Fakta.blogsome.com ! www.Fakta.cjb.net ! www.Fakta.info.tm :: FAKTAkan yang Haq

16 - December - 2006

Kejahatan Irsyadiyyun Terhadap Ulama Pewaris Para Nabi

Filed under: Umum, Fakta

PEMBELAAN TERHADAP PARA ULAMA PEWARIS PARA NABI
DARI TIKAMAN-TIKAMAN KEJI HIZBIYYIN-SURURIYYIN-SURKATIYYIN!![1]

Tiada lagi hati ini kuat menahan
‘Tuk gerakkan pena goreskan pembelaan
Sebatas ilmu dan kemampuan
Dari tuduhan kejam dan pelecehan
Terhadap ulama pewaris ilmu kenabian
Betapa Hizbul Irsyad sangat keterlaluan!!
Si Jahat yang menginjak-injak kehormatan!

KEDUDUKAN PARA ULAMA DI SISI ORANG-ORANG BERIMAN
“Gelar ulama bukanlah gelar yang mudah untuk disandang dan dipajang dalam bingkaian nama seseorang. Akan tetapi merupakan pemberian dari Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Ulama bukanlah sebuah gelar yang bisa dicari dalam jenjang pendidikan tinggi dengan nilai ijazah yang mumtaz (terbaik), bukan pula gelar yang dicari dan didapatkan dengan jumlah pengikut yang setia dan banyak. Sekali lagi, ia adalah pemberian Allah kepada siapa yang diridhai-Nya. Jika demikian, jangan anda salah alamat untuk mencarinya. Carilah di tangan pemiliknya yaitu Allah , dengan cara yang telah digariskan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi . Jika cara demikian yang ditempuh, anda akan mendapatkan gelar ulama yang hakiki, bukan buatan dan bukan hasil sogokan” (Asy-Syari’ah, no.12/1425, hal.17)
Kedudukan dan kemuliaan para ulama telah diabadikan di dalam Al-Qur’an, firman Allah:
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama” (QS. Fathir: 28)
Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil warisan tersebut maka ia telah mengambil bagian yang banyak” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no.2681, Ahmad dalam Musnad (5/169), Ad-Darimi dalam Sunan (1/98), Abu Dawud no.3641, Ibnu Majah dalam Mukadimah-nya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albani berkata:”Haditsnya Shahih”. Lihat Kitab Shahih Sunan Abu Dawud no.3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no.2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no.182,2 dan Shahih At-Targhib, 1/33/68).
Syaikh Rabi’ Hafidhahullah berkata:
“SEKARANG, ORANG-ORANG YANG MENIKAM (PARA ULAMA), MEREKA MENGKLAIM DIRINYA SEBAGAI SALAFIYYUN, NAMUN KEMUDIAN MEREKA MENIKAM ULAMA SALAFIYYAH (BAHKAN SELURUH ULAMA PEWARIS PARA NABI WAHAI SYAIKH KAMI-PEN)!
APA YANG MEREKA INGINKAN? MENEGAKKAN BENDERA ISLAM? MANA MUNGKIN? INI FAKTOR YANG MENGUATKAN ADANYA INDIKASI DAN INDIKATOR KALAU MEREKA KELOMPOK PEMBOHONG DAN PIHAK YANG TERTUDUH; APAPUN KLAIM MEREKA.” (Jalin Kasih Sayang Versi Hizby-Turotsy, hal.21).
Itulah nukilan ceramah Syaikh Rabi’ Hafidhahullah yang mereka sebarkan sendiri!!
Seluruh kaum Muslimin sangatlah memahami betapa besar dan mulianya kedudukan para ulama pewaris para Nabi. Nabi kita Muhammad tidaklah mewariskan harta dan gemerlapnya duniawi namun ilmu-ilmu sunnahlah yang diwariskannya kepada kita kaum Muslimin. Disinilah peran besar para ulama dalam membimbing umat:
Abu Muslim Al-Khaulani Rahimahullah berkata:”Para ulama di muka bumi seperti bintang-bintang di langit. Bila bintang-bintang itu tampak, maka orang-orang mengambil petunjuk dengan bintang-bintang itu. Dan bila bintang-bintang itu tidak terlihat oleh mereka, mereka menjadi bingung”
Abul Aswad Ad-Duali Rahimahullah berkata:”Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dari ilmu. Para raja adalah hakim atas manusia sedangkan para ulama adalah hakim atas raja-raja”
Wahab bin Munabbih Rahimahullah berkata:”Akan lahir dari ilmu yaitu Kemuliaan walapun orangnya hina, Kekuatan walaupun orangnya lemah, Kedekatan walaupun orangnya jauh, Kekayaan walapun orangnya fakir, dan Kewibawaan walaupun orangnya tawadhu’”
Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah berkata:”Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang kedudukannya berada diantara Allah dan hamba-hambaNya. Mereka adalah para Nabi dan para ulama” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim karya Ibnul Jama’ah Al-Kinani dalam Asy-Syari’ah no.07/1/1425H/2004, hal.1)
Bagaimana halnya jika para ulama yang sedemikian mulia kehormatannya mendapatkan tuduhan-tuduhan dan tikaman-tikaman keji??

HIZBIYYIN-SURURIYYIN-SURKATIYYIN,
PEPERANGAN MEREKA TERHADAP ULAMA KAUM MUSLIMIN
Ya Allahu Ya Rabbi
Mudahkan hamba menyusun bukti
Tikaman-tikaman keji Hizbul Irsyadi
Pada ulama pewaris para Nabi
Kita akan nukilkan isi buku Himpunan Tiga Risalah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang diterjemahkan oleh Agus Hasan Bashari (Hizbiyyin-Sururiyyin-Surkatiyyin-Cumlaude LIPIA) agar nampak jelas kualitas Kemelut-nya. Dibawah bab “PENETAPAN HILAL (AWAL BULAN) BERDASARKAN HISAB ADALAH HAK, SAMA DENGAN MENETAPKANNYA BERDASARKAN RU’YAH”[2], buku ini menyemburkan berbagai tuduhan, celaan, penghinaan dan kejahatan keji tiada tara kepada para ulama, pewaris para Nabi!! Semuanya tanpa kecuali! Kalau mereka berkilah bahwa tulisannya hanyalah ditujukan kepada ulama-ulama su’/jahat, maka penegasan mereka sendiri bahwa arah tikamannya hanya kepada “ULAMA PEWARIS PARA NABI” cukup untuk mendustakan kilah tersebut! Adakah ulama su’ termasuk “pewaris para Nabi”? Dan puncaknya (tentu saja) adalah tikaman terhadap orang yang telah mewariskan ilmunya (sunnahnya) kepada para ulama tersebut, Rasulullah !!
Kami berlindung diri kepada Allah atas apa yang kami nukilkan, sungguh ini adalah sikap yang terpaksa ditempuh demi memenuhi amanah dan tanggung jawab ilmiah, perhatikan:
“Sesungguhnya yang menyayat hati setiap muslim adalah adanya perbedaan yang tidak kunjung selesai antara kaum Muslimin yang terjadi pada setiap tahun antara pembela ru’yah dan pendukung hisab….PERBEDAAN YANG TERCELA TADI SELALU MEMECAH UMAT ISLAM setiap tahun MENJADI DUA KUBU YANG BERSEBERANGAN, DUA KELOMPOK YANG BERMUSUHAN, MASING-MASING MENGKLAIM KEBENARAN, MASING-MASING BANGGA DENGAN APA YANG ADA PADA KELOMPOKNYA”[3] (hal. 103).
Apakah solusi yang ditawarkan oleh Hizbiyyin-Surkatiyyin? Apakah mengembalikan semua perselisihan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana firman Allah :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً ﴿٥۹﴾ [النساء: ٥۹]
[59] Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [QS An Nisa’: 59]
Ternyata tidak!! Mereka memerankan diri sebagai “pemersatu dan pengayom”, ya sebagai pahlawan kesiangan!! .
1.Langkah pertama yang mereka lancarkan adalah menghancurkan dan mencampakkan kehormatan ulama pewaris para Nabi (tidak ada yang berhak disebut demikian kecuali ulama Salafiyyah-Ahlus Sunnah) yang berpegang dengan nash-nash shahih ru’yatul hilal!! Seluruh kaum Muslimin menjadi saksi bagaimana kelompok Hizbiyyah ini terjebak oleh fatamorgana sehingga mengira lebih mengetahui agama daripada ulama, pembawa panji-panji kebenaran, orang-orang yang ikhlas dalam menjalankan dan memperjuangkan agama Allah ini.
Lihatlah bagaimana mereka hantam agamaNya dan ulamaNya dari kiri dan kanan, dari depan dan belakang dengan ‘anggapan’ sedang menyelamatkan umat dari kejumudan para ulama dan kesempitan pandangan yang menyebabkan umat berpecah belah (Naudzubillah)! Apa katanya :
“SEBENARNYA YANG BERTANGGUNG JAWAB TENTANG PERBEDAAN DAN PERSELISIHAN YANG MEMALUKAN INI (ANTARA RU’YAH DAN HISAB-PEN) ADALAH ULAMA. PARA ULAMA SENDIRILAH YANG MEMIKUL BEBAN DOSANYA, bukan umat yang awam. KARENA ULAMA YANG BERSTATUS SEBAGAI PEWARIS PARA NABI, TELAH LENGAH DALAM MENGEMBAN TUGAS YANG DIPIKULNYA.. PARA ULAMA TIDAK MENGULURKAN KEPADA UMAT APA YANG WAJIB UNTUK DIULURKAN, SEPERTI NASEHAT YANG SEMESTINYA, AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR DAN MEMPERBAIKI HUBUNGAN ANTAR UMAT. Sesungguhnya agama itu adalah nasehat, JUSTRU MEREKA DIAM TIDAK MENGAMBIL TINDAKAN PENYELAMATAN, ironisnya lagi kebanyakan orang yang menulis dalam masalah ini semakin menambah keruhnya masalah dan memperluas perbedaan di masyarakat” (hal. 104).
Sudah berhentikah muntahan keji yang tiada taranya ini?! Belum, perhatikan lagi:
”SEANDAINYA MEREKA BEKERJA UNTUK ALLAH DALAM MENDAMAIKAN UMAT INI DAN MENGERAHKAN POTENSI MEREKA UNTUK MENGATASI KEADAAN INI serta melakukan usahanya untuk mempertemukan antara kedua kubu yang berseteru ini dengan cara menggabungkan nash-nash (dalil-dalil) yang datang dalam masalah ru’yah dan hisab dan mengkompromikan antara keduanya (inilah sebenarnya tujuan akhir dari penistaan mereka terhadap para ulama-pen),……AKAN TETAPI SANGAT DISAYANGKAN, MEREKA TIDAK MENDAPATKAN TAUFIQ UNTUK ITU, DAN INI BENAR-BENAR NASIB SIAL BAGI UMAT ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN.” (Himpunan Tiga Risalah, Majelis Ifta’ dan Tarjih Jam’iyyah Al-Irsyad, Diterjemahkan oleh Agus Hasan Bashari, Lc, Sya’ban 1425H/Oktober 2004M, hal.104-105).
Demikianlah mereka telah memandang sebelah mata, menghancurkan dan meniadakan perjuangan para ulama Ahlus Sunnah yang menulis hadits-hadits tentang ru’yatul hilal, lebih khusus lagi para a’immah ahlul hadits yang seluruh hidupnya dipersembahkan untuk mencari, mencatat dan menyeleksi riwayat-riwayat hadits Nabi Shalallahu “alaihi wa Salam sehingga dapat dibedakan antara ucapan palsu yang disandarkan kepada Nabi Shalallahu “alaihi wa Salam dengan riwayat Beliau yang shahih, yang kemudian dihimpunlah dalam kitab-kitab hadits sebagaimana kita saksikan dan diambil manfaatnya oleh seluruh kaum Muslimin sampai sekarang ini. Sampai datangnya sekelompok manusia yang ingin agar hasil PERENUNGANNYA tentang sahnya hisab diterima oleh umat dengan jalan menghancurkan hasil perjuangan para ulama-pewaris para Nabi yang telah menghimpun hadits-hadits shahih dalam permasalahan ini[4]. Betapa umat pada setiap masa telah diseru dan didakwahi oleh para ulama Ahlus Sunnah agar berpegang teguh kepada riwayat-riwayat dan sunnah yang shahih (termasuk ru’yatul hilal), ittiba’ kepada Rasulullah .
Kita katakan:
Pertama, kami mohon ma’af atas kecemasan dan kemarahan pembaca yang mulia dengan pembicaraan yang mengandung teror dan kedzaliman penulisnya (Majelis Ifta’ dan Tarjih Jam’iyyah Al-Irsyad) dan penerjemahnya (Agus Hasan Bashari, serdadu bayaran Al-Muntada Al-Sofwa) dan tidaklah dituangkan ke dalam lembaran-lembaran tulisan itu kecuali berasal dari orang-orang yang telah hilang rasa takutnya kepada Allah ketika mereka menulis, menerjemahkan, mencetak dan menyebarluaskan buku tersebut dengan penuh suka cita ke tengah-tengah kaum Muslimin.
Kedua, kita katakan kepada Hizbiyyin-Sururiyyin-Surkatiyyin sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syaikh Zaid Al-Madkhali Hafidhahullah ketika membantah Teror Muhammad Surur yang ditujukan kepada Masyayikh Salafiyyin di Saudi Arabia:
“Sesungguhnya keadaan orang ini –dengan ucapannya yang dusta dan bohong- sesuai dengan firman Allah :
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا ﴿٥۸﴾ [الأحزاب: ٥۸]
[58] Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [QS Al Ahzab: 58]
Demikian pula keadaannya sesuai dengan firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Nabi dari hadits Abu Hurairah :
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku akan mengumumkan peperangan dengannya” (Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Kitab Raqa-iq, Bab: Tawadhu’ dan ada lafadz yang lain baginya)
Dan sabda Rasul :
“Barangsiapa menghina penguasa, Allah akan hinakan dia” (Dikeluarkan oleh Tirmidzi dalam Bab: Al-Fitan no.2225, dan ia berkata Hasan Gharib dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)
Dalam riwayat lain:
“Barangsiapa menghina penguasa Allah di muka bumi, Allah akan hinakan dia”
Dan nash yang semakna dengan ini banyak sekali….(Al-Irhab, hal.77-78)
Ketiga, apa salah mereka yang berupaya untuk menggigit sunnah yang shahih dan menyeru kepada umat agar berpegang teguh dengannya sehingga dikatakan memelihara perselisihan yang memalukan?! Apakah berpegang teguh kepada sunnah adalah hal yang memalukan? Bukankah orang yang menyimpang dari petunjuk dan teladan Rasul Shalallahu “alaihi wa Salam justru sebenarnya yang memalukan dan menanggung dosanya?! Kenapa para ulama yang harus dibebani dosanya? Mereka yang lebih memilih untuk mengikuti jalan perenungan-lah (baca:hawa nafsunya!) yang harus memikul dosanya! Sejak kapan umat Islam mengenal bahwa menyeru untuk memegang sunnah yang shahih adalah perbuatan dosa?! Betapa mereka ini telah melecehkan dan merampas hak dan kehormatan para ulama sebagai pewaris para Nabi!
Lengah dari segi apa para ulama kita yang telah berjuang untuk mencari riwayat-riwayat yang shahih kemudian memegang teguh dan mengamalkannya?!
Mereka lecehkan para ulama dengan pernyataannya: “Betapa para ulama tidak mengulurkan kepada umat apa yang wajib diulurkan!!” Apalagi yang harus diulurkan kepada umat selain sunnah NabiNya ?! Sungguh mereka ini adalah orang-orang yang tidak merasa cukup dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah !! Kalau para ulama yang berpegang teguh dengan sunnah yang shahih mereka lecehkan sedemikian rupa, bukankah ini ikrar peperangan terhadap NabiNya yang mengucapkannya?!!
Bukankah berdakwah kepada sunnah Rasul adalah bagian dari amar ma’ruf?! Dan memperingatkan umat dari bahaya ajaran “perenungan secara mendalam” adalah nahi munkar?!
Bukankah perjuangan para ahli hadits yang berusaha memisahkan antara sunnah-sunnah yang suci dengan riwayat-riwayat hasil perenungan adalah tindakan penyelamatan terhadap umat?!
Demi Allah!! Mereka telah menyatakan peperangan besar-besaran kepada para ulama-pewaris para Nabi ketika menuliskan kekejian yang sangat dan sangat jahat: “SEANDAINYA MEREKA BEKERJA UNTUK ALLAH…..AKAN TETAPI SANGAT DISAYANGKAN, MEREKA TIDAK MENDAPATKAN TAUFIQ UNTUK ITU, DAN INI BENAR-BENAR NASIB SIAL BAGI UMAT ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN”. Akankah kaum Muslimin mendiamkan kejahatan keji yang dilancarkan oleh Hizbiyyin-Sururiyyin-Surkatiyyin terhadap seluruh ulama kaum Muslimin?! Hanya karena ingin diterima oleh umat bahwa hisab adalah sah (menurut hasil perenungan mereka) maka para ulama telah menjadi korban kebiadaban tulisannya!! Bagaimana kita kaum Muslimin bisa dengan ikhlas menerima hasil kompromi antara sunnah yang shahih dengan hasil perenungan yang mendalam ?! Adakah sama antara mutiara keselamatan dari lisan NabiNya yang tidak berbicara kecuali dari wahyu yang diwahyukan oleh Allah dengan hasil perenungan pikiran yang mengembara ke sana ke mari tanpa merasa terikat dengan petunjuk NabiNya?! Sungguh celaka orang-orang yang memilih hawa nafsu “perenungan” daripada ayat-ayat Allah dan petunjuk NabiNya !!
Firman Allah:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا ﴿۳٦﴾ [الأحزاب: ۳٦]
[36] Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [QS Al Ahzab: 36]
Juga firman Allah:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٦۳﴾ [النور: ٦۳]
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [QS An Nur: 63]

Apakah kaum Muslimin akan mengorbankan ayat-ayat Allah ini demi sebuah hasil perenungan?! Pasti jawabannya adalah TIDAK!!
Ketika buku ini masih dalam bentuk aslinya (bahasa Arab) mungkin saja termasuk risalah yang berdebu, teronggok di salah satu raknya, tidak ada seorangpun yang menyentuh dan membacanya sampai setelah diterjemahkan oleh Cumlaude LIPIA ini! Semua orang dapat membacanya, pintu kebinasaan dan penistaan terhadap hak dan kehormatan para ulama, pelecehan terhadap sunnah dan NabiNya telah dibukanya lebar-lebar, jauh lebih luas, lebih dahsyat, tersebar dan disebarkan kemana-mana, umat mereka buat untuk leluasa mengambil dan “meminum” telaga kesesatan di dalamnya!! Akankah kaum Muslimin berdiam diri dari kekejian dan kebiadaban ini?! Para ulama pewaris para Nabi tersebut dikatakan:”Seandainya mereka bekerja untuk Allah…”, kepada siapa –wahai Hizbul Irsyad!!- para ulama itu mempersembahkan amalannya kalau tidak kepada Allah ?! Demi Allah, adakah kejahatan yang paling jahat, kekejian yang paling keji, kemungkaran yang paling mungkar daripada tuduhan seperti di atas?! Dan di atas pondasi bangunan kekejian inilah Al-Irsyad dengan dipelopori oleh Abdurrahman At-Tamimi Al-Kadzab, Farouk Badjabir, Chalid Bawazir, Farid Okbah Takfiri5, Yusuf Utsman Baisa Sururi,mendakwakannya sebagai organisasi Salafy! Ya, lebih lengkapnya adalah Organisasi Salafy Demokrasi! Bahkan pendirinya, Ahmad Surkati As-Sudani yang memba’iat pengikutnya telah diberikan gelar “Honoris Causa” sebagai As-Salafy, bal Syaikhus Salafy oleh Syaikh Ali Hasan!! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Tentu saja mereka akan melarikan diri dari kaidah pembuktian secara ilmiah dengan berkilah:”Apakah ente merasa lebih ‘alim dari Syaikh Prof. Muhammad Abdul Wahhab al-Aqil yang menyatakan keahlussunnahan Asy-Syurkati?? Ataukah ente merasa lebih ‘alim ketimbang Syaikh Ali Hasan yg menyatakan bahwa Syaikh Syurkati adalah Salafy, bal Syaikhus salafy…?!” Allahul Musta’an. Apalah arti sebuah bahkan bertumpuk-tumpuk pujian dari siapapun yang mampu kalian hadirkan jika hal tersebut merupakan hasil penipuan dan pembohongan yang kalian lancarkan kepada ulama-ulama kami?! Bahkan pujian tersebut merupakan barang bukti kejahatan kalian! Penipuan! Kedustaan! Manipulasi! Talbis dan Tadlis kalian wahai Hizbiyyun-Sururiyyun-Surkatiyyun Ahlul Bathil!! Adapun buktinya? Tentu kalian tidak usah kuatir karena sampai akhir halaman artikel ini, kalian masih akan mendapatkan bukti-bukti ilmiahnya! Insya Allah.
Demikianlah kejahatan dan kekejian yang telah disebarkan oleh Hizbul Irsyad dan diterjemahkan oleh Agus “Kemelut Manhaj” Bashari, Lc seorang Cumlaude LIPIA. Dan ini adalah bukti yang terang-benderang “MUNGKARNYA TAKHRIJ” pakar hadits Hizbiyyin, Abdul Hakim Abdat yang berkata:” LIPIA bagus…..dan dari lembaga ini keluar anak-anak murid yang ngerti bahasa arab dan manhajnya bagus…”(????!) (Kaset Ceramahnya di Riau). Lihatlah bagaimana dia duduk sebagai “Muhaddits” di rubrik Hadits Majalah As-Sunnah At-Turotsy Al-Kuwaity ketika sedang mentakhrij hadits :
“Saya berkata: ‘isnadnya shahih atas syarat Muslim saja tanpa Bukhari… ”(As-Sunnah, ed.11/VIII/2005, hal.12).
Adakah ahli hadits yang muncul dari hasil belajar otodidak? Merangkap sebagai serdadu Al-Sofwa Al-Muntada, Al-Haramain Al-Hizbiyyah dan Ihya’ut Turots?!
Wahai ustadz, sesungguhnya kaum Muslimin menunggu “kepakaranmu” untuk men-takhrij dan men-tahqiq buku “Kejam” yang diterbitkan oleh aliansi tuan sendiri, Al-Irsyad!! Alangkah serunya jika “sesama penjahit” saling gunting-menggunting dalam lipatan!? Allahul Musta’an.
Bagaimana kedudukan hadits-hadits shahih tentang ru’yah di sisi para penista dan pencela ulama ini?! Di bawah sub-bab “HIKMAH DIKAITKANNYA WAKTU DAN IBADAH DENGAN RU’YAH, BUKAN HISAB, ADALAH KARENA UMAT ISLAM SAAT ITU ADALAH BUTA HURUF, BUKAN SEMATA-MATA TA’ABBUD”, tertulis (perhatikan pengaruh kuat dari Mu’tazilah):
”APABILA KITA RENUNGKAN SECARA MENDALAM dan kita terbebas dari hawa nafsu dan fanatisme madzab, maka akan kita dapati bahwa Nabi adalah mengkaitkan waktu-waktu ibadah; shalat, puasa dan haji dengan ru’yah (melihat) hilal dengan mata kepala, karena umat Arab pada masanya adalah buta huruf, tidak bisa menulis dan tidak bisa berhitung, agar mudah bagi setiap individu untuk mengetahui waktu dengan sendirinya tanpa tergantung pada ilmu dan sains yang tidak diketahui oleh seorangpun diantara mereka kala itu.”
Pembaca dapat membuktikan betapa pikiran mereka telah tersesat di gurun pasir nan luas ketika menulis:
”Seandainya Beliau memerintahkan pada manusia saat itu untuk menggunakan hisab-dan mustahil Nabi memerintahkan yang demikian- tentu perintah Beliau termasuk perintah yang diluar kemampuan!” Setelah itu: “SESUNGGUHNYA SETELAH KAMI RENUNGKAN SECARA MENDALAM….” (hal.105-107)
“Maka apabila bangsa Arab dan umat Islam lainnya telah meningkat ke level bangsa-bangsa yang telah maju dalam sains dan teknologi dan telah banyak anggotanya yang menguasai ilmu dan sains tersebut terutama ilmu berhitung yang daripadanya muncul ilmu falak dan ilmu hisab. Lalu mengapa kita melarangnya untuk menggunakan ilmu hisab dalam menetapkan hilal untuk mewajibkan puasa dan hari raya serta wukuf di Arafah? MENGAPA KITA MELARANGNYA SEMENTARA KITA BAKUKAN DI ATAS RU’YAH? PADAHAL RU’YAH ITU SENDIRI BUKANLAH TA’ABUDIYAH (suatu ibadah) sebagaimana ibadah-badah lainnya, AKAN TETAPI SEKEDAR CARA…”(hal.111).
Dan kenapa harus sama antara perenungan mereka dan perenungan kita? Tentu beda antara orasng yang mencintai ulamanya dengan orang-orang yang membenci dan memusuhi ulama pewaris para Nabi!! Lihatlah betapa hasil perenungan mereka hanyalah menghasilkan dampak buruk berupa penghancuran, penistaan, penghinaan dan pelecehan terhadap kehormatan para ulama kita!
Maka kita katakan kepada mereka:”Tidaklah pantas bagi sekelompok orang yang mengaku dirinya sebagai Salafi (bahkan “organisasi Salafi Demokrasi” yang mendapatkan hujan pujian dari Masyayikh Yordan!), yang beriman kepada Allah dan RasulNya ternyata menulis, menerjemahkan dan menyebarluaskan hujatan-hujatan yang sangat brutal dan biadab (adakah kalimat yang lebih tepat?) kepada (seluruh!) para ulama pewaris para Nabi?! Kalau kita yang dihinakan, betapa miskinnya diri kita ini? Padahal yang mereka tikam adalah para ulama kita, bagaimana mungkin kaum Muslimin membiarkan kejahatan kelompok Hizbiyyun dan tidak bangkit amarahnya?
Demikianlah, kebohongan demi kebohongan tersingkap satu per satu dengan izin Allah. Penipuan, siasat licik, makar keji para Hizbiyyin yang selalu dan selalu berlindung di balik nama besar Masyayikh Yordan. Kita akan menunggu, bagaimana sikap Masyayikh Yordan setelah mengetahui kenyataan Hizbiyyah (mengerikan!) yang sebenarnya terjadi selama ini….
Wahai saudaraku kaum Muslimin, sebelum mereka nekad menyebarkan buku brutal ini ke tengah-tengah kaum Muslimin, sesungguhnya Allah lebih dulu telah menghinakan mereka!! Ya, benar-benar Allah menghinadinakan mereka (Al-Irsyad kelompok Farouk Badjabir-Chalid Bawazir)!! Pengadilan Tinggi Jakarta dan Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa kelompok Al-Irsyad mereka sebagai organisasi “Salafy Demokrasi” yang illegal! Liar secara hukum di negeri ini!! Tidak memiliki kewenangan apapun –secara hukum- untuk menggunakan logo-logo, aset-aset dan berbagai atribut yang mengatasnamakan Al-Irsyad !! Tentu saja kita tidak perlu menggurui mereka (karena hubungan baiknya dengan Masyayikh !) bagaimana sikap dan prinsip Ahlus Sunnah terhadap penguasa Muslim !! Menentangkah?! Menantangkah ?!
Allahu Akbar ! Jangan coba-coba kalian memakan daging para ulama !! Sungguh daging ulama itu beracun! Allah akan hinakan kalian !! Dan sungguh Allah telah hinakan kalian wahai Hizbiyyun !!
Dan sekarang kita sampaikan kepada Masyayikh Yordan:”Wahai Syaikh kami, sungguh telah kami hadirkan bukti otentik, sebuah buku yang berlogo Organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah (yang telah mengundang antum sekalian ke Indonesia!) dengan kata pengantar Sang Ketuanya, Farouk Zain Badjabir, mereka cetak dan sebarluaskan ke tengah-tengah umat, suatu upaya untuk menanamkan kebencian dan permusuhan kepada para ulama pewaris para Nabi, wali-wali Allah!! Kenyataan yang sangat-sangat menyakitkan hati kami bahwa penerjemah ‘buku brutal’ ini adalah orang yang menjadi pendamping Syaikh Ali bin Hasan ketika mengisi acara di Surabaya (lihat artikel ‘Hakikat Islam’, As-Sunnah Ed.11/VIII/2005, hal.15)!!”
Majalah di atas yang akan menjelaskan bahwa pengundang Masyayikh Yordan adalah PP.Al-Irsyad:
“Demikianlah sebagian konklusi ceramah para Masyayikh dari Yordania (Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi, Syaikh Salim bin Id Al-Hilali, Syaikh DR. Muhammad bin Musa Alu Nasr dan Syaikh Masyhur bin Hasan Salman) yang diselenggarakan di masjid Istiqlal, pada Ahad, 22 Syawal 1425H bertepatan 5 Desember 2004M, atas undangan PP.Al-Irsyad” (ibid, hal.14)
Dan sekarang wahai Syaikh kami, setelah kedok KESESATAN MEREKA KITA SAMPAIKAN KEPADA UMAT DENGAN BUKTI-BUKTI ILMIYYAH YANG MEREKA SEBARKAN SENDIRI, akhirnya mereka menggunakan siasat licik dengan mengacung-acungkan ceramah Syaikh Rabi’ agar Salafiyyin berkasih sayang dengan kelompok yang memusuhi wali-wali Allah ini!!
Hanyalah kepada Allah tempat kita mengadu.
Pesan kami sangatlah jelas, bahwa tidaklah kalian berdua wahai Abdurrahman At-Tamimi dan Chalid Bawazir, datang kembali ke Indonesia setelah memenuhi undangan para Masyayikh Yordan (yang kalian katakan sebagai bukti kecintaan mereka kepada kalian dan ma’had Al-Irsyad) untuk mengikuti Muktamar Masyayikh Salafiyyin ke-2 dan kemampuan finansial yang luar biasa untuk mendatangkan Masyayikh Yordan –November ini rencana daurah untuk ke 5 kalinya!!- dengan menegakkan wajah penuh kebanggaan, kecuali bukti yang telah kami paparkan di atas (dan yang akan kalian baca sampai akhir di bawah ini) akan membuat kalian menutup muka dan menyembunyikan wajah karena berbagai manuver dusta dan Hizbiyyah kalian telah diketahui belangnya oleh seluruh kaum Muslimin!! Sungguh Allah tidak akan pernah ridha bahwa kedustaan dan Hizbiyyah memiliki kedudukan yang mulia di sisi Islam dan kaum Muslimin!! Cukuplah hinaan dan peperangan kalian terhadap para ulama pewaris para Nabi serta berbagai kedustaan yang kalian lancarkan kepada kaum Muslimin merupakan bukti kerendahan kehormatan dan kehinaan martabat kalian sendiri!!
Insya Allah uraian di atas telah cukup bagi kaum Muslimin untuk mengetahui bagaimana otak-otak dan hasil perenungan mereka telah dicengkeram dan dibinasakan dari merasakan manisnya sunnah oleh pengaruh Mu’tazilah yang membinasakan sehingga mengakibatkan tuduhan-tuduhan keji dan kejam meluncur tiada terkendali dari para Hizbiyyin-Surkatiyyin tersebut!! Kita tidak sedang membahas masalah ini, tetapi mereka harus ingat bahwa Islam datang tidak hanya menjelaskan tentang permasalahan ru’yah saja!! Seluruh isi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah adalah Islam, dan kalau mereka merasa bebas bermain-main dengan ra’yu-nya karena beralasan bahwa Nabi diutus kepada kaum yang ummi, maka semua balantetara setan-pun (qatalahumullah) bisa saja berdalih untuk menghancurkan seluruh ajaran Islam dengan mengatakan: “Nabi Muhammad kan diutus untuk kaum yang ummi, jadi kalau kaumnya sudah menguasai sains dan teknologi maka syari’at keNabian Beliau…….” Atau :”Ayat/hadits shahih itu kan turun ketika bangsa Arab masih buta huruf. Adapun sekarang karena semuanya sudah menguasai sains dan teknologi maka……(kita berlindung kepada Allah dari kalimat-kalimat kekufuran-Naudzubillah-pen)”.
Inilah hasil akhir dari kebusukan dakwah Mu’tazilah!!
Sungguh mereka adalah orang-orang yang diombang-ambingkan oleh kecongkakan dan kesombongan sampai pada akhirnya ditenggelamkan oleh “banjir” hawa nafsunya! Beberapa segi kebatilan jalan pikirannya yang tampak terang-benderang:
1. Ketika mereka melemparkan granatnya terhadap para ulama, pewaris para Nabi, kedudukan mereka sebagai apa? Ulama? Tentu bukan karena ulama’lah yang sedang menjadi obyek tikaman mereka! Sebagai orang awam? Juga bukan, karena mereka sedang berperan sebagai pahlawan kesiangan untuk menolong orang awam yang sedang ditimpakan kesialannya oleh ulama tersebut! Pendukung kelompok “hisab”? Termasuk, karena dukungannya terhadap hisab untuk kemudian disejajarkannya dengan ru’yatul hilal yang pada akhirnya punya alasan untuk mengkompromikan keduanya. Yang jelas mereka ini mengambil posisi yang berlawanan dan bermusuhan dengan ulama pewaris para Nabi!! Yang pasti Hizbiyyin-Surkatiyyin ini adalah sekelompok manusia yang tidak memiliki sikap sopan santun dan akhlak yang mulia. Bersikap barbar, bengis, brutal dan kejam terhadap ulama-pewaris para Nabi! Dan sungguh ini adalah ikrar peperangan terhadap Nabi yang telah mewariskan sunnahnya kepada para ulamanya dan mewariskannya kepada seluruh kaum Muslimin!!
2. Allah berfirman:”Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendaknya berpuasa” (Al-Baqarah:185) dan firmannya:”Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah haji)” (Al-Baqarah:189). Rasulullah bersabda:”Apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah dan apabila kalian melihatnya lagi maka berbukalah, lalu jika tertutupi atas kalian maka tetapkanlah tiga puluh (hari) “(Shahih, Bukhari 4/102,Muslim 1080 , dari Ibnu Umar).
Maka Nabi menjadikan tetapnya puasa dengan melihat hilal Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawal. Dan Nabi tidak mengaitkannya dengan hisab bintang-bintang dan perjalanannya. Ini diamalkan sejak jaman Nabi dan seluruh Shahabat, Al-Khulafa’ur Rasyidin, empat imam dan tiga kurun waktu yang dijamin dan dipersaksikan oleh Nabi keutamaan dan kebaikannya!! Ketika manusia semakin jauh dari kurun keNabian, mulailah mereka menganggap baik dan benar apa yang ada di benaknya, hasil perenungannya. Dimasukkanlah hisab sebagai sandaran dalil atas keabsahan pendapatnya. Perselisihan mulai merebak, semakin meluas. Maka datanglah pahlawan kesiangan menawarkan solusinya, mengkompromikan kedua pendapat tadi dengan terlebih dahulu melancarkan tikaman-tikaman kejinya terhadap kehormatan para ulama. Jadi siapa yang sebenarnya telah menyimpang? Siapa yang menyebabkan perselisihan dan perpecahan? Ulama yang berpegang dengan sunnah?! Siapa yang tidak mendapat Taufiq? Adapun a’immah –walhamdulillah- bahwa mereka tetap menyeru untuk berpegang kepada petunjuk Rasulullah . Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi !! Lalu dimanakah kedudukan “dalil” hasil perenungan dalam masalah ini?!
Allah berfirman :
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (An-Nisa’: 115)

3. Inilah beberapa sosok manusia terbaik dari umat ini yang menjadi sasaran kebengisan tulisan Hizbiyyin-Surkatiyyin yang mereka katakan mengklaim kebenarannya sendiri, pembela ru’yah, merasa bangga pada kelompoknya, penyebab perselisihan yang memalukan, yang memikul dosanya, pewaris para Nabi yang lengah, tidak mengulurkan nasehatnya, tidak beramar ma’ruf nahi mungkar, tidak mengambil tindakan penyelamatan, bekerja untuk selain Allah dan tidak mendapatkan taufiq sehingga umat Islam menjadi sial!
1.Nabi yang telah menetapkan puasa dengan melihat hilal bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawal, Diantara yang mengikuti dengan kokoh dan membela sunnah Beliau adalah:
2.Seluruh Shahabat Rasulullah dan Khulafa’ur Rasyidin
3.Empat Imam kaum Muslimin yang tetap berpegang dengan sunnah tersebut
4.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang membela sunnah dengan menyatakan:”Dan orang yang berpijak pada hisab dalam (menentukan) hilal, sebagaimana ia sesat dalam syari’at, iapun telah berbuat bid’ah dalam agama. Dia telah salah dalam hal akal dan ilmu hisab” (Majmu’ Fatawa, 25/207)
5.Syaikh bin Bazz Rahimahullah, setelah Beliau membawakan hadits-hadits shahih dalam masalah ini dan menerangkannya, Beliau menyatakan :”….Dan hadits-hadits tentang ini banyak jumlahnya, yang kesemuanya menunjukkan wajibnya beramal dengan ru’yah atau menyempurnakan jumlah ketika tidak ada ru’yah, sebagaimana juga menunjukkan tidak bolehnya bersandar kepada hisab dalam masalah itu. Ibnu Taimiyyah Rahimahullah telah menyebutkan ijma’ para ulama bahwa dalam menentukan hilal tidak boleh bersandar kepada hisab. Dan itulah yang benar, tiada keraguan padanya. Allahlah yang memberi taufiq” (Fatawa Shiyam, hal.5-6)
f. Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah:”Adapun hisab, maka tidak boleh beramal dengannya dan berpijak padanya” (Fatawa Ramadhan, 1/62)
g. Masyayikh yang tergabung dalam Panitia Tetap untuk Pembahasan Ilmiyyah dan Fatwa Saudi Arabia:”…..Merujuk kepada ilmu bintang dan meninggalkan ru’yah dalam menetapkan bulan-bulan Qamariyyah untuk menentukan awal ibadah, merupakan bid’ah yang tiada kebaikan padanya dan tidak ada landasannya dalam syari’at” (Fatawa Ramadhan, 1/61, ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi, Syaikh Abdullah bin Mani’ dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan).
Pembaca sekalian rahimakumullah, kalaulah mereka ini (Hizbiyyin-Surkatiyyin) sesuai dengan apa yang mereka slogankan seperti dalam majalah penerusnya Ahmad Surkati “Neo-Adz-Dzakhiirah” yang berslogan “Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan Pemahaman Sahabat Nabi ” tentu mereka akan menguatkan warisan sunnah dari NabiNya, bukannya menjadi pahlawan kesiangan dengan berusaha mengkompromikan antara Sunnah dengan Bid’ah!! Antara Sunnah Ash-Shahihah dengan kesesatan “setelah kami renungkan secara mendalam dalam waktu yang cukup lama”!! Antara ucapan keNabian dengan ucapan Hizbiyyin-Surkatiyyin pengekor Mu’tazilah!! Walaupun Cumlaude LIPIA!!
Sungguh bagi seorang muslim yang mendambakan untuk bertemu dengan Nabinya , mengharapkan syafaatnya, meminum telaganya, dan mencium harumnya surga serta merasakan kenikmatannya maka dia tidak akan pernah berani bersikap kurang ajar terhadap para pewaris dan pembela sunnah Beliau bahkan sampai tega untuk mengatakan (dengan kalimat yang mutlak) bahwa para ulama (kesemuanya!) “tidak mendapatkan taufiq”! Kalau upaya mereka dalam menegakkan sunnah dikatakan “diam tidak mengambil jalan keselamatan” (dan jalan selamat yang dimaksud Hizbiyyin-Surkatiyyin ini adalah talbisul Haq bil Batil!) lalu apalagi yang mereka maukan kalau bukan untuk menukar hidayah dengan kesesatan?! Demi Allah mereka ini adalah orang-orang yang sangat jahat terhadap ulama dan umat!!
6.Hizbiyyin-Surkatiyyin berkata:
‘’Sesungguhnya setelah kami renungkan secara mendalam dalam waktu yang cukup lama, tentang lafadz-lafadz riwayat yang ada, maka kami tidak mendapatkan sesuatu yang menunjukkan larangan Nabi untuk menggunakan hisab dalam menetapkan hilal, baik secara jelas maupun sindiran.. ‘’
”Dalam sabdanya:”(Sesungguhnya) kami (adalah umat yang ummi), tidak menulis dan (tidak) menghitung” TERDAPAT ISYARAT KUAT TENTANG KEBOLEHAN MENGGUNAKAN HISAB BAGI UMAT ISLAM APABILA TELAH BELAJAR DAN MENGETAHUI ILMU HISAB. Begitu pula sabda Nabi :”faqdiruulahu” (maka perkirakanlah untuknya), ADALAH PERINTAH UNTUK MENGHITUNG MANAZIL (POSISI BULAN), yaitu pendapat dari sekelompok ulama. INI SEMUA APABILA KITA MENGOSONGKAN DIRI DARI PENGARUH HAWA NAFSU DAN FANATISME, SERTA TERBEBAS DAN (dari?-peny) KECENDERUNGAN EMOSIONAL” (hal. 107).
‘’Ilmu hisab adalah ilmu yang rinci dan detail, tidak salah dan dibutuhkan oleh ulama. Ia sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm, ilmu yang dibutuhkan untuk mengetahui arah kiblat dan waktu shalat, dan dari sana diketahuilah ru’yah hilal untuk keperluan wajibnya puasa dan hari raya’’(Al-Fashl, jilid 5,hal.24)(ibid, hal.107).
Ada 6 bukti –alhamdulillah- untuk menunjukkan kerusakan pendalilan kelompok Hizbiyyin-Surkatiyyin ini:
7.Tulisan mereka : ‘’’SESUNGGUHNYA SETELAH KAMI RENUNGKAN SECARA MENDALAM DALAM WAKTU YANG CUKUP LAMA, tentang lafadz-lafadz riwayat yang ada, maka KAMI TIDAK MENDAPATKAN SESUATU YANG MENUNJUKKAN LARANGAN NABI UNTUK MENGGUNAKAN HISAB DALAM MENETAPKAN HILAL, BAIK SECARA JELAS MAUPUN SINDIRAN.. ‘’ sungguh telah melabrak kaidah-kaidah syari’at yang telah mereka tulis sendiri mulai halaman 32-39, inilah sebagian nukilannya :
‘’Kaidah itu adalah : tidak seorangpun –setinggi apapun kedudukannya- memiliki hak untuk membuat syari’at atau (ajaran) atau menciptakan satu macam ibadah atau menambah bentuk ibadah kecuali berdasarkan tasyri’ (ketetapan hukum) dan izin dari Allah dan Rasul-Nya , hal ini berdasarkan nash yang nyata baik yang bersifat qauli (ucapan) maupun amali (perbuatan) atau iqrar (ketetapan), Allah berfirman : ‘’Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?’’ (QS.Al-Syura :21)
‘’Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar’’ (QS. Al-Nisa’ :171)
Dan karena sabda Rasul  : ‘’Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami, sesuatu yang bukan daripadanya maka ia adalah tertolak’’ (HR. Bukhori Muslim)
Hukum asal dalam masalah ibadah dan taklif (beban) agama adalah tidak ada dan terlarang. Maka orang yang menyatakan bid’ahnya sebuah ibadah, tidak diminta untuk menunjukkan dalil, akan tetapi orang yang menyatakan masru’iyyahnya atau memandang kebaikannya, itulah yang dituntut untuk mendatangkan dalil’’ (ibid, hal.33-34)
Jadi bagaimana sisi pendalilannya ketika mereka MENETAPKAN KEBENARAN HISAB dengan alasan KAMI TIDAK MENDAPATKAN SESUATU YANG MENUNJUKKAN LARANGAN NABI UNTUK MENGGUNAKAN HISAB DALAM MENETAPKAN HILAL, BAIK SECARA JELAS MAUPUN SINDIRAN.. ?! Padahal mereka sendiri yang menulis bahwa : Hukum asal dalam masalah ibadah dan taklif (beban) agama adalah tidak ada dan terlarang !! Kalaupun kita kejar terus dalil-dalil pembenarannya, tentu pada akhirnya mereka akan berkata : ‘’’SESUNGGUHNYA SETELAH KAMI RENUNGKAN SECARA MENDALAM DALAM WAKTU YANG CUKUP LAMA’’. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
(ii) “Pada peperangan Badar, orang-orang Musyrikin yang ditawan oleh Nabi , yang tidak mampu menebus dirinya dengan uang tetapi pandai menulis baca, masing-masingnya diharuskan mengajar sepuluh orang Muslim menulis dan membaca sebagai ganti tebusan….Karena itu bertambahlah keinginan untuk belajar menulis dan membaca dan banyaklah orang yang menuliskan ayat-ayat yang telah diturunkan. Nabi sendiri mempunyai beberapa orang penulis yang bertugas menuliskan wahyu Al-Qur’an untuk Beliau . Penulis Beliau yang terkenal ialah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Muawiyah. Yang terbanyak menuliskan ialah Zaid bin Tsabit dan Muawiyah” (Al-Qur’an Dan Terjemahnya, Cetakan Kerajaan Saudi Arabia, hal.19, Bab “Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al-Qur’an”). Jadi sejak semasa Nabi masih hidup, alangkah banyaknya para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in yang telah menguasai baca tulis tetapi adakah mereka yang memiliki kegagahan untuk mengganti syari’at Ru’yatul Hilal dengan alasan sudah menguasai baca tulis sebagaimana Hizbul Irsyad menyeru dan mempropagandakan agar umat menggantinya dengan ilmu Hisa(p)-mengHisa(p)?!
(iii) Tidakkah Hizbiyyin-Surkatiyyin ini mengerti bahwa Rasulullah juga mengajarkan ilmu Faraidh? Adakah ulama kaum Muslimin dari kalangan Shahabat dan penerusnya dari generasi awal Islam yang menguasai ilmu faraidh tetapi mereka tidak menguasai ilmu hitung-menghitung?! Sungguh ini adalah suatu keanehan. Dan apakah setelah mereka Radhiyallahu ‘Anhum Ajmain menguasai ilmu baca tulis dan hitung-menghitung kemudian mereka ‘berteriak’ kepada umat agar menggunakan ilmu hisab-menghisab sebagaimana yang kalian teriakkan wahai aqlaniyyun?! Ataukah mereka Ridwanullah ‘alaihim Ajmain merasa cukup dengan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah ?!
Shahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud berkata: “Ikutilah (ajaran Rasulullah ) dan jangan membuat bid’ah. Sesungguhnya kalian telah dicukupi (dalam masalah agama ini). Dan setiap bid’ah itu sesat.” (Al-Ibanah. 1/327)
(iv) Hadits-hadits yang dicatat oleh para Shahabat (bahkan sejak Nabi masih hidup) adalah bukti lain betapa ke-ummi-an Beliau Shalallahu ‘Alaihi merupakan bentuk kesempurnaan keNabian. Tuduhan-tuduhan bahwa Al-Qur’an adalah hasil rekayasa dan karya cipta Beliau secara otomatis gugur, itu salah satu hikmah besar sifat ummi. Manuskrip-manuskrip sunnah yang ditulis dan dikumpulkan oleh a’immah ahlul hadits adalah bukti lain betapa mereka menguasai betul baca-tulis. Adakah para pembaca pernah menyaksikan sirah (para Shahabat dan Ulama ahlul hadits yang memiliki kepandaian menulis) mereka lemparkan hadits-hadits shahih dari Nabinya dan mereka ganti dengan ilmu hisab-menghisab?! Atau mengkompromikan keduanya?! Kalau ini adalah jalan yang benar/haq, sungguh para Shahabat dan a’immah ahlul hadits adalah orang yang paling berhak melakukannya (lebih dulu)!! Padahal Hizbiyyin-Surkatiyyin ini di halaman muka bukunya telah menulis:
”Imam Syafi’i berkata:”Barangsiapa ber-istihsan (MENILAI BAIK DALAM SOAL AGAMA HANYA DENGAN AKAL) berarti ia telah membuat syari’at”. Al-Rawyani berkata:”Barangsiapa membuat syari’at maka ia telah kafir”. Dalam satu riwayat Beliau menyatakan:”Barangsiapa yang meng-hasankan sebuah bid’ah berarti ia telah menyulami ajaran Nabi (karena dianggap kurang-pent)” (hal.4).
Apa manfaatnya Hizbiyyin-Surkatiyyin menulis yang demikian ini, sementara mereka memiliki keyakinan bahwa setelah mampu menguasai sains dan teknologi dapat dijadikan dalil yang sejajar dengan sunnah-sunnah yang shahih?! Apa bedanya dengan “istihsan”? ”bid’ah”? Dan hasil ”perenungan yang mendalam”?! Dapatkah seekor keledai mengambil manfaat dari kitab-kitab yang dipanggulnya?!
(v) Mereka menulis:” ‘’Ilmu hisab adalah ilmu yang rinci dan detail, tidak salah dan dibutuhkan oleh ulama. Ia sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm, ilmu yang dibutuhkan untuk mengetahui arah kiblat dan waktu shalat, dan dari sana diketahuilah ru’yah hilal untuk keperluan wajibnya puasa dan hari raya’’.
Kita katakan : Dalam uraian sebelumnya telah kita ketahui bahwa hisab tidaklah diamalkan oleh seorangpun dari para Shahabat dan para A’immah Ahlus Sunnah, bahkan yang ada justru penjelasan bahwa ilmu hisab adalah bid’ah. Para Shahabat tidak diajari oleh Rasulullah untuk belajar tentang ilmu hisab-menghisab agar bisa menetapkan awal Puasa dan hari Raya, jadi bagaimana mungkin Hizbiyyin Surkatiyyin menyatakan tentang ilmu hisab : “..dan dari sana diketahuilah ru’yah hilal untuk keperluan wajibnya puasa dan hari raya’’ ?!
(vi) Pendalilan mereka dengan hadits :”faqdiruulahu” (maka perkirakanlah untuknya) yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma merupakan perintah menghitung manazil (menghisab-peny) adalah pendalilan yang rusak. Betapa Hizbiyyin-Surkatiyyin ini mengaitkannya dengan hadits :” :”Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung” padahal kedua hadits ini diriwayatkan oleh Shahabat yang sama, Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma !! Jelas-jelas riwayat kedua dari Ibnu Umar di atas menafikan “menghitung” (baca:hisab), jadi bagaimana mungkin Hizbiyyin-Surkatiyyin memanipulasi riwayat Ibnu Umar yang lain dengan menyatakan ”Terdapat isyarat kuat tentang bolehnya menggunakan hisab…”?! Segala puji bagi Allah yang telah menghancurkan makar keji kelompok “akal-akalan” (baca:Aqlaniyyun) ini!! Lebih lengkapnya baca majalah Asy-Syari’ah vol.1/no.03/Oktober-November 2003/Ramadhan 1424H.
Dan tahukah pembaca, siapa yang telah menghancur-leburkan syubhat Hizbiyyin- Surkatiyyin ini? Ibnu Taimiyyah Rahimahullah (1263M-1328M)!! Baca karya Beliau, Majmu’ Fatawa, 25/182. Bagaimana bisa mereka mengatakan bahwa ulama pewaris para Nabi “diam tidak mengambil tindakan penyelamatan”? Padahal Ibnu Taimiyyah Rahimahullah telah membungkam dan meluluhlantakkan syubhat mereka lebih dari 677 tahun yang lalu (sebelum diterjemahkan oleh “kemelut” LIPIA ini)!! Allahu Akbar! Ibnu Taimiyyah telah mewariskan kepada kita kaum Muslimin “hujjah yang membelalakkan mata” Hizbiyyin-Surkatiyyin 625 tahun sebelum mereka menulis risalah Mu’tazilah ini (1953M)!! Beliau “telah mengulurkan apa yang wajib diulurkan” untuk menolong kaum Muslimin dari syubhat dan talbis yang dilancarkan oleh Hizbiyyin-Surkatiyyin!! Walhamdulillah. Sungguh Beliau telah mewariskan kepada seluruh kaum Muslimin sebuah senjata untuk “membungkam dan mem-buldoser” kesesatan tentara-tentara barbar yang bersikap bengis dan kejam terhadap para ulama kita yang merupakan pewaris para Nabi!! Bukankah ini kenikmatan dan anugerah yang besar dari Allah ?
Sungguh gembong Sururiyyin Muhammad Surur telah menghina Masyayikh Salafiyyin di Saudi Arabia sebagai para budak; Abdurrahman Abdul Khaliq si penggedhe Ihya’ut Turots melecehkannya sebagai ulama haid dan nifas; Muhammad Mis’ari menghina Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai orang yang lugu dan bukan ulama (dan Ahmad Surkati menjuluki Dakwah Tauhid Syaikh sebagai “GERAKAN YANG KERAS/MUSYADDID, sementara Al-Irsyad mengatakan dakwah Tauhid Beliau Rahimahullah hanya akan menghasilkan “ketundukan disertai kefanatikan yang kuat, dilakukan dengan tindak kekerasan! Muhammad Abdul Wahhab adalah orang fanatik!!”); Salman Al-Audah melecehkan Syaikh bin Bazz dan Syaikh Ibnu Utsaimin: “bukanlah rujukan ilmiyyah”, dan gembong-gembong Sururiyyin lainnya seperti Muhammad Shalih Al-Munajjid, Aidh Al-Qarni yang kesemuanya merupakan teriakan peperangan terhadap kaum Muslimin dan ulamanya; tetapi tulisan Surkatiyyin ini tidak kalah sadis dan brutalnya, lebih luas karena tikaman mereka diarahkan kepada “PARA ULAMA PEWARIS PARA NABI” yang tentu saja di setiap zaman mereka ada, sejak generasi Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in sampai generasi saat ini, di seluruh penjuru dunia, baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup, mereka tikam bertubi-tubi sebagai ulama yang bertanggung jawab atas perselisihan yang memalukan ini!! Mereka yang memikul beban dosanya!! Pewaris para Nabi yang lengah dalam tugasnya!! Tidak mengulurkan nasehat semestinya!! Tidak beramar ma’ruf nahi mungkar!! Diam tidak mengambil tindakan penyelamatan!! Tidak bekerja untuk Allah!! Tidak mendapatkan taufiq sehingga kaum Muslimin sial nasibnya!! Sungguh –wahai Hizbiyyin-Surkatiyyin!- kalian tidak akan pernah merasa aman walau berlindung di belakang orang yang paling besar sekalipun dengan berbagai kesesatan dan kejahatan yang telah kalian lakukan terhadap ulama pewaris para Nabi!! Kejahatan dan kekejian di atas landasan pengakuan dusta sebagai da’i-da’i Salafy!! Yang mengaku mencintai Ahlul Hadits dan murid-murid mereka!
Apakah kemuliaan dapat diraih dengan cara memusuhi dan memerangi wali-wali Allah?
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
(Bab IX, Bundel Badai Fitnah)

Footnote:
[1] Ketika kesesatan dan penyimpangan As-Surkati yang selama ini tersembunyi dari pandangan umat diungkapkan, Hizbiyyun-Irsyadiyyun menunjukkan kemurkaannya dan menuduh kita telah memakan daging ulamanya bahkan menghisap darahnya!! Adapun mereka? Merasa bebas untuk menghinadinakan dan menikam kehormatan para ulama pewaris para Nabi! Ketika Surkati dan Hizbul Irsyad diungkap penyelewengannya (dan ini hanyalah untuk memenuhi tantangan mereka sendiri!!) mereka menjadi murka, sebaliknya ketika mereka melecehkan kehormatan para ulama pewaris para Nabi, Salafiyyin mereka tuntut untuk tetap berkasih sayang!! Ya Subhanallah, inikah keadilan? Ataukah kita (yang sekarang ini mengungkapkan kejahatan keji Hizbul Irsyad) yang telah melakukan kedhaliman karena kejahatan keji tersebut dilakukan di masa silam? (baca Mukadimah Syaikh Ali Hasan pada Daurah ke-5) Saudaraku, apakah antum sekalian “memaklumi” kejahatan keji ini?! Mana pembelaan antum terhadap para ulama pewaris para Nabi yang mereka injak-injak kehormatannya?
[2] Penamaan judul ini sendiri jelas-jelas merupakan serangan terhadap Ahlus Sunnah!!
[3] Tidakkah anda merasa berkewajiban wahai saudaraku kaum Muslimin untuk sedikit berkorban dalam membela dan menjaga sunnah Rasulullah dari serangan dan tikaman para pengusung bid’ahnya hisab?! Bagaimana mungkin upaya pengamalan sunnah ru’yatul hilal dan pembelaan terhadapnya melawan bid’ahnya hisab dinyatakan oleh Hizbul Irsyad sebagai perbedaan yang tercela?! Bahkan adalah wajib untuk berbeda dan berpecah antara pembela sunnah dengan pengusung bid’ah!!
[4] Bahkan lebih luas lagi, mereka tikam dan hinakan kehormatan para ulama pewaris para nabi yang telah mengumpulkan, menjaga dan mendakwahkan warisan kenabian ini!!
[5] Berdasarkan kesaksian salah satu ustadz yang diundang dalam Daurah Masyayikh ke 4 di Wisma Erni Lawang, Takfiri Farid Okbah juga tampil di acara penutupan Daurah setelah giliran Abdurrahman Tamimi berbicara!! Ini adalah acara resmi dan sangat kecil kemungkinannya Farid sendiri yang berinisiatif untuk tampil ke depan tanpa diketahui/diizinkan/diminta oleh pimpinan acara Daurah seperti Chalid Bawazer dan Abdurrahman Tamimi. Tampaknya –wallahu a’lam- jabatan dia sebagai Ketua Majelis Dakwah Al-Irsyad-lah yang mengharuskan dia untuk maju ke depan!! Alahul Musta’an, untuk suatu acara yang dikatakan sebagai Daurah para Da’i “Salafiyyin”, plus-plus!! Hanya kepada Allah kita mengadu.

Lerai Pertikaian “Made In” Firanda As-Soronji

Filed under: Umum

 

BUKU SYAHADAH MUHIMMAH

LERAI PERTIKAIAN ”MADE IN” KANTOR PUSAT IHYA’UT TUROTS KUWAIT1

(Dilema Ihya’ut Turots, Antara Tuntutan Dana, Popularitas Diri & Upaya Mencari Sensasi)2


Andi Muhammad Arief:

Ba’da Tahmid, Tsana’ wa Sholah, saya adalah muwadhof di Jam’iyah Ihya Turots Islamy (JITI) Maktab Indonesia dan silahkan anda-anda semua membaca AD/ART nya sehingga akan tahu bagaimana itu JITI. Jazakumullah ya Ustadz Abdullah Taslim atas perjuangan menegakkan islam diatas manhaj yang benar. Saya berani bersumpah atas nama Allah bahwa Manhaj SALAF / Ahlussunnah adalah manhaj yang benar dan selamat.

(Tanggapan Andi Muhammad Arief Terhadap Artikel Abdullah Taslim cs, Mus$$$.or.$$, April 12th, 2006 10:31)

Luar biasa. BUKU EMAS (pujian tertinggi, terdahsyat dan mengerikan dari Abu Salma)3 “Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan” buah karya Abu ‘Abdil Muhsin Firanda bin Abidin As-Soronji seolah menjadi buku wajib bagi Sururiyyin dan Turotsiyyin. Berupaya keras untuk memahamkan kepada umat bahwa permasalahan dakwah yang terjadi selama ini hanyalah persoalan Khilafiyyah Ijtihadiyyah yang tidak boleh padanya diterapkan prinsip-prinsip Al-Wala’ dan Al-Bara’. Firanda menyebutkan nama-nama Kibar Ulama yang telah mentazkiyah Ihya’ut Turots dan menekankan bahwa jumlah mereka lebih banyak daripada “murid-murid para ulama Kibar tersebut, dengan jumlah lebih sedikit” yang telah meng-hizbi-kan yayasan tersebut.

Kalau Firanda menganggap bahwa “Salafiyyin” menuduh Kibar ulama tidak tahu fiqhul waqi’ karena membenarkan fatwa dan bukti-bukti ‘shighar’ ulama yang memperingatkan umat dari kesesatan Ihya’ut Turots, bukankah dia sebenarnya sedang merobohkan kaidah dia sendiri (Lerai…,hal.225)?! Bukankah pernyataannya itu juga berarti bahwa “shighar ulama” dia tuduh tidak tahu fiqhul waqi’ pula karena “berani” mentahdzir Ihya’ut Turots yang di”tazkiyah” oleh Kibar ulama?4 Baginya, burhan dan Hujjah yang dibawa oleh “murid-murid para ulama Kibar” bukan lagi menjadi parameter kebenaran yang harus diperhatikan. Lebih nahas lagi, “murid-murid ulama Kibar tersebut” (yang meng-hizbi-kan Ihya’ut Turots) ternyata jumlahnya lebih sedikit. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk mempercayai tahdzir dari “murid-murid ulama Kibar tersebut yang jumlahnya lebih sedikit”. Allahul Musta’an.

Firanda juga menggarisbawahi bahwa dana yayasan ini “datangnya dari kaum mukminin”(Lerai…,hal.241). Juga “Sekali lagi kami tekankan, bahwa dana yang dimiliki oleh yayasan tersebut bersumber dari kaum Muslimin yang dermawan”(ibid)5.

Telah datang bukti kepada kita –alhamdulillah- bahwa salah satu kaum mukminin(!?) yang menjadi dermawan yayasan ini adalah dari kaum “Syi’ah Rafidhah”, bahkan bukti nyata bagaimana Ihya’ut Turots menggandeng Partai Politik Ikhwanul Muslimin. Bukankah bukti ini menjadi petunjuk kuat betapa “ada yang tidak beres” dari manhaj yayasan ini?

Jangan terburu-buru menyatakan:”Kalau benar yang kalian katakan, maka perkaranya bukan pada pusat yayasan tersebut, namun masalahnya kembali ke cabang yayasan tersebut” (Lerai…, hal.236-237)6.

Kita katakan:”Justru bukti-bukti ‘ketidakberesan manhaj” tersebut terjadi di Kuwait!! Tempat dimana Ihya’ut Turots dilahirkan!!”

Kalau engkau jujur wahai Firanda dan mau berfikir secara jernih tentang isi tahdzir dan peringatan “murid-murid ulama Kibar yang jumlahnya lebih sedikit” itu, justru penyimpangan yang ditunjukkan oleh Ihya’ut Turots di Kuwait-lah yang menjadi sebab paling besar mengapa yayasan ini ditahdzir oleh “murid-murid ulama Kibar” tersebut!!

Adapun penyimpangan-penyimpangan cabang-cabang yayasan ini yang terjadi di beberapa negeri bukankah merupakan dampak dari “uswah sayyi’ah” yang diperagakan oleh Ihya’ut Turots Kuwait?

Apakah karena kelompok-kelompok bid’ah wal Hizbiyyah yang dapat mengambil dana dari cabang-cabang Ihya’ut Turots kemudian Ihya’ut Turots Kuwait dapat “mencuci tangan” dari penyimpangan dan penyelewengan cabang-cabangnya(Lerai…, hal.236-237)?

Bagaimana mungkin Ihya’ut Turots Kuwait dapat mencuci tangan dari penyimpangan ini sementara setiap pengajuan dana kepada yayasan haruslah membuat proposal terlebih dahulu dan harus pula mendapat acc persetujuan pencairan dana? Bahkan setiap alokasi dana mengharuskan penerima dana tersebut membuat laporan pertanggungjawaban dan dikirimkan ke Ihya’ut Turots Kuwait lengkap bersama foto-fotonya? Ini adalah ciri khas Ihya’ut Turots!!7

Sebagaimana –persaksian Al-Akh Abdurrahman- dana yang disalurkan Ihya’ut Turots Kuwait melalui Al-Irsyad cabang Kuwait kepada PP. Al-Irsyad dan yayasan As-Sunnah Cirebon, maka kedua lembaga ini telah mengirimkan laporan pertanggungjawaban kepada Al-Irsyad cabang Kuwait dan Ihya’ut Turots Kuwait!! Apakah Ihya’ut Turots Kuwait tidak memiliki data-data siapa saja penerima dananya dan peruntukannya serta laporan pertanggungjawaban para “pasien” nya yang karenanya dapat dijadikan alasan untuk berkelit dan cuci tangan dari penyimpangan cabang-cabangnya? Dan bukankah Ihya’ut Turots Kuwait juga harus memberikan laporan kepada para donatur “mukminin” itu?! Bagaimana tanggapan donaturnya jika Ihya’ut Turots Kuwait menyatakan tidak tahu menahu kemana dana mereka disalurkan?! Bukankah logika Firanda adalah logika yang tidak logis?!

Dengan dana Ihya’ yang berasal dari kaum “mukminin” ini, sesuatu yang tidak mungkin terjadi dapat dilakukan oleh “Salafiyyin”, bergabung dan berkoalisi dengan gembong-gembong Ikhwanul Muslimin!! Tidak perlu terlalu jauh, (satu contoh saja –bukti-bukti lainnya telah berlalu di bab-bab sebelumnya) Aunur Rafiq dan kawan-kawannya, di bawah bendera Al-Sofwa Al-Muntada bergabung dengan Mudzakir Arif sang Pembesar Ikhwanul Muslimin di Markas Besarnya di Sulawesi, ia sekaligus seorang “kader tangguh” partai Ikhwanul Muslimin Indonesia. Bagaimana mungkin “rombongan du’at Salafiyyin’ bergabung dengan du’at Ikhwanul Muslimin di markas besar mereka?! Apa yang tidak mungkin? Dana kaum “mukminin” Ihya’ut Turots dapat mewujudkan “impian” mereka!!

Apakah rombongan du’at Salafy” tersebut hendak berusaha menyadarkan dan mendakwahi Mudzakir Arif agar lepas dari kungkungan Hizbiyyahnya partai Ikhwanul Muslimin?! Tidak, bahkan mereka bergabung untuk berkolaborasi dakwah bersama-sama8. Allahul Musta’an.

Tetapi “fiqhul waqi’” di sisi Firanda ternyata tidaklah sama dengan “Waqi’” di alam nyata…

Tidak ada artinya bagi Firanda bukti-bukti kejahatan Ihya’ut Turots yang disampaikan oleh “murid-murid Kibar ulama yang jumlahnya lebih sedikit” itu!

Firanda berkata:”Yang tampak, kemudharatan-kemudharatan yang dikhawatirkan sa’at bermuamalah dengan yayasan tadi tidaklah terjadi, alhamdulillah. Bahkan sebaliknya justru kemaslahatan yang di dapat dengan mu’amalah dengan yayasan ini”. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!!

Syaikh Muqbil Rahimahullah berkata: “Saya (Syaikh Muqbil) menganggap ia (Abdurrahman Abdul Khaliq-peny) memecah-belah barisan Ahlus Sunnah dengan membuat tipu daya melalui hartanya, tidak melalui pemikirannya. Ia bangkit dari Kuwait ke Indonesia (Abu Nida cs, red), Mesir dan beberapa negara lainnya. Saya berpendapat tidak benar menyerahkan dana kepada Yayasan Ihya’ut Turots karena mereka gencar memecah-belah dakwah Ahlus Sunnah sehingga Ahlus Sunnah di Jeddah dan Sudan terpecah.
Di Yaman banyak orang yang tertipu oleh kekayaannya bukan pemikirannya. Saya beritahukan kepada pemuda-pemuda Salaf Kuwait bahwa Yayasan Ihya’ut Turots memberikan dana yang menimbulkan bencana kepada orang-orang yang tertipu tersebut. Abdul Qadir Asy-Syaibani dan Muhammad Abdul Jalil saling bermusuhan gara-gara dana Ihya’ut Turots”.( http://www.salafy.or.id/print.php?idartikel=549)

Sungguhpun Firanda telah berusaha keras untuk meyakinkan umat bahwa Ihya’ut Turots adalah yayasan Ahlus Sunnah sebagaimana nama-nama Kibar ulama yang disebutnya telah mentazkiyah yayasan tadi, tetapi tampaknya keraguan tentang status yayasan “Al-Khairiyyah” Ihya’ut Turots masih menyelimuti dirinya.

Firanda berkata:”Dana tersebut akhirnya tidak tersalurkan kepada ahli bid’ah. Jika dana ini tidak segera diambil dan dimanfaatkan oleh Ahlus Sunnah, semnetara para dermawan terus menyalurkan kelebihan harta yang mereka miliki, bisa jadi akhirnya yang memanfaatkan dana tersebut adalah ahli bid’ah, sehingga bid’ahpun semakin berkembang” (Lerai…, hal.242)

Kita katakan:”Kenapa anda harus kuatir –wahai Firanda- bahwa yayasan ini –sebanyak apapun dana yang berhasil dihimpunnya- dari “kaum Mukminin-Muslimin” akan disalurkannya kepada ahli bid’ah sehingga bid’ah semakin merajelela?! Bukankah yayasan ini adalah “yayasan Ahlus Sunnah” yang banyak membantu Salafiyyin dan dakwah Salafiyyah sebagaimana kampanye yang sedang anda kibarkan?

Kenapa Yayasan Ahlus Sunnah ini harus berpikir untuk membantu dan menyerahkan dana mukmininnya kepada Ahlul Bid’ah sehingga bid’ah semakin merajalela?!

Sesungguhnya, ucapan anda ini jelas-jelas menunjukkan keragu-raguan anda terhadap Status Ahlus Sunnahnya Ihya’ut Turots sebagaimana yang anda gembar-gemborkan kepada umat! Jangan menipu nurani anda!! Allahul Musta’an.

Lalu apa artinya tulisan:”Yang nampak, kemudharatan-kemudharatan yang dikhawatirkan saat bermu’amalah dengan yayasan tadi tidaklah terjadi, alhamdulillah” (Lerai…,hal.242)?! Kalau demikian kenyataannya, (lagi-lagi) kenapa anda harus kuatir bahwa yayasan ini akan menyalurkan dananya kepada Ahli Bid’ah?! Apakah hati nurani anda sendiri sebenarnya meragukan statemen yang anda tulis wahai Firanda? Ataukah anda tidak mampu menutup kenyataan bahwa yayasan Hizby ini selama ini memang benar-benar telah terbukti membantu Ahlul Bid’ah wal Hizbiyyah?! Apakah anda hendak meruntuhkan pernyataan anda sendiri ?!

Sesungguhnya, kalaulah anda benar-benar serius untuk “Melerai Pertikaian dan Menyudahi Permusuhan” ini, tentulah anda tunjukkan secara lengkap isi fatwa Kibar ulama yang anda katakan telah merekomendasikan yayasan tersebut. Kenapa cuma anda sebutkan nama-nama mereka? Ataukah anda kuatir bahwa fatwa-fatwa itu diketahui oleh umat “ternyata” termasuk juga rekomendasi tentang “pencetakan Al-Qur’an” dan rekomendasi tentang “Maktabah Thalabul ‘Ilm”?! Untuk menunjukkan bahwa: “Bahkan sebagian mereka merekomendasi yayasan ini berulang-ulang”(Lerai…, hal.226-227)?! Allahul Musta’an.

Kalau anda benar-benar hendak menjadi hakim yang adil dan obyektif dalam permasalahan “khilafiyyah Ijtihadiyyah” ini, bukankah membeberkan isi fatwa-fatwa “murid-murid ulama Kibar” yang “jumlahnya lebih sedikit” dan bukti-bukti yang mendukungnya juga merupakan langkah yang mesti ditempuh?!

Bagaimana mungkin anda menjadi hakim yang adil dengan menekankan bahwa “banyak kemaslahatan yang didapat dengan bermu’amalah dengan yayasan ini”(Lerai…,hal.242) sementara anda tidak menyinggung sedikitpun (minimal menguji keabsahan dan kebenaran pernyataan Syaikh Muqbil Rahimahullah tentang tersebarluasnya kemudharatan-kemudharatan besar dan penyelewengan manhaj dari yayasan ini dengan bukti-bukti yang beliau ungkapkan di berbagai negeri :”Jadi dakwah Ihya”ut Turots memecah belah umat. Dalam “Shahih Bukhari” disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Muhammad pemisah manusia,” atau dalam riwayat lain berbunyi, “Muhammad memisahkan manusia.” Artinya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memisahkan antara istri dengan suami, karena kadang istri menjadi muslimah si suami kafir, atau sebaliknya. Atau memisahkan anak dengan orang tua yakni kadang anaknya muslim sedangkan orang tuanya kafir, atau sebaliknya.
Sedangkan Ihya’ut Turots memisahkan ahlus sunnah di banyak negeri seperti Mesir, Yaman, Kuwait, Emirat Arab, Haramain dan negeri lainnya (termasuk di Indonesia, red)”
(
http://www.salafy.or.id/print.php?idartikel=549
).

Apakah ucapan beliau ini hanya “omongkosong” belaka?! Masyayikh telah berdusta?? Ataukah engkau hendak mengatakan bahwa:”Mengenai mudharat yang dikhawatirkan mungkin saja terjadi,. Namun, kalaupun memang ada maka harus dibandingkan dengan maslahat” (Lerai…,hal.244). Tentu saja –di sisimu- bahwa mudharat “pecah belah umat” yang dilakukan oleh “dana” Ihya’ut Turots tidaklah sebanding dengan besarnya kemanfaatan, kemaslahatan dan kebaikan yang telah ditebarkannya kepada umat. Bukankah demikian wahai As-Soronji?!9

Ataukah engkau takut jika alasan-alasan “ulama Shighar yang jumlahnya lebih sedikit’ itu dalam mentahdzir Ihya’ut Turots engkau sebutkan pula, maka umat dapat dengan mudah mengetahui mana pendapat yang lebih “rajih” dari permasalahan “khilaf ijtihadiyyah” tentang Ihya’ut Turots?!

Kalau engkau sedikit ilmiyyah, tentu akan engkau tunjukkan kesalahan dan kelemahan tahdzir dan bukti-bukti kesesatan serta penyimpangan Ihya’ut Turots yang disampaikan oleh Syaikh Muqbil Rahimahullah, Syaikh Rabi’ Hafidhahullah, Syaikh Khalid Raddadi Hafidhahullah, Syaikh Ahmad Najmi Hafidhahulah, Syaikh Muhammad bin Hadi Hafidhahullah, Syaikh Ayyid Asy-Syamiri Hafidhahullah dan beberapa “murid-murid ulama Kibar” lainnya. Adapun hanya sekedar “menyebutkan kemaslahatan-kemaslahatan yang didapatkan jika bermu’amalah dengan yayasan ini” tanpa menyebutkan kemudharatan-kemudharatan yang karenanya para “murid-murid ulama Kibar” mentahdzirnya?! Duhai alangkah ilmiyyahnya jalan tarjih yang sedang engkau tempuh!

Walhasil, keberanian As-Soronji untuk “menghadapi” Salafiyyin dengan berupaya “menetralisir” tahdzir yang dilakukan oleh “murid-murid ulama Kibar yang jumlahnya lebih sedikit” itu hanyalah bermodalkan sebuah risalah berjudul: “Syahaadaat Muhimmah li Ulama’ al-Ummah fi Manhaj wa A’maal wa Isdaaraat Jum’iyyah Ihyaa’ at-Turots al-Islami” (Lerai…, hal.226)!! Kita tidak tahu, kenapa Firanda tidak menyebutkan keterangan lebih lengkap bahwa risalah ini diterbitkan oleh Kantor Pusat Ihya’ut Turots di Qurtuba, Kuwait. Sengaja atau tidak, penyebutan lebih lengkap tentang penerbit risalah ini hanyalah akan mengundang komentar umat :”Ooo ternyata buku propaganda Ihya’ut Turots, pantas…”.

Beberapa ulama “shighar” telah dihubungi untuk mengetahui komentar mereka tentang buku terbitan kantor pusat Ihya’ut Turots ini yang dijadikan rujukan utama oleh Firanda, secara umum mereka menyatakan bahwa buku ini “hanyalah talbis Ihya’ut Turots” semata. Jika demikian waqi’nya, maka pantas saja Salafiyyin di negeri-negeri Arab dan sekitarnya “tenang-tenang saja” walaupun Ihya’ut Turots mengeluarkan buku ‘sedahsyat ini”. Kenapa? Karena mereka sudah tahu betul dan paham trik-trik yang dilakukan oleh yayasan Hizby ini untuk mentalbis umat. Buku yang tidak laku di pasaran luar negeri tadi akhirnya oleh Firanda diekspor ke Indonesia dan dielu-elukan sebagai “Buku Emas10” oleh Abu Salma dan orang-orang yang semanhaj dengannya. Allahul Musta’an. Betapa tidak, bukankah umat Islam Indonesia yang jauh jaraknya dari ulama menjadi potensi besar untuk melemparkan talbis “Tazkiyah Kibar Ulama terhadap Ihya’ut Turots”?! Siapa pula yang menyangsikan bahwa Kibar ulama adalah orang-orang yang sangat dihormati oleh Salafiyyin?

Hanya saja Firanda lupa bahwa Salafiyyin Indonesia tidaklah terputus hubungannya dengan saudara-saudara mereka yang ada di Jazirah Arab dan sekitarnya terutama saudara-saudara mereka di Kuwait yang menjadi basis terdepan dalam menghadapi serangan Ihya’ut Turots! Merekalah yang akan “membocorkan” trik-trik jahat” dan “talbis-talbis beracun” Ihya’ut Turots kepada saudaranya, Salafiyyin di Indonesia. Jazakumullahu khairan katsira.

Benarlah apa yang dinyatakan oleh Syaikh Ahmad As-Subay’i Al-Kuwaity Hafidhahullah kepada Al-Akh Abdurrahman : ”Kami Kuwaitiyyin lebih tahu tentang Ihya’ut Turots, adapun anda?”

Bukanlah hal yang baru bahwa Hizbiyyin ketika mentalbis umat (kalau perlu) mereka bawakan fatwa-fatwa Kibar Ulama untuk mendukung mereka, tidak perlu dibahas bagaimana cara mendapatkan fatwa tersebut. Yang penting tazkiyah telah tergenggam di tangan.

Sebenarnyalah bahwa ”trik” Firanda dengan ”menaiki kuda Troya” yang dibuat di Kantor Pusat Ihya’ut Turots untuk menghantam Salafiyyin bukanlah hal yang benar-benar baru. Berkali-kali ”siasat” seperti ini dilakukan oleh Hizbiyyun lainnya, hanya saja hasilnya tetaplah nol besar, umat tidak mampu mereka kecoh, apalagi ulama’nya, walhamdulillah.

Strategi ini telah dilakukan terlebih dahulu oleh kalangan Hizbiyyun lainnya, bersembunyi dibalik fatwa atau pujian Kibar ulama. Namun demikian, apakah Hizbiyyun mampu menyelamatkan penyimpangan manhajnya dengan cara seperti itu? Lihatlah..

Bahkan Hasan Al-Banna yang dipuji Syaikh Ibnu Al-Jibrin –seorang ulama anggota Kibarul Ulama-11 telah dikomentari dengan perkataan yang amat tendensius. Zaid bin Muhammad bin Hadi berkata tentang Hasan Al Banna, ”Bahwasanya tidak diperkenankan bagi setiap orang untuk menghormati, bahkan menjadikannya seorang imam yang dipanuti dalam akidah maupun akhlak, ibadah dan manhaj dakwahnya karena terdapat kesalahan fatal yang dibenci ulama as Salafiyyin ar Rabbani dalam beberapa segi itu”(Al-Ikhwanul Muslimun Mendhalimi…, hal.69-70).

Demikian pula pembelaan Syaikh Abdullah Al-Jibrin Hafidhahullah dan Syaikh Bakr Abu Zaid Hafidhahullah (keduanya adalah anggota Hai’ah Kibarul Ulama) terhadap Sayyid Quthb telah dijadikan tameng oleh Ikhwanul Muslimin untuk menutupi tabir penyimpangan mereka. Farid Nu’man Al-Ikhwani berkata:

Cukuplah bagi kita ucapan Syaikh Ibnu Al-Jibrin yang telah membaca buku-buku Syaikh Rabi’ yang berisi bantahan terhadap Sayyid. Ia berkata, ”Saya telah membaca tulisan Syaikh Rabi’ Al-Madkhaly tentang bantahan terhadap Sayyid Quthb, tetapi saya melihat tulisannya itu sebagai pemberian judul yang sama sekali jauh dari kenyataan yang benar. Oleh karena itu, tulisan tersebut dibantah Syaikh Bakr Abu Zaid (lihat lampiran)” (ibid, hal.141-142).12

Inilah ”khilafiyyah Ijtihadiyyah” berikutnya:

Imam Kabir Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz –mantan mufti kerajaan Saudi dan Ketua Hai’ah Kibarul Ulama- berkata, ”Buku-bukunya (Al-Qaradhawy-peny) memiliki bobot ilmiyah dan sangat berpengaruh di dunia Islam.” Imam al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albany –ahli hadits terkemuka abad duapuluh- berkata, ”Saya diminta (al Qaradhawy) untuk meneliti riwayat hadits serta menjelaskan kesahihan dan kedha’ifan hadits yang terdapat dalam bukunya (Halal wal Haram). Hal itu menunjukkan ia memiliki akhlak yang mulia dan pribadi yang baik. Saya mengetahui itu semua secara langsung. Setiap dia bertemu saya dalam satu kesempatan, ia akan selalu menanyakan kepada saya tentang hadits atau masalah fiqh. Dia melakukan itu agar ia mengetahui pendapat saya mengenai masalah itu dan ia dapat mengambil manfaat dari pendapat saya tersebut. Itu semua menunjukkan kerendahan hatinya yang sangat tinggi dan kesopanan dan adab yang tiada tara. Semoga Allah Swt mendatangkan manfaat dengan keberadaannya13. Mengapa pengikut kedua Syaikh itu tidak mengambil manfaat dari kesaksian mereka?”(ibid, hal.182)14. ”Syaikh Al-Albany telah menjadi saksi ketawadhu-an dirinya” (ibid, hal.174).

Akhirnya:”Sesungguhnya Syaikh Bin Bazz dan Syaikh Al-Albany telah menjadi saksi tentang pribadi Al-Qaradhawy seperti yang telah disebutkan sebelumnya”(ibid, hal.221). Aih, Ikhwanul Muslimin telah membawa ”tazkiyah” Syaikh Biz Bazz dan Syaikh Al-Albani terhadap Al-Qaradhawy!! Yassalam.

Farid Nu’man Al-Ikhwani melanjutkan: ”Namun, justru sering muncul pandangan subyektif dari sebagian kecil kalangan yang gemanya melebihi suara aslinya. Lucunya, mereka bukanlah ulama, melainkan thalibul ilmi (penuntut ilmu). Kenyataannya hanya orang besar yang dapat menghargai orang besar. Mereka tidak lebih dari sekelompok anak-anak muda –dengan dukungan beberapa Syaikhnya- yang baru belajar beberapa kitab salaf (klasik). Sayangnya lidah mereka menjulur melebihi ilmunya…”(ibid, hal.175)

Di sana, ada fatwa lain dari ”murid-murid Kibar ulama yang mewakili pandangan subyektif sebagian kecil kalangan” tentang dedengkot Ikhwany ini. Syaikh Muqbil Rahimahullah bahkan menulis satu kitab khusus tentangnya yang berjudul: ” “Iskatu Kalbun awi fi Raddi ‘ala Yusuf Al-Qaradhawi”, Mendiamkan Anjing Menggonggong sebagai Bantahan Kepada Yusuf Qaradhawi!!

Masih komentar tentang Qaradhawy, ”Sayangnya, Asy-Syaikh Ali Hasan Al-Atsary hafizhullah kami mencintainya karena Allah ’Azza wa Jalla pun ikut-ikutan merendahkan Syaikh Al-Qaradhawy dengan menyebutnya sebagai salah satu tokoh rasionalis abad modern yang mendahulukan akal di atas nash….Adapun guru Syaikh Ali –Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah- justru memuji Al-Qaradhawy dalam mukadimah bukunya, Ghayatul Maram fi Takhrijil Halal wal Haram” (ibid, hal.178-179).

Tapi sudahlah wahai saudaraku, karena Firanda akan segera ”mendatangi anda” untuk menyodorkan pernyataan bahwa hal ini adalah permasalahan ”Khilafiyyah Ijtihadiyyah”!! Dan dia akan ”menakut-nakuti anda” dengan pertanyaannya (bandingkan:Lerai…, hal.237-238) :”Lantas kenapa antum tidak sekalian men-tahdzir atau bahkan meng-hajr ”Syaikh Bin Bazz” dan ”Syaikh Al-Albany” yang memberi rekomendasi kepada Al-Qaradhawy? Bukankah para Syaikh inilah yang menjadi sebab terbukanya pintu untuk bekerjasama dengan Al-Qaradhawy (gembong Ikhwani), yaitu dengan adanya rekomendasi (baca:pujian) mereka kepada Al-Qaradhawy ini? Adapun orang-orang yang bermu’amalah dengan Al-Qaradhawy –gembong Ikhwani- hanyalah merupakan akibat (dampak) dari rekomendasi tersebut. Kenapa kalian begitu gencarnya memerangi akibat dan tidak memerangi sebab sumber ”malapetaka”?” Apakah pertanyaan ”kritis” seperti ini wahai Firanda?

Firanda juga berkata secara ”provokatif”:”Lantas kenapa antum tidak sekalian saja mentahdzir atau bahkan menghajr Syaikh Fauzan dan Syaikh Alusy Syaikh yang memberi rekomendasi kepada yayasan tersebut? Bukankah para Syaikh inilah yang menjadi sebab terbukanya pintu untuk bekerjasama dengan yayasan tersebut, yaitu dengan adanya rekomendasi mereka kepada yayasan ini? Adapun orang-orang yang bermuamalah dengan yayasan tersebut hanyalah merupakan akibat (dampak) dari rekomendasi tersebut. Kenapa kalian begitu gencarnya memerangi akibat dan tidak memerangi sebab sumber ”malapetaka”?..” (Lerai…, hal.237-238).

Saudaraku, jangan anda termakan ”provokasi” Firanda untuk mentahdzir bahkan menghajr Syaikh Fauzan dan Syaikh Alusy Syaikh!! Kenapa? Karena ini adalah kesalahan fatal dan anda memasuki lubang perangkapnya!! Cap Haddady telah menanti anda!! Dan demikianlah adanya sikap ghuluw Haddadiyyin yang harus kita enyahkan!! Bagaimana mungkin Salafiyyin dipaksa untuk memberikan sikap yang sama antara kepada ulama Mujtahidin dengan para pengekor hawa nafsu dan Hizbiyyah?! Tentulah beda!!

Kedua, katakan dengan jujur kepada umat wahai Firanda, sejak kapan Abu Nida’, Ahmas Faiz, Abu Haidar dan dedengkot-dedengkot Ihya’ut Turots Indonesia memegang fatwa para ulama tersebut? Apakah ketika mereka tersenyum penuh kemenangan ketika Abdurrahman Abdul Khaliq melecehkan Salafiyyin pada peristiwa ”Tragedi Daurah Al-Irsyad Tengaran” mereka sudah memegang fatwa ”Khilafiyyah Ijtihadiyyah”mu? Apakah ketika mereka, Abu Mush’ab dan teman-temannya bersama-sama guru mereka, Syarif Hazza Al-Mishri menyerang dan memerangi Salafiyyin Ahlus Sunnah dan para ulamanya mereka juga telah memegang ”kaidah sakti” Khilafiyyah Ijtihadiyyahmu? Apakah ketika mereka, Yusuf Utsman Ba’isa dan csnya dari kelompoknya Abu Nida’ dan Ahmas Faiz menerjemahkan dan menyebarkan selebaran keji buatan Hizby-Khabits Asy-Syaiji murid Abdurrahman Abdul Khaliq juga termasuk dari Khilafiyyah Ijtihadiyyahmu? Anak-anak ingusan ini kuatir bahwa ketika semua kejadian penyerangan hebat terhadap dakwah Salafiyyah di atas ternyata dirimu belumlah ”terlahir” di medan dakwah ini!! Engkau muncul bak pahlawan yang akan menengahi dan menyelesaikan permasalahan ini dengan kaidah Khilafiyyah Ijtihadiyyah?!! Semua beres, ini hanyalah…Khilafiyyah Ijtihadiyyah, Allahu yahdik.

Sejak kapan engkau dan mereka memegang ”Syahadah Muhimmah” yang diterbitkan oleh Kantor Pusat Ihya’ut Turots? Baru kemarin ”siang” kan?

Ketiga, apakah engkau wahai Firanda tidak menyadari bahwa Abdurrahman Abdul Khaliq beserta seluruh jajaran Ihya’ut Turots Kuwait akan tersenyum bangga penuh kemenangan jika mengetahui isi buku emasmu ini?!15 Allahul Musta’an.

Keempat, tidakkah engkau wahai Firanda menyadari, betapa mirip “misi yang diemban” bukumu (Lerai Pertikaian…) dengan buku Farid Nu’man (Al-Ikhwanul Muslimun Mendhalimi…)? Perhatikanlah:”Kami jumpai orang-orang yang mencela Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Al-Ghazaly dan Al-Qaradhawy hanyalah thalibul ilmi yang tidak meneladani syaikh-syaikh mereka yang ‘ihtiram (hormat) terhadap ulama lain. Antara Syaikh Al-Qaradhawy dan Syaikh bin Bazz maupun Syaikh Al-Albany, tidak ada masalah apa-apa. Mereka saling mencintai karena Allah Swt walau mereka tidak sedikit berbeda dalam ijtihad fiqh yang klasik maupun kotemporer. Lisan dan tulisan mereka bersih dari saling mencela. Anehnya, kalangan yang menjadikan syaikh-syaikh itu sebagai ikutan, justru amat bersemangat dan tidak ada bosannya dalam menelanjangi kehormatan tokoh-tokoh Ikhwan dalam bentuk buku, majalah, buletin dan taklim dengan alasan tahdzir (memperingatkan) umat dari kekeliruan. Apakah hanya itu amal soleh mereka ataukah mereka memang lahir untuk itu? Apakah Allah Swt telah memberikan izin kepada mereka untuk menyebut pihak lain sesat, salah, firqah, hizbiyyah bukan hizbullah, dan keluar dari manhaj salaf?”(ibid, hal.226).

Terakhir, kami akan memberikan suatu contoh kejadian yang dialami oleh Salafiyyin Inggris pada 10 tahun yang lalu yang sangat persis dengan apa yang dialami oleh Salafiyyin Indonesia di saat ini. Kaset tanya jawab Syaikh Muqbil Rahimahullah “Tuhfatul Mujiib ‘an As’ilat-il-Haadir wal-Ghariib (hal 143-147), sumber asli “Kaset Pertanyaan dari Inggris” yang direkam pada 13 Ramadhan 1416 H.

Pertanyaan:

Terdapat suatu perkumpulan di antara kita (di Inggris) bernama Al-Markaz Al-Islamiyyah Al-Muntada. Mereka mempunyai hubungan dengan Muhammad Surur dan juga menjual buku-buku karangannya serta berinteraksi dengannya. Mereka juga mendapat rekomendasi dari Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan Syaikh Utsaimin yang menyatakan dukungan untuk mengadakan kerjasama dan berhubungan dengan mereka. Jadi apa nasehat Syaikh terhadap Al-Muntada dan juga nasehat kepada Salafiyyin yang bekerjasama dan bekerja dengan mereka dalam dakwah?

Jawaban:

Nasehatku untuk mereka adalah supaya kembali kepada kondisi mereka ketika dahulu mendakwahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah di dalam majalah mereka “Al-Bayan” dan “As-Sunnah”. Kita dahulu sangat menyukai kedua majalah tersebut. Tetapi kemudian realitas menjadi jelas bahwa mereka kenyataannya adalah Hizb yang menjauhkan kaum Muslimin dari para ulama Salaf. Dan aku menasehati mereka supaya tidak berselisih dengan para penguasa Muslim. Mereka ini telah menyebabkan perpecahan di dalam tubuh Ahlus Sunnah di Yaman, Haramain, Najd, Sudan, Mesir dan banyak negara muslim lainnya.

Mereka mengajak manusia untuk tidak peduli terhadap ilmu dien ini. Mereka dulunya adalah sekelompok pelajar yang belajar kepada kita, kemudian mereka bergabung dengan orang-orang Hizbiyyah. Sejak saat itu mereka mulai menghina Ikhwan Salafiyyin lainnya dan juga kepada kita…..

Jadi saya katakan: “Jika Syaikh Bin Bazz dan Syaikh Bin Utsaimin telah memberikan tazkiyah (rekomendasi) kepada Al-Muntada sebelum terjadinya krisis Teluk, maka kedua Syaikh ini tidak bisa disalahkan karena kita juga ketika itu memuji majalah Al-Bayan dan menghimbau Muslimin untuk bekerjasama dengan mereka. Tapi jika mereka (kedua Syaikh) memberikan tazkiyah tersebut sesudah terjadinya krisis Teluk (saya berpikir hal itu tidak mungkin terjadi)16 maka kedua Syaikh ini telah melakukan kesalahan17. Sehingga saya akan mengatakan kepada kedua Syaikh ini: “Orang-orang ini telah memecah belah kaum Muslimin di sisi di Yaman, dan mereka telah berubah menyerang dan

menunjukkan sikap permusuhan terhadap AhlusSunnah”…

Jadi jika kedua Syaikh tersebut memberikan tazkiyah (rekomendasi), maka mereka harus menarik kembali tazkiyahnya, seperti yang saya lakukan ketika permusuhan mereka kepada saya menjadi jelas dan terbukti selama krisis Teluk dan juga di Yaman18…..Jadi saya katakan kepada para Masyayikh untuk menarik kembali pernyataan tazkiyah, seperti yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an:

Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa”(QS. An-Nisa’:107)

Dan firman Allah:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.” (QS. An-Nisa.:49)

Para Hizbiyyun ini menggunakan tazkiyah tersebut dengan tujuan untuk menipu manusia, sehingga tidak dibenarkan penggunaan tazkiyah semacam ini,……”

(Lebih lengkap lihat: Tuhfatul Mujeeb ‘an As’ilat-il-Haadir wal-Ghareeb, hal 143-147).

Sesungguhnya kebenaran itu bersama bukti, hujjah dan dalil, bukan banyak atau sedikitnya orang.

Masih adakah kaum Muslimin yang tertipu oleh “buku Emas” Firanda yang “nebeng” Syahadah Muhimmah bikinan Kantor Pusat Ihya’ut Turots Kuwait di Qurtuba untuk menghadang fatwa-fatwa “murid-murid Kibar ulama yang jumlahnya notabene lebih sedikit”?! Allahul Musta’an.

(Bab XXV, Bundel Badai Fitnah)

1 Cabang Depok!!

2 Apakah anda teringat dengan sebuah artikel berjudul “Dilema Tahdzir, Antara Sebuah Tuntutan Dakwah dan Tumbal Sensasi Seorang Da’i?”

3 Suatu pujian yang tidak pernah diucapkan dan dituliskan oleh Salaful Ummah terhadap hasil karya para ulama Ahlus Sunnah yang terbaik sekalipun! Allahu a’lam.

4 Lihatlah saudaraku bagaimana dia menyatakan bahwa kemudharatan-kemudharatan ketika bermuamalah dengan yayasan Hizbiyyah ini dikatakannya tidak terjadi!! Sebaliknya justru dia menegaskan betapa banyak manfaat yang dapat diambil jika Salafiyyin bermuamalah dengan yayasan Hizbiyyah ini!! Padahal para Masyayikh benar-benar menegaskan dengan bukti-bukti nyata betapa yayasan ini telah menyebarkan malapetaka bagi dakwah Salafiyyah di seluruh dunia!! Bukankah statemen Firanda itu secara tidak langsung telah menuduh “Shighar Ulama” tidak tahu fiqhul Waqi”? Yang mana mereka berfatwa mengikuti hawa nafsunya!! Menceritakan kejadian yang tidak ada kenyataannya?! Kesemuanya merupakan bukti nyata bahwa Firanda telah menghancurkan kaidah-kaidah yang dia buat sendiri untuk menghantam Salafiyyin!! Bagaikan membangun istana pasir kemudian dia sendiri yang mendatangkan angin ribut!!

5 Syaikh Muqbil Rahimahullah berkata:” Jum’iyyah Ihya At-Turots ilmunya adalah mengumpulkan harta, kemudian setelah itu mengumpulkan manusia agar bersama mereka…. Kenyataannya bahwa harta yang sampai ke mereka para pengurus Jum’iyyah digunakan untuk memerangi Ahlus Sunnah di Sudan, di Yaman, di bumi Haramain (Makkah dan Madinah, pen), Najed dan di Indonesia dan dalam banyak Negara Islam.” (ibid)

6 Syaikh Ubaid Hafidhahullah menyatakan:” Yang aku jadikan sebagai keyakinanku terhadap Allah dengannya, bahwa tidak boleh bekerja sama dengan yayasan ini, dan juga dengan yayasan yang lainnya dari yayasan-yayasan yang menyimpang, walaupun hanya ikut pada cabangnya saja. Juga tidak boleh pula belajar di sekolah-sekolah khusus mereka, dan tidak pula pada halaqah-halaqah mereka. Serta tidak boleh kerjasama dengannya dalam kaset-kaset dakwah mereka, sebab yayasan ini telah jelas pada kami bahwa mereka memerangi Ahlus Sunnah di Kuwait.” (http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=203)

7 Lihatlah bagaimana mus$$$.or.$$ mengambil foto-foto pasca kejadian musibah gempa bumi di Jogja, beberapa diantaranya tampak foto-foto makhluk hidup yang dicoret-coret bagian wajah dan kakinya sehingga tampak seperti laki-laki yang musbil. Adapun negatif fotonya? Ya tetap saja. Apakah negatif filmnya untuk pengajuan dana ke Ihya’ At-Turots?! Wallahu’alam. File bukti Majalah Al-Furqan mereka yang berfotokan gambar manusia menjadi bukti kekerabatan mereka!

8 Firanda!! Apakah perselingkuhan manhaj seperti ini hanya terjadi di cabangnya di Indonesia? Tidak, bahkan hal ini sudah menjadi “trade mark” Ihya’ At-Turots di mana-mana!

Berkata Syaikh Rabi’ Hafidhahullah:” Maka Inilah data-data yang paling kuat yang menunjukkan bahwa Ihya at-Turots tidaklah jujur dalam mengarahkan dirinya kepada manhaj Salafi. Pengaruh Abdurrahman Abdul Khaliq telah diketahui [dimana dia] tidak membawa manhaj Salafi dengan sesungguhnya secara bersih dan murni. Diantara dalil bahwa ia tidak komitmen dengan manhaj ini, bahwa ia bersikap loyal kepada kaum takfir di Yaman, Jum’iyyatul Hikmah dan yang semisalnya. Juga bersikap loyal kepada selain mereka, Ikhwanul Muslimin. Dimana kesungguhan mereka dalam menghadapi pemikiran Iikhwani ini ? Mereka tidak punya keinginan (membantah pemikiran ikhwan, pen) kecuali untuk menarik diri dari manhaj Salafi” (ibid)

9 Adapun Syaikh Muqbil Rahimahullah? Syaikh Rabi’ Hafidhahullah? Syaikh Khalid, Syaikh Muhammad, Syaikh Ayyid? Syaikh Ahmad Najmi? Hafidhahumullah?Tentu berbeda timbangan “manfaat dan madharat” beliau Hafidhahumullah dengan timbangan dinar As-Soronji!! Syaikh Muqbil berkata:” Dan saya perhatikan bahwa dosanya yang paling besar adalah memecah-belah Ahlus-Sunnah, memecah dai-dai ilallah. Na’am, dia sesatkan para da’i dengan dinarnya, bukan dengan pemikiran-pemikirannya. Maka dia [Abdurrahman Abdul kholiq] mendirikan pusat-pusat [dakwah]. Yaa miskiin Ihyaut Turots! Dia mendirikan pusat-pusat dakwah dari Kuwait ke Indonesia, dari Kuwait ke Mesir, dari Kuwait ke Emirat Arab, dari Kuwait ke yang lainnya (Indonesia, yakni Abu Nida’ cs, lihat http://www.salafy.or.id/download/atturots/).
Membangun pusat-pusat dakwah dan Jam’iyah Ihyaut Turots yang akan membiayainya. Saya katakan: Ini adalah suatu kesalahan jika memberi dana [sebagai donatur] kepada Jam’iyah Ihyaut Turots. Ini adalah kesesatan yang besar karena mereka memecah-belah ahlussunnah. Mereka memecah-belah ahlussunnah di Jeddah, memecah-belah ahlussunnah di Sudan, dan mereka memanggil para pengikutnya dengan [nama] jamaah sesuai hawa nafsunya.
Na’am, Dan Di Situ Ada Golongan Sampah Juga, Yang Kepadanya Dia Mengemis Dinarnya, bukan pemikirannya
. Dan kita beri kabar baik untuk para pemuda Salafy dari Kuwait, bahwa Jam’iyah Ihyaut Turots telah menghabiskan dana yang sangat besar untuk mereka yang telah berubah di sini, di Yaman [agar menjadi pengikut mereka]. Akan tetapi seruan mereka mati dan tak berpengaruh. Na’am, dan telah dikatakan oleh beberapa orang di Kuwait [dari kalangan mereka] bahwa kita tidak memiliki dakwah selama Muqbil masih di Yaman. Na’am, ini ni’mat dari Rabb-ku, karena kamu telah memisahkan dirimu sendiri wahai orang yang berkata ‘bahwa kita tidak memiliki dakwah di Yaman selama Muqbil masih di Yaman’ (www.salafy.or.id/print.php?idartikel=548)

Dan sekarang lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Firanda begitu heroiknya dalam membela Ihya’ At-Turots dan berusaha mematahkan statemen Syaikh Muqbil dan “murid-murid ulama kibar” tentang “dakwah pecah belah umat” yang dilakukan oleh yayasan tersebut dengan kaidah ‘”dinar” emasnya.

Firanda berkata: “Jawabnya: Perpecahan tersebut tidaklah terjadi kalau saja kita bersikap benar dalam menghadapi perbedaan pendapat yang ada di kalangan ulama Ahlus Sunnah. Salaf memiliki manhaj dalam menyikapi orang-orang yang berselisih dengan mereka dalam permasalahan khilafiyyah ijtihadiyyah…”

Bahkan Firanda melakukan “serangan balik”: ”Selanjutnya kita balik pernyataan kalian. Keadaan kalian yang melakukan tahdzir dan hajr tanpa pengikuti aturan yang benar itulah yang menimbulkan perpecahan di kalangan Salafiyyun. Karena antum menyelisihi manhaj salaf dalam menyikapi masalah khilafiyyah ijtihadiyyah. Apakah maslahat yang antum dapatkan dari tahdzir yang antum lakukan selain fitnah di kalangan Ahlus Sunnah?” (Lerai…, hal. 246-247). Tampaknya, Syaikh Muqbil Rahimahullah dan murid-murid ulama kibar –di sisi Firanda- masihlah “harus belajar lagi di alam nyata” untuk benar-benar meyakini bahwa dakwah Ihya’ At-Turots adalah dakwah yang memecahbelah umat, kenyataannya? Justru sikap beliau “yang melakukan tahdzir dan hajr tanpa pengikuti aturan yang benar itulah yang menimbulkan perpecahan di kalangan Salafiyyun. Karena antum menyelisihi manhaj salaf dalam menyikapi masalah khilafiyyah ijtihadiyyah. Apakah maslahat yang antum dapatkan dari tahdzir yang antum –wahai Syaikh Muqbil Rahimahullah- lakukan selain fitnah di kalangan Ahlus Sunnah?” Allahul Musta’an.

10 Sepengetahuan penyusun, tidak ada kitab terbaik sekalipun hasil karya para Ulama Ahlul Hadits Ahlus Sunnah yang dipuji oleh para ulama lainnya sebagai “Buku Emas”!! Dan lihatlah, “Buku Emas” itu sekarang tlah berubah menjadi “besi tua” yang hanya dilihat sebelah mata oleh umat. Ternyata Emas sepuhan…

11 Lebih lengkapnya, lihat pembelaan beliau terhadap Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb dan Abdurrahman Abdul Khaliq serta bantahan terhadap pembelaan ini di kitab:”Malhudhot wa Tanbihat ‘ala Fatawa Fadhilatusy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin wafaqahullahu Ta’ala fi Difa’ihi ‘an:Hasan Al-Banna wa Sayyid Quthb wa Abdurrahman Abdul Khaliq wanaqduhu lima Katabahu haulahum Fadhilatusy Syaikh Rabi’ bin Hadiy Al-Madkhaliy” yang ditulis oleh SyaikhTsaqil bin Shalfiq Al-Qasimiy Adh-Dhufairiy. Sayangnya, hal-hal seperti ini dan beberapa contoh yang akan kita kemukakan menurut kaidah Firanda hanyalah khilafiyyah Ijtihadiyyah. Jangan kaget kalau dia akan mencecar anda dengan pernyataan maupun pertanyaan yang menohok! “Mungkinkah para ulama (kibar) mengeluarkan pernyataan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui realita?! Bukankah ini termasuk mengikuti hawa nafsu?”(Lerai…, hal.225-226). “Ini mirip dengan cara hizbiyyin dalam menolak fatwa-fatwa para ulama Kibar dengan tuduhan mereka tidak mengetahui fiqhul waqi’, sehingga fatwa mereka mentah, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada” (ibid, hal.225). ”Pernyataan ini secara tidak langsung menuduh bahwa para ulama kibar tidak mengetahui fiqhul waqi’ dan tidak tahu medan dakwah..” (ibid, hal.224). Dan tentu saja Firanda akan menjustifikasi pendapatnya dengan pernyataan:”Jika para ulama kibar yang memberikan rekomendasi saja bisa keliru dan salah, (apalagi) para ulama yang notabene mereka adalah murid-murid para ulama kibar tersebut tentunya kemungkinan untuk salah dan keliru lebih besar lagi”(ibid, hal.234-235).

Tidakkah anda perhatikan wahai saudaraku bahwa buku Firanda ini dalam “dialog-dialog imajinernya” benar-benar mengekspolitasi berbagai “kemungkinan” dan (sama sekali!) tidak menyentuh substansi permasalahan kenapa” murid-murid ulama kibar” tersebut mentahdzir Ihya’ At-Turots dan apa bukti-bukti nyata (tidak hanya berputar-putar tentang kemungkinan-kemungkinan saja!) yang mendukung sikap dan tahdzir para ulama yang jumlahnya sedikit tersebut! Bagaimana mungkin Firanda hendak Melerai Pertikaian ini sementara dirinya “berangkat dari Kantor Pusat Ihya’ At-Turots di Qurtuba-Kuwait”?!! Allahul Musta’an.

12 “Pembelaan Syaikh Bin Jibrin dan Syaikh Bakr Abu Zaid Hafidhahumallah ini juga dinukil oleh Abduh Z.A. (yang salah satu bukunya direkomendasi oleh Caldok Muhammad Arifin) dalam buku pembelaan terhadap kelompok-kelompok sempalan “Siapa Teroris?…, hal.317-319, 321-322) Alangkah miskinnya Farid Nu’man Al-Ikhwani dan Abduh Zulfidar Akaha Al-Ikhwani yang masih saja menggunakan pembelaan usang sementara pemiliknya sendiri (Syaikh Bakr Abu Zaid) telah rujuk dari pendapatnya ini! Ternyata beliau baru tahu bahwa Ikhwanul Musliminlah yang telah menyebarkan “lembaran” tadi di Yaman dan negeri lainnya dengan disertai foto Sayyid Quthb dan diberi judul “Nashihah Adz-Dzahab/Nasehat Emas”. Cukuplah bagi beliau dengan mengetahui kesalahannya dari orang-orang yang menyebarkan kertas itu. Ternyata mereka adalah musuh Syaikh Bakr sendiri, musuh manhaj yang Haq”. Kita menunggu, bagaimana sikap Firanda terhadap Khilafiyyah Ijtihadiyyah ini?! Allahul Musta’an.

Demikianlah, di sisi Ikhwani ada “Nasehat Emas” dan di sisi Sururi ada “Buku Emas”, keduanya sama-sama bertamengkan “tazkiyah” Kibar ulama. Allahumma.

13 Muhammad Nashiruddin Al-Albany, Ghayatul Maram fi Takhrijil Hadits Halal wal Haram, hal.14

14 Itu adalah komentar Farid Nu’man setelah membawakan “tazkiyah” Syaikh Bin Bazz dan Syaikh Al-Albany Rahimahumallah terhadap Qaradhawy, gembong besar Ikhwanul Muslimin. Adapun Firanda? Apakah dia juga akan “tega” mencecar Salafiyyin dengan ucapan:” “Mungkinkah para ulama (kibar) mengeluarkan pernyataan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui realita?! Bukankah ini termasuk mengikuti hawa nafsu?”(Lerai…, hal.225-226). “Ini mirip dengan cara hizbiyyin dalam menolak fatwa-fatwa para ulama Kibar dengan tuduhan mereka tidak mengetahui fiqhul waqi’, sehingga fatwa mereka mentah, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada” (ibid, hal.225).”Pernyataan ini secara tidak langsung menuduh bahwa para ulama kibar tidak mengetahui fiqhul waqi’ dan tidak tahu medan dakwah..”(ibid, hal.224). Dan tentu saja Firanda akan menjustifikasi pendapatnya dengan pernyataan:”Jika para ulama kibar yang memberikan rekomendasi saja bisa keliru dan salah, (apalagi) para ulama yang notabene mereka adalah murid-murid para ulama kibar tersebut tentunya kemungkinan untuk salah dan keliru lebih besar lagi”(ibid, hal.234-235). Lalu dimana Al-Haq itu berada wahai Firanda kalau setiap perbedaan pendapat ternyata “engkau bungkam” dengan kaidah “Khilafiyyah Ijtihadiyyah”mu?! Allahul Musta’an.

15 Lihatlah wahai saudaraku ungkapan kemenangan dan “terima kasih” kaki tangan Ihya’ At-Turots Indonesia kepada Abdullah Taslim dkk di situs mus$$$.or.$$

Andi Muhammad Arief
April 12th, 2006 10:31

38

Ba’da Tahmid, Tsana’ wa Sholah, saya adalah muwadhof di Jam’iyah Ihya Turots Islamy (JITI) Maktab Indonesia dan silahkan anda-anda semua membaca AD/ART nya sehingga akan tahu bagaimana itu JITI. Jazakumullah ya Ustadz Abdullah Taslim atas perjuangan menegakkan islam diatas manhaj yang benar. Saya berani bersumpah atas nama Allah bahwa Manhaj SALAF / Ahlussunnah adalah manhaj yang benar dan selamat.(Mus$$$.or.$$, Komentar no.38 atas artikel:Menjawab Tudingan Pada Dakwah Salafiyah)

16 Perhatikanlah wahai saudaraku, betapa besarnya prasangka baik Syaikh Muqbil Rahimahullah kepada Syaikh berdua yang mulia ini.

17 Ini adalah contoh yang sangat bagus untuk menyingkap talbis Firanda. Kita sengaja membawakan jawaban dari Syaikh Muqbil Rahimahullah agar kita tidak dikatakannya menolak fatwa-fatwa Kibar ulama sebagaimana yang dilakukan oleh Sururiyyun yang menuduh Masyayikh tidak mengetahui fiqhul waqi’. Maka, apakah Firanda masih mampu untuk berkata kepada Syaikh Muqbil Rahimahullah:” “Mungkinkah para ulama (kibar) mengeluarkan pernyataan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui realita?! Bukankah ini termasuk mengikuti hawa nafsu?”(Lerai…, hal.225-226). “Ini mirip dengan cara hizbiyyin dalam menolak fatwa-fatwa para ulama Kibar dengan tuduhan mereka tidak mengetahui fiqhul waqi’, sehingga fatwa mereka mentah, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada” (ibid, hal.225). ”Pernyataan ini secara tidak langsung menuduh bahwa para ulama kibar tidak mengetahui fiqhul waqi’ dan tidak tahu medan dakwah..” (ibid, hal.224). Dan tentu saja Firanda akan menjustifikasi pendapatnya dengan pernyataan:”Jika para ulama kibar yang memberikan rekomendasi saja bisa keliru dan salah, (apalagi) para ulama yang notabene mereka adalah murid-murid para ulama kibar tersebut tentunya kemungkinan untuk salah dan keliru lebih besar lagi”(ibid, hal.234-235). Duhai alangkah mahalnya sebuah kebenaran.

18 Syaikh Muqbil Rahimahullah berkata:

Amma ba’du,

Sururisme (Sururiyyah) adalah suatu penisbatan yang ditujukan kepada Muhammad Surur Zainal ‘Abidin. Pada awalnya dia berdiam di Kuwait, dimana dia mengeluarkan (mengarang) beberapa kitab yang baik yang didalamnya menjelaskan tentang aqidah Syi’ah serta buku-buku bagus lainnya. Kemudian dia pindah ke Jerman lalu ke Inggris (United Kingdom,red), dimana akhirnya dia menetap disana.
Lalu disana dia memproduksi majalah berjudul “Al Bayan”, kami dulu benar-benar gembira akan hal itu. Kemudian dia pun memproduksi majalah lainnya, yaitu “As Sunnah”, dan kami pun bersikap sama. Dan pada waktu itu kami katakan, “Inilah jawaban yang selama ini kita tunggu-tunggu”. Beberapa saudara kita pun memuji majalah Al Bayan dan kami pun waktu itu memujinya dengan mengatakan : “Tidak didapati (majalah) yang dapat menyamainya”. Namun seperti itulah keadaan dari Hizbiyyah, pada awalnya mereka seakan-akan berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah sehingga hati umat melekat pada mereka, dan kekuatan mereka pun bertambah meningkat. Ketika mereka (umat) mengetahui ada bahwa ada kritikan atasnya, maka kritikan tersebut tidak berpengaruh apa-apa padanya, sehingga mereka menampakkan apa yang mereka sebenarnya ada diatasnya.
Majalah “As Sunnah”, atau lebih tepat disebut “Al Bid’ah”, menyerukan umat untuk menjauhi para ulama dan menuduh para ulama sebagai tidak proaktif, dibayar oleh pemerintah dan tidak mempunyai pemahaman terhadap hal-hal terkini (Fiqhul Waqi’).
Namun, Alhamdulillah, topeng dari sururi-sururi (pengikut paham Sururiyyah,red) itu pun terbongkar pada masa perang Teluk. Ini adalah anugerah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Saya ingat waktu itu membaca beberapa perkataan (di dalam majalah mereka) yang didalamnya terdapat celaan terhadap Syaikh Al Albani – rahimahullah – , dikarenakan beliau membuat sebuah ceramah yang direkam yang berjudul “Pertemuan dengan Sururi”. Kemudian di halaman yang lainnya mereka memberikan pujian kepada Syaikh Bin Baz. Maka aku pun sadar terhadap arti dari pujian ini, yaitu agar mereka tidak dikatakan “Mereka menyerang para ulama”.
Beberapa hari setelah dikeluarkannya fatwa Syaikh Bin Baz tentang diperbolehkannya membuat perjanjian damai dengan Yahudi, mereka pun melancarkan serangan terhadap beliau. Maka inilah fakta dalam rencana mereka yang sebelumnya dipendam dengan baik, dalam rangka menjauhkan umat dari para ulama!

(Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?idartikel=837)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham