Hakekat Al-Irsyad (1)
KALAU MATAHARI TELAH TERBIT DARI BARAT
BARULAH SAYA AKAN BERPALING DARI AL-IRSYAD !!
(Bagian 1)
Telah berkata Abdullah bin Aun Al-Bashri Rahimahullah:
“Jika hawa nafsu telah menguasai hati, maka seseorang akan menganggap baik sesuatu yang buruk”
(Sallus Suyuf:24)
Pengekor Abdurrahman At-Tamimi Al-Kadzab Al-Hizby, Abu Salma lelaki(?) di balik hijab menulis:
"…Oleh karena itu ana tantang kalian wahai webmaster salafy.or.id untuk memberikan bayan dan hujjah atas tabdi’ kalian terhadap Syaikh As-Surkati! Ana tantang kalian, siapakah ulama salafiyyun saat ini yang mentabdi’ beliau?!! Dan atas dasar apa dan apa dalilnya?!! Ataukah kalian hanya mem’bebek’ terhadap ustadz-ustadz kalian, atau mem’bebek’ terhadap ucapan ‘Jamarto’ saddadahullahu, mantan panglima kalian?"(Webmaster salafy.or.id di Persimpangan Haddadiyah, situs Abusalma)
Kita katakan:
"Engkau bertanya tentang siapa Masyayikh Salafiyyin sekarang ini yang mentabdi’ As-Surkati As-Sudani wahai Abu Salma?! Bukankah webmaster salafy.or.id telah memberikan nama ustadz yang pertama kali menyatakannya lengkap dengan nomor HPnya?! Kenapa engkau menjadi ciut nyali untuk bertanya secara langsung kepadanya?! Kalau sudah mendapatkan jawaban, bolehlah bagi dirimu untuk memberikan bantahannya!! Ataukah justru engkau telah "mencium" harumnya fatwa itu dalam membentengi dan menjaga keselamatan manhaj kaum Muslimin sehingga dirimu menjadi "banci dan penakut" untuk bertanya kepada ustadz yang bersangkutan secara langsung dari nomor HP yang tertulis lengkap karena engkau tahu bahwa dirimu tiada kuat untuk menerima kenyataan pahit yang akan engkau dengarkan perihal nasib Syaikh Salafiyyinmu?! Namun sebelum itu, biarlah engkau baca dulu rentetan sepak terjang Syaikh Salafiyyin yang kalian bela-bela dan kami jamin –BIIDZNILLAH- kalian semua wahai Hizbiyyun Ahlul Bathil tidak akan bisa tertidur dengan nyenyak melewatkan malam setelah membaca rincian di bawah ini! Selamat menyimak!!"
Sesungguhnya, Hizbiyyun-Sururiyyun hanyalah bersandar dengan sarang laba-laba, lemah dan rapuh. Lihatlah apa yang mereka acungkan selama ini, hanyalah seputar “kami mendapatkan tazkiyah dari Syaikh ini, kami bisa mendatangkan Masyayikh itu, kami diakui kesalafiyyahannya oleh Syaikh fulan dan berbagai kalimat senada”. Padahal, lihatlah berderet-deret dan bertumpuk-tumpuk bukti kehizbiyyahan ada di depan mata, koalisi, kolonisasi, konspirasi dengan berbagai Jum’iyyah Hizbiyyah yang mereka iklankan sendiri! Kolaborasi dengan gembong-gembong besar Ikhwanul Muslimin mereka siarkan sendiri! Saling bela membela, bekerjasama antara satu dengan yang lain! Menadah, menyebarkan dan membela dinar Hizbiyyah tanpa ragu dan tiada rasa malu! Tidakkah rasa keimanan dan ketaqwaan mereka terusik dengan semua kepura-puraan ini? Benar bahwa ilmu kita masihlah sedikit, tidak salah bahwa kita masih penuh dengan kekurangan dan kelemahan, tetapi mengingkari dan menentangi kebenaran dan kenyataan Hizbiyyah yang mereka sebarkan sendiri? Untuk kemudian berlindung dibalik secarik kertas yang memuji mereka? Sungguh ini adalah malapetaka dan pintu kebinasaan yang tidak terbantahkan.
Alangkah tragisnya bahwa sebanyak apapun bukti ilmiyyah yang kita sodorkan dan sebanyak itu pula saksi yang kita hadirkan maka semua pembuktian itu tiada berarti sama sekali bagi Hizbiyyun-Sururiyyun-Turotsiyyun. Inilah “puncak hujjah ilmiyyah dan dalil shahih yang lebih tepatnya merupakan puncak dari fanatisme!” mereka:
“Adapun apa yg antum utarakan ttg Al-Irsyad dan ‘tetek bengek’nya plus
menyebarnya Majalah as-Sunnah dll ke Kuwait, itu bukanlah hujjah ‘alaina
yang memudharatkan dakwah sama sekali,…” ( email Abu Salma amman@yahoo.com> kepada Abdurrahman Sarijan Kuwait)
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ketika anda membaca berbagai bukti “kebengkokan dakwah” Ahmad Surkati dan Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang dipamerkan oleh situs resmi organisasi ini (alirsyad.or.id & infoalirsyad.com), majalah resmi Ma’had Al-Irsyad (Neo Adz-Dzakhiirah), situs resmi Ma’had Al-Irsyad (salafi.or.id/Salafindo.com), Majalah asli Ahmad Surkati (Majalah Adz-Dzakhiirah edisi berbahasa arab), buku resmi sejarah Al-Irsyad yang ditulis oleh Hussein Badjerei (Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa) yang kemudian disebarluaskan oleh PP. Al-Irsyad Al-Islamiyyah dan dipropagandakan pula oleh situs resmi organisasi Al-Irsyad, maka kami ingatkan kepada pembaca sekalian bahwa Ahmad Surkati inilah yang dipuji habis-habisan oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby Al-Atsary yang diundang oleh PP.Al-Irsyad Al-Islamiyyah untuk datang ke Indonesia. Daurah para da’i Hizbiyyin-Sururiyyin seluruh Indonesia di Wisma Erni, Lawang adalah rangkaian acara berikutnya.
Beliau pada tanggal 5 Desember 2004 telah memberikan pujian dan tazkiyah luar biasa kepada Ahmad Surkati di Masjid Istiqlal Jakarta dihadapan kaum Muslimin Indonesia yang berduyun-duyun mendatangi dan mendengarkan ceramahnya. Sungguh –Demi Allah- pujian yang sama sekali tidak layak diberikan kepadanya!! Anda akan mendapati kenyataan –yang tidak terbantahkan!- dari sumber Hizbiyyin sendiri bahwa Ahmad Surkati ternyata menyayangi seorang gembong PKI, lihat ucapannya kepada Semaun Komunis (di sela-sela acara Kongres Al-Islam Pertama di Cirebon tanggal 31-10-1922 s/d 2-11-1922): “Ana Uhibbu Haadzar Rajuula Katsiiraa”, ucapan keji yang justru keluar ketika Ahmad Surkati tidak mampu meyakinkan kepada Semaun PKI bahwa komunis adalah ajaran sesat-kafir buatan manusia! Kecintaannya kepada Semaun yang murtad menjadi seorang PKI “karena keyakinannya yang demikian kokoh dan jujur bahwa hanya dengan komunisme-lah tanah airnya dapat dimerdekakan”! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sedikit informasi mengenai Semaun, dia bersama Alimin dan Darsono memisahkan diri dari SI (Sarekat Islam pimpinan H.O.S Tjokroaminoto dan H.Agus Salim) dan mendirikan PKI (Partai Komunis Indonesia). Karena mereka berasal dari SI maka organisasi PKI pertama ini disebut juga SI Merah. Pemimpin PKI lainnya adalah Tan Malaka dan Muso. Dan Muso inilah yang memimpin pemberontakan berdarah kepada Negara RI pada tahun 1948! Alhamdulillah PKI ketika itu dapat ditumpas!
Ahmad Surkati juga mengagumi seorang gembong besar Orientalis, seorang kafir yang memiliki jasa dan peran besar bagi dunia orientalisme, missionarisme dan kolonialisme/penjajahan, Christian Snouck Hurgronje. Sebagian besar umurnya dihabiskan untuk mempelajari Islam dan kaum Muslimin dalam upayanya untuk memerangi dan menumpas jihad fi Sabilillah yang dikobarkan oleh umat Islam Indonesia dan negara-negara jajahan Belanda lainnya, khususnya umat Islam Aceh yang terkenal karena kegigihannya dalam berjihad melawan penjajah kafir Belanda. Untuk tujuan itu bahkan Snouck rela bermukim di Mekah untuk mempelajari berbagai seluk beluk agama Islam. Ahmad Surkati bahkan berencana mengunjunginya ke negeri Belanda tetapi urung dilakukannya karena Snouck keburu mati. Alhamdulillah!! Dan bersyukurlah kalian wahai Hizbul Irsyad karena “sejarah” urung menjadi saksi pertemuan yang mengharukan ini!! Ya, antara gembong Hizbul Irsyad dengan gembong Orientalisten-Missionaristen-Kolonialisten!! Sekali lagi, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un untuk pujian Syaikh Ali terhadap Surkati.
Dan inilah pujian luar biasa dari Syaikh Ali bin Hasan terhadap Ahmad Surkati di Masjid Istiqlal Jakarta:
"وإننا لنحمد الله تعالى أن وفق لهذه البلاد في القرن الماضي في أوائله عالما قوم المسير وصحح المسار والاعتبار وهو الشيخ العلامة أحمد السركتي رحمه الله الذي دعا إلى الكتاب والسنة ورد الخرافات والشركيات والأحاديث الضعيفة والبدع والضلالات وعمل على توحيد هذه البلاد
على هذا العلم الصافي والنهج الكافي"
“Kita bersyukur kepada Allah, sebab di awal abad ini, Allah telah menempatkan seorang alim,
yaitu Syaikh ‘Allamah Ahmad Asy Syurkati
yang meluruskan garis perjuangan, berdakwah kepada Al Kitab dan Sunnah,
memerangi syirik, khurafat, kesesatan, menyeleksi hadits yang dha’if dan memerangi bid’ah.
Tokoh ini telah bekerja untuk mentauhidkan masyarakat negeri ini
berdasarkan ilmu yang murni dan manhaj yang benar”
(As-Sunnah “At-Turotsy”,Ed.11/Tahun VIII/1425H/2005M, hal.32)
SANGAT MEMILUKAN bahwa “mega(hizbi)proyek manipulasi informasi” tentang Ahmad Surkati telah menghasilkan pujian dan sanjungan yang luar biasa, simaklah kalimat pujian lainnya:”BUKAN SAJA DIA (AHMAD SURKATI-PENY) SEORANG SALAFI, BAHKAN DIA ADALAH SYAIKH SALAFIYYIN”. Kita akan mengukur, sejauh mana pujian tersebut bersesuaian dengan kenyataan yang sesungguhnya?! Apakah Salafiyyin dapat menerima keadaan “syaikhnya” yang katanya “Salafi” ini?
Syaikh Ali bin Hasan berkata:
“Kita semua ini adalah manusia dan kita semua berbuat kesalahan, namun menuduh seseorang tanpa ada bukti, maka tuduhan tak berdasar tidaklah diterima di dalam agama. Kami telah katakan berulang kali, supaya tidak (meniti) kepada jalan ini, manhaj ini dan orang yang mempraktekan manhaj atau jalan ini, dia tidaklah menghancurkan seorangpun melainkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, kita harus menutup pintu dari mentalitas yang seperti ini…” (Nasehat Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Musa Nasr, abusalma.bahaya.net)
Syaikh Musa Nasr juga berkata:
”Apakah kita tidak seharusnya melaksanakan apa yang diwasiatkan Allah kepada kita, yaitu untuk saling berwasiat kepada kebenaran dan saling berwasiat di atas kesabaran? Dan saling mengajak kepada kebenaran dan kesabaran daripada bersembunyi di balik tembok?
Ini adalah suatu musykilah (problema), setelah malam berganti siang, tidaklah mungkin menuduh seseorang sebagai hizbiyah tanpa bukti, dan ucapan ini sangat jauh dari adanya bukti, tidak ada bukti pada ucapan mereka!” (ibid)
Kita katakan : “Alhamdulillah bahwa tidaklah kita katakan mereka ini Hizbiyyun-Sururiyyun kecuali kita sertakan pula bukti-buktinya, dan uraian di bawah ini adalah lanjutan dari bertumpuk-tumpuk bukti ilmiyyah yang kami hadirkan wahai Syaikh kami”
Juga ucapan Syaikh Ali bin Hasan :
“Kebenaran itu lebih besar dari seorangpun diantara kami dan setiap orang harus saling mengingatkan satu dengan lainnya dengan cara terbaik dan menyeru lainnya kepada hal tersebut”.(ibid)
Syaikh Salim Al-Hilaly juga berkata:
”…Maka syaikh itu akan menjawab dengan jawaban yang mereka kehendaki bahwa syaikh itu akan menjawab demikian. Karena, mereka mencari fatwa tertentu yang sebenarnya mereka kehendaki… mereka mencari fatwa tertentu yang sebenarnya sedang mereka inginkan….
Padahal ada beberapa hal… ada banyak hal, yang kalian tidak bisa memberikan fatwa yang tepat kecuali jika kalian benar-benar memahami situasi dan kondisi yang melingkupi permasalahan ini, dan inilah sesuatu yang tidak mereka sampaikan… inilah sesuatu yang tidak mereka sampaikan (kepada masyaikh)…” (Transkrip Ceramah Syaikh Salim Al-Hilaly, abusalma.bahaya.net)
Dengan izin Allah akan kita buktikan bahwa ceramah Syaikh Salim Al-Hilaly (yang dirilis dan disebarluaskan oleh situs Abu Salma (lelaki? di balik cadar) yang tidak lebih dari kaki tangan Ma’had Al-Irsyad) lebih pantas tertuju kepada komunitas hizbiyyin yang selama ini dikunjungi secara rutin oleh Masyayikh Yordan dan bahkan beliau tazkiyah sebagaimana ucapan Syaikh Salim :
”Kami pergi mengunjungi Indonesia dan yang kami kunjungi di sana adalah Salafiyyin (Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya,pent)“.(ibid)
Ada beberapa kejanggalan isi transkrip ceramah Syaikh Salim Al-Hilaly yang on-line disebarkan oleh situs Abusalma, antara lain:
1.Ketika Syaikh menyebutkan bahwa Salafiyyah tidak dapat dimiliki oleh suatu komunitas ataupun suatu jama’ah tertentu :
“Kalian harus faham… bahwa salafiyah lebih luas daripada hal ini Salafiyah lebih besar dari yang demikian ini. Salafiyah tidak dapat dimiliki oleh satu kelompok, suatu komunitas ataupun suatu jama’ah tertentu. Hal ini haruslah difahami karena hal ini telah melahirkan banyak kebingungan di dalam fikiran dan memecah belah hati serta menciptakan problematika yang mengerikan” ternyata pada bagian lain ceramahnya justru menyatakan bahwa QSS (Qur’an Sunnah Society) adalah organisasi salafi satu-satunya di Amerika utara :
” Orang yang sama ini juga berbicara tentang QSS (Qur’an Sunnah Society), ORGANISASI SALAFI PERTAMA…ORGANISASI SALAFI SATU-SATUNYA DAN PERTAMA DI AMERIKA UTARA… orang-orang ini berkata kepada syaikh Rabi’ bahwa QSS adalah sururi dan dijalankan oleh sururiyun, saya katakan : QSS adalah organisasi salafi bahkan sebelum orang ini menjadi muslim..”
Siapakah QSS (Qur’an Sunnah Society) pimpinan Abdul Mun’im Al-Leebee? Telah kita baca bagaimana Syaikh Salim Al-Hilaly mentazkiyah secara ”luar biasa” terhadap QSS (sebagaimana Tazkiyah Masyayikh Yordan kepada Sururi Indonesia) sebagai:”Organisasi Salafi satu-satunya dan pertama di Amerika Utara”. Setelah melalui lobi yang cukup panjang (sekitar satu bulan) akhirnya QSS memberikan bukti rekaman suara (yang katanya) adalah suara Syaikh Salim Al-Hilaly yang telah ditranskrip ke dalam bahasa Inggris dan kemudian disebarluaskan oleh situs Sururiy-Surkatiy, Abusalma.bahaya.net yang juga menjadi ”bemper” berbagai tingkah polah Hizbiyyah dan kebohongan Abdurrahman At-Tamimi Al-Kadzab Al-Hizby.
Setelah rekaman suara ”Syaikh Salim” dikonversikan ke dalam bentuk MP3, Alhamdulillah sekarang pembaca dapat mendownload bukti ini di http://anti.hizbi.com/bukti/takfiri.mp3 (sumber dari qss.org) walaupun Syaikh Salim Al-Hilaly telah mengetahui bahwa pimpinan organisasi ini (QSS) Abdul Mun’im Al-Leebee telah ditahdzir oleh Syaikh Rabi’ Hafidhahullah dan Syaikh Ubaid Al-Jabiri Hafidhahullah. Fatwa Syaikh Rabi’ tentang Pimpinan QSS ini dalam bahasa Inggris dapat dilihat di;http://www.salafytalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=14&Topic=274, fatwa beliau dapat dilihat pula dilihat di www.troid.org/audio/manhaj/innovation/groupsandpartisanship/leebee.htm. Fatwa dalam bentuk suara dapat dilihat di http://www.troid.org/audio/speakers/rabee/xpleebee.ram dan xpleebeeb.ram. Adapun fatwa Syaikh Ubaid, dapat dilihat di audio dan pilih nama beliau dari daftar para ulama yang ditampilkan disana.
Situs Sururi Bule QSS termasuk salah satu link dari situs Salafyoon.net, situs resmi majalah A-Sunnah At-Turasty Al-Hizby dimana forum tanya jawabnya diasuh oleh redaksi majalah Fatawa dan di situs ini pula (di bawah judul:”Prinsip Hidup dan Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” yang ditulis oleh Lajnah Dakwah Ma’had Jamilurrahman As-Salafy Yogyakarta (At-Turots link) terang-terangan menyatakan mengikuti dan menerapkan prinsip-prinsip Abul Hasan Musthofa bin Ismail As-Sulaimanie Al-Ma’ribie Al-Mishrie Al-Hizbie, maka berhati-hatilah dari fitnah jaringan mereka!!
SURURI AMERIKA SURURI INDONESIA, APA BEDANYA?
Di sana berlindung di belakang tazkiyah Syaikh Yordan, di sini?
(sama saja!)
Di sana bersembunyi di belakang tulisan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Hafidhahullah, di sini?
(tidaklah berbeda!)
Di sana mengekor Abul Hasan wal Fitan Al-Mishri Al-Ma’ribi, di sini?
(bahkan jaringan Jamilurrahman – Majalah As-Sunnah terang-terangan menerapkan prinsipnya!)
Di sana ada QSS (Qur’an Sunnah Society), di sini?
(ada Ma’had Turotsy & Ma’had Irsyady)
Di sana ada Abdul Mun’im An-Nammam Al-Kadzdzab Al-Hizby, di sini?
(ada Abu Nida’, Ahmas Faiz At-Turotsy wa Abdurrahman At-Tamimi Al-Kadzab Al-Hizby!)
Di sana melemparkan tuduhan Haddadiy, di sini?
(mengekor juga! Plus tuduhan Bajingan Khawarij dari si Randi!)
Sururi Amerika Sururi Indonesia, apa bedanya?
Sungguh kejadian di Indonesia sama persis dengan kejadian yang dialami oleh Salafiyyin di Amerika, Kanada, bahkan di Maroko! Sama persis. Fotocopy, Xerox!!
Sururi di negeri ini dengan Sururi di Amerika sama-sama berlindung di balik tazkiyah Masyayikh Yordan!! Di Amerika, Salafiyyin berhadapan dengan kaki tangan Jum’iyyah Hizbiyyah Ihya’ut Turots dan para pembelanya, berhadapan dengan Quthbiyyun kakitangan Abul Fitan Al-Mishri Al-Ma’ribi sementara di negeri inipun Salafiyyin berhadapan dengan musuh yang sama!! Benar-benar musuh yang sama.
Walhamdulillah, Syaikh Rabi’ Hafidhahullah, Syaikh Ahmad An-Najmi Hafidhahullah, Syaikh Ubayd Al-Jabiri, Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali Hafidhahullah dan para ulama Salafiyyin lainnya tetap memberikan pembelaannya terhadap Salafiyyin yang sedang diobok-obok oleh politik uang ”money politics” yang disebarkan dan dibujukrayukan oleh berbagai Jum’iyyah Hizbiyyah kepada kaum Muslimin untuk mencabik-cabik dan memecah belah barisan dakwahnya. Semoga Allah memberikan kekuatan dan afiat kepada Masyayikh kita, kepada umat ini agar tidak terbujuk dan tergoda oleh dinar Hizbiyyah yang mereka hambur-hamburkan kepada umat. Amin.
1.Ucapan beliau : ” Kami pergi mengunjungi Indonesia dan yang kami kunjungi di sana adalah Salafiyin (Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, pent). Orang ini (Ja’far) menolak dan mengatakan bahwa kami pergi mengunjungi sururiyin. Namun ALLAH TABAROKA WA TA’ALA MENYINGKAP KEDOKNYA SEBAGAI SEORANG TAKFIRI, SEBAGAIMANA SEORANG YANG MENGKAFIRKAN SEORANG MUSLIM LAINNYA. DAN HAL INI TERJADI DI SALAH SATU PULAU DI INDONESIA, SALAH SATU DARI PENGIKUTNYA JATUH KEPADA PERBUATAN ZINA, DAN DIA (JA’FAR) PUN MERAJAMNYA… DIA MENERAPKAN HUDUD ATASNYA DAN MERAJAMNYA.
Kita telah membuktikan siapa sebenarnya yang telah dikunjungi oleh Syaikh di Surabaya, Sururi ataukah Salafi? Dan akan kita sodorkan lagi bertumpuk-tumpuk bukti siapa sebenarnya komunitas yang dikatakan oleh Syaikh sebagai ”yang kami kunjungi di sana adalah salafiyin (Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, pent)” Dan dari majalah As-Sunnah At-Turotsy telah kita ketahui siapa yang mengundang masyayikh Yordan ke Indonesia: ”…yang diselenggarakan di masjid Istiqlal, pada Ahad, 22 Syawwal 1425 H bertepatan 5 Desember 2004 M, atas undangan PP. Al-Irsyad” (AsSunnah As-Sururi/Ed.11/Th 1425H/ 2005 M)
Fakta di atas diakui pula oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman dalam sambutannya:
”Pertama-tama, kami haturkan terima kasih kepada takmir Masjid Istiqlal yang telah memberikan izin penyelenggaraan acara pada hari ini, demikian juga kepada para pengurus organisasi Al-Irsyad” (As-Sunnah Al-Hizby, ed/11/Th.V111/1425H/2005 M, hal.23)
Adapun sikap Salafiyyin terhadap Ja’far1 sudah sangat jelas, cukuplah mereka lihat adakah Salafiyyin (apalagi para da’inya) yang berjalan dan berdakwah bersama dia? Tidak ada sama sekali!
Tetapi bukan berarti kita bebas melemparkan tuduhan kepada orang yang berbuat salah.
Kita tidaklah pernah diajarkan oleh dien ini untuk bersikap dzalim meskipun kepada orang yang menyimpang, apalagi menisbatkan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Dan lihatlah bagaimana Syaikh Ali bin Hasan menekankan bahwa :”Kita semua ini adalah manusia dan kita semua berbuat kesalahan, namun menuduh seseorang tanpa ada bukti, maka tuduhan tak berdasar tidaklah diterima di dalam agama.” Manakah bukti ilmiyyah atau saksi yang dibawakan oleh transkrip Syaikh Salim Al-Hilaly ketika beliau menuduh bahwa Ja’far Umar Thalib adalah seorang Takfiri karena merajam anak buahnya? Sungguh kami yang pernah berjalan bersama dia tidaklah pernah mendengarkan, melihat maupun meyakini bahwa hukum rajam (yang dikatakan oleh Syaikh Salim) tersebut dijalankan di atas landasan pengkafiran! Rasulullah menegakkan rajam di masa kenabian Beliau dan tidak ada seorang Muslim-pun yang meyakini bahwa orang yang dirajam tersebut dikafirkan oleh Beliau atau berani menyatakan bahwa Beliau adalah seorang takfiri!! Yang pasti –tanpa kita ragu- dibalik penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh Ja’far Umar Thalib, sungguh kita tidak memiliki bukti apapun tentang ”kisah hukuman rajam” tersebut dilaksanakan karena Ja’far mengkafirkannya! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Dengan beberapa contoh kejanggalan transkrip ceramah di atas. Bagaimana tanggungjawab lelaki(?) dibalik cadar (Abu Salma) yang menyebarkannya?
Maka ketika bukti-bukti Hizbiyyah sudah terlalu menumpuk di depan mata, Allah berikan lagi khabar gembira sekaligus menyedihkan bagi Salafiyyin. Berita gembira itu adalah kesaksian saudara kita yang berasal dari Cirebon yang sekarang bermukim di Kuwait yang menjelaskan dengan rinci keterkaitan antara Jum’iyyah Hizbiyyah Ihya’ut Turots Kuwait, Yayasan As-Sunnah Cirebon, Al-Irsyad cabang Kuwait dan Al-Irsyad Al-Islamiyyah Indonesia. Kenapa rinci? Karena ikhwan kita inilah yang membawa sendiri dana (dinar Hizbiyyah) itu ke Indonesia, sebelum pada akhirnya beliau rujuk kepada Manhaj Salaf dan Alhamdulillah sampai saat ini terus belajar kepada salah satu murid dari Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Hafidhahullah yaitu Syaikh Dr. Khalid Dhahawiy Azh-Zhufairi (beliau adalah teman dari Ustadz Usamah bin Faishal Mahri), semoga kita dan mereka tetap diberi keteguhan dan perlindungan oleh Allah , amin. Adapun berita sedihnya adalah kenyataan betapa Masyayikh kita, Syaikh Salim Al-Hilaly telah hadir dalam acara Daurah Ilmiyyah ke-2 yang diselenggarakan oleh Jum’iyyah Hizbiyyah Ihya’ut Turots cabang Jahra (kita memegang CD Daurah tersebut sebagai bukti, Alhamdulillah), sungguh Jum’iyyah Hizbiyyah yang tidak perlu kita hadirkan lagi bukti kehizbiyyahannya, kita mencukupkan diri dengan berbagai keterangan dan penjelasan Masyayikh Salafiyyin tentang kesesatan Jum’iyyah ini. Inilah “cuplikan “ persaksiannya :
“Sesungguhnya kami sudah mengetahui tentang fitnah Ihya’ At-Turots + 8 tahun yang silam. Namun pada waktu kami di Indonesia, kami tidak memiliki bukti-bukti otentik. Baru ketika kami di Kuwait, kami memiliki bukti-bukti yang kami inginkan. Namun, beberapa bulan setelah kami memiliki bukti-bukti yang kami inginkan kamipun belum juga percaya dengan fitnah ini, apalagi ketika kami mendengar langsung perkataan Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy dalam Daurah Ilmiyah II yang di adakan oleh Ihya’ AtTurots cabang Jahra selama sepekan, mulai tanggal 4-9-2004, pada awal daurah Syaikh hafizhahullah mengatakan Jam’iyatuna kepada Ihya’ At-Turots Al-Islamiy.
Kami tidak berhenti sampai disitu, kami terus mencari bukti tentang Jum’iyah ini dan Alhamdulillah kami menemukan satu bukti lagi, yakni Ihya’ At-Turots telah mengundang tokoh Ihwanul Muslimin Kuwait dalam Daurah Ummul Mu’minin ‘Aisyah r.a yang diadakan oleh Ihya’ At-Turots cabang Andalus, tokoh yang diundang itu adalah DR. Muhammad Thabthaba’i2. Hal ini sebagaimana termaktub dalam majalah Al-Furqan Syaikh Muqbil rahimahullah menyebutnya dengan majalah AlFurqah (pemecah belah)- edisi:325/ 22 Dzul Qa’dah 1325H/ 3 Januari 2005, hal:40-41.Selain itu, kami juga bertanya kepada Syaikh Khalid Ad-Dufairi (murid Syaikh Rabi’ hafizhahullah) dan Syaikh Salim Al-’Ajmiy (murid Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah) tentang Jum’iyah ini. Kesimpulan jawaban mereka adalah sebagaimana fatwa-fatwa kibarul ulama, yakni kami tidak boleh belajar dengan Jum’iyah ini.” (Persaksian Abu Muhammad Abdur Rahman, Jahra-Kuwait, 13 Jumadil Awwal 1426/ 20 Juni 2005).
Padahal sebelumnya kami sangat berbesar hati atas pembelaan Masyayikh sekalian terhadap manhaj ini setelah menyaksikan buktibukti yang kami bawakan- sebagaimana ucapan Syaikh Musa Nasr :
“ Dan kita? alhamdulillah- adalah orang yang paling berhasrat menyingkirkan hizbiyah dan memeranginya dengan segala hal yang mampu kita lakukan. Kita telah dikenal dengan (sikap seperti ini terhadap hizbiyah) dan kita tidak dikenal sebagai orang yang menggadaikan agama kita dan bekerjasama dengan mereka (hizbiyun)”.(ibid)
Allahul Musta’an, hanya itulah yang mampu kita ucapkan. Namun demikian, untuk melengkapi dan membuktikan pernyataan ilmiyyah bahwa kita bukanlah tipe orang yang “bersembunyi di balik tembok”, “menuduh seseorang sebagai Hizbiyyah tanpa bukti”, ”menuduh seseorang tanpa ada bukti, maka tuduhan tak berdasar tidaklah diterima di dalam agama”, demikian juga untuk merealisasikan dan membuktikan ucapan Syaikh Ali bin Hasan : “Kebenaran itu lebih besar dari seorangpun diantara kami”, maka kami haturkan bukti lanjutan kepada Masyayikh Yordan dan kepada kaum Muslimin. Dan lihatlah –wahai saudaraku- bagaimana mereka menantang kaum Muslimin untuk membuktikan kesesatan dan penyimpangannya untuk kemudian –secara licik- berkelit dari keterlibatannya dalam Jabhah Hizbiyyah ini! Simak dialog yang ditampilkan oleh Salafindo.com, situs pimpinan Abdurrahman At-Tamimi Al-Kadzab :
Salafindo.com – Situs Resmi Mahad Ali Al-Irsyad Surabaya.htm
Dari: Abu Intan
Jakarta
26/08/2005
11:09:36 WIB
Assalammu’alaikum, Selamat atas kehadiran Al Irsyad di Mesjid Al Azhar Jakarta dan bermajelisnya dengan para HIZBY ( Komite Islam untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Syarikat Islam. Selain itu, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, Front Pembela Islam (FPI), Ikatan Da`i Indonesia (Ikadi), Al Ittihad, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bintang Reformasi (PBR), Tim Pembela Muslim (TPM),dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) ) Alhamdullilah, hal ini makin menerangkan kepada kita bagaimana sebenarnya Al Irsyad. Wassalammu’alaikum
Tanggapan kami:
Wa alaikumussalam Silakan anda jelaskan ini semua kepada para ulama salaf, dan jangan anda semua sembunyikan penyimpangan-penyimpangan kami, sebentar lagi para ulama dari markas al-Imam al-Albani akan datang, anda bisa bertanya dan mencari kebenaran dari mereka. Kita semua harus ikhlas kepada Allah, jika seandainya kita salah kita harus mengakui dan bertaubat kepada Allah. Dan ketahuilah, penisbatan apa yang anda sampaikan itu kepada mahad Ali al-Irsyad Surabaya adalah tidak benar, dan sikap tidak adil dalam memusuhi seseorang atau lembaga.
Setelah tanggapan kalian di atas, jangan lagi kalian menyebarkan kebencian dan fitnah di hadapan umat bahwa kami mengumpulkan berbagai kesesatan kalian, karena bukti-bukti kesesatan inilah sesungguhnya yang kalian inginkan “dan jangan anda semua sembunyikan penyimpangan-penyimpangan kami(agar umat tidak terkecoh lagi dengan topeng Salafi yang kalian kenakan untuk mentalbis umat!). Kita akan menunggu apakah kalian membuktikan ucapan kalian “jika seandainya kita salah kita harus mengakui dan bertaubat kepada Allah”. Ingatlah, seluruh kaum Muslimin akan menjadi saksi!!
Pembuka : ORGANISASI AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH MEMERANGI & MELECEHKAN PARA ULAMA PEWARIS PARA NABI
Telah berlalu bukti ilmiyyah dan penjelasannya ketika kita membahas sepak terjang Agus Hasan Bashari Lc, MAg dengan buku terjemahannya berjudul “Himpunan Tiga Risalah Al-Irsyad Al-Islamiyyah” hasil karya Majelis Ifta’ dan Tarjih Jam’iyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh PP. Al-Irsyad Al-Islamiyyah.
18.1 OSAMAH BIN LADEN MASIH HIDUP
Itulah judul “menantang” yang dirilis oleh situs resmi Al-Irsyad yang mengaku berdakwah di atas jalan Salafus Shalih sekaligus pengundang Masyayikh Yordan ke Indonesia. Berita “gembira” ini dapat ditemukan di alirsyad.or.id/index.html dengan alamat email: info@alirsyad.or.id. Berita selengkapnya:
Jun 16, 05 | 9:05 am
Al-Irsyad – Pemimpin Al-Qaidah Osamah bin Ladin dan Pemimpin Taliban Mulla Muhammad Umar masih hidup, demikian dikatakan salah satu pemimpin Taliban, Akhtar Utsmani.
"Osamah dalam keadaan sehat. Begitu pula dengan Mulla Umar, ia masih hidup dan memimpin gerakan," ujarnya dalam wawancara dengan Geo TV Pakistan.
Sebelumnya, Presiden Pakistan Perez Musharraf dalam kunjungannya ke Australia mengatakan, Osamah masih hidup dan berada di perbatasan Afghanistan dan Pakistan.
PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah
Tentu saja, penyebarluasan suatu berita memiliki sebuah tujuan. Kalau untuk memperingatkan kaum Muslimin, maka tidak sulit (dan harus!) bagi mereka untuk memberikan catatan tambahan betapa orang yang memiliki pemikiran dan gerakan ala-Khawarij ini harus tetap diwaspadai karena dia masih hidup dan terus menyebarkan pemahaman berbahayanya. Adapun untuk menyebarkan berita gembira yang dapat membikin hati lega bagi seluruh pembela dan simpatisan Usamah bin Laden Al-Khariji, apakah perlu sebuah catatan peringatan?! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Bertolak belakang dengan propaganda “gembira” yang disebarkan oleh situs pengundang Masyayikh Yordan, Majalah Asy-Syari’ah justru memaparkan bukti pemikiran takfiri yang diyakini oleh Usamah bin Laden :
“Sebagaimana dimuat dalam Koran Ar-Ra’yil ‘Am Al-Kuwaity edisi 11-11-2001 M, Usamah bin Laden menjawab: “Hanya Afghanistan sajalah Daulah Islamiyyah itu. Adapun Pakistan dia memakai undang-undang Inggris. Dan saya tidak menganggap Saudi itu sebagai Negara Islam…”
Jika para teroris itu telah menghukumi Negara Arab, terkhusus Saudi Arabia yang telah diterapkan syi’ar-syi’ar Islam secara umum dan menyeluruh bahkan ditegakkan pula hukum-hukum had dan hukum Islam lainnya, maka apakah kiranya penilaian mereka terhadap Negara seperti Indonesia ini? (Asy-Syari’ah no.16/11/1426/2005, hal.13).
Inilah Imam Samudra Al-Khariji yang dengan bangga mengaku sebagai pelaku “Jihad Bom Bali” yang mengikuti jejak idolanya, Usamah bin Laden :
“Dalam masalah jihad aku berpegang pada fatwa para ulama mujahid, yang mereka terjun langsung dan terlibat dalam jihad seperti, Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri, Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Usamah bin Laden, Syaikh Hamud Uqola’ Asy-Syu’aby rahimahullah” (Aku Seorang Teroris, hal.64)
Imam Samudra tidak lebih dari “cloning” Usamah bin Laden dalam keyakinan dan amal “takfiri” yang dia miliki. Lihat pengkafirannya terhadap pemerintah Indonesia :
“Merekalah; mereka; Megawati dan seluruh kaki tangan pemerintahannya yang seharusnya menyesal. Mereka wajib menyesal karena telah hidup di atas jalan yang salah, mereka hidup dalam way of life yang sesat, jalan hidup jahiliyyah” Selanjutnya dia bawakan ayat Al-Maidah:50 sebagai pembenaran. Setelah itu:
“Hukum di Indonesia tak ada bedanya dengan hukum Ilyasiq, yaitu hukum yang berlaku di zaman Jengis-Khan…..Aku di jalan Islam, di jalan Allah, sedangkan mereka di atas jalan jahiliyyah, di jalan Neo-Ilyasiq, atau clone (kembaran) Ilyasiq…….Adapun aku –alhamdulillah- dengan hidayah dan rahmat Allah aku berada di dalam Islam. Hidup di atas Islam….lalu siapakah yang pantas takut, akukah? Atau mereka itu para penegak hukum kafir?….Maka, sampai sepersekian mikro detik sebelum hukuman mati syahid –insya Allah- itu dijalankan kepadaku, sampai saat itu pula aku tidak akan pernah menyesali Jihad Bom Bali dan jihad-Jihad Bom lainnya. Tidak pula aku memohon grasi kepada hukum kafir Neo-Ilyasiq” (Aku Seorang Teroris, hal.200-201)
Betapa Imam Samudra Al-Khariji berada di jurang kesesatan karena sangat yakin bahwa pengeboman dan pembunuhan yang dilakukannya adalah fardhu ‘ain sebagaimana kewajiban ibadah lainnya seperti shalat dan puasa :
“Keluar dari Polda Jatim, beberapa wartawan berkerumun. Sesungguhnya tak habis kufikir, berita apa yang hendak mereka cari? Bukankah kami hanya menjalankan satu fardhu ‘ain yang disebut Jihad Fi Sabilillah, yang tak berbeda hukumnya dengan shalat, shaum Ramadhan dan fardhu ‘ain lainnya?” (ibid, hal.270) Demikianlah, pengeboman dan pembantaian yang dilakukan kelompok Khariji-Takfirinya adalah fardhu ‘ain bagi mereka, kenapa demikian? Karena di belahan dunia lainnya kaum Muslimin juga dibantai oleh Amerika dan sekutunya! Sehingga dia bersya’ir :
“…Ini aku, saudaramu…ini aku, datang dengan secuil
Bombing…kan kubalaskan sakit hatimu…kan kubalaskan
Darah-darahmu…darah dengan darah…
Nyawa dengan nyawa! …qishash(ibid, sampul belakang luar)
Ya dan engkau jangan lupa wahai teroris biadab! Saudara-saudara kami dari kaum Muslimin yang terbunuh oleh ulah biadabmu juga akan menuntut qishash kepada kalian!!…darah dengan darah… Nyawa dengan nyawa..qishash! Kalian mengira bahwa permintaan ma’afmu akan menyelesaikan hutang nyawa ini?! Dapat menghapuskan hutang darah ini?! Sungguh kalian adalah pendusta! Ketika kalian meminta ma’af kepada saudara-saudara kami yang kalian bunuh, di saat yang sama kalian melalui buku ini (Aku Melawan Teroris) dan melalui situs-situs takfiri serta majelis-majelis pengkafiranmu nyata-nyata terus mengajak kelompok Takfiri kalian untuk melanjutkan pengeboman-pengeboman biadab yang kalian yakini sebagai fardhu ‘ain!! Betapa berulangkali kalian telah melakukan perbuatan bom biadab itu! Dan setiap kali jatuh korban kaum Muslimin, kalian selalu dan selalu –dengan ringan- menyampaikan permintaan ma’af kalian!! Sungguh perbuatan ma’af ini tidaklah keluar kecuali dari barisan pendusta takfiri biadab!! Teroris biadab!! Semoga Allah menghinakan dan menghancurkannya.
Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya, selain mencetak dan menjual buku “Panduan Menjadi Teroris”, mereka ini juga membikin situs yang sama persis dengan judul buku tersebut, lengkap dengan gambar sang Terorisnya (www.akumelawan.teroris.or.id). Di situs ini anda akan menemukan artikel antara lain :”Sekilas Ustadz Abu Bakar Ba’asyir” bersumber dari situs majelis.mujahidin.or.id. Situs teroris ini adalah kembaran situs Majelis Mujahidin Indonesia, Insya Allah pada uraian selanjutnya akan kami buktikan keterkaitan Al-Irsyad, L-DATA dan Hizbut Tahrir Indonesia, Al-Sofwa serta At-Turots!!
Bagaimana pandangan Ba’asyir terhadap Usamah bin Laden dan Al-Qaeda yang dipublikasikan “nafas kehidupannya” oleh situs Al-Irsyad?
“Sebenarnya kalau saya bisa menjadi anggota Al-Qaeda pimpinan Usamah bin Laden, saya sangat bersyukur karena saya setuju dengan visi dan misi yang diperjuangkan oleh Usamah, yaitu menegakkan syari’at Islam di tingkat lembaga Negara.” (Abubakar Ba’asyir dan Tuduhan Teroris, Fauzan Al-Anshari, majelis.mujahidin.or.id)
Demikianlah “nafas teladan hidup” yang dihirup oleh Al-Irsyad, Ba’asyir dan Fauzan Al-Anshari. Allahul Musta’an.
Pengkafiran rupanya sudah menjadi jalan hidup Imam Samudra –na’udzubillah-, keyakinannya bahwa penjara tersebut dibuat oleh penguasa Thoghut :
“Di tempat itu justru kurasakan imanku makin mantap dan “menjadi”, meski aku di sarang thaghut” (ibid, hal.267).
“Kami semua under pressure! Semoga generasi di belakang hari nanti tidak berbuat sebodoh dan selemah kami dalam menghadapi tipu daya dan tekanan thaghut” (ibid, hal.269)
Selanjutnya dengan mantap dia kafirkan polisi :
“Kini giliran mereka orangorang kafir dan dzalim itu- membungkus seluruh muka kami sebegitu rupa” (ibid, hal.269).
Sungguh Teroris ini tidak memiliki pendirian yang tegas sebagaimana yang dia ucapkan: “Tidak pula aku memohon grasi kepada hukum kafir Neo-Ilyasiq”(ibid,hal.201),
tidak cukup itu, diapun menulis :
“Memohon grasi berarti pula membenarkan hukum kafir, KUHP adalah jelas produk kafir, mengakui ada “kebenaran” di luar Islam adalah suatu sikap yang membatalkan syahadat, tsumma na’udzubillahi min dzalik!…Merekalah, mereka; Megawati dan seluruh kaki tangan pemerintahannya yang seharusnya menyesal. Mereka wajib menyesal karena hidup di atas jalan yang salah, mereka hidup dalam way of life yang sesat, jalan hidup jahiliyyah…..Adapun aku –Alhamdulillah, dengan hidayah dan rahmat Allah aku berada di dalam islam Hidup di atas Islam….lalu…siapakah yang pantas takut, akukah? Atau mereka itu para penegak hukum kafir?” (ibid, hal.199-201)
Padahal anda sekalian –wahai saudaraku- melihat kenyataan betapa dia didampingi oleh para pembela dan dengan tekun mengikuti persidangan-persidangan yang diyakininya: “mereka itu para penegak hukum kafir” Di sisi lain, dia menerima dan mengakui keberadaan Tim Pengacara : “Sebagian diantara lembaran-lembaran itu kuamanahkan pada Pak Qadhar, Pak Mirzen,dan Pak Rusdianto (TPM)” (Aku Seorang Teroris, hal.277)
Bukankah para pengacara, peraturan dan tata cara persidangan yang dia ikuti selama ini dijalankan berdasarkan KUHP yang dia sendiri menulisnya sebagai sesuatu yang membatalkan syahadat?! Membenarkan hukum kafir?! Produk kafir?!
Mana konsistensi dia?! Mestinya dia dengan lantang berkata: “Saya tidak mau diadili oleh pengadilan yang menggunakan hukum KUHP yang berlaku di zaman Jengis-Khan…..Aku di jalan Islam, di jalan Allah, sedangkan mereka di atas jalan jahiliyyah, di jalan Neo-Ilyasiq, atau clone (kembaran) Ilyasiq…! Saya tidak mau diadili oleh “mereka yang hidup di dalam way of life yang sesat, jalan hidup jahiliyyah”! Saya tidak mau didampingi oleh para pembela yang berbicara dan membela kami dengan undang-undang KUHP neo-Ilyasiq!” Mana konsistensimu wahai teroris? Ataukah engkau sedang “berusaha” mengkafirkan dirimu sendiri? Sungguh, para teroris ini memiliki pemikiran yang kacau balau.. Tidaklah mereka berani menjalankan teror fisik kecuali mereka telah dibinasakan oleh teror pemikiran terlebih dahulu. Dan lihatlah wahai saudaraku sekalian, para teroris ini dan dimanapun mereka berada tidak lebih merupakan pengekor gembong-gembong Ikhwanul Muslimin! Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Abul A’la Al-Maududi, Abdullah Azzam, Yusuf Qaradhawi, Usamah bin Laden, Salman Al-Audah, Aidh Al-Qarni dan gembong Ikhwani lainnya. Itulah idola mereka. Dan tidak ketinggalan pula untuk membumbui nama-nama tersebut dengan gelar Asy-Syahid kalau telah mati!! Bagaimana mungkin mereka memastikannya sebagai Syahid?! Kita telah mengenal para shahabat yang dipuji oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan dijamin kebaikannya oleh Rasulullah yang mereka itu –Radhiyallahu ‘Anhum- meninggal dalam peperangan-peperangan bersama Nabi-Nya, adakah anda pernah mendengar Rasulullah menyematkan gelar kepada mereka sebagai “Asy-Syahid Hamzah”? Assy-Syahid shahabat fulan dan shahabat fulan?! walaupun kita sama sekali tidak ragu bahwa kematian mereka adalah kematian yang sangat mulia di sisi Allah. Ya, Ikhwanul Muslimin adalah produsen gerakan pengkafiran dan setelah para tokoh-tokoh pengkafiran tersebut mati, maka mereka hiasi namanya dengan gelar Asy-Syahid!!. Saudaraku, janganlah tertipu oleh slogan “kampanye simpatik”,”demonstrasi damai” dan berbagai istilah indah-menipu lainnya, sedikit ada kekuatan dan kesempatan, gerakan revolusioner, kudeta dan penggulingan kekuasaan akan menjadi agenda berikutnya!
Allahul Musta’an.
Kalau untuk dirinya mereka bisa berkilah:”Sungguhpun dalam keadaan terpaksa (darurat) dibolehkan bagiku untuk menerima makanan ransum dari thaghut dan antek-anteknya…” (ibid, hal.277) Kenapa untuk orang lain mereka tidak memberikan udzur? Apakah mereka –para teroris takfiri- bisa memastikan bahwa orang-orang yang mereka sebut sebagai thaghut itu (dan seluruh kaum Muslimin dapat menyaksikan bukti-bukti secara dhahir bahwa mereka adalah penguasa Muslim! Dan kita tidak pernah diajari oleh Allah dan Rasul-Nya untuk menghukumi batin-batin mereka!) memiliki keyakinan bahwa hukum buatan manusia adalah lebih baik, lebih mulia dan lebih selamat daripada hukum Allah yang dengannya seseorang bisa dikafirkan? Ataukah mereka menjalankannya dalam keadaan terpaksa/ tidak memiliki keyakinan bahwa hukum buatan manusia lebih baik dari pada hukum Allah? Kalau kalian wahai para teroris takfiri bisa memberikan keringanan “darurat” pada diri-diri kalian sendiri, kenapa ketika berbicara tentang kaum Muslimin lainnya kalian menjadi sangat beringas dan biadab menvonis mereka sebagai thaghut! Orang-orang kafir dan Dzalim! Jalan hidup Jahiliyyah!! Apakah ini yang disebut adil?!
Ataukah mereka justru tidak peduli dengan kedua keadaan itu, yang penting orang yang tidak menjalankan hukum Allah berarti kafir?! Kalau demikian keadaannya bagaimana dengan kalian wahai para teroris yang hadir mengikuti persidangan dan didampingi para pembela itu? Di dalam aturan perundang-undangan, seorang pengacara/pembela bisa mendampingi terdakwa jika mendapatkan surat kuasa darinya. Kehadiran seorang/lebih pengacara di persidangan adalah bukti riil persetujuan terdakwa untuk mendampingi/membelanya. Di sini, tentu saja system dan praktek persidangan serta kepengacaraan haruslah berdasarkan KUHP yang ada. Apakah hukum Allah yang sedang kalian ikuti? Kalau kalian bisa dengan yakin dan mantap menghukumi “seluruh kaki tangan pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Allah, mulai dari para menteri, seluruh pejabat Negara, para hakim, para jaksa, para polisi dan seluruh unsur yang telah terlibat membela dan menegakkan hukum Belanda…” (ibid, hal.200) Lalu bagaimana cara kalian menghukumi diri-diri kalian sendiri di persidangan yang kalian lalui dan “nikmati” fasilitas dan sistemnya?
Sesungguhnya pengkafiran kalian ini sama persis dan hanyalah mengekor dari pengkafiran Sayyid Quthb kepada masyarakatnya ketika itu! Masyarakat yang dia sebut sebagai masyarakat jahiliyyah!! Pengkafiran made in Ikhwanul Muslimin! Setelah tertanam fase pengkafiran ini, tentu saja mereka memiliki keyakinan bahwa darah “para thoghut itu dan antek-anteknya menjadi halal di sisi mereka”, sungguh pemikiran yang sangat mengerikan. Apalagi kalau “sekedar” merampok dan membobol harta dan kekayaan orang kafir, apa artinya? Inilah perampokan yang dihalalkan oleh gerombolan teroris takfiri :
“Sedangkan soal carding, jika digunakan untuk pribadi, sebagai muslim lebih baik tinggalkan saja hal itu. Dan jika untuk kepentingan perjuangan juga ragu, tinggalkan saja. Tetapi jika telah yakin setelah anda mengetahui dalil (dasar hukum)nya, faham dan meyakininya. Maka Go On! Allah pasti memudahkan urusan Anda selagi Ikhlas karena Allah” (ibid, hal.266)
Sebenarnya, bahasa sederhana yang ingin diucapkan oleh para teroris perampok biadab ini adalah :”Merampoklah kalian asal untuk jihad fi sabilillah dan ikhlas karena Allah”, “Silakan kalian membobol kredit card orang kafir asal bukan untuk pribadi, maka Go On! Allah pasti memudahkan urusan Anda selagi ikhlas karena Allah!” Astaghfirullah. Jika demikian keadaannya, apakah anda menjadi heran bahwa di negeri ini salah satu komplotan teroris itu tertangkap karena merampok harta yang dikatakannya sebagai harta orang kafir untuk keperluan jihad mereka? Dan "jihad" yang mereka maksudkan adalah "PEMBERONTAKAN" sebagaimana tulisan dedengkot NII-Khawarij-Ngruki Irfan S.Awwas yang menuliskan dalam sebuah buku berjudul "Menelusuri Jejak Perjalanan Jihad SM.Kartosuwiryo" yang diterbitkan oleh Wihdah Press Jogjakarta. Bentuk "Jihad" lainnya adalah menyebarkan teror dan ketakutan di negeri-negeri kaum Muslimin sepertihalnya Indonesia dengan aksi bombing bunuh diri dan seruan untuk terus melakukan perbuatan terkutuk itu sebagaimana tertuang dengan jelas di buku Imam Samudra Teroris. Tidak sedikit darah kaum Muslimin yang tertumpah akibat aksi biadab Jama’atut Takfir maupun Jama’atul Jihad yang telah menganggap halal darah kaum Muslimin. Untuk "tugas suci" yang membutuhkan biaya logistik dan akomodasi yang tidak sedikit, hasil rampokan adalah salah satu sumber dananya!! Hal serupa (merampok) juga terjadi di Malaysia dan Singapura sehingga nama Ba’asyir dikaitkan dengan KMM, inilah pengakuannya :
“Setelah saya (Ba’asyir-peny) telusuri apa sebab nama saya disebut-sebut, ternyata karena sebagian orang KMM yang membobol bank milik pengusaha Cina di sana pernah mendengarkan dan mengikuti pengajian saya sehingga saya dianggap orang yang membina mereka sampai menjadi militan. Demikian pula yang terjadi di Singapura. Orang-orang yang ditangkap konon menyebut nama saya sebagai pemimpin spiritual mereka” (Abubakar Ba’asyir dan Tuduhan Teroris, ditulis oleh Fauzan Al-Anshari, Rabu, 11 Pebruari 2004, (majelis.mujahidin.or.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=21&Itemid=2).
Dan jangan engkau lupakan bahwa para teroris Jama’atut Takfir wal Jihad yang berasal dari Malaysia, Singapura dan Indonesia yang telah tertembak mati maupun yang telah tertangkap hidup-hidup itu hampir kesemuanya memiliki "sanad Ngruki", baik secara langsung maupun tidak langsung!! Bukan semata-mata opini "menyesatkan" yang hendak kalian tanamkan:"Apakah karena engkau pernah berceramah/berkhutbah di sebuah Masjid maka semua hadirin yang hadir di masjid tersebut adalah teroris? Dan saya (Ba’asyir) harus menanggung semua perbuatan jama’ah tersebut?!" Permasalahannya tidaklah sesederhana itu wahai Ba’asyir!! Sebagaimana sederhananya anggapan orang-orang yang mengenal dirimu "di penjara" dengan melihat akhlakmu yang "berpeci haji" dan "bersorban putih" dengan tutur kata nasehat yang lembut maka mereka berkesimpulan bahwa dirimu bukanlah teroris!! Engkau tentu kenal dan punya hubungan dengan Irfan Awwas yang menjadikan pemberontakan Kartosuwiryo sebagai Perjalanan Jihad!! Engkaupun tentu tahu dan memiliki hubungan dengan awak kapal situs "teroris" Majelis.mujahidin.or.id!! Engkaupun jangan berpura-pura tidak memiliki hubungan dengan Fauzan Teroris Al-Anshar(i).net!! KOMPAK adalah binaanmu!! Laskar Mujahidin adalah pasukanmu!! Bisa saja engkau menipu umat dan menunggangi DDII dan sumber pendanaannya terhadap mantel militernya yaitu "KOMite PenanggulangAn Krisis"!! Tetapi engkau wahai penasehat KOMPAK!! tidak akan mampu mengecoh Salafiyyin bahwa KOMPAK tidak lebih dari "KOMplotan PemAncing Kekacauan"! Setelah itu??!! Pergi melarikan diri dan menjadikan kaum Muslimin lainnya yang menanggung akibat gaya pengecut kalian!! Rupanya, sikap pengecut telah mendarah daging dan menjadi manhaj banci kalian!! Lihatlah para Pejuang bombing yang bersanad Ngruki itu!! Sungguh "keberanian" mereka patut untuk diacungi jempol kaki untuk ukuran kelompok yang memiliki persenjataan Kompak (baca:lengkap) namun hanya memiliki keberanian "membunuh orang-orang yang tidak bersenjata!!" Apakah karena Amerika bersikap pengecut sehingga kalian juga ikut "tergila-gila" untuk "Tasyabbuh" dengan sikap pengecut mereka?! Kita tidaklah sedang membuktikan keterkaitan jaringan Teroris biadab itu dengan dirimu ataupun keterlibatannya dengan KOMPAK. Namun umat sekarang telah mengetahui bahwa para teroris itu memiliki "sanad Ngruki" dengan gaya pengecutnya!! Umat menjadi tahu bahwa KOMPAKnya DDII didominasi dan dikuasai oleh gaya "Laskar Ngruki-mu" dengan bau "Suka Cari Gara-Gara" dan tugas ini diselesaikan dengan sikap "lari tunggang-langgang" bak (lagi-lagi) sekelompok pengecut meninggalkan arena "permainan yang telah dibuatnya" dan menjadikan kaum Muslimin lain sebagai "tumbalnya"!! Ingatlah wahai Ba’asyir bahwa di kalangan kelompok pengecut itu dirimu memiliki jabatan yang terhormat sebagai "Penasehat" KOMplotan PemAncing Kekacauan"!! Dan jangan engkau berkelit tentang keterlibatan aktivis MMI-mu dalam bom Bali ke-1!! Apakah engkau masih "berani" untuk menyatakan bahwa mereka-mereka itu hanyalah orang-orang yang kebetulan pernah mendengarkan ceramahmu di sebuah masjid sehingga mereka dicap sebagai teroris??!!" Allahu yahdikum.
Sebenarnya, Syaikh Muqbil Rahimahullah telah menyingkap "jalan Iblis" yang ditempuh oleh para teroris perampok itu ketika beliau menasehatkan kepada kaum Muslimin untuk memiliki sikap antusias dalam menjaga nama baik Islam. Diantara ucapan beliau dalam masalah ini:"Negara-negara kafir itu adalah harbi (harus diperangi) di zaman ini, karena mereka tidak menyerahkan pajak (jizyah). Namun tidak boleh mengambil harta mereka karena perbuatan itu artinya berbuat buruk terhadap Islam. Mereka akan mengira bahwa Islam adalah dien yang mengajarkan penipuan, pencurian dan khianat. Dan karena hal ini, orang-orang yang jauh dari Islam akan mengatakan:"Kamu pencuri, penipu, pengkhianat. Kamu berjanji tapi kamu mengingkari."
Bahkan perlu ditegaskan:"Islam berlepas diri dari perbuatan seperti ini. Jika ditemukan di kalangan Muslimin yang berbuat seperti ini, maka mereka itu justru merusak diri sendiri"(Secercah Nasehat dan Kehidupan Indah Ayahanda Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I, Ummu ‘Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, Pustaka Haura, hal.121).
Sesungguhnyalah bahwa mereka –para teroris takfiri- ini sedang mengekor prinsip seorang Yahudi terlaknat Machiavelli “Tujuan menghalalkan segala cara”, salah satu prinsip Iblis yang dibisikkan kepadanya. Adapun Islam? Tidaklah kebaikan bisa ditempuh dan diperjuangkan kecuali dengan cara yang baik dan halal pula. Islam berlepas diri dari cara-cara yang dibisikkan oleh Iblis, walaupun mereka berkilah dengan seribusatu tujuan yang baik. Demikianlah sekelumit kerusakan jalan fikiran para teroris biadab yang menjadikan Usamah bin Laden sebagai figure pujaannya. Bagaimana situs pengundang Masyayikh Yordan?
18.2 PUJIAN AHMAD SURKATI TERHADAP GEMBONG SI MERAH/PKI-PARTAI KOMUNIS INDONESIA (SEMAUN MURTAD) KARENA KETEGUHAN SIKAPNYA TERHADAP KEKAFIRAN SEHINGGA LEBIH MEMILIH UNTUK MENERAPKAN KOMUNIS DARIPADA SYARI’AT ISLAM!!
Kongres Al-Islam Pertama tahun 1922, Surkati mengadakan debat terbuka dengan Semaun PKI. "Topiknya berkisar sekitar masalah Pan Islamisme dan Komunisme –Islamkah atau Komunismekah yang bisa membebaskan negeri ini dari penjajahan? Sebagai penganut Pan Islam, Surkati tentu saja berusaha meyakinkan Semaun bahwa hanya dengan Islam dan persatuan Dunia Islam, negeri Indonesia ini bisa dimerdekakan, sedangkan Semaun berpendapat bahw komunismelah yang mampu menghadapi kolonialisme Belanda"(Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, hal.37)
Setelah berdebat dengan gembong PKI-komunis itu selama dua jam lebih dan tidak mampu meyakinkan kesesatan ajaran komunis buatan manusia, (untuk menutupi rasa malu?) Ahmad Surkati berkata kepada murid kesayangannya, Abdullah Badjerei:
“Anaa uhibbu Haadzar Rajuula Katsiiran (saya sangat menyukai lelaki ini) karena keyakinannya yang demikian kokoh dan jujur, bahwa hanya dengan komunisme-lah tanah airnya dapat dimerdekakan” ( Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, hal.37, H. Hussein Badjerei dalam “Ahmad Soerkati (1)”, alirsyad.or.id/index.html, Nov 08,04 | 10:48 am)
Kenyataan di atas adalah “setumpuk bukti” lagi betapa Masyayikh Yordan benar-benar sedang dipermainkan oleh kelompok Hizbiyyin ini sampai-sampai Syaikh Ali bin Hasan mengeluarkan pujian setinggi gunung kepada orang semacam ini di Masjid Istiqlal Jakarta!! Orang yang telah memiliki andil besar dalam menghancurkan prinsip-prinsip Al-Wala’ dan Al-Bara’ fil Islam!! Bagaimana mungkin seorang yang digelari sebagai Syaikh Salafiyyin meletakkan wala’ dan kekagumannya kepada seorang gembong besar PKI?! Menyukai seorang kafir atheis yang tidak mempercayai keberadaan Allah ?! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Apalah arti setumpuk pujian
Kalau jauh dari kenyataan,
Hanyalah akan…
Menyesatkan Muslimin kebanyakan
Allahul Musta’an
Secara langsung ataupun tidak, sikap Surkati yang sedemikian rifqannya terhadap gembong PKI Semaun ternyata telah menyulitkan posisi Al-Irsyad sehingga dituduh menyebarkan paham Komunis, bahkan ada lulusan Al-Irsyad yang memilih bergabung bersama PKI!! Hampir-hampir karena masalah ini, Al-Irsyad gulung tikar, hanya saja hubungan “mesra” Surkati dengan para pejabat penjajah kafir Belanda di Het Kantoor voor Inlandshe Zaken telah membantu Al-Irsyad selamat dari kemelut ini:
“Pada tahun 1926, seorang lulusan Al-Irsyad, Ahmad Basyaib, ditangkap Belanda di Semarang karena terlibat pemberontakan Partai Komunis Indonesia dan dibuang ke Digul. Nyaris Al-Irsyad terancam pembubaran dan ditutupnya semua sekolah Al-Irsyad, karena memang sebelumnya Surkati dan Al-Irsyad sering dituduh Bolsyewik yang mendapat sokongan dari Komunis dan sekolah-sekolah Al-Irsyad dituduh mengajarkan dan menyebarkan bibit-bibit faham Komunisme. Akan tetapi hal itu ternyata mampu diatasi Al-Irsyad dengan sebaik-baiknya.”(Al-Irsyad Mengisi.., hal.104)
Demikianlah sedikit fakta tentang Surkati “Syaikh Salafiyyin” yang merangkap sebagai Syaikhnya Penjajah Kafir Harbi Belanda, rifqannya terhadap Semaun PKI dan nyaris gulung tikarnya Al-Irsyad. Allahul Musta’an.
18.3 MEMERANGI KEMUNGKARAN DENGAN MEMPRAKTEKKAN KEMUNGKARAN
Kita sudah membaca dan mendengarkan pujian Syaikh Ali Hasan kepada Ahmad Surkati : ‘’…dan memerangi bid’ah ‘’, benarkah demikian ? Berikut cara Ahmad Surkati ‘’memeranginya’’ :
“Ketika konggres Al-Islam pertama yang diselenggarakan di Cirebon 31 Oktober 1922 dibuka, Soerkati ikut pada acara ritual berupa pembacaan Maulid Barzanji. Pada upacara itu semua yang hadir diminta untuk berdiri. Memang hampir semua berdiri kecuali beberapa orang kelihatan tetap duduk. Di antara hadirin yang tidak berdiri adalah Umar Hubeish, Umar Nadji, dan Abdullah Badjerei, semuanya murid-murid Soerkati. Soerkati sendiri pada acara itu ikut berdiri. Seusai acara, mereka kemudian memprotes gurunya, "Ustad yang mengajarkan kami untuk tidak berdiri pada upacara yang demikian itu, tetapi nyatanya Ustad sendiri ikut berdiri?" Dengan tenang Soerkati menjawab, "Sikap kalian itu sudah benar sesuai dengan apa yang saya ajarkan. Tapi saya ini punya misi, saya perlu berdialog dengan mereka semua. Kalau saya duduk seperti kalian pada acara tadi pintu untuk saya berdialog dengan mereka sudah pasti tertutup." (Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, H. Hussein Badjerei dalam “Ahmad Soerkati (1)”, alirsyad.or.id/index.html, Nov 08,04 | 10:48 am)
Kenapa “hanya” karena masalah berdiri dalam acara “Maulid Barzanji” saja, murid-murid Surkati melancarkan protes kepada sang Al-‘Allamah? Inilah penjelasan mereka (sendiri!!):
“1.Bid’ah Haqiqiyah, yaitu sesuatu yang bernilai bid’ah dari semua sisinya, sehingga ia adalah bid’ah yang jauh dan keluar dari syari’at dari semua seginya. Contoh bid’ah ini adalah : …c.Qiyam Maulid; yaitu berdiri untuk memperingati Rasul Allah ketika disebut kisah kelahiran Beliau, hal ini adalah bid’ah tercela sebagaimana yang disebutkan oleh Al-‘Allamah Ibn Hajar Al-Haitami dalam Fatawa Haditsiyahnya”(Himpunan Tiga Risalah, Majelis Ifta’ dan Tarjih Jam’iyyah Al-Irsyad, Sya’ban 1425H/ Oktober 2004M, hal.8)
Kita katakan : Wahai Syaikh kami , demikiankah cara seorang ‘’Syaikh Salafy’’ mengajari Salafiyyin dalam memerangi kemungkaran dan bid’ah ? Tidak sekali-kali tidak. Shahabat besar Ibnu Mas’ud , ketika beliau mendapati halaqah-halaqah dzikir di sebuah masjid yang berdzikir dengan batu-batuan dan tiap halaqah dipimpin oleh salah seorang diantara mereka (dzikir komandan), lihat riwayat ini dalam buku karya Syaikh Salim Al-Hilaly ‘’Bid’ah dan Pengaruh Buruknya terhadap Umat’’. Apakah beliau Radhiyallahu ‘anhum ikut larut berdzikir komando bersama mereka ? Ataukah justru beliau menampakkan kemarahan yang sangat melihat amalan yang tidak pernah diajarkan kepada para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum? Ataukah ada suatu riwayat shahih yang tidak kami ketahui menunjukkan ada salafush shalih yang mengamalkan kebid’ahan bersama masyarakatnya dengan alasan kalau tidak berbuat demikian niscaya pintu untuk berdialog dengan mereka SUDAH PASTI tertutup? Siapakah Ahmad Surkati ini wahai Syaikh kami yang dengan berani memastikan harus berbid’ah ria dulu agar pintu dialog tidak tertutup ? Dan pantaskah orang seperti ini mendapatkan pujian seperti yang terucap di Istiqlal ?!
Guru Surkati salah satunya adalah Syaikh Ahmad Albarzanji, kalau dia ini adalah orang yang sama dengan pengarang ritual Maulid Al-Barzanji, tentulah bukan hal yang aneh jika dia mewarisi "ilmu andalan" gurunya. Kalaupun mereka adalah dua orang yang berbeda, tetap saja alasan Surkati untuk larut berbid’ah ria tersebut bukanlah sesuatu yang patut untuk diteladani, apalagi diikuti! Sama sekali !! Walaupun dia telah menerima gelar kehormatan sebagai Syaikh Salafiyyin !!
18.4 MURID KESAYANGAN DIIZINKAN MEROKOK DI DEPANNYA
Inilah cara Ahmad Surkati menyayangi muridnya:
“Abdullah Badjerei putra Aqil Badjerei dengan ibu betawi tulen bernama Nafisah, yang sehari-harinya dipanggil orang Mak Pise, lahir di Jakarta hari Jumat lepas maghrib tanggal 12 Syawal 1321 bertepatan dengan 1 Januari 1904. Ia termasuk kesayangan ayahnya karena pandai dan cerdas…Ia belajar langsung dari Soerkati. Gurunya ia sebut dengan panggilan Mu’allim Ahmad. Soerkati amat sayang kepadanya. Dialah satu-satunya murid yang diberi dispensasi boleh merokok di depan Achmad Soerkati.” (Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, hal.44, H. Hussein Badjerei dalam “Ahmad Soerkati (2)”, alirsyad.or.id/index.html, Nov 29,04 | 10:52 am)
Demikiankah orang yang dipuji sebagai “…Syaikh ‘Allamah Ahmad Asy Syurkati yang meluruskan garis perjuangan?” Bagaimana dia meluruskannya sementara dia sendiri mengizinkan dan menyayangi “kebengkokan” beraksi di depan mata? Tazkiyah "merokok" terhadap murid kesayangan yang pada akhirnya turut andil bagi kematiannya secara perlahan. Inikah aplikasi "ajaran" kasih sayang wahai Syaikh Salafiyyin?!
18.5 SEJARAH AL-IRSYAD ….BAU ROKOK!
Sejarah berulang kembali, bau rokok adalah tema sentralnya. Tazkiyah Merokok dari Surkati telah menghiasi sejarah perjuangan Syaikh Salafiyyin yang satu ini. Generasi berikutnya tlah mengikuti bahkan menjadi Juara Nasional Kejuaraan Djarum Futsal 2005. Al-Irsyad Surabaya (tempat bercokolnya Chalid Bawazer dan Abdurrahman Al-Kadzab) adalah jawaranya. Kebanggaan ini telah diabadikan dan dipublikasikan oleh Infoalirsyad edisi 84 (Penasehatnya adalah Ustadz Muhammad Mukhaddam-namanya tercantum dalam jadwal Khatib Jum’at Masjid Al-Irsyad Surabaya, lihat bukti lampiran Kemesraan Markas dakwah Abdurrahman Tamimi dengan dedengkot-dedengkot Ikhwanul Muflisin), komunitas “Salafy” Surabaya yang juga menjadi promotor dalam mendatangkan Masyayikh Yordan tentulah berbangga dengan kemenangan ini. Bravo.
Akankah “Salafy Tulen” (bukan yang tiruan!!) mampu juga tersenyum bangga dengan kemenangan “bau rokok Djarum Futsal” ini?!
Tentu akan menjadi sangat menarik bagi kita jika mengetahui sikap Masyayikh Yordan tentang hukum merokok dan uang hasil dari perdagangannya. Kenapa? Tidakkah anda lihat bahwa komunitas LINTAS MANHAJ ini sebagai juara I nasional mendapatkan “berkah” uang tunai dari Perusahaan rokok Djarum?! Djarum …memang nikmat, itulah slogan para “ahli hisap”. Allahul Musta’an.
18.6 KEKAGUMAN & SIMPATI SURKATI TERHADAP GEMBONG INTELIJEN-ORIENTALISTEN-MISSIONARISTEN & KOLONIALISTEN PENJAJAH KAFIR BELANDA CHRISTIAN SNOUCK HURGRONJE ALIAS ABDUL GHAFAR
Saudaraku kaum Muslimin, berapa lama negeri kita dijajah, dieksploitasi dan dirampok kekayaan alamnya serta rakyatnya diinjak-injak kehormatannya oleh penjajah kafir Belanda?! 350 tahun!! Walhamdulillah, Allah telah munculkan berbagai nama pejuang Islam yang mengibarkan perang Sabil terhadap penjajah kafir yang menjajah dan berusaha terus mengkafirkan masyarakat negeri ini. Adalah fakta yang sangat melukai kehormatan kita kaum Muslimin –tentu saja- yang paling banyak berkorban untuk melawan dan mempertahankan negeri ini dari para penjajah tersebut, bahwa sebentar lagi besar kemungkinan guru dari para pejabat penjajah Belanda akan dikarunia kehormatan sebagai "PAHLAWAN KEMERDEKAAN"!! Surkati, sahabat penjajah kolonial Belanda, Syaikh/Guru para pejabat penjajahan yang memiliki hubungan istimewa dengan agen intelijen sekaligus gembong Orientalisten, Missionaristen, Kolonialisten, Prof. Dr. Christian Snouck Hurgronje mulai menempuh tahap-tahap persyaratan untuk menjadi Pahlawan Nasional dengan dipromotori oleh Al-Irsyad "illegal" Farouk Badjabir. Maka bersiap-siaplah untuk menghapus kosa kata "pejuang/pahlawan" dan diganti menjadi "antek/sahabat penjajah" dari kamus-kamus bahasa!!
Hussein Badjerei menulis:"Dalam porsi masing-masing, baik Jami’at Khair, Budi Utomo, dan Al-Irsyad dalam konstitusinya masing-masing terselubung perjoangan membendung westernisasi yang sedang gencar-gencarnya dilaksanakan Pemerintah Kolonial Belanda…bersama-sama menghadang serangan sengit westernisasinya Snouck Hurgronje" (Al-Irsyad mengisi Sejarah bangsa, hal.75)
Kenyataannya?! Di buku yang sama, Hussein Badjerei menulis :
“TERHADAP SNOUK HURGRONJE, SOERKATI MENARUH SIMPATI KARENA MENILAI BAHWA SNOUCK INI MEMANG PANDAI BERBAHASA ARAB DAN PENGETAHUAN BAHASA ARAB SERTA AGAMA ISLAM YANG DIMILIKI SNOUCK DINILAINYA TINGGI SEKALI (perhatikan kalimat pujian yang mengerikan ini!!-peny). Kepada Snouck, Soerkati memang berkorespondensi, bahkan semula bermaksud akan mengunjunginya ke negeri Belanda yang kemudian dibatalkannya karena mendapat berita bahwa Snouck telah meninggal dunia tahun 1936.”( Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, hal.63, H. Hussein Badjerei dalam “Ahmad Soerkati (4)”, alirsyad.or.id/index.html, Jan 10, 05 | 11:00 am)3
Informasi lebih menarik dan detail tentang orientalis kafir yang dikagumi oleh Ahmad Surkati karena “pengetahuan Islamnya yang tinggi sekali” telah ditulis oleh Dr. Ahmad Abdul Hamid Ghurab dalam buku berjudul “Ru’yah Islamiyyah lil Istisyraq” yang diterbitkan oleh “induk semang” Al-Muntada Al-Sofwa Jakarta yaitu Al-Muntada Al-Islamy London,United Kingdom, cetakan ke-2, 1991/1411H. Sebuah nama yang tidak asing lagi bagi dunia per-sururian- Indonesia. Bahkan DR. Ahmad Abdul Hamid memberikan judul khusus “Christian Snouck Hurgronje”, biarlah sesama Sururi yang saling menjelaskan :
“Orientalis Belanda ini seluruh hidupnya menggambarkan dengan jelas keterkaitan hubungan yang sangat erat antara orientalis, kristenisasi dan penjajahan (Lihat Ensiklopedi Orientalis, hal.245-247).
Orientalis ini bekerja sebagai spionase, missionaris dan juga bekerja untuk kepentingan penjajahan secara kekuatan dan kebudayaan. Semua ilmu yang dimilikinya dicurahkan untuk kegiatan tadi tanpa disisakan sedikitpun. Ia mempunyai pengaruh yang sangat jelas di kalangan orientalisme Belanda khususnya dan seluruh Eropa pada umumnya. Bahkan hampir seluruh orientalis yang ada di Belanda dan kebudayaan di Eropa menyanjungnya dan menamakannya sebagai PAHLAWAN PENJELAJAH YANG TIDAK KENAL LELAH YANG RELA MENGORBANKAN DIRINYA DEMI AL-MASIH (YESUS-peny)!!
Snouck Hurgronje lahir pada tahun 1857M. Ayahnya adalah seorang pendeta. Ia belajar theology Masehi pada sebuah lembaga yang dikhususkan bagi pengadaan dan mempersiapkan para pendeta. Kemudian ia mendalami bahasa Arab dan ilmu-ilmu Islam yang lain, seraya mempersiapkan disertasinya tentang menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada tahun 1880M.
Ia telah menyamar sebagai seorang Muslim, kemudian pergi ke Mekkah dan bermukim di sana kurang lebih selama enam bulan dengan menggunakan nama “Abdul Ghaffar”. Ia memang dikenal sangat pandai memerankan diri sebagai seorang Muslim yang berpura-pura. Di Mekkah ia banyak berpindah-pindah tempat dalam mengaji dan banyak bergaul dengan para ulama di sana. Ia tetap berpura-pura sebagai orang Islam setelah berada di Indonesia. Bahkan ia sempat mengecoh salah seorang pejabat pemerintah dan berhasil mengawini putrinya, hingga mempunyai beberapa anak.
Sekembalinya dari Mekkah ia bekerja untuk kepentingan negaranya dalam usaha memperluas dan lebih memantapkan wilayah jajahannya. SALAH SATU FAKTA NYATA YANG MELIBATKAN DIRINYA UNTUK KEPENTINGAN PENJAJAHAN ADALAH PERNYATAAN DAN LAPORANNYA KEPADA JENDERAL VAN HOUTS UNTUK MEMERANGI KAUM MUSLIMIN DI SELURUH WILAYAH JAJAHAN BELANDA. DENGAN KATA LAIN, IA MENGUSULKAN UNTUK MENGGUNAKAN KEKERASAN DALAM MENUMPAS KAUM MUSLIMIN. Karena itu, Jenderal tadi mendapatkan julukan “PEDANG SNOUCK YANG AMPUH” karena keberhasilannya dalam memerangi umat Islam.
DI SAMPING ITU, SNOUCK HURGRONJE JUGA BANYAK MEMBANTU DALAM PEMBINAAN KADER MISSIONARIS BELANDA DAN MEMBUKA SEKOLAHAN UNTUK MENGKRISTENKAN MUSLIMIN DI SELURUH WILAYAH JAJAHANNYA……
Dari fakta lainnya bahwasanya ia adalah seorang gembong missionaris kondang dan sangat disegani oleh kalangan missionaris dunia dan juga di kalangan kaum orientalis yang bernama Hendrick Creamer adalah murid Snouck Hurgronje. Dari tahun 1921 hingga tahun 1935 M. hubungan diantara guru dan murid terus berkesinambungan tanpa putus. Snouck Hurgronje mati pada tahun 1936 M”.
Diantara tulisannya yang sangat terkenal adalah buku “Pilihan Pemikiran Snouck Hurgronje” dimana pada halaman 267 telah menyatakan keharusan adanya kerjasama antara orientalisme dengan kolonialisme seraya berkata:”Sesungguhnya syari’at Islam merupakan obyek penting dalam studi orientalisme. Tidak hanya terbatas pada teori mengenai sejarah perundang-undangan, kebudayaan dan agama tetapi juga harus mencakup tujuan praktisnya. Yang demikian itu akan terlihat bila hubungan antara Eropa dengan wilayah timur Islam makin kuat, maka akan semakin banyak wilayah Islam yang tunduk mengikuti kekuasaan bangsa Eropa. Disamping itu akan semakin kuatlah kita (bangsa Eropa) dalam usaha mengkaji dan mengetahui pemikiran kehidupan mereka, pemikiran tentang syari’at dan latar belakang pengetahuan mereka tentang ajaran dan hukum Islam”.
Mungkinkah Ahmad Surkati merupakan salah satu “korban” Snouck dalam usahanya untuk mengkaji dan mengetahui pemikiran kehidupan kaum Muslimin, pemikiran tentang syari’at dan latar belakang pengetahuan umat tentang ajaran dan hukum Islam tanpa disadari oleh Ahmad Surkati? Allahu A’lam. Yang jelas, bukanlah tanpa tujuan Christian Snouck menjalin hubungan erat dan terus berkorespondensi dengan tokoh-tokoh Islam di masanya. Lebih dari itu, bagaimana mungkin seseorang yang dipuji-puji sebagai Al-‘Allamah yang meluruskan garis perjuangan sampai terkagum-kagum dengan seorang Orientalis-Missionaris-Kolonialis yang menjadi think-tank dalam penumpasan kaum muslimin di negeri jajahan mereka?! Tentu saja kalau Surkati merupakan tipe seorang pejuang umat dan pembela Muslimin yang terjajah di negeri ini, maka otomatis dia menjadi sasaran dari kaum yang direkomendasikan oleh Snouck untuk ditumpas dengan cara kekerasan!! Kenyataannya? Bahkan Syaikh "Salafy" ini berencana mengunjungi si pakar Orientalis ke negeri Belanda tapi urung dilakukannya karena Snouck keburu mati!!
Bagaimana Masyayikh Yordan menyikapi kenyataan ini?
18.7 PENDALAMAN AHMAD SURKATI TERHADAP FILSAFAT
Saat mayoritas manusia merasa kecanduan untuk memperoleh kebebasan intelektual, merekapun bersemangat untuk mengimpor buih-buih jahiliyyah Greek, yang kemudian oleh orang-orang yang tertipu tersebut dinamakan filsafat. Tidak diragukan lagi bahwa filsafat lahir dan berasal dari para penyembah bintang dan pemuja dewa-dewa Yunani, kepercayaan politeisme yang dilandasi oleh pengingkaran atas kekuasaan Allah, tiada sekutu bagiNya. Mereka silau oleh sesuatu yang asing, ideologi dan permainan kalimat barang impor tersebut. Akhirnya pandangan yang silau ini mendorong mereka untuk menutupi konsep Islam karena rasa heran, heran kepada barangnya, isinya dan orang-orangnya. Filsafat yang sengaja “diekspor” dan dimasukkan oleh musuh-musuh Islam dengan tujuan untuk menghancurkan Islam dari dalam, merusak kekokohan aqidah kaum Muslimin. Lebih aneh lagi, sebagian kaum Muslimin (baik mereka sadari ataupun tidak) justru menyambut “uluran tangan” musuhnya dan ikut-ikutan mempropagandakan sebagai salah satu cabang-cabang keilmuan Islam! Dengan dalih Pluralisme, keberagaman dan kebebasan dalam mempelajari berbagai macam pemahaman Islam. Mereka tidak peduli apakah pemikiran dam pemahaman tersebut sesat ataukah tidak. Adalah hak setiap orang untuk memilih dan meyakininya!!? Na’udzubillah!!
Kadang-kadang tipu daya musuh agama memang sejalan dengan hawa nafsu sebagian kaum Muslimin. Mereka sempurnakan malapetaka ini dengan memasukkannya sebagai salah satu mata kuliah di universitas-universitas Islam negeri maupun swasta dan mereka hiasi warisan politeisme kafir dengan istilah “Filsafat Islam”. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kalau orang-orang dari jaringan Libera(nda)l itu membantah :”Itu khan penilaian subyektif anda bahwa filsafat tidak memiliki kaitan sama sekali dengan Islam!”
Kita katakan: “Apakah kalian menginginkan informasi yang lebih obyektif dari orang kafir sendiri? Kami hadirkan sebuah referensi yang diberi kata pengantar oleh Prof.Huston Smith yang menjadi Guru Besar Orientalis Univ. Thomas J.Watson, Prof. Filsafat Univ. Syracuse, Emeritus dan Prof. pada Graduate Theological Union Univ. California, Berkeley, nama yang sangat akrab di kalangan sekte Jaringan Liberal yang mengatasnamakan Islam. Berikut nukilannya :
“Filsafat. (Ar. Falsafah). Islam datang ke dunia tanpa filsafat. Ia merupakan kehendak Tuhan yang turun kepada manusia, dan tidak sebaliknya, yakni upaya manusia untuk menemukan petunjuk jalan menuju Tuhan.
…Mu’tazilah atau rasionalis merupakan aliran pertama yang membawa pengaruh filsafat Hellenistik ke dalam Islam”(Cyril Glasse, The Concise Encyclopaedia of Islam/Ensiklopedi Islam Ringkas, PT.Raja Grafindo Persada,Jakarta, hal.99, Cetakan kedua, Januari 1999)
Sekarang kita bebas bertanya: Apakah rahasia upaya pemaduan antara filsafat buatan manusia yang jahiliyyah, yang lahir dan berkembang dalam iklim politeisme kafir dengan Islam, agama Allah yang suci ini?! Ataukah di belakang itu semua ada tipu daya dari musuh-musuh Islam untuk mengotori kesucian aqidah dan mencampurinya dengan noda-noda kesesatan dan kesyirikan?! Kalau saja mereka mengetahui bahwa penerjemahan buku-buku filsafat ke dalam bahasa arab dilakukan oleh orang-orang Nasrani (Sungguh gembong-gembong JIL sangat mengetahuinya!!), padahal mereka itu menuliskannya dengan apa yang mereka yakini. Lalu bagaimana mungkin kita meletakkan kepercayaan kepada orang-orang Nasrani yang mempunyai keyakinan Trinitas, lalu mereka menerjemahkannya bagi kaum Muslimin buku-buku untuk dipelajarinya dan diajarkan kepada anak cucunya?!
Malapetaka lainnya telah ada didepan mata akibat filsafat yang dibungkus dengan “penelitian ilmiyyah, kebebasan intelektual, ataupun pencerahan”. Lahirnya JIL (Jaringan Iblis Laknatullah) dan mereka menyebutnya Jaringan Islam Liberal. Mereka adalah anak didik Yahudi dan Nasrani! Orang-orang yang sangat ambisius dan rakus akan popularitas. Sebelumnya mereka ini bukanlah apa-apa dan bukan pula siapa-siapa. Umat tidak ada yang mengenal dan menyebut-nyebut nama mereka, sampai pendidikan mereka di bawah asuhan Profesornya yang Yahudi dan Nasrani itu selesai. Sebagai penyambung lidah orang kafir, jalan untuk meraih tangga popularitas tentu telah diletakkan oleh guru-gurunya di depan mata, singkat, instan dan cepat! Mereka ini bisa diibaratkan sebagai orang-orang yang mengencingi beberapa mata air milik kaum Muslimin! Tentu saja dalam waktu singkat telah menjadi buah bibir dan buah mulut setiap orang, siapa lagi yang tidak mengenal mereka, fulan yang telah mengencingi mata air kaum Muslimin!! Tidak peduli apakah namanya disebut-sebut karena kebaikannya ataukah karena kejahatan dan kerusakan yang mereka sebarkan di tengah-tengah umat! Yang penting tenar, terkenal dan kontroversial!! Semakin kontroversial, puncak ketenaran-pun semakin dekat di depan mata.
Tidaklah setiap tema yang mereka angkat kecuali upaya untuk membumihanguskan ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah ! Semakin besar dan heboh dampak dari tema/bahasan (baca:granat) yang dilemparkan kepada umat, semakin deras pula sponsor yang mendatanginya. Padahal professor-profesor mereka yang Yahudi dan Nasrani tersebut tidaklah ada yang berupaya untuk membumihanguskan ajaran-ajaran agamanya sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh anak didiknya yang Muslim ini. Pernahkan anda mendengar bahwa mereka (Profesor kafir itu) berteriak-teriak mengumandangkan persamaan agama, bahwa agama Yahudi dan Nasrani sama dengan agama Islam? Tidak pernah, dan sebaliknya lihatlah betapa anak didik mereka yang Muslim tersebut justru berteriak dengan lantang bahwa agama Tauhid ini (Islam) sama dengan agama Trinitas dan Yahudi!! Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan! Kalaupun ada (itupun sangatlah sedikit) hanya sebagai kamuflase agar permainan ini tidak tampak terlalu diarahkan! Kenapa pula Profesor mereka yang Yahudi dan Nasrani itu tidak membentuk Jaringan Yahudi Liberal (JYL, baca jail/penjara) dan membikin pula Jaringan Kristen Liberal sebagaimana mereka membentuk Jaringan Iblis Liberal (JIL)? Padahal slogan mereka sama “kebebasan berpikir”, status merekapun sama, “para pemikir bebas”! Karena Profesor Yahudi dan Nasrani itu sangat mengetahui bahwa begitu mereka membentuk JYL dan JKL maka umat Yahudi dan Kristen akan bangkit membumihanguskan “sekte sesat” bentukan mereka!! Amerika Serikat menjadi saksi bagaimana salah satu sekte Nasrani Davidian (pimpinan David Koresh yang ada di Waco Texas, USA) dibumihanguskan oleh militer Amerika, FBI markas dan seluruh penganut di dalamnya –termasuk wanita dan anak-anak- karena tuduhan ajaran sesat yang mereka timpakan!! Lalu dimana orang-orang yang berteriak-teriak mengenai kebebasan? Bersembunyi dimana para penganut libera(nda)lisasi itu? Dimana suara para pegiat dan pembela hak asasi manusia setelah terjadinya pemusnahan Gerakan Kristen Liberal? Mana suara dan pembelaan professor-profesor dan guru-guru kalian –wahai orang-orang JIL-?! Apakah Liberandalisasi hanya berlaku untuk Islam dan kaum Muslimin? Ya, mereka hendak menginjak-injak Hak Asasi Allah , berupaya mengubur dalam-dalam dan membumihanguskan syari’at Islam dengan berlindung dibalik Hak Asasi Manusia! Mereka hendak menginjak-injak Islam sementara semua tindakan itu tidak berlaku bagi agama guru-guru mereka yang Yahudi dan Nasrani! Sungguh ini adalah timbangan yang curang! Cukuplah Allah sebenar-benar saksi bagi kebencian mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
[120] Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. Al-Baqarah:120)
Mereka hendak menyatukan dan menyejajarkan Islam yang suci ini dengan agama yang berkeyakinan bahwa Allah mempunyai anak!!
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ ﴿١١٦﴾ [البقرة: ١١٦]
[116] Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. [QS Al Baqarah: 116]
Adakah sama antara agama Tauhid ini dengan agama yang mempersekutukan Allah dengan selain-Nya sementara kita diperintahkan oleh Allah dalam firmanNya:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿۳﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾ [الإخلاص: ١ – ٤]
[1] Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, [2] Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. [3] Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, [4] dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". [QS Al Ikhlash: 1 – 4]
Maka lihatlah –wahai saudaraku- betapa orang-orang JIL ini sebenarnya telah diperalat oleh Yahudi dan Nasrani untuk menghancurkan agama mereka sendiri (Islam)!! Satu-satunya agama yang benar dan diridhai oleh-Nya, Firman Allah :
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿۸٥﴾ [آل عمران: ۸٥]
[85] Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS Ali ‘Imran: 85]
Kajian Islam Libera(nda)lisasi Utan Kayu sebagai think-tank-nya. Mendapatkan dukungan yang sangat luas dan nyata dari Jaringan Jawa Pos Grup –salah satu media massa terbesar di negeri ini- untuk memuluskan ambisinya. Sungguh suatu musibah besar bagi kaum Muslimin, apalagi CEO surat kabar ini seorang yang nyata-nyata muslim, Dahlan Iskan! Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya. Mereka mewajibkan setiap orang untuk bebas mengartikan nilai-nilai keIslamannya, siapapun berhak berbicara, bahkan seorang muslim yang sangat awam sekalipun berhak menafsirkan agamanya! Sungguh mereka ini adalah orang-orang yang in-konsisten, labil dan terjungkir balik pola pikirnya!
Ketika seorang penjahit pakaian berbicara tentang konstruksi jembatan yang paling tepat diterapkan, tentu orang-orang JIL ini akan bilang: “Tahu apa kamu?”
Ketika seorang penjual sayuran berbicara tentang rangkaian mesin pesawat luar angkasa, orang JIL inipun bilang: “Jangan didengarkan igauannya!”
Dan ketika orang-orang Baduy sedang berbicara tentang teknologi komputer yang tercanggih, merekapun menyahut: “Lelucon apalagi yang lebih dahsyat dari celotehan mereka ini!” Demikian juga contoh yang senada. Tetapi giliran berbicara tentang agama ini, ajaran yang datangnya dari Allah , dibawa oleh Rasulullah , yang berkaitan dengan surga dan neraka, kenikmatan dan siksaan, hidayah dan kesesatan, kejujuran dan kedustaan, halal dan haram, pernikahan ataukah perzinahan, keIslaman dan kekufuran, suatu hal yang jauh dan jauuh lebih besar daripada semua contoh di atas, anak didik Yahudi dan Nasrani ini berkata : “Setiap orang bebas menafsirkan Islam sesuai dengan pikiran dan pendapatnya masing-masing!! Ini adalah bagian dari kebebasan berpendapat ! Bebas mengumbar sesat !!” Dan lihatlah betapa referensi-referensi yang mereka baca dan nukil adalah ucapan dan tulisan dari orang-orang kafir, sebagian lainnya diambil dari orang-orang sesat yang menyandarkan diri kepada Islam atau generasi Islam yang dididik dan diasuh dan disuapi oleh orientalis kafir!! Sungguh ini adalah jual beli yang curang! Tidak konsisten dengan obyektifitas intelektual yang mereka gembar-gemborkan sendiri! Maka lebih tepat jika Kajian Islam Utan Kayu ini kita namakan Kajian Islam Orang Utan!! Agar mereka bebas bergelayutan di pohon-pohon, mana ada orang utan yang peduli bahwa ia mengambil buah dari pohon milik orang lain. Tanpa rasa malu, walaupun tidak mengenakan selembar kainpun. Semua bebas, semua boleh; tidak ada halal dan haram (itu kan tekstual); tidak ada Muslim tidak ada Kafir (itu kan teori hitam putih), toh semua agama mengajarkan kebaikan; menikahpun tidak perlu akad dan saksi, asal ada keinginan ya lakukan saja “pernikahan”; surga dan neraka hanyalah kiasan saja agar hidup ini lebih bersemangat; semua agama sama dan kadang mereka bumbui dengan pepatah “Banyak jalan menuju Roma!”
Kita katakan: “BENAR, BANYAK JALAN MENUJU NERAKA (BACA:ROMA)!! DAN HANYA SATU JALAN MENUJU SURGA!” DEMIKIANLAH KALAU MAKHLUK HIDUP ITU BERTUBUH MANUSIA TETAPI BERPIKIR SEBAGAIMANA…ORANG UTAN!! Allahul Musta’an. Satu lagi dampak buruk dari filsafat.
Seorang gembongnya mendapatkan fasilitas untuk mengasah lagi "trik-trik penyesatan Liberal" di negara profesornya yang Yahudi dan Nasrani, Amerika. Seorang (lagi) perintis dan pelopornya telah dipanggil oleh Allah untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya yang telah banyak menyesatkan hati-hati umat Islam Indonesia, pemilik Yayasan Paramadina. Kalaulah sedikit saja kita mau merenungi kematiannya, tentulah pelajaran yang sangat berharga akan kita dapatkan. Berapa banyak dia rusak hati kaum Muslimin? Dan Allah benar-benar telah membalas dengan merusak hatinya –kanker hati!!- sehingga kematian menghampirinya!! Allahu Akbar.
Bagaimana pula kedudukan filsafat polyteisme kafir di sisi Ahmad Surkati sang “Al-Allamah”?Bal Syaikhus Salafy…!?
“Dalam usia 22 tahun, yaitu tahun 1314 H, Soerkati melawat ke Mekah menunaikan ibadah haji dan bermukim selama lima tahun di Madinah UNTUK MEMPERDALAM pelajaran Alquran, tafsir, tauhid, hadis, fikih, FILSAFAT, dan ilmu falak, bahkan juga ilmu ketabiban” (Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, H.Hussein Badjerei, dalam “Ahmad Soerkati (1), alirsyad.or.id, Nov 08, 04 | 10:48 am)
“Selain itu BELIAU JUGA MENYELAMI FALSAFAH, Falak dan ilmu ketabiban yang disebutnya dengan Tibb Yunani” (alirsyad-alislamy.or.id/alirsyad1.htm)
Perhatikanlah wahai pembaca, betapa kalimat yang digunakan tidak cukup dengan “mempelajari falsafah” bahkan jauh lebih dalam dan lebih luas dari itu, “menyelami falsafah”!!
Bagaimana pula kedudukan Filsafat yang diajarkan kepada murid-muridnya?
Hussein Badjerei bercerita tentang kejeniusan Prof. Dr. H.M. Rasjidi yang lulusan Al-Irsyad Lawang Pimpinan langsung Surkati: "Setelah libur Ramadhan, ia diperkenankan duduk di kelas empat. Pada waktu itu ia sudah mampu membaca kitab-kitab yang cukup berat dan berbobot. Antaranya buku Gramatika bahasa arab, Alfiah karya Ibnu malik, yang dikenal sebagai buku standar bagi mereka yang hendak mempelajari bahasa Arab. Karena ia hafal di luar kepala buku yang terdiri dari seribu bait itu, maka ia diangkat Surkati menjadi asistennya dalam mata pelajaran gramatika bahasa Arab. SELAIN ITU IA JUGA SUDAH HAFAL BUKU LOGIKA ARISTOTELES BERJUDUL MATAN AS-SULLAM"(Al-Irsyad Mengisi Sejarah bangsa, hal.109). Allahul Musta’an, patut disayangkan bahwa kejeniusan beliau telah dicemari oleh filsafat Aristoteles kafir yang diajarkan oleh gurunya.
Pada uraian berikutnya (Bab XXII, Jamaluddin Al-Afghani Manusia Seribu Wajah Pujaan Ahmad Surkati) akan kita buktikan –Insya Allah- bagaimana penganut sekte sesat Al-Baabiyyah (beberapa kali mengunjungi tempat pelacuran umum!!) dan anggota organisasi rahasia Yahudi, Fremasonry ini ternyata ajarannya sarat pula dengan FILSAFAT yang merusak Islam, nampak jelas adanya campur tangan Yahudi di dalamnya!!
Jangan tinggalkan “pantai” kebenaran dan kedamaian,
Tempat berlabuh “bantera” orang-orang yang beriman
‘Demi mengarungi dan menyelami…
Samudera kegelapan tiada bertepian
Dan diombang-ambingkan…
Ombak lingkaran setan filsafat banyak tuhan
Kalau kematian tlah menjemput badan…
Hanyalah penyesalan yang tiada berkesudahan
Perumpamaan yang mudah dipahami tentang orang-orang yang mempelajari dan bahkan menyelami filsafat adalah orang yang menggali tanah untuk mengambil ketela pohon. Tidak sampai setengah meter menggalinya, didapatkannya ketela pohon itu. Itu bagi orang yang “berakal sehat”. Adapun jalan yang ditempuh oleh para pengekor filsafat “politeisme kafir”, tidaklah cukup dengan menggali tanah sedalam setengah meter untuk mendapatkan ketela pohonnya, bahkan mereka gali tanah puluhan meter sampai ratusan meter sehingga ditemukanlah bebatuan, tanah liat, cadas, mata air, fosil dan (mungkin juga) harta karun. Inilah yang mereka katakan sebagai “hakekat kebenaran” (baca: ketela pohon), teori kebenaran bertingkat! Kenapa demikian? Karena polyteisme sendiri meyakini bahwa tuhan itu banyak/berbilang, tentu saja kebenaran di sisi merekapun berbilang pula tingkat dan jumlahnya!! Jadi selama hidupnya, mereka tidak akan pernah menemukan hakekat kebenaran, sebab kebenaran itu relatif!! Tentu saja, karena semakin dalam mereka gali tanah, bermacam-macam pula benda yang mereka temukan dan kesemuanya mereka katakan sebagai ketela pohon (padahal bukan!) sebab ketela pohon itu sendiri sebenarnya ada di dekat permukaan tanah!! Allahul Musta’an, betapa jalan pikiran mereka dipermainkan oleh tipu daya setan. Tidak ada “hakekat kebenaran setan” kecuali akan datang lagi “hakekat kebenaran setan” yang berikutnya, demikianlah seterusnya dan mereka habiskan umurnya tanpa pernah merasa yakin dan mantap terhadap “kebenaran” yang mereka dapatkan. Sungguh Islam adalah mudah dan menentramkan, sementara mereka lebih memilih untuk membebankan pada diri-diri mereka suatu beban yang Allah tidak pernah memerintahkannya, jalan “pencarian kebenaran” yang tidak pernah berkesudahan!! Semoga mereka mendapatkan hidayah Allah . Amin.
Apakah Syaikh Ali bin Hasan ketika memuji Ahmad Surkati sedemikian rupa di Istiqlal juga mengetahui kenyataan ini betapa Ahmad Surkati ternyata ‘ahli’ dalam “menyelami filsafat” polyteisme kafir? Bahwa dia juga menularkan ilmu Aristotelesnya kepada anak didiknya?! Kalau beliau tidak mengetahuinya, maka pastikanlah bahwa pujian itu merupakan buah dari megaproyek Hizbiyyah-Dustaiyyahnya Abdurrahman At-Tamimi Al-Kadzab Al-Hizby dan kelompoknya!!
18.8 TERPENGARUH JAMALUDDIN AL-IRANI AR-RAFIDHI4 DAN MUHAMMAD ABDUH AL-MU’TAZILI
“Beliau menyerap tajdid lewat karangan Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim Al Jawziyyah sekalipun dalam kondisi sembunyi-sembunyi karena buku-buku tajdid dari Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, AL-AFGHANY DAN ABDUH adalah buku-buku yang tidak dibenarkan beredar oleh pemerintah waktu itu. Dengan pengetahuan dan semangat pembaharuan ini kemudian (di Indonesia) Ahmad Surkati dituduh lawan-lawan perjuangan pembaharuan sebagai wahabi.”(Ibid)
Di bawah judul “Persatuan Islam”, ketika mengomentari perjanjian persekutuan antara “dua negara Islam” (istilah Ahmad Surkati) yaitu negara Iran dengan Afghanistan, Ahmad Surkati dengan gaya bahasa “bombastis” mengungkapkan betapa ruhnya merasakan ruh pujaannya (Jamaluddin Ar-Rafidhi) yang tinggi lagi kekal sedang menari-nari :
“KAMI TULIS KERTAS INI SERTA MERTA RUH KAMI MERASAKAN ADANYA RUH YANG TINGGI LAGI KEKAL MILIK PENGGUGAH NEGERI-NEGERI TIMUR –ASSAYYID JAMALUDDIN AL-AFGHANI- TENGAH MENARI-NARI RIANG GEMBIRA BEGITU MENDENGAR SUKSESNYA PERSERIKATAN ANTARA NEGARA IRAN DAN AFGHANISTAN. Semoga Allah menyucikan jalannya karena telah sekian lama dia mengangan-angankan terwujudnya persatuan ini dan diapun telah berusaha sekuat tenaga, akan tetapi apa daya kematian telah mendahuluinya hingga ia tidak sempat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, maka bekulah dadanya, terpenuhi dengan kesedihan terhadap kenyataan negeri-negeri timur yang sengsara”
(Lembaran “kuna” Majalah AdzDzakhirah, juz 7, 1342H/1924M, hal.319-320)
Al-Afghany adalah nama yang dipopulerkannya sebagai kamuflase terhadap kaum Muslimin. Nisbat yang sebenarnya adalah Al-Irani Al-Baabiy Ar-Rafidhi Al-Masuni Al-Ibrani!! Dialah yang pertama kali mengibarkan bendera persatuan antar agama (samawi), padahal Islam datang untuk meluruskan berbagai keyakinan ahli kitab, sebagaimana ia datang untuk meluruskan berbagai keyakinan sesat orang-orang musyrik dan paganis. Mereka semua diseru kepada Islam, sebab dia adalah din, dimana agama selainnya tidak akan diterima oleh Allah . Lalu bagaimana mungkin kita mengikuti seruan persatuan antara agama Islam dengan selainnya? Antara Muslim dengan Kafir? Antara Tauhid dengan Syirik? Antara Al-Haq dengan Al-Batil?! Antara penyembah Allah saja dengan penyembah tiga tuhan; Isa ‘Alaihis Salam, Tuhan Bapa dan Roh Kudus?!
Firman Allah :
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”..” (QS. Al-Maidah:72)
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa” (QS. Al-Maidah:73)
Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Mukminun:91)
Dan apakah ketika memuji Ahmad Surkati sebagai “Al-Allamah”, “Asy-Syaikh”, “yang memerangi syirik, khurafat dan kesesatan” juga mengetahui betapa Ahmad Surkati ternyata ruhnya lebih memilih menyaksikan ruh “yang tinggi lagi kekal “ (milik seorang agen organisasi Yahudi Freemasonry, Syi’ah Rafidhah, Al-Baabiyyah, yang beberapa kali berkunjung ke tempat pelacuran umum), As-Sayyid Jamaluddin Al-Afghani yang sedang menari-nari riang gembira?! Lalu kapan Ahmad Surkati “sempat” untuk memerangi kesyirikan? Kapan pula dia punya waktu luang untuk melawan kesesatan jika pondasi dakwahnya sendiri sudah terobsesi dengan perjuangan PAN-Islamisme seorang rafidhah??!
Kalau kenyataan yang “sangat mengerikan” ini tidak diketahui pula, maka sangat kuat dugaan kita bahwa kenyataan ini memang merupakan sebuah rahasia yang harus ditutup rapat-rapat oleh Abdurrahman At-Tamimi dan kelompok Surkatiyyinnya! Suatu “energi potensial” yang sangat besar potensinya (jika diketahui oleh seluruh kaum Muslimin!) dapat berakibat kebangkrutan dakwahnya, terbongkarnya kedok kepalsuan dakwahnya, menyingkap wajah hizbi yang selama ini bersembunyi di balik topeng Salafi yang dikenakannya!! Segala puji hanya bagi Allah yang telah memudahkan dalam menyingkap “rahasia” Ahmad Surkati. Alhamdulillah
Adapun Muhammad Abduh, ma’ruf sebagai tokoh besar Mu’tazilah yang mengingkari keberadaan Dajjal. Pengaruh Abduh terhadap Ahmad Surkati dapat dilihat dari pengingkaran Ahmad Surkati terhadap datangnya Al-Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘alaihisSalam (lihat ceramah Abdurrahman At-Tamimi di Yordania).
Kalau Syaikh memuji Ahmad Surkati sebagai orang yang “…menyeleksi hadits yang dha’if dan memerangi bid’ah” (As-Sunnah, Ed.11/Tahun VIII/1425H/2005M, hal.32), maka kita katakan: “Bukan hanya hadits-hadits dha’if saja yang diseleksinya, bahkan hadits-hadits Shahih-pun diseleksinya (baca:diingkarinya!!)” sebagaimana pengakuan Abdurrahman At-Tamimi sendiri ketika menceramahi peserta Muktamar Masyayikh Salafiyyin ke-1 di Yordania tentang turunnya Isa ‘Alaihis Salam dan Al-Mahdi!!
Apakah Surkatiyyin menyadari bahwa pengingkaran kedua masalah keimanan ini (yang diakui oleh Abdurrahman At-Tamimi) mengharuskannya untuk menolak sekian banyak ayat Al-Qur’an dan berpuluh-puluh hadits shahih lainnya?!
1. Mengingkari ayat Al-Qur’an yang menunjukkan akan turunnya Nabi Isa ‘Alaihis Salam, QS.Az-Zukhruf:57-61 (lihat tafsir Al-Qurthubi 16:105, Tafsir Ath-Thabari 25:90-91,Tafsir Ibnu Katsir 7:222-223)
2. Mengingkari QS.AnNisa’:157-159 dan tafsirnya
3. Mengingkari QS. Ali Imran: 55 dan tafsirnya
4. Mengingkari hadits-hadits shahih tentang turunnya Nabi Isa ‘Alaihis Salam.
Imam Bukhari dalam shahihnya memasukkan di Kitab Ahaditsil Anbiya’, Bab Nuzuli Isa Ibni Maryam ‘Alaihis Salam, dan hadits-hadits lainnya yang diriwayatkan oleh para a’immah ahlul hadits.
Imam Muslim dalam shahihnya memasukkan dalam Kitab Al-Iman, Bab Bayanu Nuzuli Isa Ibni Maryam Hakiman bi Syari’ati Nabiyyina Muhammad dan Kitab Al-Fitan wa Asyrathis Sa’ah, Bab Dzikr Ad-Dajjal
1. Mengingkari hadits-hadits shahih yang menjelaskan tentang munculnya Al-Mahdi; antara lain lihat Silsilah hadits Shahih 2;336, hadits no.711, Shahih Jamiush-Shaghir 6:22-23, hadits no.6610-6612, keduanya merupakan karya guru dari Masyayikh Yordan sendiri, Syaikh Al-Albani Rahimahullah
2. Pengingkaran Ahmad Surkati terhadap hadits-hadits shahih tentang turunnya Isa ‘Alaihis Salam mengharuskannya untuk mengingkari pula hadits-hadits shahih tentang munculnya Dajjal!! Bukankah Nabiyullah Isa ‘Alaihis Salam yang akan membunuh Dajjal?! Kalau keberadaan Beliau adalah fiktif / sudah meninggal, mampukah tokoh fiktif/yang sudah meninggal melakukan peperangan dan membunuh Dajjal?! Sangat menarik jika merujuk kepada karya Syaikh Al-Albani yang berjudul “Qishah Al-Masih Ad-Dajjal Ulanuzuli Isa Alaihis Salam wa Qathlihi wa iyyahu” agar dapat dirinci bahwa dalam satu kitab saja ada berapa hadits shahih yang telah diingkari oleh Ahmad Surkati!!
3. Dampak buruk berikutnya telah menanti, harus diingkari pula riwayat-riwayat mengenai keluarnya Ya’juj dan Ma’juj!! Bukankah yang mendo’akan kematian mereka kepada Allah adalah Nabiyullah Isa ‘Alaihis Salam juga?! Bagaimana Surkati meyakini tentang Ya’juj dan Ma’juj sementara dia telah mengingkari turunnya Isa Alaihis Salam? Padahal ayat-ayat Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa mereka ini nyata, lihat QS.Al-Anbiya’:96-97, QS. Al-Kahfi: 92-99; lihat pula Shahih Muslim, Bab Dzikr Ad-Dajjal 18:68-69.
Maka pantaskah wahai kaum Muslimin, bahwa orang yang memiliki keyakinan “bengkok-bengkok” seperti ini dipuji-puji sebagai “Asy-Syaikh Al-Allamah Ahmad As-Surkati yang telah meluruskan garis perjuangan, berdakwah kepada Al-Kitab dan Sunnah, memerangi Syirik,khurafat dan kesesatan?!” Lalu dimana pondasi ilmiyyah yang mereka tegakkan sehingga As-Sudani mendapat gelar “honoris causa” bal Syaikhus Salafy?!Allahul Musta’an
MEWARISI & MEMPROPAGANDAKAN PAN-ISLAMISME JAMALUDDIN AL-IRANI AR-RAFIDHI YANG TERBUKA MENERIMA BERBAGAI FIRQAH SESAT (MEMPERSATUKAN BERBAGAI PANDANGAN/ ISLAM WARNA-WARNI/ LIBERANDALISASI ISLAM)!!
Hizbul Irsyad=Hizbul Ikhwan!! Siapa bilang Ahmad Surkati adalah da’i yang menyeru kepada dakwah Tauhid dan terpengaruh oleh dakwah Al-Imam Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah? Siapa bilang As-Sudani adalah Al-‘Allamah yang meluruskan garis perjuangan?! Telah dusta berbagai penisbatan itu, sesama mereka sendiri yang mendustakannya:
“Pada kesempatan di Cirebon itu juga, saat sampingan acara-acara Kongres Al-Islam Pertama, Surkati mengadakan dialog terbuka, semacam diskusi atau debat terbuka, dengan Semaun, Pemimpin Syarikat Islam Merah (PKI!-peny). Semaun didampingi sahabatnya, Hasan dari Semarang dan Sanusi dari Bandung. Surkati didampingi oleh Abdullah Badjerei yang masih muda belia itu sebagai penerjemah dan hadir pula Umar Nadji. Topiknya berkisar sekitar masalah Pan Islamisme dan Komunisme – Islamkah atau Komunismekah, yang bisa membebaskan negeri ini dari penjajahan? SEBAGAI PENGANUT PAN ISLAM, SURKATI TENTU SAJA BERUSAHA UNTUK MEYAKINKAN SEMAUN, BAHWA HANYA DENGAN ISLAM DAN PERSATUAN DUNIA ISLAM, negeri Indonesia ini bisa dimerdekakan, sedangkan Semaun berpendapat bahwa Komunismelah yang mampu menghadapi kolonialisme Belanda. Dua jam lebih perdebatan berlangsung, namun tetap saja tidak akan tyerdapat titik temu”(Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, hal.36-37).
“Dengan latar belakang beberapa peristiwa itu, NAMPAK JELAS PERANAN SOERKATI DALAM MENGEMBANGKAN PAN-ISLAM5 dan goodwill Soerkati mengajak debat terbuka Semaun, dengan harapan siapa tahu Semaun dapat ‘disadarkan’ dari kekeliruannya dan bersatu kembali dengan Cokroaminoto” ((Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, hal.38; juga H.Hussein Badjerei, dalam “Ahmad Soerkati (1), alirsyad.or.id, Nov 08, 04 | 10:48 am)
Pembaca harus memahami bahwa Abdurrahman At-Tamimi menamakan majalahnya dengan Adz-Dzakhiirah karena mengekor majalah Ahmad Surkati, melanjutkan misinya! Tidak tanggung-tanggung, Chalid "Si Tangan Putih" Bawazir bahkan menjadi penasehatnya untuk meneruskan misi dan ambisi Ahmad Surkati. Satu bukti lagi bahwa mereka berdua adalah Hizbiyyin-Surkatiyyin Tulen! Lembaran-lembaran tua majalah Adz-Dzakhirah tahun 1924 semakin memperberat bobot kedustaannya, perhatikan wahai pembaca ucapan Ahmad Surkati ini :
فالخرافي وإن كان ضالامن جهة فهو خرافينا والشيعي وإن كان مفرطا فهو شيعينا والخارجي وإن كان مجحفا فهو خارجينا والوهابي وإن كان مشددا فهو وهابينا والسني وإن كان مدعيا فهو سنينا فكل مسلمون مؤمنون مبتغون رضوان الله …إلخ
“ORANG-ORANG YANG MEMILIKI KEYAKINAN KHURAFAT, MESKIPUN MEREKA MEMILIKI PENYIMPANGAN DALAM BEBERAPA SEGI, MEREKA ITU MASIH KHURAFIYNA/SAUDARA KITA. DAN KELOMPOK SYI’AH, MESKIPUN MEREKA BERLEBIH-LEBIHAN, DIA MASIH SYI’IYNA/SAUDARA KITA. DAN KELOMPOK KHAWARIJ, MESKIPUN MEREKA EKSTRIM, DIA MASIH KHARIJIYNA/SAUDARA KITA. DAN WAHABI MESKIPUN MEREKA KERAS (MUSYADDID) namun masih WAHABIYNA/SAUDARA KITA, DAN SUNNI MESKIPUN MEREKA HANYA MENGAKU-NGAKU, namun masih SAUDARA KITA. Masing-masing itu kaum Muslimin, orang-orang yang beriman dan orang-orang yang mencari ridha Allah. Meskipun mereka salah dalam permasalahan-permasalahan ijtihadi, (mereka) masih masuk dalam saringan, masih masuk dalam pagar agama Islam.
Dan bagaimanapun keadaan mereka, tanpa diragukan lagi dia masih lebih ringan daripada kekafiran dan lebih ringan daripada penyembah berhala selama mereka tidak berlebih-lebihan (tidak ghuluw) dan keluar dari batas agama serta tidak berpisah dari ushul agama.
MENITIKBERATKAN DAN MEMUSATKAN PERHATIAN UNTUK MELAWAN ORANG KAFIR LEBIH WAJIB DAN LEBIH PENTING DIBANDINGKAN MENGARAHKAN PERLAWANAN TERHADAP KELOMPOK-KELOMPOK INI. Maka marilah kita bersama-sama saling bahu-membahu dan menggalang solidaritas serta berkonsentrasi dengan amalan-amalan yang bermanfaat, perkataan-perkataan yang lurus dan menerapkan agama kita dengan pelaksanaan yang hakiki. INILAH, DADA KAMI MENERIMA DENGAN LAPANG DADA PENDAPAT YANG MENDUKUNG KAMI DENGAN PENDAPAT YANG LURUS DALAM TUJUAN INI.
DAN MAJALAH ADZDZAKHIRAH INI MENYAMBUT DENGAN LUAS (SANGAT TERBUKA), HALAMAN-HALAMANNYA TERBENTANG LUAS, PINTU TERBUKA LEBAR BAGI SIAPA SAJA YANG INGIN BERGABUNG DENGAN KITA DALAM AMALAN YANG AGUNG INI, BAIK DENGAN JIWANYA MAUPUN HARTANYA6” (Majalah AdzDzakhirah, juz 1, Muharram 1342H, hal.5)
Kita katakan:
“INILAH DAKWAH YANG MENGHANCURKAN PONDASI YANG BESAR DARI POKOK-POKOK KEYAKINAN MUSLIMIN YAITU AL WALA’ WAL BARA’. DAKWAH YANG MUNCUL DARI MANUSIA-MANUSIA JAHAT YANG MENYIMPANG DARI AS SHIRATHAL MUSTAQIM DAN PETUNJUK YANG BENAR seperti Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh Al Mishri, dan para pengikutnya seperti pemimpin hizib Ikhwan, Hasan Al Banna lalu bersambung kepada Al Ghazali, As Siba’i, dan Qaradhawi.
Mereka perbudak pena-pena mereka, mimbar-mimbar, serta karangan-karangan mereka untuk mencapai tujuan mereka. Lalu mereka menghiasinya dengan panji-panji yang mengkilat dan kata-kata manis hingga para Muslimin yang awam tertipu dengannya”
(Sumber : Kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalaafatil Qaradhawi Li Syari’atil Islaam, edisi Indonesia Membongkar Kedok Al Qaradhawi, Bukti-bukti Penyimpangan Yusuf Al-Qaradhawi dari Syari’at Islam. Penerbit Darul Atsar Yaman. Sumber artikel :http://www.salafy.or.id/print.php?idartikel=652)
Dan tulisan Surkati tersebut adalah bukti bahwa Manhaj Dakwah Surkati sangatlah persis dengan manhaj dakwah Ikhwanul Muslimin dilihat dari 2 sisi:
1.Di atas, telah kita baca upaya Surkati dalam mempersaudarakan berbagai kelompok sesat agar bergabung bersama di Hizbul Irsyadnya, bagaimana dengan Ikhwanul Muslimin?
“Ikhwanul Muslimin adalah suatu kelompok yang memprioritaskan gerak dakwahnya dalam rangka mewujudkan persatuan kaum Muslimin di atas segala-galanya. Sehingga kelompok ini tidak menghiraukan berbadai praktek kekufuran, kebid’ahan dan kesesatan yang tumbuh subur di tengah-tengah kaum Muslimin. Terlebih lagi untuk menegakkan tauhid dan sunnah….Bahkan banyak diantara tokoh-tokoh dan pimpinan-pimpinannya tidak beraqidah dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Demikian juga mereka sangat getol menyerukan persatuan antara Sunny dan Syi’ah”(Mereka Adalah Teroris, cetk. Ke-2, hal.465).
2.Baik Surkati maupun Hasan Al-Banna sangat banyak terpengaruh oleh pemikiran dan cita-cita Pan-Islamisme seorang Syi’ah Rafidhah, Jamaluddin Al-Afghani Al-Irani Ar-Rafidhi Al-Ibrani!! Sehingga sangatlah wajar dan pantas kalau kemudian gerakan Ikhwanul Muslimin dan Surkati sangat bertentangan dengan dakwah Tauhid yang dikibarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah yang merupakan dakwah kepada aqidah shahihah warisan salaful ummah.
Dan… INILAH, DADA KAMI MENERIMA DENGAN LAPANG DADA PENDAPAT YANG MENDUKUNG KAMI DENGAN PENDAPAT YANG LURUS DALAM TUJUAN INI7.
DAN MAJALAH ADZDZAKHIRAH INI MENYAMBUT DENGAN LUAS (SANGAT TERBUKA), HALAMAN-HALAMANNYA TERBENTANG LUAS, PINTUNYA TERBUKA LEBAR BAGI SIAPA SAJA YANG INGIN BERGABUNG DENGAN KITA DALAM AMALAN YANG AGUNG INI, BAIK DENGAN JIWANYA MAUPUN HARTANYA”
Bagaimana penjelasan Syaikh Al-Albani terhadap orang-orang yang memiliki manhaj pramuka (warna-warni) seperti Syaikh “Ikhwani” Hasan Al-Banna dan “Syaikh ‘Allamah” Ahmad Surkati “AS-SALAF-I” ?
“Seorang Muslim yang bertumpu pada Al-Kitab dan As-Sunnah tidak akan dapat berwarna-warni secara mutlak. Adapun Muslim yang bertumpu pada jama’ah atau kelompok Hizbiyyah –meski menamakan dirinya Islam- akan memaksanya sehingga ia harus banyak warna dengan dalih bahwa itu adalah ijtihad dan perubahan” (Fatawa fi Al-Jama’at wal Ahzab Al-Islamiyyah, hal.25)
Perhatikanlah kesamaan manhaj dan prinsip dakwah Al-Irsyad dengan prinsip dakwah Ikhwanul Muslimin!!
Perhatikan pula wahai saudaraku, betapa Ahmad Surkati ikut-ikutan menjuluki dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai Wahabi-Musyaddid!! Dan lihatlah bagaimana mereka bermuka dua ketika menurunkan artikel Syaikh Muqbil Rahimahullah tentang “Seputar Kata Wahabi” :”Memahami julukan buruk yang disebarkan oleh orang-orang komunis, pengikut partai Ba’ats, pengikut pemahaman (Jamal Abdul Nasher) orang-orang Syi’ah., orang-orang Sufi dan ahli bid’ah yang mereka sebarkan di lingkungan masyarakat untuk menghalangi manusia dari sunnah Rasulullah , kata-kata tersebut adalah Wahhabiyyah” (Majalah Adz-Dzakhiirah, edisi 10/th.II/2004).
Lihatlah betapa mereka menurunkan artikel Syaikh Muqbil Rahimahullah agar tampak kesalafiyyahannya tetapi menyembunyikan kenyataan bahwa Ahmad Surkati dan Hizbul Irsyadnya termasuk orang-orang yang menyebarkan istilah tersebut! Wahabisme!! Bahkan dia menambahinya dengan julukan Musyaddid-Ekstrem!!
Wahai Hizbiyyin-Surkatiyyin Musyaddid!! Tentu saja kami yakin bahwa kalianpun mengelabui Masyayikh Yordan dari bukti hakekat dakwah Haddadiyyah kalian!!
(Bab XVIII, Bundel artikel Badai Fitnah)
1 Duhai, betapa semakin jauhnya orang ini menyimpang dari manhaj Salaf!! Semakin nyata permusuhannya terhadap Salafiyyin!! Dan semakin jahat ucapannya terhadap Masyayikh Salafiyyin!! Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya. Amin.
2
3 Walaupun kenyataan pahit “Al-Wala’ wal Bara’ made in Syaikh Irsyady As-Surkati dengan Snouck telah terurai sedemikian mengharukan, namun Irsyadiyyun tidaklah perlu berkecil hati karena Hussein Badjerei masih memberikan sebaris kalimat penghibur:”Dengan bertopeng kepada wawasan budaya inilah Budi Utomo, Al-Irsyad dan lain-lain bersama-sama menghadang serangan sengit westernisasi Snouck Hurgronje.” (ibid, hal.75).
Bagaimana caranya? Tentu As-Surkati As-Sudani yang paling tahu cara menerapkan “politik dua wajah” ini! Allahul Musta’an.
4 Ini adalah bukti nyata bahwa As-Surkati As-Sudani As-Salafy tidak hanya terpengaruh oleh Abduh dan Rasyid Ridha sebagaimana pernyataan berikut ini: “…akan tetapi (secara jujur) beliau terpengaruh dengan madrasah /pemikiran Syaikh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho…” (Mukadimah Daurah ke-5, Salafindo.com), bahkan jauh lebih parah dari itu yaitu terobsesi oleh dakwah Pan-Islamisme Jamaluddin Al-Afghaniy Al-Iraniy Ar-Rafidhiy Al-Baabiy Al-Masuniy Al-Ibraniy agen rahasia Yahudi Freemasonry yang berupaya dalam mempersatukan berbagai firqah-firqah sesat di bawah naungan “dakwah bijaksananya”!
5 Perhatikanlah –wahai saudaraku- persamaan antara dakwah Surkati sang “Syaikh Salafy” Irsyadi dengan dakwah Hasan Al-Banna gembong besar Ikhwani: “Sesungguhnya, Al-Banna hanyalah mengambil ide Pan-Islamisme yang digulirkan Al-Afghani” (Al-Ikhwanul Muslimun Mendhalimi…, hal.100). “Sebenarnya, Pan-Islamisme adalah kewajiban agama dan memiliki landasan yang kuat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah” (ibid, hal.97). Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
6 Propaganda Pendekatan Sunnah Dan Syi’ah. Dakwah pendekatan antara Sunnah dan Syi’ah adalah dakwah pembauran dua hal yang berlawanan dan penggabungan yang mustahil, dakwah yang berpanjikan persatuan dan menentang perpecahan, bekerja sama dalam permasalahan-permasalahan kontemporer yang sebagai imbalannya adalah mempertaruhkan kehormatan para Shahabat Radliyallahu ‘Anhum bahkan aqidah Salaf.
Inilah dakwah yang menghancurkan pondasi yang besar dari pokok-pokok keyakinan Muslimin yaitu Al Wala’ wal Bara’. Dakwah yang muncul dari manusia-manusia jahat yang menyimpang dari As Shirathal Mustaqim dan petunjuk yang benar seperti Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh Al Mishri, dan para pengikutnya seperti pemimpin Hizbul Ikhwan, Hasan Al-Banna lalu bersambung kepada Al-Ghazali, As-Siba’i, dan Qaradhawi.
Mereka perbudak pena-pena mereka, mimbar-mimbar, serta karangan-karangan mereka untuk mencapai tujuan mereka. Lalu mereka menghiasinya dengan panji-panji yang mengkilat dan kata-kata manis hingga para Muslimin yang awam tertipu dengannya.”
(Kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalaafatil Qaradhawi Li Syari’atil Islaam, edisi Indonesia “Membongkar Kedok Al Qaradhawi, Bukti-bukti Penyimpangan Yusuf Al-Qaradhawi dari Syari’at Islam. Penerbit Darul Atsar Yaman.(http://www.salafy.or.id/print.php?idartikel=652)
7 Duhai, alangkah samanya tujuan dakwah Pan-Islamisme/Wihdatul Firqah Hizbul Irsyadnya As-Surkati dengan “taqrib/pendekatan dan penyatuan dakwah Pan-Islamisme yang dilakukan oleh Hizbul Ikhwannya Al-Banna! Inilah bukti “fotocopy” dakwahnya:
MENGHADIRI PERAYAAN MENGENANG KHOMEINI
Karena Al Qaradhawi tidak mengharamkan perayaan-perayaan yang berasal dari Yahudi dan Nashara maka dia pun telah menghadiri banyak perayaan tersebut. Misalnya, ia menghadiri perayaan tahunan mengenang kepergian Khumaini. Kedutaan Iran merayakan pesta di Dafnah dalam rangka mengenang tewasnya Khumaini. Tentang perayaan tersebut diberitakan oleh harian yang terbit tanggal 17 Muharram 1417 H. Inilah teksnya :
Perayaan dihadiri oleh banyak tamu, di antaranya oleh Dr. Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dan para diplomat … .
Perayaan tersebut mencakup ceramah-ceramah agama dan qasidah-qasidah mengenang Imam Al Khumaini yang dilantunkan dengan dua bahasa, Arab dan Persia, setelah itu diiringi pesta makan malam. Perayaan yang diadakan oleh kedutaan ini diselenggarakan sore hari kemarin di kediaman mereka di pemukiman diplomat di Dafnah dalam rangka mengenang tewasnya Imam Al Khumaini di tahun yang ketujuh.
Saudaraku yang mulia, perayaan mengenang perginya seorang pemimpin seperti ini dan yang sejenisnya adalah bid’ah. Tidak ada sedikitpun perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan belum pernah terjadi di masa Rasulullah . Serta belum pernah shahabat mengadakan perayaan dalam rangka mengenang kepergian Rasulullah , imam manusia seluruhnya. Demikian juga para imam kaum Muslimin setelah mereka. Adapun perbuatan Qaradhawi semacam ini termasuk bersekutu dalam kebid’ahan, bid’ah yang baru, dan taklid kepada Barat. Tentang ini telah disebutkan dalil-dalil mengenai keharamannya. Begitu juga perbuatan ini termasuk turut serta memperbesar syi’ar Rafidhah (Syi’ah). Sesungguhnya Al Khumaini—orang yang Qaradhawi turut serta dalam perayaan bid’ahnya dalam rangka mengenang matinya—adalah orang jahat yang telah mencela shahabat Nabi dan mengkafirkan sebagian mereka sedang ia sendiri adalah salah seorang imam dari firqah Itsna ‘Asyariyah, firqah Syi’ah yang meyakini bahwa terdapat Al Qur’an yang turun kepada Fatimah, selain Al Qur’an yang diketahui para Muslimin.
Al Khumaini mempunyai perkataan yang karenanya ia dikafirkan oleh para ulama. Diantaranya ia mengatakan :
Sesungguhnya Imam (yakni Imam Syi’ah) mempunyai maqam (kedudukan) yang dipuja dan derajat yang tinggi dan kekuasaan takwiniyah (membina, mengelola) yang seluruh penghuni alam semesta tunduk kepada kekuasaannya. (Wilaayah Kauniyah, halaman 52)
Ia berkata tentang para imam Syi’ah Itsna ‘Asyariyah sebagai berikut :
Sesungguhnya yang termasuk kepercayaan pokok mazhab kita adalah bahwa para imam kita mempunyai maqam (kedudukan) yang tidak dimiliki baik oleh malaikat yang dekat dengan Allah ataupun seorang nabi yang diutus.
Bahkan ia menjadikan ajaran-ajaran imam mereka sama seperti ajaran-ajaran Al Qur’an di mana ia mengatakan :
Sesungguhnya ajaran-ajaran para imam adalah sama seperti ajaran-ajaran Al Qur’an yang tidak dikhususkan bagi satu generasi saja. Dan sesungguhnya ia merupakan ajaran bagi semua orang di setiap masa dan setiap negeri sampai hari Kiamat maka wajib untuk melaksanakan dan mengikutinya.
Dan sungguh ia telah menuduh Abu Bakar As Shiddiq dan Al Faruq Umar bin Khattab dengan kemunafikan.
Pembaca yang budiman, bukanlah tujuanku di sini untuk memaparkan biografi Al Khumaini, akan tetapi sebagai peringatan akan kejahatannya. Bersamaan dengan itu seorang yang dianggap sebagai ahli fiqh umat Islam, yakni Qaradhawi, adalah orang yang dengan serta merta menghadiri perayaan yang diadakan dalam rangka mengenang matinya orang jahat ini!
Dan ini tidaklah aneh jika disandarkan kepada seorang Qaradhawi yang menganut pemahaman Ikhwani. Karena mereka sejak zaman dahulu kala telah berdakwah untuk mendekatkan antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah. Qaradhawi sendiri adalah salah satu dari dai-dai mereka sebagaimana akan datang penjelasannya nanti.
12. Propaganda Pendekatan Sunnah Dan Syi’ah
Dakwah pendekatan antara Sunnah dan Syi’ah adalah dakwah pembauran dua hal yang berlawanan dan penggabungan yang mustahil, dakwah yang berpanjikan persatuan dan menentang perpecahan, bekerja sama dalam permasalahan-permasalahan kontemporer yang sebagai imbalannya adalah mempertaruhkan kehormatan para shahabat radliyallahu ‘anhum bahkan akidah Salaf.
Inilah dakwah yang menghancurkan pondasi yang besar dari pokok-pokok keyakinan Muslimin yaitu Al Wala’ wal Bara’. Dakwah yang muncul dari manusia-manusia jahat yang menyimpang dari As Shirathal Mustaqim dan petunjuk yang benar seperti Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh Al Mishri, dan para pengikutnya seperti pemimpin hizib Ikhwan, Hasan Al Banna lalu bersambung kepada Al Ghazali, As Siba’i, dan Qaradhawi.
Mereka perbudak pena-pena mereka, mimbar-mimbar, serta karangan-karangan mereka untuk mencapai tujuan mereka. Lalu mereka menghiasinya dengan panji-panji yang mengkilat dan kata-kata manis hingga para Muslimin yang awam tertipu dengannya. Berikutnya, sejenak kita berbincang dengan salah satu dai tersebut, yaitu Qaradhawi.
Sungguh ia telah melontarkan ceramahnya dalam upacara wisuda yang ditulis oleh Harian Akhbarul Khalij yang terbit tanggal 20/9/1998. Inilah nukilan tulisan wartawan tersebut :
“Yang mulia Syaikh Doktor Qaradhawi telah mengisyaratkan kepada sikap dan toleransinya terhadap pelbagai mazhab Sunni dan mazhab lainnya seperti Syi’ah, Zaidiyah, dan Ibadhiyah. Dia berkata :
Sesungguhnya kita tidak merasa sesak dengan perbedaan mazhab sebagaimana lslam tidak merasa sesak dengan perbedaan agama, maka perbedaan itu suatu hal yang pasti terjadi khususnya furu’ (cabang) dalam sebagian masalah-masalah (fiqh, peny.) dan furu’ dalam masalah akidah. Karena dasar-dasarnya—Alhamdulillah—masih disepakati, kita adalah pemeluk agama yang satu dan kiblat kita satu dan kadang perbedaan tersebut terjadi di seputar masalah-masalah yang berkenaan dengan af’alil ibad (perbuatan hamba) dan tanggung jawab mereka terhadapnya. Dan menyangkut masalah kemakshuman para imam Syi’ah dan imamiyah itu semua pada dasarnya adalah masalah furu’ dalam akidah akan tetapi perkara yang mendasar tetap disepakati, maka tidaklah berbahaya perbedaan dan perselisihan dalam masalah furu’ dan semua dapat digabungkan menjadi satu.
Qaradhawi menguatkan bahwa perbedaan mazhab adalah hal yang harus terjadi dalam agama, bahasa, kemanusiaan, dan sunnah kauniyah. Ia memberikan beberapa contoh tentang itu. Yakni tidak perlu orang yang bermadzhab Syi’ah untuk meninggalkan Syi’ahnya akan tetapi ajakan untuk pendekatan merupakan tuntutan bagi kita untuk menyatukan sikap dalam menghadapi persoalan-persoalan masa kini.”
Untuk mempermudah memahami perkataan Qaradhawi di atas kami akan meringkasnya menjadi beberapa poin :
1. Tuduhannya bahwa Islam bertoleransi dengan madzhab-madzhab seperti Syi’ah, Zaidiyah, dan Ibadhiyah.
2. Pengakuannya bahwa ia tidak merasa sesak dengan perbedaan mazhab sebagaimana Islam tidak merasa sesak dengan perbedaan agama.
3. Ia membagi akidah menjadi furu’ (cabang) dan ushul (pokok).
4. Tuduhannya bahwa keimanan Ahlus Sunnah dan Syi’ah, Zaidiyah, Ibadiyah adalah satu.
5. Tuduhannya bahwa masalah kemakshuman dalam Imamiyah adalah termasuk furu’ dalam akidah adapun pokoknya adalah sama.
6. Ia tidak meminta seorang Syi’ah untuk meninggalkan ajaran Syi’ah.
7. Ajakan dia untuk taqrib (pendekatan).
Poin pertama, yaitu tuduhannya bahwa Islam bertoleransi dengan pelbagai mazhab seperti Syi’ah, Ibadhiyah, dan Zaidiyah maka kami katakan pada Qaradhawi :
Sesungguhnya kalimat Islam apabila dilontarkan tidak dimaksudkan kecuali Islam yang dibawa oleh Rasulullah yang berjalan sesuai dengan ajaran-ajaran Salafus Shalih dari para sahabat radliyallahu ‘anhum dan para pengikut setelah mereka. Oleh karena itu tidak ada toleransi antara mereka dengan orang-orang yang disebut dari firqah-firqah bid’ah. Karena hal ini bertentangan dengan ajaran Islam dalam banyak permasalahan ushul, baik masalah keyakinan ataupun hukum. Dan apabila yang dimaksud dengan Islam adalah Islam yang berdiri di atas pemahaman Khalaf dari pengamalan (meninggikan) hawa nafsu dan perubahan nas-nas secara maknawi, yang ini mungkin untuk bertoleransi bersama dengan seluruh golongan-golongan mubtadi’ karena sumber mereka adalah satu.
Poin kedua, bahwa ia tidak merasa sesak dengan perbedaan mazhab. Ini bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah yang menyeru pada persatuan dan membuang perpecahan dan perselisihan. Firman Allah :
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiya’:92)
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran : 103)
Dan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut banyak yang akan disebutkan dalam pembicaraan tentang pemecahbelahan Qaradhawi terhadap umat.
Maka apabila perpecahan diharamkan dalam agama kita dan merupakan penyebab kelemahan orang Islam dan hilangnya kekuatan mereka maka bagaimanakah seorang Muslim rela dengan perkara ini dan tidak merasa sesak sedikit pun.
Poin ketiga, ia membagi akidah menjadi furu’ (cabang) dan ushul (pokok). Pembagian ini tidaklah datang dari Allah ataupun Rasul-Nya dan belum pernah dikerjakan oleh para Salaf dan juga para pengikutnya, ulama, dan para imam bahkan mereka mengingkari Mu’tazilah yang membagi syariat menjadi ushul dan furu’. Mereka menjadikan masalah-masalah akidah sebagai ushul dan hukum-hukum syar’i sebagai furu’. Ibnul Qayyim telah menghancurkan bangunannya sampai ke dasar-dasarnya hingga runtuh menimpa mereka.
Dan diantara komentar beliau (Ibnul Qayyim) tentang pembagian ini adalah :
“Setiap pembagian yang tidak ditopang oleh Al Qur’an dan As Sunnah dan pokok-pokok syariat serta tidak diperhatikan (dikategorikan) oleh syariat maka ia adalah pembagian yang batil dan harus dicampakkan dan pembagian ini yakni pembagian agama menjadi ushul dan furu’ adalah salah satu dari dasar-dasar kesesatan mereka.” (Mukhtashar As Shawaa’iq, halaman 412)
Apabila ulama dan para imam kita mengingkari Mu’tazilah menyangkut pembagian ini maka aku tidak mengerti bagaimana bisa Qaradhawi dengan leluasa berpendapat seperti itu serta menuliskannya dalam setiap buku-buku dan menyampaikannya dalam pertemuan-pertemuannya. Terlebih lagi ia membagi akidah menjadi ushul dan furu’ yang mana kaum Mu’tazilah masih menganggapnya ushul, semua ini menunjukkan bahwa ia telah mengikuti pendapat-pendapat yang ganjil yang menyelisihi manhaj Salaf radliyallahu ‘anhum.
Poin keempat, tuduhannya bahwa keimanan Ahlus Sunnah, Syi’ah, Zaidiyah, dan Ibadhiyah adalah sama. Kemungkinan ia jahil dengan keyakinan firqah-firqah tersebut atau itu adalah pengkaburan terhadap Muslimin karena perbedaan antara keimanan Ahlus Sunnah dengan keimanan firqah-firqah tersebut adalah hal yang tidak samar lagi bagi siapa yang mempunyai sedikit dari ilmu yang bermanfaat (ilmu agama) terlebih lagi mereka yang dijuluki dengan gelar-gelar yang besar. Agar menjadi jelas perbedaan antara keimanan Ahlus Sunnah dengan keimanan firqah-firqah tersebut akan aku sebutkan beberapa perbedaan :
1. Sesungguhnya keimanan Ahlus Sunnah berdasarkan keyakinan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Sementara mereka (firqah-firqah tersebut) meyakini bahwa Al Qur’an itu makhluk.
2. Iman Ahlus Sunnah berdiri atas dasar keyakinan bahwa Mukminin akan melihat Rabb mereka sedang Zaidiyah dan Ibadhiyah tidak mengimaninya.
3. Iman Ahlus Sunnah tegak berdasar keyakinan bahwa para pelaku dosa besar adalah ahli maksiat bukan orang kafir dan mereka berada di bawah kehendak Allah, apakah Dia menyiksanya dengan azab atau mengampuninya. Sedangkan Zaidiyah mengatakan bahwa pelaku dosa besar berada pada satu tempat di antara dua tempat, manzilah baina manzilatain, bukan orang mukmin, bukan pula orang kafir. Adapun Ibadhiyah mereka meyakini bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, oleh karena itu mereka mengkafirkan masyarakat Muslim.
Perbedaan-perbedaan di atas hanyalah sebagai contoh karena bukan di sini tempatnya untuk membeberkannya secara panjang lebar. As Syahristany mengakui bahwa keyakinan Zaidiyah adalah keyakinan Mu’tazilah di mana ia berkata :
“Adapun dalam permasalahan ushul, mereka berpendapat dengan pendapat Mu’tazilah selangkah demi selangkah.” (Al Milal Wan Nihal I:319)
Ar Razy menyebutkan hal ini juga dalam Al Mahshal halaman 248. Begitu juga disebutkan oleh Al Maqbaly dalam Al ‘Ilmu Asy Syaamikh halaman 319. Ini adalah berkenaan dengan Zaidiyah yang tergolong firqah Syi’ah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah. Maka bagaimanakah dengan firqah Syi’ah lainnya yang jauh menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah?!
Namun demikian, Qaradhawi menyamakan semua firqah ini dan pemikiran-pemikiran yang dibawanya serta keyakinan-keyakinan yang batil dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah para pemeluk keyakinan yang murni dan bersih yang disarikan dan diambil dari Kalamullah dan sunnah Rasul-Nya berdasarkan pemahaman Salafus Shalih.
Poin kelima, tuduhannya bahwa kemakshuman dalam Syi’ah Imamiyah adalah termasuk dalam masalah furu’iyah dalam akidah.
Dan bantahan terhadap point ini dari dua sisi :
Yang pertama, penjelasan tentang hakikat keyakinan ini. Aku berkata, kemakshuman menurut Syi’ah tergolong permasalahan ushul yang besar yang termasuk dasar akidah mereka. Syi’ah meyakini bahwa para imam mereka makshum dari segala kesalahan dan kealpaan dan dari melakukan dosa-dosa besar ataupun dosa-dosa kecil. Keyakinan ini tercantum dalam banyak kitab-kitab yang mereka jadikan sebagai bahan rujukan, antara lain kitab Aqa’idul Imamiyah karangan tokoh Syi’ah masa kini, Muhammad Ridha Mudhaffar, An Nukatul I’tiqadiyah karangan Al Mufid, kitab Al Bihar susunan Al Majlisy. Sungguh ia telah mengisahkan bahwa kemakshuman para imam Syi’ah merupakan kesepakatan mereka. Tidak cukup di situ saja bahkan mereka menjadikan para imam mereka berkedudukan yang lebih tinggi dari kedudukan para nabi dan malaikat.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Al Khumaini :
Merupakan hal pokok dalam mazhab kita bahwa para imam kita mempunyai kedudukan yang tidak bisa diraih oleh malaikat yang dekat ataupun nabi-nabi yang diutus.” (Al Wilayah At Takwiiniyah, halaman 52)
Inilah kemakshuman menurut Syi’ah.
Yang kedua, penjelasan tentang kebatilan keyakinan yang rusak ini dan itu dilihat juga dari dua sisi :
a. Bahwasanya kemakshuman yang dijadikan oleh Syi’ah bagi para imam mereka tidak terdapat pada para Nabi. Allah berfirman menceritakan tentang Nabi Adam ‘Alaihis Salam :
“Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya dan sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (QS. Thaha : 121-122)
Allah juga berfirman :
Keduanya berkata : “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf : 23)
Dan inilah rasul kita Muhammad , Allah berfirman tentang beliau :
“Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang) sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta.” (QS. At Taubah : 43)
Allah juga berfirman :
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS. Abasa : 1-4)
Dahulu orang-orang musyrik menawarkan kepada Rasulullah agar menjadikan bagi mereka suatu hari dimana para hamba sahaya seperti Ibnu Mas’ud dan Bilal tidak bisa menghadirinya. Hal tersebut sempat terbersit dalam hati Rasulullah akan tetapi Allah menurunkan ayat :
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi hari dan petang hari sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.” (QS. Al An’am : 52)
Allah berfirman :
“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya : ‘Tahanlah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah.’ Sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.” (QS. Al Ahzab : 37)
Terdapat hadits Nabi yang menunjukkan bahwa beliau tidak makshum secara mutlak. Beliau bersabda :
“Tidak lain aku hanyalah seorang manusia biasa, kadang datang padaku sebuah perkara. Maka barangkali sebagian dari mereka lebih pandai menyampaikan dari yang lainnya. Maka aku menyangka bahwa ialah yang benar (jujur) maka aku memenangkannya. Dan barangsiapa yang telah aku menangkan perkaranya dengan mengorbankan hak seorang Muslim maka tidak lain itu adalah percikan api neraka maka hendaklah ia menanggungnya atau meninggalkannya.” (HR. Muslim)
Dalam dalil ini terdapat penjelasan bahwa para nabi kadang jatuh dalam kesalahan hanya saja mereka tidak membenarkan kesalahan tersebut. Ini adalah kebalikan dari apa yang diyakini Syi’ah tentang para imam mereka bahwa mereka tidak mungkin melakukan kesalahan, baik disengaja ataupun lalai.
b. Bahwa keyakinan yang diakui oleh Syi’ah tentang para imam mereka, membawa mereka dalam hal-hal sebagai berikut :
v Setiap perkataan yang muncul dari para imam mereka yang dua belas adalah sama kedudukannya seperti firman Allah dan sabda Nabi . Oleh karena itu bahan rujukan mereka dalam hadits sanad-sanadnya kebanyakan berhenti pada salah satu imam mereka.
v Ketika mereka berselisih dan bersengketa maka mereka merujuk kepada perkataan imam mereka. Ini bertentangan dengan Al Qur’an di mana Allah telah berfirman :
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’ : 59)
v Berlebih-lebihan dalam kubur-kubur mereka dan menjadikannya tempat ziarah dan perayaan. Mereka menjadikan perbuatan ini sebagai dasar-dasar keyakinan mereka dan membuat bab-bab khusus tentang masalah ini dalam buku-buku dan karangan karangan mereka.
Pembaca, setelah mengetahui apa arti kemakshuman menurut mereka (Syi’ah) dan penyelisihan mereka dengan akidah yang benar, yakni akidah Salafus Shalih, masihkah dikatakan bahwa ‘ishmah termasuk masalah furu’ dalam akidah? Maha Suci Allah, ini adalah kebohongan yang besar! Allah berfirman :
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya?” (QS. Al Ankabut : 68)
Allah juga berfirman : “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam.” (QS. As Shaff : 7)
Adapun tuduhannya bahwa hal-hal yang mendasar telah disepakati adalah dakwaan yang sangat jelas kebatilannya. Karena Syi’ah dan sekte-sektenya seperti Zaidiyah dan Ibadhiyah dan sebagainya mempunyai ushul yang berbeda dengan ushul Ahlus Sunnah, baik dalam hukum ataupun dalam akidah.
Dan telah disebutkan beberapa perbedaan Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah yang disebutkan Qaradhawi, maka aku tidak mengerti hal-hal mendasar apakah yang disepakati oleh Ahlus Sunnah dan Syi’ah menurut pemahaman Qaradhawi.
Seandainya apa yang dimaksud dengan hal mendasar tersebut adalah akidah maka ini tidak bisa diterima karena akidah Syi’ah dalam masalah Asma’ was Shifat diambil dari Mu’tazilah. Dalam masalah qadar dari Qadariah. Serta dalam masalah shahabat mereka mengkafirkan sekelompok besar dari sahabat, melaknat mereka, dan menuduh mereka dengan pelbagai kejahatan dan tidak bersandar (berpegang) dengan apa yang mereka riwayatkan dari Rasulullah .
Dan seandainya ia bermaksud dengan assasiyat (hal-hal mendasar, asasi) adalah bahwa dasar-dasar Syi’ah yang dijadikan rujukan oleh mereka adalah dasar-dasar Ahlus Sunnah, itu sama batilnya dengan yang sebelumnya. Dasar-dasar Syi’ah bukanlah dasar-dasar Ahlu Sunnah! Dasar-dasar Ahlus Sunnah adalah Al Qur’an dan dua kitab shahih milik Bukhari-Muslim dan apa-apa yang shahih dari sunnah Rasulullah yang dicatat oleh para ulama umat Islam seperti Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, Musnad Ahmad, dan kitab-kitab sunan yang lain.
Adapun Syi’ah tidak menjadikan semua ini sebagai dasar-dasar mereka. Tentang sikap mereka terhadap Al Qur’anul Karim, adapun penganut Itsna ‘Asyariyah berkeyakinan bahwa Al Qur’an sudah diselewengkan sedangkan Al Qur’an yang sempurna adalah yang diturunkan kepada Fatimah setelah Nabi . Mereka menamakannya Al Qur’an yang lain itu Mushaf Fatimah dan ini diakui dalam kitab-kitab Syi’ah Imamiyah serta dijelaskan secara terang-terangan. Seperti dalam kitab Al Kaafi milik Al Kailani dan lain sebagainya. Orang-orang ini (Syi’ah) tidaklah memahami Al Qur’an dengan pemahaman shahabat bahkan mereka menakwilnya dengan takwilan batiniyah sebagaimana yang sudah dikenal dari mereka.
Pembaca, setelah Anda mengetahui penyelisihan Syi’ah dengan Ahlus Sunnah dalam masalah akidah dan dalam dasar-dasar rujukan, Anda mengerti bahwa tidak ada kata sepakat antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Tuduhan Qaradhawi bahwa ada hal-hal mendasar yang disepakati adalah tuduhan sesat dan batil yang jelas serta merupakan pemutarbalikan fakta yang semua itu ditujukan dalam rangka dakwah taqrib (pendekatan) antara Syi’ah dan Sunnah, dakwah pendekatan antara tauhid dan syirik, petunjuk dan kesesatan, kegelapan dan cahaya, sunnah dan bid’ah! Dakwah yang berusaha mendekatkan kecintaan pada shahabat dan meneladani mereka dengan pelaknatan dan pencelaan terhadap mereka dan ajaran-ajaran syar’i yang mereka bawa. Dakwah yang mengupayakan penyatuan dua hal yang berlawanan!
Dakwah ini tidak bertujuan untuk mendekatkan Syi’ah kepada Sunnah, hal ini tidaklah diinginkan oleh Qaradhawi seperti apa yang diakuinya. Katanya :
Tidaklah diharapkan dari seorang yang bermadzhab Syi’ah untuk meninggalkan Syi’ahnya akan tetapi ajakan untuk pendekatan … . Dan seterusnya.
Benarlah perkataan Syaikh Ihsan Ilahi Dzahir :
“Maka menjauhlah persatuan yang didirikan dengan mengorbankan Islam dan celakalah persatuan yang dibangun atas dasar pencelaan terhadap Muhammad dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum.” (As Sunnah wasy Syi’ah halaman 7)
Benarlah perkataan Muhaddits masa kini, Syaikh Al Albaniy :
“Jauh sekali kemungkinan pendekatan dan saling memahami bersama mereka (Syi’ah) bahkan setiap usaha untuk mencapainya akan gagal. Dan hanya pada Allah kita memohon pertolongan.” (Ad Dha’iifah, hadits nomor 1893)
Pembaca, ketahuilah bahwa pertentangan nyata terjadi antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah.
“Tidak ada jalan untuk menghapus perbedaan itu dan membenarkan upaya pendekatan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah sementara mereka (Syi’ah-Rafidhah) masih terus bertahan dalam keganjilan mereka menjauhi jamaa’atul Muslimin. Dan tidaklah mungkin mempertemukan Ahlus Sunnah dan Syi’ah mencapai suatu hasil, apakah melalui acara dialog, diskusi atau muktamar-muktamar dalam rangka memhahas perselisihan kita dengan mereka dalam masalah dasar-dasar aqidah dan hukum (Dalam tanda kutip adalah perkataan penulis Kitab Masalah At Taqrib Baina As Sunnah wa Asy Syi’ah.) .” Sesungguhnya orang-orang yang berjalan dalam rangka mendekati mereka dan berdakwah kepada yang demikian adalah para dai yang menyeru pada kesesatan dan penyimpangan dari jalan yang lurus!!
(Sumber : Kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalaafatil Qaradhawi Li Syari’atil Islaam, edisi Indonesia Membongkar Kedok Al Qaradhawi, Bukti-bukti Penyimpangan Yusuf Al Qardhawi dari Syari’at Islam. Penerbit Darul Atsar Yaman. Sumber artikel :http://www.salafy.or.id/print.php?idartikel=652) BERSAMBUNG KE : http://fakta.blogsome.com/2006/12/19/hakekat-al-irsyad-2/

