dan bahasa kematian adalah kata pemutusnya.
Kaisar mengundang Arius dan sahabatnya, Euzous ke Konstantinopel. Perdamaian antara Arius dengan kaisar benar-benar sempurna dan lebih dari itu, para uskup sekali lagi secara resmi mengutuk Athanasius. Athanasius memutuskan untuk mencoba menghadapi singa di kandangnya sendiri. Dia datang ke Konstantinopel sendirian, dan dia dijamin keselamatannya oleh kaisar. Eusebius dari Nocomedia hadir pada kesempatan tersebut. Eusebius mengetahui sepenuhnya bahwa keputusan yang dibuat pada konsili Nicea telah menentang Arius karena alas an-alasan politik. Maka, daripada memulai perdebatan keagamaan yang tidak akan dipahami oleh kaisar (yang pada waktu itu belum beragama Kristen!), ia menuduh Athanasius menghalangi pengiriman gandum ke ibukota. Tindakan ini sangat mengejutkan Athanasius. Athanasius menyadari ternyata orang lain juga ahli “bermain” dengan permainan yang biasa ia mainkan. Tuduhan tersebut dengan mudah bisa “dibuktikan” dan Athanasius dibuang ke Trier di Gaul. Arius diangkat sebagai uskup Konstantinopel. Akan tetapi ia segera meninggal pada tahun 336M karena racun. Gereja Paulus menyebutnya sebagai sebuah mukjizat, tetapi kaisar mencurigainya sebagai pembunuhan. Kaisar mengangkat komisi yang menyelidiki kematian yang terjadi secara misterius itu. Athanasius terbukti bertanggung jawab terhadap kematian tersebut dan dihukum karena membunuh Arius!

KAISAR AKHIRNYA MENJADI PENGIKUT SETIA ARIUS
Kaisar sangat tersentuh dengan kematian Arius dan pengaruh saudara perempuannya, akhirnya ia masuk Kristen. Dia dibaptis oleh Eusebius dari Nicomedia. Setahun kemudian ia meninggal pada 337M. Constantin yang ketika masih “kafirnya” dalam konsili Nicea mengesahkan ajaran trinitas, yang menghabiskan masa pemerintahannya untuk menyiksa orang-orang yang mebenarkan doktrin keEsaan Tuhan, mati dalam keimanan seperti orang-orang yang dibunuhnya.
Setelah kematian Constantin, masyarakatnya juga menerima keimanan Arius dan ajaran keesaan Tuhan secara resmi tetap diterima sebagai ajaran Kristen ortodok.. Sebuah konferensi diadakan tahun 341M di Antiokia dan menerima monotheisme sebagai dasar agama Kristen yang sebenarnya. Keputusan ini juga dibenarkan oleh konsili lainnya yang diadakan pada tahun 351M di Sirmium dan lagi-lagi dengan persetujuan kaisar yang sedang berkuasa. Dengan demikian, ajaran Arius telah diterima oleh sebagian besar umat Kristen. Pada tahun 359M St. Jerome menulis bahwa “seluruh dunia bergumam dan merasa heran karena mendapati dirinya sebagai seorang Arian” [8]
Jerome adalah penulis Injil Vulgate (Injil pertama yang ditulis dalam bahasa latin) yang terkenal, pada awalnya mendukung Origen (185-254M) dari gereja Apostolik, tetapi kemudian ia meyakini doktrin Trinitas dan menjadi musuhnya. Jerome berusaha agar Origen dikecam oleh gereja, tetapi karena popularitas Origen, uskup John tidak mungkin melakukannya. Tetapi pada tahun 250M, Jerome berhasil, Origen dikecam oleh keputusan Konsili Alexandria. Dia dipenjara dan mengalami penyiksaan yang terus menerus yang berakibat kematiannya pada tahun 254M. Alasan pemenjaraannya adalah penolakan terhadap doktrin Trinitas dan mengajarkan keEsaan Tuhan. Dia mempercayai bahwa Tuhan adalah Maha Tinggi dan Yesus tidak bisa menyamaiNya, tetapi dia adalah hambaNya.
Origen sendiri adalah anak dari Leonidas yang mendirikan suatu pusat belajar dan mengangkat seorang theology kenamaan Clement sebagai pimpinannya. Origen menerima pendidikannya di pusat belajar ini. Gereja Paulus tidak merestui keyakinan-keyakinan yang dipegang oleh Leonidas yang telah mengikuti Kristen Apostolik dan menolak untuk menerima tafsiran-tafsiran dan bid’ah-bid’ah Paulus. Dia dibunuh tahun 208M. Origen sangat terpengaruh oleh peristiwa ini sehingga sangat ingin mengorbankan dirinya sendiri, tetapi dihalangi oleh ibunya sebelum pada akhirnya cita-citanya tersebut terwujud dengan kematiannya akibat penyiksaan kaum Trinitas.
Demikianlah beribu-ribu darah telah tertumpah untuk memaksakan doktrin asing (untuk menghancurkan ajaran keEsaan Allah) yang tidak pernah diajarkan Yesus bahwa Allah adalah tiga kesatuan/Trinitas, Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus tetapi hakekatnya adalah satu?!
Gereja Paulus atau lebih tepatnya Gereja katolik Roma semakin besar dan kuat, sebagian besar disebabkan hubungan mereka dengan kaisar-kaisar Romawi. Semakin gereja menyesuaikan dirinya dengan mereka yang sedang berkuasa, maka semakin identik dengan mereka. Selama delapan abad setelah konsili Nicea, gereja katolik Roma semakin kokoh dengan pusatnya di Roma dan bukan di Yerusalem. Gereja tersebut mendapatkan tanah yang sangat luas di dalam dan di sekitar kota Roma. Semua ini dikenal sebagai “Pemberian Constantin”. Menjadi sangat berbahaya bagi siapa saja untuk berbeda dengan ajaran dari gereja Katolik Roma, yang memiliki dukungan tentara kekaisaran dan juga pasukan milik gereja. Setelah tahun 325M, lebih dari sejuta orang Kristen dibunuh karena tidak mau mengakui doktrin Katolik. Masa ini benar-benar masa kegelapan, sedikit sekali orang-orang di Eropa yang berani terang-terangan membenarkan ajaran keEsaan Tuhan.
Smentara gereja Katolik disibukkan untuk mengenyahkan para “penyeleweng” yang dicap sebagai “tukang bid’ah”, orang-orang Islam mulai dikenal pada daerah pinggiran dunia Kristen. Hampir semua pengikut Yesus di Afrika utara mengakui Islam sebagai pelanjut ajaran Tuhan dan akhirnya mereka menjadi Muslim. Hanya umat kristiani Eropa yang masih tetap bertahan.

MOTIVASI PERANG SALIB, ANTI ISLAM = ANTI ARIANISME (?)
Para pemimpin Vatican pasti telah melihat “kemiripan” antara Islam dengan Unitarianisme yang diajarkan Arius. Keduanya sama-sama mengakui Tuhan Yang Esa. Keduanya sama-sama menerima Yesus sebagai seorang nabi dan manusia biasa. Keduanya sama-sama meyakini kesucian perawan Maria dan kesucian ajaran Yesus. Keduanya sama-sama menerima adanya Roh Kudus (Jibril). Keduanya sama-sama menolak sifat ketuhanan yang disandarkan pada Yesus. Maka kebencian terhadap orang-orang Arian dialihkan kepada orang-orang Islam. (Catatan penting: kita belum mendapatkan literatur, apakah Arianisme juga meyakini bahwa yang mati disalib adalah Yesus ataukah orang yang diserupakan Yesus sebagaimana aqidah Islamiyah?) Dengan cara pandang seperti ini, tentara Salib bukanlah fenomena yang terpisah dari sejarah gereja, tetapi justru menjadi suatu perluasan dari pembantaian terhadap orang-orang Arian yang dilakukan oleh gereja Paulus.
Selama periode ini, gereja tidak mengabaikan adanya oposisi dari dalam. Sebuah badan yang dikenal dengan inquisition (Penyelidikan Gereja) diadakan untuk menyelidiki dan melenyapkan setiap jejak “penyimpangan” dari doktrin resmi gereja. Catatan yang pasti tentang berapa banyak orang yang telah dibunuh oleh badan ini tidak diketahui, tetapi yang pasti sejumlah besar orang telah menderita dan binasa di tangan mereka.
Dengan peristiwa Reformasi, dan berdirinya gereja-gereja Protestan sebagai hasilnya (yang juga menjadi sangat kuat), doktrin Trinitas semakin diperketat, sekalipun orang-orang Protestan dan Katolik Roma secara sengit saling bertentangan terhadap masalah-masalah lain seperti validitas dari dokumen yang membenarkan tentang “Pemberian Constantin’. Beberapa sarjana yang meneliti secara mendalam terhadap akte tersebut dan menemukan kenyataan bahwa dokumen tersebut adalah palsu! Sejak saat itu, Vatikan berhenti menggembar-gemborkan dokumen tersebut.
Perang 30 tahun yang terkenal antara orang-orang Protestan dan Katolik adalah bukti lain bahwa perang gereja ini tidaklah dimaksudkan untuk menetapkan dan memantapkan ajaran Yesus yang sebenarnya sebagaimana serangan gereja Paulus terhadap orang-orang Arian (dan kemudian terhadap orang-orang Islam), dengan jelas perang ini memperlihatkan bahwa apa yang diinginkan gereja adalah kekuasaan. Pada ketiga peristiwa ini, gereja berjuang dalam rangka untuk mengokohkan keberadaannya sebagai sebuah lembaga, dan bukan untuk menyebarkan apa yang diajarkan Yesus.
Walaupun di dalam kitab mereka sudah tertulis:
“Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seseorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataanm dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dari kota kudus, seperti yang tertulis dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19)
Tetapi siapa yang peduli? Toh mereka tidak benar-benar meyakininya. Orang-orang Protestan dengan sangat berani telah membuang tujuh buku dari dalam kitab suci mereka! Buku-buku yang terbuang itu antara lain: Tobit, Judith, Barukh, Esther dll yang dimasukkan dalam Deuterokanonika!!

KEPALSUAN AJARAN BAHWA ALLAH MEMPUNYAI ANAK
Kisah di atas adalah sejarah berdarah-darah gereja (yang ditulis oleh orang-orang Kristen sendiri) untuk memaksakan aqidah asing trinitas yang ternyata mendapatkan perlawanan dan penentangan kaum Kristen Unitarian sebelum masa kenabian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka meyakini bahwa Allah itu Esa, Yesus hanyalah seorang utusan dari sekian banyak utusan Allah. Allah bukanlah Yesus dan Yesus bukanlah Allah.
Bagaimana dengan Al-Qur’an dalam mempersaksikan kebathilan trinitas dan ketuhanan Yesus? Bahwa Yesus adalah anak Allah sekaligus Allah itu sendiri?
Artinya: “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang maha Pemurah mempunyai anak”. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”
(QS. Maryam:88-92)
Kembali kepada permasalah teriakan putus asa sang anak Tuhan yang hanya bisa pasrah dengan nasibnya..
Kalau memang Allah Maha Mendengar maka apakah perlunya oknum Allah yang lainnya mengeluarkan teriakan nyaringnya?
Kalau Allah Bapa sama dan sehakekat dengan Allah Putera dan sehakekat pula dengan Rohul Kudus (sebagaimana keyakinan Trinitas yang dibangun oleh Paulus), kenapa iman Kristiani tidak boleh menerima keyakinan bahwa yang disalib adalah Bapa atau Rohul Kudus? Sehingga dikatakan bahwa Bapa telah mati di atas kayu salib!! Atau Rohul Kudus telah berteriak nyaring memanggil-manggil Yesus, sebelum pada akhirnya mati!!
Jika tidak boleh dikatakan demikian, mengapa kebodohan masih terus melingkupi untuk menerima dogma bahwa Tuhan itu tiga tetapi satu?! Afala ta’qilun? Bahkan tuhan yang mereka sembahpun begitu penakutnya, tidak lebih kuat daripada diri-diri mereka sendiri!!
Demikianlah, sebuah dosa manusia yang terwariskan akibat perbuatan Adam yang terkena bujuk rayu Hawa sehingga memakan buah apel menjadikan Allah Bapa menurunkan PuteraNya yang terkasih ke dunia untuk menebus dosa itu. Benar, buah apel itu jauh lebih berharga daripada Tuhan (Yesus) itu sendiri sehingga Yesuslah yang harus dikorbankan nyawanya serta harus menanggung penyiksaan yang sangat kejam! Buah apel lebih berharga daripada nyawa Tuhan itu sendiri!
Demikianlah dosa waris yang ditancapkan oleh Paulus untuk menghancurkan ayat-ayat Bibel sendiri:
“Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri” (Ulangan 24:16)
Akan tetapi belum berhenti tragedi ketuhanan yang paling menyayat akal sehat ini karena sebelum kematian menghampirinya ternyata sang tuhan harus merasakan kehausan yang luar biasa, lagi-lagi ketidakberdayaan telah mencampakkan jauh-jauh ke Maha Kuasaan-Nya..
“Aku haus!” (Yohanes 19:28)
Entah karena kasihan atau apa dengan penderitaan “sakaratul maut”nya, salah seorang yang menjadi eksekutor hukuman mati terhadap Tuhan Anak ini akhirnya “mencucukkan bunga karang yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya.” Lagi-lagi ketidakberdayaan sang Putera Allah benar-benar membikin hati “makhluk ciptaannya” harus menaruh belas kasihan kepadanya.
Sungguh, detik-detik akhir sebelum penangkapan Yesus di taman Getsemani telah membuat sang tuhan ini benar-benar ketakutan sehingga Allah pertama (Yesus) sangat khusyu’  berdo’a kepada kepada Allah kedua yang telah mengutusnya (?!):
“Setelah tiba di tempat itu, Ia berkata kepada mereka: “Berdo’alah supaya kamu jangan terjatuh kepada percobaan.” Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdo’a, kataNya: “Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.” (Lukas 22:40-42)
Dan lihatlah betapa suasana sangat mencekam tuhan (Yesus) sampaipun malaikat ciptaanNya sendiri langsung turun tangan untuk membantu memberikan “suplemen/doping” kekuatan kepadaNya!
“Maka seorang malaikat dari langit menampakkkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadanya” (ibid:43)
Tetapi bantuan suplemen kekuatan dari salah satu makhluk ciptaanNya ini bukannya semakin menenangkan tetapi malah malaikat ciptaanNya menjadi sosok yang sangat ditakutiNya, bahkan ketakutan hebat telah terlanjur mendominasi jiwa Allah…
“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdo’a. PeluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (ibid:45)
Bisakah anda membayangkan suasana yang sangat mencekam yang dialami oleh Tuhan Allah ini? Ataukah diri anda merasa memiliki ketabahan, ketenangan dan keberanian yang lebih baik daripada Tuhan Anak? Tentu jangan anda mencoba untuk membandingkannya dengan pahlawan-pahlawan kaum muslimin yang gagah berani melawan musuh-musuh Islam, pun tampaknya ketabahan Bilal radhiyallahu dalam menghadapi siksaan tuannya di panas terik matahari dengan himpitan batu besar di dada beliau tidak akan mungkin sebanding dengan ketakutan Yesus yang dipertuhankan sedemikian rupa oleh iman Kristiani! Tentu anda akan ada yang bertanya, bagaimana mungkin tuhan bisa memberikan kekuatan dan ketabahan kepada hambaNya dalam menghadapi cobaan kehidupan jika dirinya sendiri begitu penakut menghadapi ancaman makhluknya dan bahkan malaikat yang notabene adalah ciptaanNya sendiripun begitu ditakutiNya! Tentu anda heran dan takjub menyaksikan keunikan ini, tetapi matematika iman Kristiani adalah 3=1 dan 1=3!! Jangan pernah gunakan akal sehat untuk beragama!!
Ini adalah kisah pengorbanan yang paling lezat “sehingga Allah berkenan atasnya”.
“Lalu ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya: “Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga dibuatNya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu.” (Lukas 22:19-20)
Jika benar demikian, tentulah Yesus tidak perlu berteriak-teriak putus asa: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Sedemikian kejamnya Allah sehingga tega menyantap tubuh dan darah anaknya sendiri! Bahkan kekejaman terhadap Yesus ini terus dirayakan dan dilestarikan dengan penuh suka cita oleh orang-orang yang mempertuhankannya di seluruh dunia pada tiap-tiap perjamuan suci atau misa yang kudus!! Ini adalah pekerjaan sampingan lainnya, karena disamping menyembah Yesus, merekapun memakan dan meminumi tubuh dan darahnya sepuas-puasnya walaupun imam Kristiani mereka tidak akan pernah mau mengerti, dimana “klik”nya ketika roti hostia dan anggur yang dimakan dan diminum dalam perjamuan suci tersebut diyakini sebagai daging dan darah Yesus yang dimakan dan diminumnya pula!! Aksi kekejaman terhadap tuhannya sendiri yang dibungkus sebagai bukti iman kepadanya!! Adakah akal sehat yang mau menerimanya? Apa mau dikata…
Artinya: “Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah adalah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (QS.Al-Anfaal:55)
Tentulah iman Kristen mereka akan membantah:
“Mengapa kami dianggap binatang? Mengapa kami bodoh dalam pandanganmu?” (Ayub 18:3)
Adakah kebodohan yang lebih bodoh daripada mempertuhankan tuhan yang tiada kuasa menyelamatkan (bahkan!!) dirinya sendiri dari bahan ejekan dan permainan sebelum pada akhirnya dieksekusi makhluk-makhluk ciptaanNya sendiri?!
Apakah sudah selesai episode kematian menyayat hati dan salah satu tragedi penyiksaan yang paling tersohor di dalam sejarah umat manusia yang sampai hari ini terus diatraksikan? Belum…
Maka para prajurit Romawi itu (atas perintah Pilatus) setelah menyaksikan kematian mereka yang disalibnya, “lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kakiNya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambungNya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air” (Yoh 19:32-34)
Demikianlah kekejaman ini terus berlanjut, bahkan setelah Tuhan Anak menjadi mayat!!
Tentulah Yahudi dan Pilatus yang paling berbahagia dengan penyiksaan yang berujung kematian “rival”nya ini, tetapi sejarah besar telah mencatatnya sebagai keganjilan salah satu ajaran “darah dingin terpopuler”, yakni orang-orang yang mengaku mengelu-elukan Yesus ternyata menjadi sosok-sosok kompak manusia tak berperasaan yang bergembira dengan berita kematian yang sungguh sangat memilukan seperti ini!! Bahkan mereka meyakini bahwa hanya dengan cara inilah Yesus menebus dosa umat manusia!! Dan ini adalah berita gembira!!
Dalam sekejap, kronologis penyiksaan, keputusasaan & kematian Yesus mereka sulap menjadi keberhasilan dan kemenangan umat manusia yang berhimpun di dalam kasih Yesus!! Mereka paling bergembira dengan kematian tragis Tuhannya (karena hanya dengan cara inilah dosa-dosa mereka tertebus) dan ajaran tanpa perasaan seperti inilah yang dikemas sebagai ajaran “Kasih”. Allahul Musta’an
Cobalah perhatikan peristiwa hukuman mati terhadap Yesus ini. Bahkan pengikut-pengikutnya yang sedikit itupun mengingkarinya (menurut versi Kristen!), sementara Al-Qur’an bersaksi tentang para pengikut beliau:
 “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (bani Israil) berkatalah ia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).” (QS.Ali Imran:52-53)
Itu adalah kesaksian Al-Qur’an mengenai kekuatan iman sahabat-sahabat Yesus, maka sekaranglah saatnya anda menyaksikan kepengecutan murid-murid setia Yesus di dalam Alkitab mereka sendiri.
Simon Petrus, murid yang dicinta dan mencintainya juga meninggalkannya. Bukan itu saja, ialah yang banyak menyaksikan adegan-adegan hina yang dialami gurunya. Ia menyaksikan gurunya dituntut di depan pengadilan, tetapi ia diam saja. Ia menyaksikan pukulan-pukulan tinju yang menjatuhi tubuh gurunya, iapun diam saja. Saat gurunya (tuhannya?!) diludahi, ia diam saja. Ketika orang bertanya, apakah ia murid Yesus, ia menjawab: “Bukan!” Sampai tiga kali ditegaskan pertanyaan ini kepadanya, dan Simon Petrus (dalam keadaan masih berdiri berdiang menghangatkan badan di depan api arang) tetap menjawabnya: “Bukan!” (Lihat Yohanes 11:12-27)
Padahal Simon inilah yang pernah bersumpah di hadapan gurunya (sekaligus tuhannya?!):
“”Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau”. Semua murid yang lainpun berkata demikian juga.” (Matius 26:35)
Takutkah ia ataukah dia berhasil mengelabui tuhannya? Ataukah justru Simon sehaluan dengan Judas si pengkhianat? Duhai betapa jauhnya watak-watak pengecut ini dengan gambaran Al-Qur’an mengenai murid-murid Yesus yang setia!!
Coba anda lihat yang lainnya, seluruh lapisan masyarakat, orang-orang Yahudi, orang-orang tua ahli Taurat, seluruhnya ikut melibatkan diri atas pembunuhan keji terhadap tuhan yang satu ini.
“Imam-imam kepala dan ahli Taurat mencari jalan bagaimana mereka dapat membunuh Yesus, sebab mereka takut kepada orang banyak” (Lukas 22:2)
Bahkan yang memilih vonis salib adalah mereka! (Yohanes 19:15; Matius 27:23)
Tatkala kematian di kayu salib berakhir dengan jeritan putus harapan: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46) sedangkan pihak sang Bapa di surga tiada juga datang menjawab pertolongannya atas panggilan puteraNya yang sembilu menyayat hati, maka berakhirlah sudah kisah dramatis di lembah Golgotta. Sebaliknya dari kisah yang tamat ini, dimulailah awal agama baru dengan persengketaan religius di kalangan pemuka mereka sendiri terhadap diri Yesus.
Figur siapakah Yesus Kristus yang menjadi pokok persengketaan fundamental dari kekacauan iman yang tak habis-habisnya…
Siapakah dia? Seorang manusia, superman, juru selamat yang tidak mampu menyelamatkan dirinya, DEMI (setengah) GOD, ataukah ia Putera Tuhan atau Tuhan itu sendiri? Ataukah salah satu dari oknum Tuhan yang dikorbankan oleh oknum Tuhan lainnya dengan kata lain telah terjadi kanibalisme sesama tuhan? Itulah persoalan-persoalan yang memusingkan akal sehat dan mengacaukan keyakinan kaum Kristen. Misinya yang singkat dan gagal total, tuduhan bangsa Yahudi terhadapnya sebagai anak zina, kekacauan Alkitab mengenai silsilah leluhurnya yang tidak terampuni, kematiannya yang hina di atas kayu salib telah membuktikan secara nyata akan kesemrawutan total agama yang satu ini.
Adalah hal yang wajar bila sejarah Yesus berakhir pada kematiannya sebagaimana dikatakan oleh James Stalker: “Sekarang ia sudah mati dan tamatlah riwayatnya”. Akan tetapi tidaklah demikian dengan kenyataannya. Sejarah Agama Neo-Kristen justru baru memulai lembaran-lembaran kisahnya…
Justru dengan kisah “SESUDAH MATINYA” itulah jalan baru telah terbuka lempang bagi iman Kristiani. Kematian Yesus bukanlah penutup dari kegagalannya, demikian theology Kristen berbicara sedemikian lihainya dan memang sejak mereka memilih untuk berpegang dengan Kitab Suci”nya, selama itu pula mereka telah terlatih untuk berfikir secara kacau balau dalam semua kontradiksi persoalan agama yang terdapat di dalamnya. “Roti” dalam jamuan suci bukanlah roti, melainkan “daging”, “anggur” adalah “darah”, “tiga adalah satu”, dan bahkan Tuhan mereka telah dinasabkan sebagai hasil dari perzinaan para leluhurnya!! dan lain sebagainya. Belum lagi bagaimana mereka ternyata telah melakukan pengkhianatan besar terhadap “tuhannya” sendiri, Yesus!! Tentu anda sekalian telah mengetahui betapa peran utama penyaliban dan skenario pembunuhan itu dilakukan atas kesepakatan bangsa Yahudi dan tetua-tetua mereka yang difasilitasi oleh Gubernur Romawi, Pilatus: “Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: “Salibkan Dia, salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka: “Ambil Dia dan salibkan Dia sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun padaNya.” Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diriNya sebagai Anak Allah.” (Yohanes 19:6-7)
Perhatikanlah wahai saudaraku bagaimana reaksi masyarakat Yahudi yang sedemikian murka dan vonis kematian serta siksaan yang harus diterima oleh Yesus tersebab pengakuannya sebagai Anak Allah! Maka bagaimana jadinya jika Yesus benar-benar menyatakan dirinya sebagai Allah itu sendiri sebagaimana “tuduhan” Kristen kepadanya?! Lalu sejak kapan Yesus dipertuhankan? Adakah yang bisa menyodorkan bukti bahwa Yesus ketika itu sudah mendakwakan diri sebagai Tuhan bagi bangsa Israil?! Sementara di kayu salibnya sendiri hanyalah tertulis INRI, Isa Nazaret Rex Israel, “Yesus, orang Nazareth, Raja orang Yahudi” (Yohanes 19:19). Bukankah ketuhanan ini hanyalah ciptaan Paulus pendiri agama Neo-Kristen yang sebenarnya?!
“Maka berteriaklah mereka: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka: “Haruskah aku menyalibkan rajamu?” Jawab imam-imam kepala: “Kami tidak mempunyai raja selain daripada Kaisar!” Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. (ibid:15-16a)
Lihatlah persekongkolan ini dan betapa besar hawa nafsu bani Israil untuk membinasakan Yesus!! Dan sekarang silakan anda lihat isi dunia ini, bagaimana orang-orang Kristen dengan pimpinan utamanya (George Bush) yang mengaku sebagai hamba Tuhan Yesusnya (kita berlindung kepada Allah dari kekafiran ini) telah melakukan pengkhianatan dahsyat dimana merekalah justru yang paling getol berkomplot dengan kaum Yahudi yang para pendahulunya telah menyiksa dan membunuh “tuhan” mereka yang tanpa daya itu!! Lebih dari itu, kaum Kristenlah yang paling membela dan melindungi kaum Yahudi anak cucu para pembunuh tuhan mereka!! Padahal tuhan mereka nyata-nyata dihinakan sebagai anak zina, hasil persundalan di luar pernikahan!! Apakah mereka tersinggung dengan berbagai tuduhan dan kekejian kaum Yahudi di atas? Tidak!! Adakah keanehan yang lebih besar dari kekacaubalauan ajaran seperti ini?!
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (QS.Al-Baqarah:6-7)
Hanya Islamlah yang bangkit melakukan pembelaan dan pembersihan kehormatan ibunda Isa ‘alaihis salam dari berbagai tuduhan najis di atas!
Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"
Jibril berkata: "Demikianlah". Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan".(QS. Maryam:20-21)
Jika kaum Nasrani meyakini bahwa Yesus “baru bisa” melakukan mukjizat-mukjizat setelah berumur tiga puluh tahun, maka tidak demikian dengan Islam. Al-Qur’an bahkan telah menunjukkan kepada kita semua bagaimana beliau ‘alaihis salam telah membela tuduhan zina kepada ibunya ketika masih dalam buaian!!
Artinya: “Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: "Bagaimana Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi,
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam:29-32)
Perhatikan wahai saudaraku, ucapan beliau ‘alaihis salam: “Dan berbakti kepada ibuku” yang menunjukkan bahwa beliau tidak berbapak. Demikianlah kenyataannya, orang-orang Kristen itu ternyata justru bersatu dengan orang-orang Yahudi yang menuduh “tuhannya” terlahir dari hasil perzinaan!! Adalah sebuah kenyataan yang sangat pahit bahwa Alkitab Kristen ternyata membenarkan tuduhan perzinaan yang dilontarkan kaum Yahudi kepada Maryam (ibunda beliau). Lihatlah silsilah tuhan mereka, Yesus diletakkan di bawah Yusuf si tukang kayu (Matius 1:2-16) sebagai keturunan 27 dari Daud, sementara di Lukas 3:2331 berada pada keturunan ke 42 dari Daud. Kristen HARUS menasabkan Yesus sebagai anak Yusuf (baca:berarti menyetujuinya tuduhan kaum Yahudi sebagai hasil zina) dan bukan anak Maria untuk menggenapkan “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Yusuf…anak Daud, anak Abraham” (Matius1:1).
Lihatlah wahai saudaraku sekalian yang semoga dirahmati Allah, Matius menceritakan bahwa silsilah Tuhannya adalah keturunan ke-27 dari Daud padahal Lukas menunjukkan bahwa tuhannya adalah keturunan ke-42 dari Daud!! Bagi orang yang sehat, fakta kedua Injil di atas sudah jelas menunjukkan adanya ketidak beresan diantara kedua Injil tersebut!! Bagaimana mungkin tuhan memiliki silsilah yang berbeda dengan selisih 15 keturunan!! Kalau kita anggap satu keturunan berumur 100 tahun, maka ada selisih 15×100 tahun yakni 1500 tahun Mana yang benar, silsilah yang dikarang oleh Lukas ataukah Matius ataukah keduanya dusta?! Silakan orang-orang Kristen LPMI yang menjawabnya!! Yang jelas Allah Ta’ala yang Maha Suci tidak mungkin "keliru" dalam menyampaikan wahyu!!

Kemudian, dimana "klik"nya nasab Yesus diletakkan dibawah Yusuf si tukang kayu dan bukan di bawah ibunda beliau, Maryam?!
Bagaimana mungkin nasab Yesus diletakkan dibawah Yusuf si tukang kayu dan bukan di bawah ibunda beliau, Maryam?! Ilmu genealogi model apapun yang anda yakini dan pahami, seawam apapun orang tersebut, setinggi apapun pendidikan yang pernah didalaminya, bahkan orang buta huruf sekalipun sangat-sangat tahu bahwa penasaban tuhan ini tidaklah benar!! Yusuf bukanlah ayah dari Yesus sehingga Yesus diwajibkan untuk diletakkan di bawah Yusuf!! Orang Kristen tidak mau terima ketika kaum Yahudi menuduh tuhannya terlahir dari hasil perzinaan akan tetapi dengan menyetujui isi kitab sucinya di atas dimana silsilah Yesus diletakkan di bawah Yusuf, bukankah hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah anak Yusuf?! Iya, kitab suci orang Kristen sendiri telah membenarkan bahwa tuhannya terlahir dari hasil perzinaan!!  Aneh tetapi fakta yang nyata..Wallahul musta’an.(bersambung, Insya Allah ke bagian berikutnya:
Kenapa Islam & Al-Qur’an Yang Dinistakan?-bagian kedua-

Kenapa Islam & Al-Qur’an yang Dihujat?-bagian ketiga-

Footnote:
1.Ketika seorang manusia yang menahan derita dan rasa sakit terpaku di atas kayu salib meneriakkan keputusasaannya kepada Tuhan yang menciptakannya (Eli, Eli lama sabakhtani..Ya Tuhan, ya Tuhan, mengapa Engkau tinggalkan aku) dan pada akhirnya mati secara tragis di tangan “makhluknya” dijadikan sosok yang dipertuhankan, disembahsembah sosok yang tanpa daya ini maka mulai saat itulah sebenarnya diawalinya sebuah gerakan penghancuran Injil dan ajaran-ajaran Isa ‘alaihis salam. Betapa tidak, karena bukanlah Nabiyullah Isa yang mati mengenaskan di atas kayu salib seperti anggapan mereka!! Apalagi Allah Ta’ala yang mati hampir setengah telanjang di tangan- makhlukNya! Tidak sekali-kali tidak!Al-Qur’an menolak dengan tegas kebohongan besar ini:
Artinya: “ dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa Putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.4:157-158)
2.James M.Stalker, Sengsara Tuhan Yesus, terjemah T.F. Foedioka, Jakarta, tt, hal.120
3.a History of Christianity in the Apostolic Age, A.G. Mac Giffert, hal.172
4.The Donatist Church, W.H.C. Frend, hal.164
5.ibid
6.Constantine The Great, J.B Firth
7.a History of Christianity in the Apostolic Age, A.G. Mac Giffert
8.The Condemnation of Pope Honorius, John Chapman
Penyusun: Abdul Hadi As-Salafi

Mubarak Bamuallim, Lc Menimba Ilmu di sarang JIL

Filed under: Umum, Fakta, Jarh

Mubarak Bamuallim, Lc adalah termasuk tentara-tentara syaithan

Bismillahirrahmanirrahiim

Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan bacakanlah kepada orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithan (sampai ia tergoda), maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada DUNIA dan MENURUTKAN HAWA NAFSU-nya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing yang apabila kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan apabila kamu membiarkannya dia (juga) mengulurkan lidahnya. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka mau berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zolim.” (Al-A’raf- 175-177).

Lihat kelanjutan ayat berikutnya! Dan pada ayat 182 dalam surat Al-A’raf Allah berfirman: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang mereka tidak ketahui” Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjaga kita dari yang demikian itu Wallahul musta’an.

Ada seseorang bertanya kepada Al-Ustadz Abu Mas’ud As-Salafy pada hari Juma’t 20 April 2007 M, di kediaman beliau (desa Sugihan, Kec. Solokuro, Lamongan, Jatim) tentang keadaan Mubarak Bamuallim, Lc. yang melanjutkan study-nya (kuliah S2) di IAIN Surabaya.

Al-Ustadz Abu Mas’ud hafidzahullah menjawab: “Mubarak Bamuallim dengan keadaannya seperti itu yang masuk kuliah di IAIN, maka saya katakan dia adalah termasuk tentara-tentaranya syaithan.”  Dipertegas dan lebih jelas lagi atas pernyataan tersebut pada hari Rabu 25 April 2007 M (ba’da Maghrib) ketika beliau hafidzahullah mengajar kitab: Tanbih Ulil Albab ‘ala Tahrim Ad-Dirasah ‘inda Ahli Bid’ah wal Irtiyab” di masjid ‘Umar bin Khaththab Lamongan, pada pembahasan yang terakhir dari kitan tersebut, tentang masalah syubhat kedua dan syubhat ketiga, beliau berkata: “Bahwa Mubarak dengan keadaannya yang kuliah di IAIN maka dia termasuk dari tentara-tentara syaithan. Dan kawan-kawan Mubarak yang mendiamkannya (tidak berlepas diri darinya-ed) maka mereka termasuk dari tentara-tentara syaithan dari kalangan manusia. Dan mereka (Mubarak dkk- yang mendiamkannya ed) lebih berbahaya dari pada tentara syaithan dari kalangan jin.”

AlUstadz Abu Mas’ud berkata: “Kalau ada yang menyampaikan pernyataan saya ini, kepada Mubarak baik dengan rekaman langsung atau dengan selainnya, maka saya persilahkan” . Selesai ucapan beliau.

Bagi siapa yang menginginkan kebenaran dan ingin mau mengetahui tentang kuatnya hujjah (kebenaran) dari ucapan Al-Ustadz Abu Mas’ud tersebut maka kami persilahkan untuk membaca kitab “Tanbih Ulil Albab ‘ala Tahrim Ad-Dirasah ‘inda Ahli Bid’ah wal Irtiyab” dan kitab tersebut Al-Hamdulillah telah diterjemahkan oleh Al-Akh Abul Hasan As-Sidawy dan diterbitkan oleh Pustaka Dar Al-Hadits
(Ma’had Al-Bayyinah) Sedayu.

Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, shahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Ditulis oleh Abu Sa’id As-Siramy

Catatan :
Sebagai pelengkap artikel ini, Benar !! Mubarak Bergabung dengan JIL di Sarangnya simak di http://fakta.blogsome.com/2007/05/14/mubarak-bergabung-dengan-jil-di-sarangnya/






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham