Fakta.blogsome.com ! www.Fakta.cjb.net ! www.Fakta.info.tm :: FAKTAkan yang Haq

28 - March - 2007

Siapakah Sebenarnya Haddadiyah itu?

Filed under: Umum

APAKAH SEBENARNYA HADDADIYAH ITU ?!

Saudaraku rahimakumullah…
Tidakkah anda menyaksikan, betapa semakin sering dan populernya istilah “haddadi”, “haddadiyah” akhir-akhir ini diteriak-teriakkan oleh tetangga sebelah?

Sebuah kalimat yang dihiasi dengan aroma “kebengisan dan kebrutalan” untuk semakin menambah seramnya situasi dan keadaan. Na’am, bukti situasi dan keadaan yang dipublikasikan oleh fakta-fakta yang kita ungkapkan memang mencerminkan suatu dampak riil yang sangat sangat tidak menguntungkan bagi keluarga besar tetangga sebelah dan masih banyak lagi fakta-fakta yang insya Allah akan terus kami ungkapkan untuk semakin menunjukkan betapa seramnya keadaan mereka…

Sebuah fakta tersembunyi dan sengaja disembunyikan oleh suatu komunitas yang mengaku dengan lantangnya sebagai komunitas “Salafi”. Sebuah pernyataan yang masih harus kita uji dengan bukti-bukti yang akan kita ungkapkan bersama, seberapa parah kejujuran yang diteriakkannya kepada umat atau seberapa besar pengkhianatan yang mereka lancarkan kepada kaum muslimin demi kepentingan segelintir manusia yang ingin tetap mempertahankan label organisasi dan kepentingan kelompoknya semata.

Kami tegaskan, bahwa ‘ust’ Yazid Jawas, Abdul Hakim Abdat, Muhammad Arifin dan yang sehaluan dengannya hanyalah pion-pion yang tidak akan bisa bergerak kecuali digerakkan oleh “donatur” kuat dalam upayanya mendatangkan para Masyayikh dalam kegiatan-kegiatan kaliber nasional mereka. Jangan anda percaya bahwa Ustadz Yazid dan Abdul Hakim-lah (dengan yayasan yang mereka miliki) yang memiliki kemampuan dana kemaslahatan untuk mendatangkan para masyayikh tersebut! Apalagi Muhammad Arifin Haihata, haihata…
Mereka ini hanyalah petugas sebagai “lobbyers”, tukang lobi semata. Siapakah otak semua ini? Bapak Chalid Bawazeer!! Gubernur Al-Irsyad illegal Jawa Timur dengan Siwak-F  kelincinya yang asyik bersikat gigi!! Acara-acara Daurah Masyayikh yang diadakannya tidak lebih hanyalah sebagai “Kuda Troya” demi konsolidasi gerakan Al-Irsyad illegalnya!! Keberadaan Masyayikh? Hanyalah kamuflase dari syahwat pejabat organisasi Irsyad illegal yang ambisius untuk mempertahankan status de facto masih tetap eksisnya sebuah organisasi yang terlanjur di“Salafi”kan. Wallahi, ini adalah bukti kejahatan mereka dalam mempermainkan para ulama kita!! Tentu saja penasehat setianya adalah ustadz Abdurrahman Tamimi. Adapun buktinya, bukanlah saat ini memaparkannya. Jangan anda khawatir, sebentar lagi Insya Allah…..

Kita akan menguak lebih dalam, apakah itu haddadi? Bagaimana ciri-ciri mereka? Benarkah fakta adalah website haddadiyyin? Ataukah semua tuduhan itu hanyalah berangkat dari ketakutan hebat Abu Salma (AS) dengan semakin tersingkapnya hakekat dakwah hizbiyyah yang selama ini dibelanya mati-matian untuk kemudian “gelap mata” dengan menyamakan kedudukan As-Surkati rahimahulah yang menjadi guru besar agen CIA-Sekutu, menjadi sahabat penjajah missionaris kafir Belanda, menjadi penerus cita-cita dakwah dua orang “salafnya” (baca:pendahulunya) agen “rahasia” MOSSAD Yahudi (tempoe doeloe) yakni Jamaluddin Al-Afghani Ar-Rafidhi Al-Baabi dan Muhammad Abduh dengan  organisasi rahasia Yahudi Fremasonry untuk merusak Islam dan kaum muslimin dari dalam! Jadi permasalahannya bukan hanya Abdullah bin Saba’ apakah tokoh fiktif atau bukan, tetapi kehadiran kloning-kloning bin Saba’- bin Saba’ jadidah yang meneruskan perjuangan kakek moyang Yahudi-nya dalam upayanya menghancurkan Islam!! Bukankah anda masih ingat dengan tulisan surat mengerikan dari Muhammad Abduh kepada guru dan Syaikhnya, Jamaluddin Al-Afghani: ““…SEKARANG KAMI BERADA DI ATAS JALAN YANG LURUS. KAMI TAK AKAN MENEBAS KEPALA AGAMA KECUALI DENGAN PEDANG AGAMA.”

Simaklah sekarang uraian mengenai firqah Haddadiyah dan semoga kita semua terhindar dari kebinasaan syubhat mereka serta terkuaknya motivasi paling mendasar kenapa fakta-fakta yang kita ungkapkan dituduh AS sebagai penerus manhaj haddadiyah (na’udzubillahi min dzalik)…

Syaikh Shalih Fauzan hafidhahullah, ketika menjawab pertanyaan nomor 62 dari kitab beliau “Al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As-ilah al-Manahij al-Jadiidah, cetakan ke-2, 1418H, Daar as-Salaf”:
Pertanyaan:
Sebagian orang menuduh beberapa imam sebagai ahli bid’ah seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi, Ibnu Hazm, Asy-Syaukani serta Al-Baihaqi, maka apakah perkataan mereka itu benar?

Jawab beliau hafidhahullah:
Para imam ini memiliki keutamaan-keutamaan, ilmu yang melimpah, memberikan manfaat kepada manusia, bersungguh-sungguh dalam menjaga sunah dan menyebarkannya, serta memiliki karya-karya tulis yang agung yang (kesemuanya) bisa menutupi kesalahan-kesalahan yang ada pada mereka rahimahumullah ta’ala.
Kami menasehati kepada para penuntut ilmu agar tidak menyibukkan diri dengan urusan-urusan semacam ini karena hal ini akan menghalangi mereka memperoleh ilmu.
Dan yang mencari-cari kesalahan para imam maka ia akan terhalang untuk menuntut ilmu, karena ia menjadi sibuk dengan fitnah dan suka perselisihan diantara manusia [catatan kaki dari Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi:
“Sungguh telah muncul suatu firqah yang mengaku-ngaku Salafiyah padahal Salafiyah bara’ (berlepas diri) darinya. Hal itu tercermin pada pimpinan firqah tersebut yaitu Mahmud Al-Haddad yang telah disebutkan di muka, karena urusan yang mereka pentingkan adalah: meneliti kesalahan-kesalahan para imam besar di dunia, para muhaddits serta muhaqqiq.
Benar, Ibnu Hajar dan Imam Nawawi memang telah terjatuh dalam beberapa kesalahan Asy’ariyyah, tapi para ulama telah memperingatkannya. Komentar Al-‘Allamah Ibnu Baz dalam mengomentari kitab Fathul Bari telah dikenal dan masyhur, akan tetapi kita tidak menjadikan kesalahan-kesalah nini sebagai bahan (pembicaraan) yang bisa memasyhurkannya dan mengawali majlis dengan mencela mereka. Karena dakwah kepada kebid’ahan bukan menjadi kebiasaan mereka, bahkan mereka menolong sunnah dan membenarkan masalah-masalah dengan dalil, maka mereka tidak bisa diqiyaskan sedikitpun dengan ahli bid’ah dan para penyerunya yang menyelisihi manhaj salaf.
Walaupun demikian, tetap kami katakan: “Sesungguhnya kesalahan dan penyimpangan keduanya tidak didiamkan bahkan harus dijelaskan sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi”.
Sesungguhnya mengucapkan rahimahullah terhadap ahli bid’ah adalah boleh, selama mereka masih di dalam ruang lingkup Islam (bukan bid’ah yang mengkafirkan-pen) serta tidak ada dalil yang melarangnya.
Sungguh para ulama telah memuji Ibnu Hajar dan An-Nawawi dan kedua kitabnya yaitu Fathul Bari dan Syarh Muslim.
Para ulama menilai keduanya sebagai Ahlu sunnah dan hadits, mereka bersandar pada ucapan-ucapan keduanya yang mencocoki kebenaran (dan ini yang lebih banyak) dan mereka menjauhi kesalahan-kesalahan keduanya (dan ini sedikit sekali) , segala puji hanya bagi Allah.
Telah berkata Syaikh Abdullah Ibnu Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab, “Kemudian, sesungguhnya kita minta pertolongan dalam memahami Kitabullah (Al-Qur’an) dengan tafsir-tafsir yang telah beredar lagi mu’tabar…, dan dalam memahami hadits dengan syarah-syarah para imam yang memiliki kelebihan (di bidang ilmu agama) seperti: Al-Asqalani dan Al-Qasthalani terhadap kitab Bukhari dan An-Nawawi terhadap kitab Muslim. Selanjutnya beliau berkata, “Alangkah terpujinya An-Nawawi dalam menyusun kitab Al-Adzkar”.
Berkata Al-‘Allamah Al-Muhaddtis As-Salafi Asy-Syaikh Al-Albani (semoga Allah menjaganya), “Menuduh seperti An-Nawawi, Ibnu Hajar Al-Asqalani dan yang semisal mereka dengan tuduhan bahwa mereka ini ahli bid’ah adalah perbuatan dzalim, saya tahu bahwa mereka ini adalah dari Asy’ariyah, akan tetapi mereka ini tidak bermaksud menyelisihi Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, melainkan hanya karena wahm (salah paham) dan dzan (praduga) mereka bahwa akidah Asy-ariyah yang mereka warisi itu:
Pertama: bahwa Imam Al-Asy’ari berkata tentang satu perkara, sedang ia tidak berkata hal itu kecuali dahulu (sebelum beliau bertaubat-pen)
Kedua: Mereka (An-Nawawi, Al-Asqalani dan yang lainnya) menyangka bahwa perkataannya (al-Asy’ari) benar, padahal tidak benar” (Selesai dari kaset Man Huwal Kafir wa man Huwal Mubtadi’).
Jika ada yang bertanya, “Mengapa An-Nawawi dan Ibnu Hajar serta ta’wil mereka (yang keliru) tersebut dimaafkan, sedangkan Sayyid Quthb, Albanna, Al-Maududi dan yang semisalnya tidak dimaafkan?
Maka dapat dijawab dari dua sisi:
Pertama: diantara dua jenis kelompok ini ada perbedaan yang besar karena Imam Nawawi dan Ibnu Hajar memiliki jasa ilmiyah dan bermanfaat bagi umat Islam yang bisa menututpi kesalahan-kesalahannya. Dan para ulama telah menjelaskan dan memperingatkan (umat) agar berhati-hati dari kesalahan-kesalahan tersebut, maka bahayanya telah hilang dengan tanbih (peringatan) ini.
Adapun Sayyid Quthb dan Hasan Albanna…maka mereka ini tidak memiliki jasa ilmiyah serta amaliyah dan tidak memberi manfaat bagi umat Islam seperti apa yang dimiliki oleh An-Nawawi, Ibnu Hajar dan imam-imam besar lain.
Kedua: An-Nawawi dan Ibnu Hajar tidak mengajak kepada kesalahan-kesalahannya dan tidak mengajak untuk tahassub, pengkafiran terhadap masyarakat (muslimin), penyatuan shaf antara Rafidhah, Nasrani, Majusi dan firqah-firqah sesat dengan kaum muslimin dan kesalahan-kesalahannya (An-Nawawi dan Ibnu Hajar) tidak membahayakan masyarakat, berbeda dengan Sayyiq Quthb dan Hasan Albanna dan selainnya, mereka beranggapan bahwa antara aqidah yang rusak bahkan akidah yang kafir dan akidah shahihah yang selamat tidak ada bedanya, serta mereka menganggap bahwa antara seorang Rafidhah, Nasrani dan yang lainnya, dan seorang muslim itu tidak berbeda, dan mereka ini sungguh telah memberi madharat terhadap kaum muslimin dan bukannya memberi maslahat, karena banyak orang yang ta’ashub dengan pendapart-pendapatnya) yang menyelisihi Al-Kitab (Al-Qur’an )dan As-Sunnah dan mereka memerangi Ahlus Sunnah, dan ini merupakan bahaya yang paling besar-selesai catatan kaki dari Abu Abdillah Jamal].
Kami menasehati (kamu) semua agar menuntut ilmu dan menjaganya. Dan agar menyibukkan diri dengan ilmu daripada sibuk dengan perkara-perkara yang tidak ada manfaatnya.

An-Nawawi, Ibnu Hazm, Ibnu Hajar, Asy-Syaukani, Al-Baihaqi adalah imam-imam besar, tempat kepercayaan bagi ahlul ilmi (ulama), mereka memiliki karya-karya tulis yang besar sebagai rujukan umat Islam, yang bisa menutupi kesalahan-kesalahan dan ketergelinciran mereka rahimahumullahu ta’ala.

Akan tetapi kamu wahai miskiin (kasihan) apa yang kamu miliki? Wahai orang-orang yang meneliti dan mencari-cari kesalahan-kesalahan Ibnu Hajar, Ibnu Hazm dan imam-imam lainnya yang disebut bersamanya, padahal sungguh mereka telah melewati jembatan (kemuliaan)? Apa yang telah kamu berikan kepada kaum muslimin? Ilmu mengenai apa yang telah kamu susun? Apakah kamu mengetahui seperti apa yang diketahui oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi?

Apakah engkau telah mempersembahkan bagi kaum muslimin seperti apa yang telah dipersembahkan oleh Ibnu Hazm dan Baihaqi? Subhanallah…! Mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada orang yang tahu kadar kemampuan dirinya sendiri.
Sedikit ilmumu, maka engkau berani
Sedikit kehati-hatianmu, maka engkau berbicara

Pada catatan kaki pertanyaan nomor 56, Abu Abdillah Jamal juga memberikan keterangan penting:
“Di sana ada bentuk lain dari celaan terhadap para ulama yang sering aku dengar dari Firqatul Haddad yaitu penisbahan kepada Mahmud Al-Haddad yang pernah tinggal di Madinah Nabawiyyah (dahulu) dia memiliki beberapa takhrij (terhadap beberapa kitab). Dia benar-benar membuat kerancuan kepada orang-orang yang muda (lugu) dengan membuka “kancing-kancing bajunya” sehingga tampaklah pusarnya (haddad).
Firqah ini pertama-tama awalnya melakukan celaan terhadap Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani dan An-Nawawi pada majlis-majlis mereka. Dan mengajak manusia untuk membid’ahkan keduanya secara terang-terangan dan memfitnah keduanya sebagai ahlu bid’ah dan bahkan keadaan mereka telah sampai mencela Al-Allamah Ibnu Baz, Al-Fauzan, Al-Luhaidan, Al-Albani dan lain-lain.
Sampai-sampai salah seorang diantara mereka pernah mengikuti kajian kitab As-Sunnah yang ditulis oleh Ibnu Abi Ashim yang disampaikan oleh Al-‘Allamah Ibnu Baz pada musim panas di Thaif, kemudian setelah beberapa saat ia meninggalkannya, maka ditanyakan kepadanya tentang sikap tersebut, ia menjawab: “Aku membaca (mengikuti kajian kitab tersebut) adalah untuk menegakkan hujjah dalam rangka melawan Ibnu Baz)”.
Saya (Abu Abdillah Jamal) katakan: “Dan hujjah manakah yang ingin ditegakkan oleh orang yang tertipu ini terhadap “ilmu yang tinggi dan gunung yang kokoh” (Ibnu Baz), ketahuilah semoga Allah memburukkan ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu”.
Adapun sayyidnya yaitu Mahmud Al-Haddad, sesungguhnya ia mencela para ulama yang memberikan wasiat (untuk membaca dan menelaah) kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan ucapannya: “Kebanyakan ahlussunnah masa kini menipu (umat) dengan berwasiat (untuk membaca) kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dan syarahnya.” Al-‘Allamah Ibnu Baz adalah termasuk ulama yang berwasiat dengan kitab tersebut, bahkan beliau mengajarkan kitab ini pada pelajarannya di masjid.” Dia (Al-Haddad) juga mengingkari takhrijnya Syaikh Al-Albani terhadap kitab ini, karena tanpa ada tanbih (peringatan). (Hal.90, kitabnya Aqidah Ibnu Abi Hatim wa Abi Zur’ah).
Aku (Abu Abdillah) katakan: Semoga Allah memburukkan ahli bid’ah, karena mereka mengambil hal-hal yang mendukungnya dan meninggalkan perkara-perkara yang menghujat dirinya. Sesungguhnya Al-Haddad sendiri (pendapat-pendapat serta perbuatan-perbuatannya) saling bertentangan. Ini adalah karunia Allah untuk menjelaskan kejelekan mereka ini. Sungguh dia telah mentakhrij hadits-hadits dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, sedangkan ia tahu kesalahan-kesalahan yang ada dalam kitab ini, akan tetapi ia tidak memberikan tanbih (peringatan) dan komentar, tidak menjelaskan letak-letak kerusakan pada kitab ini serta tidak memperbaikinya. Maka adakah perkara yang lebih bertentangan daripada perbuatannya ini? Jauh sekali perbedaan antara dua kitab tersebut (yakni Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan Ihya’ Ulumuddin).
Sesungguhnya pengikut-pengikutnya  yang mencela ulama itu hanyalah menjiplak tokoh mereka (yakni Al-Haddad). Dia telah mencela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam kitabnya Al-Iman: “Sesungguhnya Irja’ itu adalah bid’ah lafdziyah”. Dia menafsirkan perkataan ini dari pendapatnya sendiri dengan berkata: “Yaitu bahwa irja’ bukan bid’ah dalam makna, ini berarti dia meremehkan perkara tersebut”. Lihat kembali pada kitab Aqidah Abi Hatim wa Abi Zur’ah Ar-Razin, hal.89-90).
Ini bukanlah mencari-cari kesalahannya, tetapi hanya untuk menjelaskan beberapa keadaannya, dan hakekatnya (yang sebenarnya) agar orang-orang yang tertipu maupun orang-orang yang semodel dengannya segera tersadar.
Jika (Al-Haddad) tidak boleh disikapi demikian, maka bagaimana mereka bisa membid’ahkan Ibnu Hajar, An-Nawawi, Ibnu Hazm, Asy-Syaukani, Al-Albani dan yang lain dengan tidak perlu tarahum (mengucapkan rahimahullah) kepada orang-orang tersebut, padahal Haddad-lah yang seharusnya terlebih dahulu dibid’ahkan (karena ia lebih banyak kesalahan dan penyimpangannya dibanding para a’immah).
Salah satu sikap tanaqudh (saling kontradiksi) yang ada pada Mahmud Al-Haddad adalah bahwa ia juga berpendapat tidak bolehnya membaca kitab-kitab bid’ah dan ahli bid’ah bahkan melihatpun tidak boleh (dan ini memang benar).
Akan tetapi harus dibedakan antara orang-orang yang menyeru kepada kebid’ahan dan sombong terhadap al-haq dengan orang yang tergelincir dalam berijtihad dan takwil tetapi ia seorang pembela sunnah, suka menyebarkannya serta berkhidmat kepada kitab-kitab sunnah dengan sebenar-benarnya.
Al-Haddad berkata: “Seseorang tidak termasuk ahlussunnah sampai dia mampu melihat masalah-masalah bid’ah, letak-letaknya, dalil-dalilnya serta kitab-kitab ahlinya” (Aqidah Abi Hatim wa Abi Zur’ah, Al-Haddad, hal.105)
Inilah ucapan Al-Haddad dan ia mengingkari orang-orang yang berwasiat dengan kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dan mengingkari takhrij hadits-hadits yang dilakukan oleh Al-‘Allamah Al-Albani terhadap kitab ini, sedang ia tidak mengingkari  dirinya sendiri dalam meringkas kitabnya Ibnul Jauzi yang berjudul Shaidul Khathir.
Berdasarkan manhaj yang ditempuh Al-Haddad ini, ada 2 hal yang perlu diperhatikan:
Pertama: bagaimana ia mempersilahkan dan membolehkan dirinya sendiri membaca kitab-kitab Ibnul Jauzi, padahal ia mengatakan bahwa Ibnul Jauzi adalah seorang Jahmiyah yang kuat dalam mukadimah kitabnya yang berjudul Al-Muqtanal Athir ringkasan Shaidul Khathir yang ditulis oleh Ibnul Jauzi?
Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS.Ash-Shaf: 2-3)
“Apakah engkau menyuruh manusia berbuat baik sedangkan engkau melupakan dirimu sendiri padahal engkau membaca Al-Kitab, tidakkah engkau berakal” (QS.Al-Baqarah: 44)
Kedua: Sesungguhnya kitab Shaidul Khathir adalah sejelek-jelek kitab, termasuk kitab yang harus mendapat tanbih dan satu kitab yang manusia secara umum maupun khusus harus berhati-hati darinya, maka bagaimana engkau amat peduli dengannya wahai Mahmud?! Dan engkau menghabiskan waktumu, menipu manusia dengan kitab ini karena ulahmu, dan kamu…siapa engkau ini, orang yang terkenal bahwa kamu (mudah-mudahan demikian) mentahdzir (memperingatkan kitab kitab ahli bid’ah). Pada kitab itu (Shaidul Khathir) ada namamu, sehingga orang akan mengambil (isinya) dengan membuta dan menganggap bahwa semuanya adalah tsiqah (terpercaya) dengan keyakinan bahwa kitab tersebut adalah kitab sunnah dan aqidah, padahal kitab tersebut sesungguhnya awal sampai akhirnya tak lain adalah Shaidun Khathir (Perangkap yang Berbahaya), nama yang pas dengan judulnya karena tidak ada di dalamnya qalallah, qala rasulullah dan tidak ada pula qala shahabah sebagai orang-orang yang memiliki pengetahuan.
Sesungguhnya Al-Haddad berpendapat bahwa tidak perlu tarahum kepada Imam Ibnu Hajar, An-Nawawi rahimahullah dan yang semisalnya karena dia mengingkari orang yang berkata, “Al-Imam rahimahullah”, di mana ia pernah mengatakan dalam kitab Aqidatu Abi Hatim…, hal.106: “…sampai para imam ahli bid’ah disebut sebagai sunni menurut anggapannya. “Al-Imam” dengan dibubuhi rahimahullah”. Selesai ucapannya.
Orang ini (Al-Haddad) dan kawan-kawannya terus menerus lidah-lidah mereka mencela, mencaci dan merendahkan para ulama. Ia mencela Ali Ibnul Hasan Ibnu Asakir dengan mengatakan, “Seorang Jahmiyah yang kuat. Buka kembali dalam kitab Al-Jami’ fil Hatstsi ‘ala Hifdzil Ilmi tahqiq Al-Haddad, hal.212).
Saya (Abu Abdillah) katakan: (Dan yang haq aku katakan) Sesungguhnya Al-Haddad merendahkan ahlussunnah dan membicarakan mereka seperti Al-‘Allamah Ibnu Baz, Al-Utsaimin, Al-Fauzan dan yang lain-lainnya yang mewasiatkan kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiyah beserta syarahnya, memfitnah Al-Albani karena takhrijnya dan celaannnya kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semua ini adalah karena kecemburuannya yang sangat (menurut sangkaannya) terhadap aqidah kaum muslimin supaya tidak dimasuki satu noda-pun, Subhanallah!
Ahlussunnah, Ahlut Tauhid yang khalis (murni) tidak selamat dari celaannya, akan tetapi sebaliknya ahlul bid’ah, syirik dan khurafat selamat dari celaannya, maka apakah ini dinamakan ghirah (kecemburuan) terhadap akidah kaum muslimin agar tidak dikotori oleh para imam dunia?
Ikhwanul Muslimin yang menduduki sepanjang negeri Mesir yang menyebarkan kerusakan di muka bumi-pun selamat dari celaannya karena kita tidak pernah melihat dan mendengar bahwa dia (Al-Haddad) pernah berbicara tentang Ikhwanul Muslimin dalam satu buku, majalah atau suratkabar-pun dan ia tidak mengingkari mereka selama tinggal di Mesir atau ketika sudah jauh dari mereka (yakni di Haramain, Makkah dan Madinah) di mana ia aman dari kejahatan mereka, bila ia khawatir akan ditentang oleh mereka.
Quburiyyun (para penyembah kubur) juga selamat dari celaannya, karena kuburan-kuburan (yang disembah, dimintai tolong dan diagung-agungkan) tersebar di negerinya, thawaf dan mengusap-usap kuburan di depannya, dia lihat dan dengar. Istighatsah kepada para wali (sangkaan mereka) juga tak ada seorangpun yang mengingkarinya.
Sufiyyah dan para penggemar maulid selamat pula dari celaannya. Hizbut Takfir dan Khawarij selamat dari celaannya. Selamat dari celaannya…, selamat…, dan ia diam terhadap semuanya.
Apakah dia tidak bisa diam dan menahan lisannya untuk ahlussunnah, para penyerunya, orang-orang yang membelanya, yang memperingatkan kesyirikan, bid’ah, kemaksiatan-kemaksiatan dan orang-orang yang menjauhkan manusia dari ahli bid’ah dan hawa?
Dari keterangan-keterangan di atas, dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa orang tersebut (Al-Haddad) tidak ada andil sedikitpun dalam membela sunnah dan membentenginya. Sesungguhnya orang tersebut hanyalah menuruti hawa nafsu dan cinta popularitas. Dan hal yang menakjubkan diriku adalah ucapan Al-‘Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani yang sering aku dengar yakni “Hubbud Dhuhur Yaqshimudh Dhuhur” (cinta kepopuleran akan menghancurkan popularitas).—-selesai—-

Maka kita katakan kepada AS dan para sekutu setianya:
Apakah kita mencela, menghina dan merendahkan para imam-imam besar Ahlus Sunnah?! Apakah kita menistakan kehormatan Ibnu Hajar, An-Nawawi, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Hazm, Asy-Syaukani, Al-Baihaqi, Ali Ibnul Hasan Ibnu Asakir, Al-Albani, Al-‘Allamah Ibnu Baz, Al-Utsaimin rahimahumullah?! Ataukah kami menghinakan Al-Fauzan hafidhahullah? Atau para a’immah besar mana dari kalangan Ahlussunnah yang telah kita rendahkan sehingga layak bagimu untuk menggelari kami sebagai Haddadiyyin? Ataukah kami dalam pandanganmu adalah pembela orang-orang yang membela Jama’ah Tabligh Ash-Shufi dengan cara merendahkan Kibarul Ulama?! Bisakah engkau membuktikannya?! Ataukah engkau memiliki bukti bahwa kami adalah patner dakwah Hizbut Takfir sebagaimana al-fadhil-mu yang sampai saat ini engkau sembunyikan namanya di balik ketiakmu? Atau bisakah engkau tunjukkan kepada umat bukti dan fakta ilmiyah bagaimana kami berkolaborasi dengan Ikhwanul Muslimin sebagaimana didemonstrasikan oleh para al-fadhilmu?!
Haihata…haihata…alangkah mahalnya bukti ilmiyyah di sisimu wahai Aba Salma dan betapa ‘dermawannya” dirimu dalam menghambur-hamburkan dusta dan tipu daya!

Tidaklah tuduhan Haddadiyah yang engkau lemparkan kepada kami terlepas dari 3 sisi kedzaliman:
Pertama: Sesungguhnya engkau telah menuduh bahwa kami mencaci, mencela dan merendahkan kehormatan para ‘aimmah ahlussunnah!! Wallahi, bumi tempatmu berpijak akan menjadi saksi kelak di yaumul hisab bahwa tidak ada satu buktipun bahwa kami telah melakukan perbuatan hina dan rendah seperti yang engkau tuduhkan!! Sungguh Allah Ta’ala adalah sebaik-baik saksi atas kedustaanmu yang menembus awan ini!!
Kami tahu dan kami tahu…tidaklah kepanikan dahsyatmu dengan menggelari kami sebagai Haddadiyin yang mencaci maki para ulama kecuali upaya licikmu dalam memalingkan umat agar melupakan kejahatan keji dan biadab yang dilakukan oleh Hizbul Irsyadmu, murid-murid Syaikh Salafi Irsyadmu yang berkata:
 “SEBENARNYA YANG BERTANGGUNG JAWAB TENTANG PERBEDAAN DAN PERSELISIHAN YANG MEMALUKAN INI (ANTARA RU’YAH DAN HISAB-PEN) ADALAH ULAMA. PARA ULAMA SENDIRILAH YANG MEMIKUL BEBAN DOSANYA, bukan umat yang awam. KARENA ULAMA YANG BERSTATUS SEBAGAI PEWARIS PARA NABI, TELAH LENGAH DALAM MENGEMBAN TUGAS YANG DIPIKULNYA.. PARA ULAMA TIDAK MENGULURKAN KEPADA UMAT APA YANG WAJIB UNTUK DIULURKAN, SEPERTI NASEHAT YANG SEMESTINYA, AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR DAN MEMPERBAIKI HUBUNGAN ANTAR UMAT. Sesungguhnya agama itu adalah nasehat, JUSTRU MEREKA DIAM TIDAK MENGAMBIL TINDAKAN PENYELAMATAN, ironisnya lagi kebanyakan orang yang menulis dalam masalah ini semakin menambah keruhnya masalah dan memperluas perbedaan di masyarakat” (hal. 104).
Sudah berhentikah muntahan keji yang tiada taranya ini?! Belum, perhatikan lagi:
 ”SEANDAINYA MEREKA BEKERJA UNTUK ALLAH DALAM MENDAMAIKAN UMAT INI DAN MENGERAHKAN POTENSI MEREKA UNTUK MENGATASI KEADAAN INI serta melakukan usahanya untuk mempertemukan antara kedua kubu yang berseteru ini dengan cara menggabungkan nash-nash (dalil-dalil) yang datang dalam masalah ru’yah dan hisab dan mengkompromikan antara keduanya (inilah sebenarnya tujuan akhir dari penistaan mereka terhadap para ulama-pen),……AKAN TETAPI SANGAT DISAYANGKAN, MEREKA TIDAK MENDAPATKAN TAUFIQ UNTUK ITU, DAN INI BENAR-BENAR NASIB SIAL BAGI UMAT ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN.” (Himpunan Tiga Risalah, Majelis Ifta’ dan Tarjih Jam’iyyah Al-Irsyad, Diterjemahkan oleh Agus Hasan Bashari, Lc, Sya’ban 1425H/Oktober 2004M, hal.104-105).(Bundel Badai Fitnah, sub bab 9.2 HIZBIYYIN-SURURIYYIN-SURKATIYYIN, PEPERANGAN MEREKA TERHADAP ULAMA KAUM MUSLIMIN )
Maka dengan bukti singkat yang kami hadirkan ini wahai Aba Salma, telah menyingkap sebuah hakekat jahat bahwa dirimu tidak lebih dari fanatikus Irsyad yang “Memikulkan kesalahan seseorang kepada orang lain. Ini adalah kesesatan pemikiran mereka yang paling tampak nyata, mereka akan memikulkan kesalahan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain yang tidak ada sangkut pautnya. Pemikiran ini seperti aqidah nashrani yang meyakini adanya dosa ’warisan’ dan dan shufiyah yang meyakini bahwa amal perbuatan seseorang bisa ditanggung oleh orang lain.” (Inilah Haddadiyah..ed-3)

Bukankah dirimu sampai detik ini tidak berkomentar sehurufpun mengenai kekejian yang dilancarkan oleh murid-murid As-Surkati ini?! Apakah ini merupakan “kesalahan” biasa ataukah kekejian luarbiasa yang jauh diluar kebiasaan “organisasi” yang katanya Salafi? Maka selayaknya bagi dirimu untuk menyadari dan menerima secara ikhlas bahwa pemikiran murid-murid As-Surkati adalah salafnya (baca: pendahulunya) Mahmud Al-Haddad Al-Mishri dan balatentara haddadiyyinnya! Semoga Allah Ta’ala menghinakan dakwahnya, amin.

Kedua
: Sesungguhnya engkau wahai Aba Salma, telah jauh meninggalkan fiqhul waqi’ sejarah dan sepak terjang organisasi hizbiyyah Irsyadiyahmu! Engkau berusaha mengingkari kenyataan dan fakta-fakta yang menyingkap penyelewengan-penyelewengan mendasar As-Surkati dan Irsyadmu! Bukankah dirimu tidak berkomentar secuilpun mengenai bai’at yang dilakukan As-Surkati? Juga Stichting Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang ternyata “terpaksa” didirikan agar dana lotre kafir penjajah Belanda bisa dicairkan Syaikh Irsyadimu? Ataukah diammu merupakan tanda setujumu? Setuju dengan bukti yang kami publikasikan tanpa bisa mengelaknya ataukah setuju dengan tindakan fanatik buta yang dipraktekkan Surkati yang menghalalkan segala cara?
Pada waqi’ seperti ini ternyata Irsyadmu berbeda dengan Haddadiyin, sebab kami (yang miskin ini) belum mendapatkan bukti bahwa Haddadiyin menghalalkan lotre, apalagi lotrenya penjajah kafir!! Apakah Al-Haddad juga memba’iat pengikutnya sebagaimana Surkati memba’iat Irsyadiyyinnya? Wallahu a’lam.

Ketiga
: Bahwa dirimu wahai Aba Salma telah lupa daratan, lupa udara dan lupa lautan, telah mabuk darat, mabuk laut sekaligus mabuk udara karena menyamakan Syaikh Irsyadimu dengan para a’immah sekaliber Ibnu Hajar, An-Nawawi, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Hazm, Asy-Syaukani, Al-Baihaqi, Ali Ibnul Hasan Ibnu Asakir, Al-Albani, Al-‘Allamah Ibnu Baz, Al-Utsaimin rahimahumullah?! Bukankah tuduhan Haddadiyin tersebut tidak bisa engkau lemparkan kepada kami kecuali engkau telah sejajarkan As-Surkatimu dengan para a’immah besar ahlussunnah?! Haihata..haihata bagaimana pula pengemban dan penerus cita-cita dakwah Pan Islamisme agen-agen MOSSAD tempo doeloe (baca: Masuni) didudukkan sejajar dengan para a’immah ahlussunnah?
Apakah para a’immah di atas juga berupaya mempersatukan dan mempersaudarakan Khurafiyna, Kharijiyna, dan Syi’iynanya As-Surkati? Maka apa pula maksudmu dengan menulis serial kesesatan-kesesatan Syi’ah? Apakah ini realisasi yang engkau tuduhkan pada orang lain bahwa: “Lantas mengapa begitu mudahnya mereka melupakannya, mencuci tangan…………dst”
Apakah dirimu melupakan ataukah pura-pura lupa ataukah tidak tahu ataukah tidak mau tahu kesesatan seruan persaudaraan As-Surkati di atas?!

Yang jelas, dengan bukti-bukti lembaran hitam majalah Adz-Dzakhirah yang kami publikasikan secara nyata di sini, tidaklah mungkin bagimu wahai Aba Salma untuk mencuci tangannya As-Surkati dari bukti kesesatan-kesesatan seruan Wihdatul Firqahnya karena tidak ada bukti secuilpun bahwa As-Surkati sebelum meninggalnya telah rujuk dan bertaubat dari kesesatannya ini!! Semoga Allah mengampuni kesalahannya dan semoga Allah terus bongkar kejahatan fanatikusnya, amin.
Apakah kami harus bertabayyun dulu ke dalam liang lahatnya As-Surkati wahai Aba Salma untuk menghindari cap haddadi yang engkau lemparkan kepada kami?
Ataukah serial Haddadiyahmu itu merupakan “sindiran” kepada Syaikh Rabi’ hafidhahullah yang engkau comot dari Al-Hatstsu.. karena beliau tidak bertabayun dulu ke liang lahatnya Sayyid Quthb sebelum menuliskan buku-buku bantahan beliau atas kesesatan dan penyimpangannya?! Ataukah beliau mencukupkan diri dengan buku-buku warisan Sayyid Quthb kepada para fanatikus IMnya sebagai bukti ilmiyah akan berbagai penyimpangannya?

Sejak kapan wahai Aba Salma, Syaikh Rabi’ memiliki kedudukan ilmiyyah di sisi komunitasmu?! Bukankah beliau tidak lebih dari “shighar ulama, bukan ulama yang paling senior dan masih banyak ulama seperti beliau yang ada di Saudi dan berbagai nada sinis yang dilontarkan oleh para pembesarmu? Apakah yang melandasi kalian (setelah melakukan perendahan dan cibiran kepada beliau) kemudian majalah As-Sunnah kalian sampai membagikan secara gratis transkrip terjemahan beliau?! Haihata, haihata…

Lalu firqah apakah yang paling dekat kekerabatan manhajnya dengan seruan As-Surkati dan Irsyadmu ini kalau bukan firqah Ikhwanul Muslimin yang berupaya mempersatukan berbagai macam firqah dan bai’at sesat yang dipraktekkannya?
Haihata..haihata fatwa Syaikh Ubaid dan Syaikh Ahmad An-Najmi hafidhahumallah tentang As-Surkati dan Irsyadnya-pun dilemparkannya ke balik punggung hizbiyyahnya dengan ucapan kejinya:
“Haihata haihat Sungguh lihai sekali mereka (asatidzah-pen) melakukan kedustaan terhadap ulama.” (Adz-Dzakhiirah, vol.5, no.3. ed.27 Shafar 1428H, hal.31, footnote no.18)

Alhamdulillah, untuk menjawabnya maka cukuplah Allah sempurnakan kehinaan ini dengan ucapannya sendiri bahwa tuduhan di atas, “…secara otomatis menuduh mereka (para ulama) “agak dungu” karena mudah dipermainkan!” 
Maka jangan ada terkecoh wahai saudaraku kalau orang ini melemparkan satu dua umpan pujian kepada asatidzah atau sebagian ikhwan kita karena dirinya ingin mendapatkan “ikan” yang jauh lebih besar, menjarh fatwa para ulama dan mentahdzir asatidzah tanpa secuilpun bukti yang ditunjukkannya kepada umat!! Dan jangan anda memejamkan mata dari fatwa terakhirnya yang menjarh ustadz Muhammad Sewed tanpa bukti-bukti ilmiyahnya!! Ini adalah kebiasaannya yang diluar kebiasaan.

Pengkhianatan Al-Irsyad Terhadap Perjuangan Muslimin Indonesia Melawan Penjajah Kafir Belanda?
Memang belum selesai serial kemesraan (baca: rifq, liyn dan hikmah) Al-Irsyad dengan para pejabat penjajah kafir Belanda yang menjadi murid sekaligus sahabat As-Surkati.
Syahida syahidun min ahliha…
Hussein Badjerei berkata:
“Atas permintaan Syaikh Ahmad Surkati, hoofbestuur Al-Irsyad  dalam sidangnya tanggal 14 Maret 1941 pukul 16.30 di rumah Syaikh Ahmad Surkati telah mengambil keputusan antara lain:
1.Mempersiapkan naskah sejarah Al-Irsyad yang akan ditulis oleh Ahmad Surkati sendiri
2.Selaku pembantu khusus untuk penulisan sejarah ini ditunjuk Umar Naji…
3.Naskah jadi kelak akan diterbitkan secara resmi oleh Hoofdbestuur Al-Irsyad
4.Petugas pencari data ke daerah diangkat Abdulqadir Bahalwan
5.Panitia berkedudukan di Jakarta dengan Ketua, Sekretaris dan Bendahara sebagai pimpian harian. Panitianya disusun sebagai berikut: Ketua merangkap Bendahara: Hasan Argubi; Sekretaris Ali Harharah….
Dalam kegiatannya, Panitia yang dinamakan Lajnah Ta’liif Taarikh Al-Irsyad, telah meminta tulisan dan kesan tentang Al-Irsyad dan pemimpinnya Syaikh Ahmad Surkati dari: VAN DER PLAS, PIJPER, W.Wondoamiseno, A.Hassan, DE VRIES, PB.Muhammadiyah, PB Persis, Alhasyimi dan lain-lain, termasuk kalangan senior Al-Irsyad sendiri. Yang jelas VAN DER PLAS sudah menyampaikan tulisannya, tetapi buku iini tidak sampai berhasil diterbitkan, baru berbentuk manuskrip tulisan tangan yang dikerjakan oleh Muhammad Nur Alanshary dan telah dikoreksi oleh Ahmad Surkati bersama-sama Abdullah Badjerei.” (AIMSB, hal.150) http://img153.imageshack.us/img153/2766/amsbhal150uc7.jpg

Komentar:Hussein Badjerei tidak menjelaskan secara rinci, bagaimana mekanisme panitia penulisan sejarah Al-Irsyad dalam meminta tulisan dan kesan dari individu dan organisasi yang mereka hubungi.
Ada dua catatan sangat penting mengenai informasi yang “dibocorkan’ oleh Hussein Badjerei ini:
Pertama: Panitia penulisan sejarah Al-Irsyad ini diketuai dan sekaligus dibendaharai oleh Kapten Arab Hasan Argubi (menantu Kapten arab Umar Manggushy yang keduanya adalah orang penting di sisi As-Surkati dan Irsyadnya sekaligus antek Belanda yang setia pada tuannya) dan kita tidak akan mengulang lagi dengan menjelaskan kedudukan penting antek Belanda ini di sisi As-Surkati!!
Kedua: Silakan anda perhatikan betapa mulianya kedudukan para pejabat penjajah kafir Belanda di sisi As-Surkati dan Irsyadnya!! Bahkan TIGA ORANG PEJABAT PENJAJAH BELANDA (Van Der Plas, Pijper dan De Vries) ikut menentukan isi sejarah Al-Irsyad!! Surkati-lah yang langsung mengoreksi hasil tulisannya!! Inikah wahai Aba Salma yang engkau katakan bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan wala’ dan kecintaan?!!

Allahu Akbar!! Bahkan ini adalah bukti FAKTA yang paling jelas tentang keterlibatan para pejabat penjajah kafir Belanda yang berkolabarasi dengan organisasi Irsyadmu dan Hoofdbestuur (Pengurus Besar)nya untuk menentukan hitam putihnya sejarah organisasi “salafi”mu!!

Maka demi Allah wahai saudaraku kaum muslimin, lihatlah tahun mereka mengadakan rifqan Irsyadiyah dengan kafir penjajah ini!! Tahun 1941!! Na’am, tahun-tahun dimana negeri kita masih dijajah dan diinjak-injak kehormatannya oleh para penjajah kafir najis tersebut ternyata mereka berkolaborasi dengan Al-Irsyad Al-Islamiyyah!! Organisasi yang katanya reformis!! Organisasi yang didirikan oleh tokoh Salafi di negeri ini, katanya!! Yang kita mesti bersyukur atas kemunculannya, katanya!! Yang berdakwah kepada Al-Kitab dan Sunnah, katanya!! Yang memerangi syirik, bid’ah dan khurafat katanya! Yang memerangi kesesatan, katanya! Tetapi bagaimana mungkin dirinya memerangi semua itu sementara sejak hari pertama didirikannya, para penjajah kafir adalah sahabatnya!! Lotrenya adalah pondasi halal berdirinya Stichting Irsyadnya? Syiah adalah Syi’iynanya? Khawarij anjing neraka adalah Kharijiyna-nya? Khurafiyyun adalah Khurafiyna-nya?! Jamaluddin dan Muhammad Abduh adalah uswahnya?Dan para a’immah hendak dipersandingkan dengan orang sejahat ini agar memiliki legalitas untuk melemparkan tuduhan haddadi kepada kami?!

Demi Allah, kita tidak akan pernah rela dan sekali kali tidak akan pernah rela bahwa pendiri organisasi semacam ini dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional!! Apalagi dinobatkan sebagai Syaikh Salafi!!

Na’am, dengan fakta mengerikan yang kita ungkapkan ini AS akan semakin ketakutan dengan teriakan nyaring Haddadinya kepada kita!!  Berupaya keras menghiasi wajah-wajah kita dengan taring yang menyeramkan agar umatnya tidak lari dari dakwah “lemah lembutnya!” Na’am, dakwah lemah lembut semodel dengan yang diwarisinya dari guru besarnya ketika bermesraan dengan kafir Belanda!!
Biarlah mereka menandingi FAKTA KITA dengan mencaci sumpah serapah tanpa hujjah. Inikah keadilan wahai ikhwah sekalian, bahwa orang ini menetapkan dirinya untuk bebas mengendarai tombaknya dalam melemparkan hujatan-hujatan tanpa secuil buktipun sementara orang lain di-Haddadi-kannya jika mengendarai tombak untuk membalas serangan kejinya dan membongkar keanehan Irsyadnya? Tidakkah antum ingat dengan ucapan yang selalu dan selalu diulang-ulangnya bahwa:"Sesungguhnya diriku yakin bahwa: Gonggongan anjing-anjing itu tidak membahayakan awan". Tetapi jangan engkau sampai lupa wahai AS bahwa anjing melolong adalah pekerjaannya. Tidaklah pernah si anjing mewajibkan  dirinya untuk membawa bukti dan burhan ketika melakukan "pekerjaannya", tidak akan ada hasil dan pengaruhnya kecuali manusia di sekitarnya menjadi tahu bahwa didekatnya ada anjing yang sedang "bekerja" , ini "aku" ada di sini sedang "bekerja"!! Melolong adalah rutinitasku!? Jangan minta pada diriku untuk berikan bukti dan burhan seperti yang kamu lakukan, aku hanyalah aku, melolong adalah pekerjaanku! Allahul Musta’an.

Tetapi kalau seekor anjing sudah mulai berani menggigit, bahkan para ulama Ahlussunnah yang hendak digigitnya maka bersiap-siaplah! Kutimpuk kepalamu dengan “batu”!! Cukup batu burhan dan hujjah yang akan menghinakanmu!! Membongkar aurat Hizbiyyahmu!! Sehina-hinanya!! Walaupun kami tahu benar bahwa engkau hanyalah engkau, melolong adalah pekerjaanmu! Adalah kewajiban bagi seorang Muslim untuk membela Ulama dari gigitan si jahat!!
Berapapun engkau dibayar, orang Mukmin telah dibeli oleh Allah dengan surganya!!

Buruk muka…. janganlah cermin yang disalahkan!

Kita hanyalah ‘klining serpis’ serabutan yang tidak akan pernah bisa tertidur nyenyak ketika para pecundang dipahlawankan!! Kolaborator penjajah dielu-elukan!! Tidak akan pernah tentram hati kita ketika umat dipaksa mensyaikh salafikan pengekor dakwah dua agen MOSSAD Yahudi tempo doeloe!! Sahabat penjajah kafir Belanda!! Jadi, siapakah yang lebih pantas dicap sebagai agen kuffar?! Siapakah yang mencari dana kemaslahatan di atas puing-puing kehormatan dan darah kaum Muslimin yang diinjak-injak kafir penjajah? Dan siapakah yang bekerjasama dengan penjajah kafir Belanda?! Maka tulisan ini dan tulisan sebelumnya secara khusus kami persembahkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin di Serambi Mekah dan sekitarnya, betapa anda sekalian telah dicekoki oleh fakta dusta untuk mensyaikh Salafikan  salah seorang sahabat Dr. Christian Snouck Hurgronje dan para pendahulu kalian benar-benar telah mengenal dan merasakan kekejian dan kejahatan kolonialis missionaris yang satu ini, maka bagaimana mungkin kalian bisa tertipu oleh pengakuan kesalafiyahan salah seorang sahabat dekatnya yang diperjuangkan mati-matian oleh Irsyadnya?!

Adapun bagi saudara-saudaraku kaum muslimin di Surabaya dan sekitarnya, apakah anda ingat kenapa Surabaya sangat dikenal sebagai kota Pahlawan? Iya, 10 Nopember 1945, sebuah peristiwa besar dimana Belanda dengan tentara gurkhanya membonceng Sekutu dalam upayanya mencengkeram kembali negeri kaum muslimin ini dengan memborbardir Surabaya. Tetapi Alhamdulillah jendral sekutu mereka (Brigjen. Mallaby) mati  seiring dengan kocar-kacirnya serta lari tunggang langgangnya pasukan kafir tersebut dari Surabaya. Maka bagaimana mungkin anda bisa terkecoh dengan "sales-sales" dakwah mereka yang mempromosikan As-Surkati sebagai Syaikh Salafiyyin sementara dirinya adalah guru dan Syaikh bagi Van der Plas!! Aktor dibalik skenario kembalinya Belanda ke negeri ini? Haihata, haihata… dimana bukti FAKTA kecintaan As-Surkati bagi kaum muslimin Indonesia? Dimana..? Sementara para penjajah kafir itu adalah muridnya!! Keadilan wahai ikhwah….kejujuran… mana kecemburuan antum?
Terpenting bagi kami, tersampaikannya bukti yang selama ini hanya menjadi koleksi pribadi….
Cukuplah Allah sebaik-baik saksi. Walhamdulillah.
(Abdul Hadi)

24 - March - 2007

Ahmad Surkati, guru agen CIA-Sekutu dan sahabat misionaris kafir Belanda

Filed under: Umum

Ahmad Surkati, guru agen CIA-Sekutu dan sahabat misionaris kafir Belanda

Buku Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa pantas kita buka kembali, mengingat ada ucapan di sebelah yang hendak mengkaburkan kembali tentang siapakah Ahmad Surkati. Murid Ahmad Surkati, Abdullah Aqil Badjerei yang diangkat menjadi redaktur majalah Azzachirah Al Islamiyyah sejak tahun 1923, sekaligus penerjemah tunggal dan sekretaris pribadi Surkati. Abdullah Badjerei adalah orang penting yang selalu berada di sisi Ahmad Surkati, bahkan dia berkesempatan memangku jabatan Sekretaris Jenderal Al Irsyad paling lama sekitar 25 tahun.

Abdullah Badjerei sering mewakili Ahmad Surkati dalam ceramah ilmiahnya. Dan seorang putra dari Abdullah Badjerei bernama Hussein bin Abdullah Badjerei turut aktif di Al Irsyad, sampai buku tulisannya “Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa” (AMSB) dikukuhkan sebagai buku resmi PP Al Irsyad. Simak di halaman situs http://img137.imageshack.us/img137/3773/image0291ph1.jpg.

Kemudian disebutkan murid Surkati lainnya Asad Alkalali, Ahmad Sjoekrie, Umar Hubeis, Ali Hubeis, ‘Aisyah Nazir, Nurdjannah, Abdullah Badjerei. Ini semakin memperkuat bahwa sumber paling sahih bila berbicara tentang Ahmad Surkati adalah lewat Abdullah Aqil Badjerei, bapak Hussein Badjerei, penulis buku resmi PP Al Irsyad.

http://img156.imageshack.us/img156/8283/image0298xa7.jpg

Nah, H. Hussein Badjerei putra Abdullah Aqil Badjerei inilah yang jujur mengungkapkan apa itu Al Irsyad. Dalam menulis tulisan ini yang telah dilengkapi dengan link scan buku ASB, mengingat Abu Salma (A.S.) sang jago bersilat lidah, ahli berkata-kata hanya mampu mengalihkan perhatian, menghindar, tanpa membawakan bukti yang lebih sahih dari buku resmi Al Irsyad ini.

Seminggu, dua minggu kita tinggalkan A.S, walhasil A.S. makin menjadi-jadi, tudingan agen rahasia, agen CIA, memakai metode CIA, memakai cara kuffar CIA makin dikerucutkan tanpa membawa satu lembar buktipun terkait keanggotan Ibrahim sebagai agen CIA. Kenapa hanya karena tulisan LSM kafir dari Brussel terkait teroris yang menyudutkan Sururi dan Jihadi, lantas Ibrahim digelari agen CIA ? Atau lantaran data yang pernah ada di situs salafy.or.id dicomot mereka lantas otomatis Ibrahim menjadi agen CIA ? Ketahuilah fanatikus situs anda membuat istilah aneh CIAlafy di forum ‘sampah’, yang juga suka dikorek-korek oleh A.S., pejabat PC Al Irsyad Surabaya ini.

Kita tanyakan lagi, darimanakah engkau tahu bahwa LSM kafir tersebut CIA, lantas cara yang saya pakai metode CIA ? Jangan-jangan engkau hobi menonton film laga/detektif yang menampilkan profil agen CIA dan engkau memahami secara utuh sehingga ketika berhadapan dengan manusia pengangguran seperti Ibrahim, lantas engkau tuding agen CIA ? Atau engkau pernah dididik oleh CIA, lantas keluar, sehingga engkau tahu persis cara kerja agen CIA ?

Kenapa tidak engkau bilang agen MOSSAD seperti tudingan majalah Hidayatullah pada Salafy ? Atau agen Densus88 seperti tudingan pada Ja’far Umar Thalib ? Lantas engkau pantas disebut agen juga, karena memiliki radar yang sangat canggih sehingga bisa mendeteksi kabar-kabar dari ujung Jatim dan di Brussel sana ? Kalau setiap yang googling, mengkoleksi selebaran, pamflet, tulisan, yang lantas discan, lantas dicomot asing kemudian disebut mata-mata, maka sungguh banyak sekali yang layak dicap agen/mata-mata di dunia! Termasuk website anda sendiri, karena pembacanya manca Negara dan kadang dicomot oleh orang-orang.

Baiklah, waktunya kita singkap siapakah Van der Plas, Snouck Hurgronje (sahabat, murid Ahmad Surkati reformis) dan marilah kita dholimi bersama-sama!


C.H.O. Van der Plas

Baik, marilah kita lihat siapakah Dr. Charles agen CIA - M16 – Sekutu yang terkenal dengan sebutan Van der Plas connection. Biar si A.S. jelas ternyata Van der Plas yang samar-samar baginya ternyata adalah agen CIA - M16 – Sekutu/Amerika Serikat.

CH.O.van der Plas menjabat sebagai Ajun Advisor dari kantor kolonial belanda Kantoor voor Inlandsche Zaken, juga Prof. Dr. G.F. Pijper sebagai Advisor di kantor yang sama, dia belajar Ilmu Tafsir dan Fiqh dari Surkati. (AMSB, hal 49)  http://img144.imageshack.us/img144/3839/image0293if2.jpg. Lihatlah Surkati demikian dekat dgn kolonialis Belanda, maka apakah mungkin Surkati menyusun perlawanan atas imperalis Belanda dalam kedekatannya itu ? Ataukah dengan manhaj “unik” seperti inilah (baca:rifq, liyn dan hikmah dengan pejabat penjajah kafir Belanda), cara As-Surkati memerangi kekafiran dan penjajahan di negeri kaum muslimin ini?! Bukankah hukum asal dari dakwah adalah rifq, liyn dan hikmah, wahai Firanda dan Abu Salma?! Bukankah kelembutan (baca:persahabatan) dengan para penyesat dan penjajah adalah wasilah terbesar dijungkir-balikkannya al-wala’ wal bara’ fil Islam?! Sesungguhnya tidak patut bagi Irsyadiyin untuk meminta-minta gelar kemaslahatan sebagai ‘Pahlawan Nasional’ kepada pemerintah Indonesia bagi Ahmad Surkati!!

Menurut AMSB halaman 49, ternyata Ahmad Surkati sebagai sahabat sekaligus guru Charles Olke Van der Plas dan rekan lainnya di kantor Het Kantoor von Inlandche Zaken, Penasehat Urusan Bahasa-bahasa Timur dan Hukum Islam, dibantu untuk mendapatkan satu bagian penuh prosentase dari dana lotre/judi. Syaratnya, tentu beda dengan Ihya’ at Turats, yakni kolonial Belanda meminta Surkati mendirikan Stichting Al Irsyad Al Islamiyyah, yang akhirnya berdiri di hadapan notaris Michiel de Hondt Akte no 73 tanggal 22 Oktober 1934. Al Irsyad adalah organisasi pertama penerima dana lotre/judi yang dihalalkan hanya karena tujuannya baik. Tujuan menghalalkan segala cara ?

http://img144.imageshack.us/img144/3839/image0293if2.jpg

Disini Hussein Badjerei mengungkapkan informasi “berharga” bahwa “"Stichting Al-Irsyad Al-Islamiyyah" didirikan sebagai landasan hukum agar dapat mencairkan uang lotre penjajah kafir najis Belanda!! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Padahal pada tahun 1930, Al-Irsyad sebagai suatu perhimpunan sudah diluluskan permintaannya untuk menikmati uang lotre penjajah kafir Belanda sebesar 2% atau sekitar f.10.000,- sesuai keputusan Direktur Van Justitie tanggal 14/3/1930 (AMSB, hal.50)

http://img152.imageshack.us/img152/9752/image0296tn3.jpg

Berapa besarkah nilai f.10.000 pada saat itu? Sebagai gambaran, gaji Soerkati ketika itu f.200 dan gaji Abdullah Badjerei (murid kesayangannya yang diangkatnya sebagai guru) sebesar f.30 yang jika ditukar seluruhnya dengan beras akan diperoleh sekitar 1,2 ton. Sehingga f.10.000 uang lotre tersebut setara dengan beras sebanyak 399,99 ton beras, dengan harga Maret 2007 1 kg = Rp. 6000, identik Rp. 2.4 milyar ! Maka sungguh jumlah yang sangat fantastis bagi rakyat Indonesia yang saat itu dalam keadaan dijajah oleh kolonialis kafir Belanda, sekaligus sangat fantastis nilai keridloan kolonial kafir Belanda pada sahabatnya !

Sebenarnya, langkah nekad As-Surkati Syaikh ‘Salafy Al-Irsyad’ dalam menghalalkan dan menerima uang lotre dari penjajah kafir Belanda bukannya tidak mendapat tantangan, A. Hassan dari Persatuan Islam (Persis) dengan tegas menyatakannya sebagai uang haram: “Al-Irsyad merupakan perhimpunan Islam pertama yang menerima bagian uang lotre. Saat itu ada yang setuju, ada pula yang menentang. Majalah Pembela Islam yang diterbitkan oleh Persatuan Islam (Persis) asuhan A. Hasan dalam Bab Fatwanya telah menyatakan bahwa lotre itu hukumnya haram, bertentangan dengan pendapat Ahmad Soerkati dan beberapa ulama Islam di Kairo yang telah MENGHALALKANNYA KARENA MAKSUD DAN TUJUANNYA BAIK. Alasan yang dikemukakan ketika mengajukan permohonan dana adalah untuk membangun sebuah gedung sekolah”.(ibid, hal.50)

http://img152.imageshack.us/img152/9752/image0296tn3.jpg

Demikianlah, orang yang dipuji sebagai “Asy-Syaikh Al-‘Allamah yang memerangi… kesesatan” ternyata menghalalkan dan menerima uang lotre penjajah kafir Belanda dengan alasan “maksud dan tujuannya baik!” Allahul Musta’an.

Menurut buku “Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa” hal 48-49, disebutkan nama-nama murid Surkati dari kalangan kolonialis Belanda yakni Dr. Charles Olke van der Plas. Dia pernah menjabat sebagai konsul Belanda di Jeddah, terakhir dia menjadi gubernur Jatim. Setelah invasi Jepang tanggal 9 Maret 1942, Van der Plas melarikan diri ke negeri kafir Australia, lantaran dia loyalitas dengan negara tersebut tentunya. Van der Plas inilah tokoh kolonial Belanda yang ingin menangkap Soekarno pada akhir September 1945 (Rosihan Anwar, 16 Agustus 2005. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0805/16/0802.htm).

Dialah tokoh dibalik kembalinya pasukan Belanda lewat Sekutu pada tanggal 15 September 1945 dengan tentara NICAnya (Netherland Indies Civil Administration). (http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia:_Era_Jepang). Bahkan dia dikabarkan turut campur dalam kancah perpolitikan di Indonesia bahkan paska kemerdekaan RI dengan operasi gabungan agen Sekutu – CIA dan M16 yang dikenal dengan Van der Plas Connection. (Di Balik Tuduhan “Kolaborator”, oleh A Supardi Adiwijaya http://www.wirantaprawira.net/bk/hutbk_6.htm).

Baik Snouck Hurgronje maupun Van Der Plas adalah misionaris, pendeta, orientalis yang terbaik yang dimiliki kolonialis kafir Belanda. Mereka ahli westernisasi, kolonisasi di Indonesia dan berpaham sekuler. Silakan baca-baca buku sejarah lagi, di benak kita waktu pelajaran PSPB dulu, Snouck Hurgronje dan Van der Plas adalah penjajah kafir Belanda yang licik dan jago memecah-belah bangsa kita. Mungkin ini sebabnya Ahmad Surkati tidak dinominasikan sebagai Pahlawan Nasional bahkan pantas disebut apa….? Betapa dekatnya Ahmad Surkati dengan petinggi kolonial, padahal rekan-rekannya Ahmad Dahlan, Wahid Hasyim, dll telah digelari sebagai pahlawan. Van der Plaspun kembali ke Indonesia dengan membonceng Sekutu kafir yang membumi-hanguskan negeri muslimin. Sementara Snouck yang pulang ke Belanda menjadi Menteri Koloni Belanda, ini masih diragukan kekafiran dan daya rusaknya atas Muslimin ? Bagaimana peran penting dia dalam memecah-belah Indonesia menjadi RIS dst ? (Puasa dan Kemerdekaan, 11 November 2002, Pikiran Rakyat bagian Berita Utama, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1102/11/0106.htm ).

Masih ingat dalam kenangan kita kisah pejuang Bung Tomo yang mempertahankan Soerabaja dari Sekutu yang dihasung oleh Van der Plas cs. Sayang fanatikus Irsyadi yang pernah bertempat tinggal di Surabaya menutup mata dengan fakta ini, lantaran Ahmad Surkati benar-benar dekat dengan mereka berdua, Van der Plas dan Snouck, sebagai sahabat, murid dan penjajah. Simak AMSB hal 48-49 pada url di bawah ini.

http://img144.imageshack.us/img144/3839/image0293if2.jpg

Snouck Hurgronje

Snouck Hurgronye, peletak dasar kebijakan Islam Politiek, merupakan tokoh penting peletak pembaratan/westernisasi Islam pribumi yang kini diteruskan oleh para pewarisnya di Indonesia. Snouck lahir tanggal 8 Februari 1857 di Oosterhout Belanda, merupakan anak keempat dari pasangan Pendeta JJ Snouck Hurgronje dan Anna Maria. Nama depannya diambilkan dari nama kakeknya, pendeta D Christiaan de Visser.  Pada tahun 1874 selepas dari pendidikan HBS di Breda, ia melanjutkan ke Fakultas Teologi Universitas Leiden. Tahun 1878 ia lulus kandidat sarjana muda kemudian ia meneruskan ke Fakultas Sastra Universitas Leiden. Semasa di Universitas Leiden, Snouck dibimbing oleh para tokoh aliran modernis Leiden, seperti CP Tieles, LWE Rauwenhoff, Abraham Kuenen, MJ de Goeje. (Strategi Belanda Melumpuhkan Islam", Biografi C. Snouck Hurgronje. Penerbit Pustaka Pelajar). Lihat darah pendeta dari bapak, kakek mengalir deras di otak Snouck Hurgronje, hingga nantinya Snouck meminang putri pendeta.

Mengutip buku AMSB, biarlah fanatikus Al Irsyad ini berkisah jujur. Di halaman 18-19 ditulis :  “Maka Pemerintah di Negeri Belanda merasa perlu untuk menurunkan para spesialis kolonialisnya, para konsultan dan cendekiawannya guna melakukan berbagai penelitian dan penyelidikan lebih lanjut tentang Islam, khususnya Islam di Indonesia. Di antara sekian nama, yang paling menonjol dan dapat disebut legendaris adalah seorang sarjana: Prof. Dr. Snouck Hurgronje.” http://img144.imageshack.us/img144/8965/image0313ir2.jpg

Nah, kini pembaca telah jelas bahwa Snouck Hurgronje adalah spesialis orientalis dari kolonialis kafir Belanda.

Menurut AMSB halaman hal 20, tahun 1889 Prof. Dr. Christian Snouck Hurgonje bertugas di Indonesia sebagai penasehat di Het Kantoor von Inlandche Zaken, Penasehat Urusan Bahasa-bahasa Timur dan Hukum Islam. Tahun 1899 diangkat menjadi Penasehat Urusan Pribumi dan Arab. Ini adalah kantor pelaksana utama politik pemerintah kolonial Belanda yang dirintis Snouck. Sebelumnya kita telah mengenal Snouck bahwa orang ini adalah seorang Nasrani yang berpura-pura masuk Islam. Disini nampak jelas, tujuan ditugaskan Snouck adalah sebagai upaya pemerintah kuffar Belanda mengenal lebih jelas Islam dan muslimin sehingga mudah untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Iya, meminjam istilah Abu Salma maka Snouck ini termasuk “salafnya” guru besar dari agen-agen rahasia/intelijen “CIA”nya Belanda! Benar, agen rahasia kuffar ! http://img142.imageshack.us/img142/121/image0292sr0.jpg

Pada buku halaman 46-47 AMSB,  disebutkan murid-murid Surkati selain Snouck Hurgronje dan Van Der Plas yakni Sholah Al Bakri yang terkenal dengan ucapannya “Kalau matahari telah terbit dari Barat, barulah saya berpaling dari Al Irsyad.” Umar Salim Hubeish yang melahirkan murid seperti Tarmizi Taher, mantan Menag, pendukung JIL yang akhir-akhir ini hasil cetakannya yang menjiplak tulisan ustadz Abu Hamzah (tanpa ridha beliau) ternyata dikendarai oleh Kang Bilali dan Abu Salma untuk melemparkan fitnah terhadap beliau, bahwa beliau “berhubungan dengan JIL! Yang ternyata setelah dirunut nasabnya, Tarmizi Taher ini masih termasuk “cucu murid” As-Surkati!! Boomerang, wahai Abu Salma?!

http://img150.imageshack.us/img150/6564/image0294fb6.jpg

Bagi rakyat Aceh, Snouck adalah pengkhianat tanpa tanding. C. Snouck Hurgronje, seorang profesor kajian Islam di Universitas Leyden meneliti seputar muslimin Aceh pada 1894. Lantas dipaparkan “strategi benteng,” yang dibuat untuk memperlemah para gerilyawan, kemudian diterapkan rezim kolonial Belanda di Aceh. Dia bisa memetakan kekuatan politik Aceh, memetakan struktur perlawanan jihad rakyat Aceh.  Dengan kedok sebagai ilmuwan dan peneliti, memanipulasi tugas keilmuan menjadi politik. Pengamatannya menghasilkan tulisan Atjeh Verslag, berisi laporan kepada Belanda tentang alasan mengapa Aceh harus diperangi. Tak cukup dengan catatan itu, Snouck kemudian membuat buku, De Atjehers, yang memaparkan secara lengkap struktur masyarakat Aceh, kebudayaan, sampai posisi ulama.

Segera buku itu menjadi terkenal, bahkan mendapat pujian dari para orientalis sebagai karya yang secara lengkap mengupas kebudayaan Islam di Aceh. Bagi Belanda, karya itu menjadi rujukan untuk menyusun taktik menghadapi perlawanan dan jihad rakyat Aceh. Dan terbukti, Aceh pun kemudian dapat dikalahkan. Inilah prestasi gemilang strategi adu domba ala Snouck Hurgronje. (Snouck Hurgronje, Memahami Agama, Memenangkan Belanda, Suara Merdeka kolom Tokoh karya Aulia A Muhammad http://www.suaramerdeka.com/cybernews/layar/tokoh/tokoh32.html). Dan politiknya untuk menguasai Jawa adalah dengan memanjakan ulamanya, salah satunya yang tidak ragu lagi dirayu adalah guru besar A.S., Ahmad Surkati.

Dr. P. Sj. Van Koningsveld dalam bukunya Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Jakarta, 1989) menggambarkan kemungkinan Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat (1989: 95-107). Dr. P. Sj. Van Koningsveld dalam bukunya Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Jakarta, 1989) menggambarkan kemungkinan Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat (1989: 95-107). Van Koningsveld juga memberikan petunjuk-petunjuk yang memberikan kesan ketidaktulusan Snouck Hurgronje masuk Islam. Dia masuk Islam hanyalah untuk melancarkan tugasnya atau tujuannya yang hendak mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia, jadi bersifat politik–bukan ilmiah murni.

 Tanggal 12 Maret 1906 Snouck kembali ke negeri Belanda. Ia diangkat sebagai Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada Universitas Leiden. Disamping itu ia juga mengajar para calon-calon Zending di Oestgeest. Pada tahun 1910, di Belanda, ia kawin dengan Ida Maria, putri seorang pensiunan pendeta liberal di Zutphen, Dr AJ Oort. Setelah dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Leiden pada 1907 (tiga tahun setelah kawin), ia menekuni profesi sebagai penasihat Menteri Urusan Koloni. Pekerjaan ini diemban hingga akhir hayatnya pada tahun 1936 di usianya yang ke 81 tahun.  

Pembesar orientalis kafir Belanda ini sempat berangan-angan, Snouck Hurgronje berkata : "Pada zaman skeptik kita ini, sangat sedikit sekali yang di atas kritik, dan suatu hari nanti kita mungkin mengharapkan untuk mendengar bahwa Muhammad tidak pernah ada.” Harapan Hurgronje ini selanjutnya terealisasikan dalam pemikiran Klimovich, yang menulis sebuah artikel diterbitkan pada tahun 1930 dengan berjudul "Did Muhammad Exist?" Dalam artikel tersebut, Klimovich menyimpulkan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Muhammad adalah buatan belaka. Muhammad adalah “fiksi yang wajib” karena selalu ada asumsi “setiap agama harus mempunyai pendiri”. Sikap para orientalis seperti itu tidak bisa disederhanakan kategorisasinya menjadi orientalis klasik yang berbeda dengan orientalis kontemporer. (Melihat Wajah Barat dan ‘Copy-paste’ nya, tulisan Ghazali N.I)

Banyak sekali ucapan miring Snouck Hurgronje atas Islam, Rasulullah, yang pantas disebut ‘kafir munafik’ , dia pernah berkata : “Sistem Islam menjadi sangat kaku dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan abad baru. Hanya melalui organisasi pendidikan berskala luas dan atas dasar yang universal serta netral secara agamis, pemerintah kolonial dapat "membebaskan" atau melepaskan Muslimin dari agama mereka. Ditulis oleh Karel A. Steenbrink, 1995: 122. (Dr. Haikal, Dinamika Muhammadiyah menuju Indonesia Baru. http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/25/husainhaikal.htm)

Jelas sampai akhir hayatnya dia tetaplah penjajah Belanda, pakar westernisasi, pembaratan, orientalis, munafik yang siap merusak negeri-negeri muslimin sebagai koloninya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Snouck_Hurgronje)

Snouck inilah yang berusaha untuk merusak definisi syar’i tentang "orang kafir-penjajah Belanda" dan memberikan rekomendasi untuk menumpas jihad fi sabilillah yang dikumandangkan oleh kaum muslimin Aceh dan sekitarnya!!

"…Snouck berpendapat bahwa orang kafir adalah (a-peny) orang yang belum tahu dan (b-peny) tidak mau tahu. Orang yang belum tahu haruslah diberitahu, dididik. Dalam kelompok ini termasuk Pemerintah Kolonial Belanda itu sendiri. Orang yang tidak mau tahu haruslah dikerasi. Islam Politik, termasuk Islam Aceh, dimasukkan dalam golongan ini karena itu harus dikerasi"(ibid, hal.23).

Snouck ini pula yang merekomendasikan untuk melakukan Westernisasi  umat Islam Indonesia (rekomendasi nomor 3 dan 4, hal.22-23) dan tugas "Whiteman’s Burden-Tugas Suci Orang Barat/Neo Gospel" ini sekarang telah dilanjutkan oleh JIL dkk.

Sementara kecintaan dan loyalitas Ahmad Surkati atas Snouck Hurgronje terus menggebu-gebu sampai-sampai ingin mengunjunginya ke negeri Belanda. SAYANG SEJARAH URUNG MENJADI SAKSI karena As-Surkati keburu mendapatkan berita bahwa sahabatnya Snouck telah meninggal ! Apakah As-Surkati gembira ataukah justru terharu sedih mendengar berita kematian ini? Tentu Firanda akan menjawab: “Tentunya kita semua mengetahui jawabannya.” (Lerai…, hal.154).

Menurut buku AMSB halaman 63 menyatakan :  “Terhadap Snouck Hurgronje, Surkati menaruh simpati karena menilai bahwa Snouck ini memang pandai berbahasa Arab… Kepada Snouck, Surkati memang berkorespondensi, bahkan semula bermaksud akan mengunjunginya ke negeri Belanda yang kemudian dibatalkannya karena mendapat berita bahwa Snouck meninggal dunia tahun 1936 itu.”

http://img137.imageshack.us/img137/8769/image0311po7.jpg

Inilah petunjuk jelas secara perbuatan dhohir menunjukkan loyalitas tinggi Ahmad Surkati atas Snouck Hurgronje dan disaksikan oleh penerjemah tunggal dan asistennya, Abdullah Badjerei.

Kendati Hussein Badjerei sendiri mengakui adanya westernisasi dari Snouck Hurgronje ini, di halaman hal 75 buku AMSB  :  “Dengan bertopang kepada wawasan-budaya inilah Budi Utomo, Al Irsyad dan lain-lain bersama-sama menghadang serangan sengit westernisasi Snouck Hurgronje.”

http://img133.imageshack.us/img133/1228/image0299bz6.jpg


Koreksi ! M. Abduh bukan Muhammad Abdul Wahhab

Menurut Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, halaman 9 disebutkan bahwa Jamaluddin Al Afghani didukung sahabat dan pengikutnya Muhammad Abduh, keduanya menerbitkan majalah Al Urwatul Wutsqaa di Paris tahun 1884 M.

Sementara pengikut aliran Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, mendefinisikan Wahabi di halaman 8 dari buku AMSB. http://img261.imageshack.us/img261/8453/image0288av3.jpg
Pantaslah Ahmad Surkati menolak disebut Wahabi di buku AMSB halaman 58, sebagai pengikut syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena dia pengikut Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Rasyid Ridlo.

http://img151.imageshack.us/img151/2849/image0295ph2.jpg

Lantas di halaman 28 AMSB, Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Ahmad Surkati bertekad bersama-sama mengembangkan pemikiran Muhammad Abduh di Indonesia.

http://img220.imageshack.us/img220/3430/image0289et0.jpg

Lantaran cintanya pada Ahmad Dahlan sesama Abduh-ers, Ahmad Surkati menyanjung bahwa Ahmad Dahlan adalah Waliyullah dalam syairnya, dikutip di buku AMSB hal 66.

Diperkuat tulisan yang dikutip Hussein Badjerei sendiri di buku AMSB, hal 108 : “Dengan demikian pula jelas sekali bahwa pembaharuan yang diajarkan Al Irsyad mempunyai arti dan pengaruh politis jangka panjang, sesuai dengan garis pokok konsepsi Muhammad ‘Abduh.”

http://img178.imageshack.us/img178/1633/image0301tr2.jpg

Di halaman hal 114 dinyatakan dengan kesepakatan penulis AMSB bahwa : “Kongres memutuskan bahwa Al Irsyad dan Muhammadiyah bukanlah Wahabi, keduanya pun tidak menyimpang dari madzhab…”  http://img261.imageshack.us/img261/1566/image0306qc4.jpg

Jelas sekali, karena Al Irsyad dengan Tafsir Al Maanar, Muhammad Abduh, Rasyid Ridlonya tidak mau dan tidak tepat disebut Wahabi, gelar yang sering dinisbahkan bagi pengikut ulama Salafi syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab oleh musuh-musuh Sunnah.

Lantas Hussein Badjerei mengisahkan di halaman 10-11 AMSB bahwa dakwah Muhammad Abduh dengan tafsir Al Manaarnya, serta Rasyid Ridlo diketahui berkembang pesat di Indonesia menurut Abdullah Badjerei.

http://img142.imageshack.us/img142/3453/image0312gr1.jpg

Keanehan Al Irsyad dan Ahmad Surkati

Selain yang telah dikutip diatas, di halaman 35 buku AMSB ditulis bahwa Ahmad Surkati mempelajari Falsafah/Filsafat dan juga menyatakan bertekad “mati di Jawa dengan berjihad, lebih suci daripada mati di Makkah tanpa jihad.”

http://img150.imageshack.us/img150/7619/image0314ia9.jpg

Pada sebuah acara bid’ah yang diyakini murid Surkati juga sebagai bid’ah, ternyata ada perlakuan aneh di acara Maulid Barzanji tersebut. Di halaman 36 buku AMSB, murid Surkati tetap duduk karena dalam acara Maulid yang dikhayalkan Rasulullah hadir sehingga perlu disambut dengan berdiri. Sementara Ahmad Surkati sendiri berdiri, dia menyalahkan muridnya yang duduk dengan berkata : “Kalau saya duduk seperti kalian pada upacara tadi pintu untuk saya berdialog dengan mereka sudah pasti tertutup.” (penuturan Abdullah Badjerei)

http://img100.imageshack.us/img100/1278/image0290ai7.jpg

Di halaman 37, Surkati sendiri berkomentar kepada Abdullah Badjerei tentang Semaun yang memperlihatkan jiwa besar dan watak kepemimpinan, Surkati : “anaa uhibbu haadza’rrajula katsiiran…”; “Saya suka sekali orang ini,… karena keyakinannya yang demikian kokoh dan jujur, bahwa dengan komunismelah tanah-airnya dapat dimerdekakan”. http://img100.imageshack.us/img100/1278/image0290ai7.jpg

Betapa anehnya Syaikh ‘Salafi’ yang satu ini (baca:As-Surkati), bukan hanya keanehan manhajnya terhadap Semaun PKI saja, tetapi juga sikapnya kepada pejabat kolonial Belanda-pun dikasih-sayangi dan dimuridkan, padahal di atas kesesatan, sementara dengan pengikut Syaikh Muhammad Abdul Wahhab yang membela Tauhid dan Sunnah disebutnya sebagai Wahabi, keras, dst.

Selain akrab dan bersahabat dengan pejabat kolonialisme Belanda, di halaman 66, anak buah Ahmad Surkati bernama Hasan Saleh Arghubi. Dia adalah Kapten Arab yang diangkat kolonial Belanda menggantikan mertuanya Umar Yusuf Manggusy pada tanggal 15 Mei 1931. Ya, dia Irsyadi menjadi pengikut Surkati sekaligus pegawai setia kafir Belanda.

Al Irsyad masa lalu dan masa sekarang, sebagaimana layaknya organisasi hizbiyyah, penuh dengan intrik, perebutan kekuasaan, perseteruan, lantas Hussein Badjerei di hal 92 mengatakan pendusta pada musuhnya :  “… surat kabar yang suka memuat berita dari sumber-sumber pendusta – min ba’dil kadzdzaabiin.”

Al Irsyad dulu dan sekarang sama saja, setali tiga uang, kita pernah menyaksikan ‘album keluarga’ di sebuah situs Al Irsyad dan direkam di majalah Info Al Irsyad yang dipegang Irsyadiyyin. Rupanya sejak dulu kala menurut AMSB di halaman 108 disebutkan : “Buku pelajaran dengan ilustrasi gambar manusia, dipakai di sekolah-sekolah Al Irsyad, yang ketika masih banyak ulama yang men-tabu-kan penggunaannya. Bahasa Belanda diberikan sebanyak 3 jam…”. http://img178.imageshack.us/img178/1633/image0301tr2.jpg

Ya, sejak dahulu kala Al Irsyad sampai sekarang menghalalkan gambar, termasuk kadernya dari PW Al Irsyad Jatim yang illegal, Cholid Bawazeer yang mengomandani perusahaan Siwak-F ternyata memproduksi Siwak-F Junior lengkap dengan ilustrasi kelinci sedang bersikat gigi dan anak buahnya Abu Salma santai saja. Simaklah kelihaian pendekar seribu satu helah ini dalam berfatwa: “Karena produk tsb adalah halal maka harus ada dalil pasti yang mengharamkannya. Adapun kemasan yg bergambar makhluk hidup, maka itu masalah lain dengan kehalalan produk” (Shilaturrahim ,fatwa no.14).

Masalah lain…yassalam!!

Pada halaman 109 disebutkan Prof. Dr. H.M. Rasjidi lulusan Al Irsyad Lawang, dia mengaku dididik langsung oleh Ahmad Surkati, diangkat olehnya sebagai asistennya salah satu sebabnya lantaran hafal buku Logika Aristoteles berjudul Matan As Sullam.

http://img178.imageshack.us/img178/1633/image0301tr2.jpg

Disini nyata bahwa Surkati menghargai Filsafat kafir Aristoteles dan yang orang yang telah menguasainya, sesuai dengan keadaan dirinya yang juga mempelajari filsafat.

Irsyadi, itu sebutannya. DI halaman 123 AMSB dikutip :  “IRSHADI, begitulah mereka menamakan golongan mereka itu…”

http://img120.imageshack.us/img120/6181/image0302jm0.jpg

Acara hizbiyyah di Al Irsyad ?  Itu landasannya. Di halaman 142 AMSB disebutkan : ”Para peserta Kongres telah dibai’at oleh Ahmad Surkati, yaitu mereka menyatakan bersedia tunduk pada segala keputusan Hoofdkwartier, baik keputusan itu berkenan di hati masing-masing maupun tidak. Hoofdkwartier terdiri dari : Ahmad Surkati sebagai Ketua, Awad Albargi sebagai Sekretaris, Abdullah Badjerei, Umar Naji dan Umar Hubeish sebagai Anggota”. http://img401.imageshack.us/img401/5871/image0303iq0.jpg

Inilah ciri khas dakwah Hizbiyyah, baiat/sumpah setia dalam keadaan melanggar syariat atau tidak.

Diperkuat di halaman 60-61 : ”Para peserta Konggres akhirnya telah dibai’at oleh Ahmad Surkati dengan menyatakan akan tunduk pada segala keputusan yang akan dikeluarkan Hoofdkwartier, baik sesuai maupun tidak sesuai dengan kehendak hati masing-masing. Hoofdkwartier terdiri dari : S. Ahmad Surkati sebagai Ketua, Awab Albarqie sebagai Sekretaris, Abdullah Badjerei, Umar Naji dan Umar Hubeish sebagai Anggota…”.

http://img151.imageshack.us/img151/9692/image0315uu2.jpg

Silakan cari takwilnya, wahai pejabat PC Al Irsyad Surabaya agar ummatmu tidak lari, jangan-jangan engkau juga sudah dibaiat oleh ketua PC Al Irsyad Surabaya, atau bahkan dengan ketua PW Al Irsyad Jatim, Chalid Bawazeer ?  Sirriyatud da’wah?

Kejanggalan lain, di saat Indonesia sedang dirundung krisis ekonomi, politik dst, di halaman 182 AMSB, diungkap bahwa pasukan Drum Band Al Irsyad turun saat Munas Generasi Muda Islam se Indonesia di Jakarta Desember 1964. Pada waktu pembukaan konferensi Islam Asia Afrika di Bandung 6 Maret 1965, pasukan Drum Band Al Irsyad kembali turun sambil menyanyikan lagu Mars Surkati yang Perkasa. Sayang sekali kami belum mendapatkan teks lagu wajib Al Irsyad ini. http://img408.imageshack.us/img408/9666/image0304ae1.jpg

Mungkin A.S. dkk mau berbaik hati kepada kita semua dan pengunjung webnya yang telah berjumlah puluhan ribu itu dengan menampilkan lirik Mars Syaikh ‘Salafi’ As-Surkati Yang Perkasa  di website kebanggaannya, sehingga seluruh  Irsyadiyyin dapat mengambil pelajaran agar dapat meniru keperkasaan Syaikh Salafinya? Mungkinkah pejabat setingkat kecamatan di Al-Irsyad (walaupun dari kubu yang telah diliarkan pemerintah Indonesia) sampai tidak tahu-menahu bahwa Syaikhnya punya Mars Surkati Yang Perkasa?

Pantas saja keterkenalan dakwah hizbiyyah Al Irsyad ini membikin reaksi di kalangan kader Al Irsyad, diungkap di halaman hal 211 AMSB :  “Kalau ditanya anak muda, ia akan menjawab bahwa Al Irsyad itu adalah “ad-drumband”.

http://img248.imageshack.us/img248/1362/image0305gw2.jpg

Untuk melihat landasan pembuatan buku AMSB ini, ada di halaman 256-257,

http://img262.imageshack.us/img262/2019/image0307rh1.jpg

halaman 258-259

http://img219.imageshack.us/img219/2143/image0308nh4.jpg

halaman 260-261

http://img220.imageshack.us/img220/2250/image0309ib1.jpg

dan halaman 262

http://img100.imageshack.us/img100/1940/image0310ql4.jpg

Jelas sudah permasalahan seputar keanehan Al Irsyad dan pemimpinnya ini.

Situs-Situs Gelap

Baiklah, kalau FAKTA adalah website gelap – meminjam tuduhan Abu Salma – artinya tidak jelas alamat surat situs tersebut dan nomor telpon pengelolanya (walaupun Abu Salma tidak mampu membantah bukti-bukti FAKTA yang langsung kami online-kan!!) maka marilah kita berhitung berapa banyak situs kegelapan yang menaungi dakwah anda:

  1. salafindo.*** remang-remang, agak gelap, profil mahad kosong, alamat email tidak ada, namun dapat dilihat di halaman depan pengumuman kebetulan menampilkan informasi tsb
  2. manhaj.**.** yang melulu berisikan pembelaan atas Ihya’at Turats, nampaknya pengelola situs LBIA tidak ingin situsnya ‘tercemar’ dengan gaya tulisan keras semacam Abu Salma, sehingga dibuatlah situs gelap – meminjam istilah Abu Salma- karena tanpa nomor telpon dan alamat surat sama sekali.
  3. almanhaj.**.** yang berisikan artikel-artikel, alamat pondok, jadual talim, tapi lupa menyebutkan jatidirinya, atau malu atau takut ditangkap dst ? Ini juga situs gelap menurut rekan anda sendiri. Saya usulkan yang disebut gelap ditambahkan, tanpa alamat email jelas.
  4. assunnah.**.** yang berisikan tulisan-tulisan yang out-of-date, ini adalah situs resmi milis assunnah yang jumlah pengikutnya ribuan tersebut, tapi sayang baik situs Assunnah dan milis Assunnah tersebut ternyata ‘gelap’, juga tidak ada nama alamat dan nomor telponnya, bahkan nama pengelolanya dan alamat email kontaknya. Jadi gelap gulita keadaannya, siapa yang masuk, bisa tercebur jurang, atau mungkin selokan karena saking gelapnya ?
  5. assunnah.****.** juga gelap bagi kita, karena di situsnya tidak tertulis informasi kontak sama sekali.
  6. jilbab.**.** juga gelap, nama-nama pengurusnya tidak nampak jelas di menu Profil
  7. fatwa-ulama.*** sangat gelap, tidak bisa diakses
  8. soal-jawab.*** juga gelap
  9. salafi.**.** juga gelap
  10. dll, masih banyak kalau kita buru, tapi 9 ini sudah mencukupi Insya Allah

Silakan wahai webmaster situs-situs gelap berbuat sama seperti Al Bilaly dan Abu Salma yang buru-buru meralat situsnya masing-masing paska diedarkannya tulisan ini, agar tuduhan berdasar FAKTA ini dibalik menjadi tuduhan DUSTA, tidak berdalil, tidak tabayyun, dst.

Biarlah situs ini disebut situs gelap – fakta.info.tm, kendati nama kontributornya jelas, alamat emailnya ada. Silakan gunakan alamat email kontak @ fakta.info.tm bila berminat, atau telpon ke nomor voicemailnya +44.700 598 2234, fax +44.700 585 0234.

Demikianlah “kegelapan” yang dapat saya kutipkan untuk para pembaca sekalian, tentunya kalimat keanehan, kejanggalan dan semisalnya tidaklah seperti yang ‘diramalkan’ Abu Salma, yakni untuk menghizbi-sesatkan seluruh manusia yang bergabung dalam Al Irsyad. Mengingat betapa banyak saudara-saudara kita yang tertipu dan terlena oleh “sales-sales” dakwah mereka ini, tanpa mengetahui sedikitpun akan fakta-fakta hizbiyyah yang dapat membelalakkan mata.

Sengaja tulisan ini dirilis menjawab tuduhan Abu Salma bahwa Ibrahim cs agen bermetode kuffar CIA, dst, ketahuilah saya hanyalah cleaning service serabutan, bekerja atas inisiatif sendiri, bukan suruhan, apalagi bayaran, dus apalagi piaraan makhluk manapun dari agen-agen kuffar, apalagi penjajah kafir. Silakan ummat menilai akan jelasnya berbagai ‘keanehan’ yang mudah kita temui dan sudah sebagian kita paparkan disini, mudah-mudahan umat miris dan ngeri sehingga menjauhi Al Irsyad, Ihya’ At-Turats dan kroni-kroninya. Bagaimana nanti bila kita dicap agen kuffar Belanda karena terus mengibarkan bendera atas nama Al Irsyad dan Ahmad Surkati ? Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.

Ibrahim (Update 24/03/2007)

 Footnote :

1. “Keberadaan” seorang tokoh Islam Indonesia dari PERSIS yang bernama A.Hassan yang membantah fatwa Halalnya lotre yang dikeluarkan oleh Al-‘Allamah Irsyadiyyin As-Surkati As-Sudani sekaligus meluruskan pernyataan Syaikh Ali Hasan yang menyatakan bahwa di masa Surkati “Tidak ada pada waktu itu da’i yang menyeru manusia untuk menolak bid’ah, syirik, bahkan hadits lemah maupun palsu (selain beliau)”!! Nukilan selengkapnya: “Namun yang wajib diketahui oleh setiap yang memiliki akal dan pandangan bahwa Syaikh Surkati rhm hidup dinegeri ini 1 abad yang lalu dan pada saat itu negeri ini menjadi lahan subur bagi sufisme / tasawuf, penyembah kubur, kesyirikan, bid’ah dan kesesatan. Tidak ada pada waktu itu da’i yang menyeru manusia untuk menolak bid’ah, syirik, bahkan hadits lemah maupun palsu (selain beliau)” (Muqaddimah Daurah Ke – 5 Oleh Syaikh Ali bin Hasan, Salafindo.com)

Kalau Syaikh Ahmad As-Subaiy’i al-Kuwaiti hafidhahullah membantah sepak terjang EMAS kemaslahatan Ihya’ At-Turats sebagaimana yang digambarkan oleh Firanda dari buku induk Ihya’ (Syahadah Muhimmah) dengan menegaskan: "Kami Kuwaitiyyin lebih tahu mengenai Ihya’ At-Turats! Adapun anda?"

Maka, sesungguhnya, kamipun (Andunusiyyin!) lebih tahu tentang sejarah dakwah Islamiyyah di Indonesia! Lebih dari siapapun! Adalah wajar Syaikh Ali (dari Yordania) tergelincir melakukan kesalahan seperti ini, permasalahan yang jauh lebih besar adalah:Siapakah yang telah melakukan upaya pembusukan terhadap beliau dengan memberikan informasi-infomasi palsu dan menyesatkan seperti ini? Sungguh suatu pernyataan yang sangat berlebihan dalam menjunjung tinggi As-Sudani dan dakwahnya.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham