Fakta.blogsome.com ! www.Fakta.cjb.net ! www.Fakta.info.tm :: FAKTAkan yang Haq

22 - November - 2006

Siapakah Aktor Intelektual Pembela Hizbiyyah ?

Filed under: Fakta, Kesaksian

KESAKSIAN AL USTADZ ABU MAS’UD
Rabu, 12 Juli 2006 di Ma’had Umar Ibnul Khattab
Paciran-Lamongan
Jawa Timur

 

Berkata al Ustadz Abu Mas’ud:
"Khutbatul Hajat
Thoyyib insya Allah, dalam kedatangan kawan-kawan dari Ma’had Al-Bayyinah (Sedayu, Gresik-ed) ke Ma’had kita, yaitu (Ma’had) Umar bin Al-Khattab dalam rangka mencari kejelasan atas perkara yang selama ini terjadi di pertengahan dakwah Salafiyyah di Indonesia. Adapun yang akan kita bicarakan sebagaimana permohonan sebagian kawan di sini, yaitu permasalahan yang berkaitan dengan masalah perpecahan yang ada dalam medan dakwah Salafiyyah di Indonesia. Dan di sini saya Abu Mas’ud karena juga termasuk mengetahui sedikit perkara seputar masalah ini, maka sebagian kawan memohon agar saya menjelaskan kepada orang-orang yang mungkin membutuhkan untuk masalah ini dan semoga apa yang akan kita jelaskan bermanfaat bagi kita semua yang hadir di sini, bagi kawan-kawan yang sampai kepadanya tentang masalah ini melalui beberapa perantara, mungkin melalui kaset, mungkin melalui tulisan dan melalui internet atau yang semisal dengannya.

Yang akan kita bicarakan, yaitu mungkin beranjak dari apa yang dikenal dengan dakwah Salafiyyah di Indonesia. Dulu, ketika saya masih di Pakistan pada tahun 1990-1994 permasalahan yang semisal ini sudah pernah terjadi dibicarakan di sana. Kemudian, setelah saya pindah ke Saudi Arabia tepatnya di kota Mekkah, permasalahan ini juga termasuk permasalahan yang sudah sering dibicarakan, baik masalah Ihya’ut Turots Kuwait, baik masalah-masalah Jum’iyah yang lain atau masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah manhaj, ini sudah pernah dibicarakan panjang lebar. Kemudian, sepulang saya dari Saudi Arabia sekitar pada tahun 1995, di pertengahan tahun waktu itu saya belum pernah mendengar masalah ini di Indonesia karena saya masih awal. Setelah itu, pada tahun 96 saya sebagai pengajar di Al-Furqon Gresik di Ma’hadnya Aunur Rofiq Ghufron. Nah..dari situ saya terus mendengar beberapa permasalahan seputar dakwah Salafiyyah di negeri kita ini sebagaimana yang dulu saya dengar di Saudi Arabia atau di Pakistan sebelumnya.

Kemudian, permasalahan yang berkaitan dengan masalah perpecahan dakwah Salafiyyah dan ini adalah berawal dari sebagian kawan para da’i di Indonesia ini bermuamalah dengan beberapa yayasan yang dikenal dengan yayasan penyandang dana, seperti As-Sofwah, seperti Ihya’ut Turots Kuwait dan yang lain banyak sekali seperti Al-Haramain atau beberapa yayasan yang mungkin kita tidak perlu menyebutkannya, yang jelas banyak sekali. Dari sini timbul sebagian koreksi-mengkoreksi atas sebagian para da’i waktu itu, kita dengar perselisihan antara Jafar Umar Tholib dengan Abu Nida’ cs, Aunur Rofiq dan yang lain yang berkumpul dengan mereka. Ketika saya mendengar tentang masalah ini, waktu itu adalah berkenaan dengan masalah Yayasan As-Sofwah. Waktu itu pembicaraan tentang As-Sofwah sudah panjang lebar dibicarakan dengan Ja’far Umar Tholib dan kawan-kawan.

Ketika itu saya mendengar masalah ini, ketika itu saya bertanya kepada kawan-kawan yang saya percaya bahwasanya menurut pengakuan sebagian kawan-kawan As-Sofwah adalah sebuah Yayasan yang disebut kawan-kawan menyandang dana dalam arti hanya sekedar membantu. Adapun misi yang lain di sela-sela membantu itu ataupun di waktu dia membantu ini waktu itu tidak diketahui tentang keburukannya, karena sebagian kawan yang saya tanya jawabannya adalah: “Ya selama ini –katanya- tidak ada masalah.” Dan kita ketahui Muhammad Khalaf secara khusus arahnya tidak macam-macam dalam arti tidak membikin repot dalam masalah dakwah sementara kritikan gencar dari Ja’far Umar Tholib dan kawan-kawan yang sepaham waktu itu. Ketika itu ya kita tidak… kalau saya pribadi saya tidak mempercayai tentang kritikan dari Ja’far Umar Tholib, kenapa? Karena kita mendapatkan beberapa koreksi tentang Ja’far Umar Tholib dari sisi tidak jujurnya ketika bercerita atau dalam sisi tidak cocok antara apa yang ia ceritakan dengan kenyataan yang berkaitan dengannya. Maka prinsip saya secara pribadi saya tetap juga membolehkan mengambil dana dari Yayasan As-Sofwah tapi di saat itu saya terus melihat, mencari sejauh mana Yayasan As-Sofwah ini dalam masalah penyelisihannya terhadap syari’at Islam, terhadap manhaj akhirnya sayapun pernah ketemu sekali dengan Muhammad Khollaf di al-Furqon, ketika saya tanya-tanya tentang masalah tertentu berkaitan dengan masalah manhaj di situ saya memiliki sedikit koreksi terhadap dia.

Kemudian permasalahannya ini semakin terus memanjang, dan ini kejadiannya sekitar tahun 99, kemudian pada tahun 2000 ternyata yayasan As-Sofwah waktu itu mengirim sebuah undangan tapi melalui pihak al-Furqon dalam arti undangan yang datangnya dari As-Sofwah melalui via telepon kemudian dikirim sebagian kawan di al-Furqon yaitu oleh Rahmat Hadi kemudian dibahasakan dalam bentuk tulisan. Nah, isinya adalah mengajak adanya pertemuan untuk muqobalah antara ustadz-ustadz al-Furqon dan karyawan, mungkin seperti itu, semisal dengan itu, pertemuan ini maunya diadakan di al-Irsyad Surabaya, isinya adalah untuk membicarakan masalah maudhu’ dakwah dan mutu para da’i, menurut pengakuan As-Sofwah ini katanya permintaan para muhsinin Saudi Arabia tapi dalam isi undangan ini ada sedikit keganjalan atau permasalahan yang kita bicarakan yang kita anggap itu perkara yang menyelisihi manhaj , di situ dijelaskan bahwasanya tidak boleh tidak hadir dalam menghadiri undangan ini dan tidak boleh udzur dan barangsiapa yang tidak hadir maka dianggap keluar dari guru atau karyawan al-Furqon. Nah isi undangan yang semacam ini saya nilai menyelisihi manhaj dalam arti As-Sofwah adalah sekedar Yayasan yang membantu al-Furqon dalam rangka untuk berdakwah, karena ada sisi mendikte al-Furqon untuk menganggap keluar atau masuknya seorang guru tergantung dia karena barang siapa yang tidak hadir dianggapnya keluar dari guru atau karyawan al-Furqon sementara undangan tadi itu bikinannya As-Sofwah yang diminta oleh As-Sofwah agar ditandatangani oleh Aunur Rofiq. Aiwa, ditandatangani. dan menyebarkannya diantara guru-guru di al-Furqon diantaranya saya dan ustadz Nurul Yaqin dan yang lainnya, karena saya melihat ini adalaah menyelisihi manhaj saya langsung. saya banting-banting itu isi undangan dan besoknya saya datangi Aunur Rofiq ke rumahnya, saya tanya sejauh mana hubungan antum dengan As-Sofwah jawabnya sejauh apa yang kita ketahui adalah sekedar mereka membantu dan kami menggunakan dana untuk kepentingan dakwah. “Cuma itu?” Jawaban beliau : “Ya”. “Kemudian apakah tidak ada nanti terakhirnya itu Ma’had ini dikuasai oleh mereka?”, “Tidak ada”, (jawab Aunur Rofiq). Tapi kenyataan yang ada dalam undangan ini adalah ada sisi kekuasaan atas mereka atau ada sisi penguasaan dari mereka atas al-Furqon maka itu saya bilang sama Aunur Rofiq: yang jelas saya nilai ini adalah undangan yang bermakna hizbiyah saya tidak hadir dalam acara yang akan diadakan di Surabaya, di al-Irsyad, saya pribadi saya nggak hadir.

Kemudian setelah itu sebagian guru muda di sana bertanya kepada Aunur Rofiq karena mendengar saya tidak hadir. Maka menurut sebagaimana yang disyaratkan dalam isi undangan, barangsiapa yang tidak hadir dianggap keluar dari guru atau karyawan al-Furqon, akhirnya sebagian guru muda menjumpai Aunur Rofiq (dan bertanya): “Apakah Abu Mas’ud tahun ajaran baru depan ini masih disuruh mengajar disini?” Kata Aunur Rofiq: “Masih, kalau mau”. Akhirnya sebagian guru yang mendengar itu datang ke tempat kami disini, menemui saya dan menemui ustadz Nurul Yaqin untuk menawarkan dan menanyakan: “Apakah masih mau mengajar di sana?” Saya bilang: “Saya masih mau mengajar asal hubungannya al-Furqon dengan As-Sofwah tidak semisal itu, tidak seperti itu. Akhirnya mereka sidang, para guru-guru muda ini sidang membicarakan masalah ini menimbang antara mashlahat dan madhorot, kalau kita menuruti undangannya As-Sofwah kita akan kehilangan Abu Mas’ud, kalau kita nanti memakai Abu Mas’ud kita akan kehilangan dana. Kemudian mana yang lebih ashlah, mana yang lebih menguntungkan dalam masalah dakwah, akhirnya mereka memutuskan menghadiri undangan itu tapi dalam rangka mempermasalahkan isi undangan, sementara mereka Abubakar al-Fui yang didampingi oleh Farid Okbah itu ndak tahu rencananya guru-guru itu ke al-Irsyad. Mereka mendatangi undangan dikiranya sekedar langsung mulus gitu aja, ternyata sampai sana dipermasalahkan isi undangan yang ditulis oleh pihak al-Furqon atas suruhan As-Sofwah tadi itu. Setelah dipermasalahkan panjang lebar sampai lama akhirnya terakhir tidak ada pertemuan, kenapa? Karena mereka memohon agar Abu Mas’ud jangan dikeluarkan dengan tidak hadirnya ini, (sementara) mereka (As-Sofwah) meminta agar dikeluarkan karena tidak menuruti isi undangan. Akhirnya mereka memutuskan semuanya tidak menerima muqobalah, tidak menerima pertemuan dan titik terakhirnya akhirnya As-Sofwah pun memutus hubungan dengan al-Furqon karena tidak mau menuruti mereka, dalam arti adanya muqobalah yang disyaratkan siapa yang tidak hadir dianggap keluar dari guru atau karyawan al-Furqon.

Waktu itu Aunur Rofiq tidak ada di Jawa, Aunur Rofiq dikirim oleh As-Sofwah ke Medan dalam rangka berdakwah, kemudian..ini pada tahun 2000. Kemudian pada tahun 2001 akhirnya saya pun tetap mengajar dari 2000-2001 karena As-Sofwah sudah memutus dana dan saya masih mau mengajar karena sudah tidak ada hubungan dengan As-Sofwah yang di atas pernyataannya yang batil tadi itu, karena mereka juga berani menolak isi undangan yang tadi itu, ndak menerima adanya muqobalah akhirnya As-Sofwah pun memutus dana dan kita pun masih tetap mengajar selama setahun pada tahun 2001.

 

Lha…pada tahun 2001 saya ketemu Sholeh Su’aidi di rumahnya di Salatiga. Waktu itu kita bicara-bicara tentang masalah umum lha tiba-tiba Sholeh Su’aidi ini nyeletuk bicara masalah tidak senangnya hubungannya Jamilurrohman dengan As-Sofwah. karena dia juga termasuk baru pulang dari Yaman dan memberikan pernyataan seperti itu maka sayapun akhirnya sambut..saya sambut, saya tambah, saya jelaskan pada dia tentang tindakannya As-Sofwah selama ini di al-Furqon. Akhirnya Sholeh Su’aidi bersikeras, agar apa? (agar) Saya ini menjelaskan di depan kawan-kawan di Jogja tentang masalah As-Sofwah, tapi saya nggak mau, saya keberatan, kenapa? Karena saya takut nanti dikatakan rebutan uang, karena pernah sebagian kawan cerita sama kawan-kawan di Bukhori, Ma’had Bukhori di Solo, diantara mereka ada yang menyatakan dulu kamu ndak pernah bicara tentang As-Sofwah, sekarang di putus dana baru bicara. Nah saya mendengar kalimat ini saya ndak mau jadi orang yang kedua dikatakan rebutan duit , saya ndak mau bicara masalah ini. Akhirnya Sholeh pun menekan sampai pagi saya mau pulang pamitan pulang dari Salatiga ke Jatim ditekan terus di jalan. Akhirnya saya bilang saya mau tapi dengan syarat: “Kamu ikut dalam masalah ini, dan yang punya acara kamu dan saya sekedar memberikan penjelasan di belakang kamu” Sholeh pun akhirnya mau, terus kita janjian, membikin waktu, waktu itu kita tetapkan tgl 20 April 2001 akhirnya terjadilah pembicaraan masalah ini di Jogja di Jamilurrohman, dan isi pembicaraan bukan hanya sekedar masalah As-Sofwah tapi menyangkut masalah dakwah secara umum. Di situ kita bicarakan demi mengutuhkan dakwah ini biar ndak berpecah-belah, dakwah Salafiyyah ini biar ndak berpecah-belah, ndak semakin terpuruk. Akhirnya waktu itu kita bicarakan demi dakwah Salafiyyah ini biar ndak berpecah-belah kita perlu bicara masalah-masalah tertentu, diantaranya apa? Kita harus menjaga jangan sampai kita ini mudah dipermainkan oleh orang-orang yang menyandang dana seperti As-Sofwah, demi menjaga dakwah Salafiyyah kita jangan menyekolahkan anak didik kita ke sekolah-sekolah yang tidak jelas pemikirannya seperti LIPIA, kemudian ditambah dengan masalah-masalah lain, waktu itu Sholeh Su’aidi menambah masalah Ihya’ut Turots Kuwait, demi menjaga dakwah Salafiyyah, kita jangan mengambil dana ke Ihya’ut Turots Kuwait.

Lha.. di saat itu kita angkat atau Sholeh Su’aidi yang mengangkat masalah fatwanya para ulama seputar Ihya’ut Turots Kuwait dari Syaikh Muqbil, Syaikh Rabi’ dari Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi (telah menyimpang jauh, untuk lebih jelasnya silakan merujuk pada artikel-artikel tentangnya di sahab.net-red) dan yang lainnya. Kemudian waktu itu saya memilih qoulnya Syaikh Rabi’, saya secara pribadi Abu Mas’ud memilih qoul Syaikh Rabi’ dalam arti tidak membolehkan walaupun tanpa syarat apapun pokoknya jelas ndak boleh. Saya memilih itu, adapun Sholeh Su’aidi waktu itu belum mengutarakan pendapatnya dan yang lain. Waktu itu semuanya diam… Jadi kita bicarakan dalam arti untuk mengutuhkan dakwah Salafiyyah di atas kelurusan ini, kita jangan menyekolahkan anak didik kita ke sekolah-sekolah yang tidak jelas seperti LIPIA, seperti Al-Irsyad Tengaran, adapun tentang masalah LIPIA, tentang masalah As-Sofwah tentang al-Irsyad Tengaran waktu itu kawan-kawan di Jogja memberikan beberapa tambahan tentang penjelasan yang saya jelaskan, dalam arti tidak ada sisi “tidak terima”. Untuk dalam majelis itu nampaknya yaa baik-baik saja, seolah-olah mereka sudah…malah mereka juga memberikan tambahan tentang berapa perkara yang dijadikan bahan koreksi atas al-Irsyad Tengaran dan atas As-Sofwah dan yang semisalnya. Waktu itu juga Sholeh Su’aidi memberikan tangguh (penangguhan) untuk memutuskan hubungan dari Ihya’ut Turots juga bukan perkara yang mudah karena sudah terlalu banyak membutuhkan dana, tapi kita juga perlu usaha sendiri. Maka untuk itu ketika berikan tangguh sekitar 2 tahun dalam rangka berupaya untuk meninggalkan sedikit demi sedikit.

Kita pulang ke Jatim. Akhirnya saya kira ya pernyataan ini sudah selesai, dalam arti apa? Mereka itu nampaknya setuju atas apa yang kita usulkan demi menjaga dakwah Salafiyyah ini dari perpecahan dan yang semisalnya. Ternyata tiba-tiba Abu Nida’ turun ke Gresik, ke Aunur Rofiq menjelaskan tentang apa yang saya bicarakan di sana (Jogja), kemudian kata Abu Nida’ diatasnamakan ini adalah kemauannya Abu Mas’ud atas nama al-Furqon dalam rangka untuk meninggalkan semua penyandang dana dari beberapa Yayasan. Padahal waktu itu saya berbicara di Jogja tidak atas nama al-Furqon tapi atas nama pribadi! Sayapun berangkat atas nama pribadi! Tidak atas nama al-Furqon atau Yayasan al-Furqon, tidak sama sekali! Akhirnya Aunur Rofiq mendengar cerita ini terus mungkin dia semakin..entah bagaimana, bingung atau rancu dalam pemikiran dia, akhirnya tiba-tiba Aunur Rofiq mengeluarkan surat pengeluaran pemberhentian atas saya dan ustadz Nurul Yaqin, tapi dengan bahasa yang nggak jelas……..antara ragu dan yaqin apakah ini pengeluaran atau tidak gitu. Akhirnya ustadz Kholif dalam rangka ziaroh kesana bersama ustadz Nurul Yaqin. Sebelumnya ustadz Kholif itu ziaroh ke Aunur Rofiq dia tanya, “Apakah antum memberhentikan ustadz Abu Mas’ud dan ustadz Nurul Yaqin dari mengajar disini?”, “Ya” (kata Aunur Rofiq’ dia mengakui). Karena diberhentikan, saya sudah selesai yaa sudah nggak ada masalah. Sayapun nggak merasa kurang enak ya biasa saja nggak ada masalah wong diberhentikan ya berhenti. Sayapun sudah lama mengajar di sana sudah 5 tahun. Jadi sayapun sudah agak capek dari awal ngajar sampai tahun 2001 itu pulang-pergi pulang-pergi terus pake sepeda motor. Akhirnya sayapun nggak mempermasalahkan, lha tiba-tiba setelah nikahnya ustadz Kholif dengan adiknya ustadz Nurul Yaqin disini, namanya ustadz Kholif inikan termasuk didikannya Aunur Rofiq sejak kecil, sambil acara keluarga karena punya bibi di sana, sambil juga mampir sama ustadz Nurul Yaqin ke Aunur Rofiq, di situ Aunur Rofiq nyeletuk tanpa ditanya : “Sebetulnya saya dengan antum berdua tidak ada permasalahan apa-apa, tidak ada perbedaan manhaj, tapi antum kami berhentikan karena desakan dari Yazid dan kawan-kawan Surabaya.” Ini pengakuannya Aunur Rofiq terhadap ustadz Nurul Yaqin dan ustadz Kholif tanpa ditanya waktu itu. Kitapun ndak tahu kenapa dikeluarkan? Ndak tahu, ndak urus, Kholif-pun tidak saya suruh tanya waktu dia tanya sendiri sebelumnya, ternyata (Aunur Rofiq-red) ngomong sendiri ternyata pemberhentian atas saya dan ustadz Nurul Yaqin waktu itu atas perintah Yazid dan kawan-kawan Surabaya. Ya kawan-kawan Surabaya waktu itu yang kita yakini, dhon yang rojih adalah Abdurrahman Tamimi cs.

Lha, akhirnya dari sisi ini saya langsung bersikap tegas tentang siapa Yazid sebenarnya. Ternyata otak pemberhentian atas nama saya dan yang lain adalah Yazid dan kawan-kawan Surabaya menurut pengakuannya Aunur Rofiq terhadap ustadz Nurul Yaqin dan ustadz Kholiful Hadi! Kemudian diperkuat oleh ustadz Abdurrohim: “memang itu tekanannya Yazid” kemudian diperkuat oleh ustadz Abdurrohman al-Buton bahwasannya memang tekanan Yazid! Lha kita nggak tau sebabnya ternyata Ibnu Yunus menjelaskan ketika bertemunya Ibnu Yunus dengan Yazid di Bogor pada tahun yang sama, tahun 2001. Lha di situ Yazid mengatakan kepada Ibnu Yunus :”Kamu jangan ikut-ikutan seperti Abu Mas’ud, dia “Ja’far tsani”, Ja’far kedua. Permasalahannya apa? Permasalahannya karena saya ini membicarakan As-Sofwah! Nah saya berbicara tentang As-Sofwah antum sudah dengar sendiri tadi itu sebabnya adalah ketika ia (As-Sofwah) memiliki tindakan berupa dikte terhadap al-Furqon agar menandatangani isi undangan yang dibikin di sana yang isi undangannya adalah: “Barangsiapa yang tidak hadir maka dianggap keluar dari guru atau karyawan al-Furqon.” Dan katanya ndak boleh udzur! Saya bicara tentang As-Sofwah dalam masalah itu, dan saya bicara tentang masalah LIPIA. Saya ketahui LIPIA adalah Ma’had yang miring dalam masalah manhaj, ini beberapa persaksian dari santri-santri LIPIA sendiri yang langsung bilang sama saya. Dan saya berbicara tentang masalah Ihya’ut Turots karena saya mengikuti qoul (perkataan) sebagian para ulama’ seperti Syaikh Rabi’ dan yang semisalnya. Adapun saya berbicara masalah al-Irsyad Tengaran, saya mengetahui dari beberapa persaksian yang datang dari sebagian kawan sendiri dari kawan-kawan dari Jamilurrahman dan dari murid-murid saya sendiri juga mengetahui. Maka disini permasalahan yang inti ternyata apa ? Yazid bersama kawannya itu adalah tidak rela kalau ada seorang yang membicarakan As-Sofwah! Bahkan ukuran al wala wal baro’ yang dibangun oleh Yazid Jawas adalah sesuai dengan akal pikirannya! Jadi, bicara seperti bicara tentang masalah As-Sofwah, memperingatkan sebagian kawan, menasehati, ini adalah dianggapnya memecah belah dakwah, kemudian diikut-ikutkan dengan pemikirannya Ja’far Umar Tholib . Terus terang, saya bicara ketika itu, saya menolak persaksiannya sebagian kawan seperti Ja’far Umar Tholib tentang masalah As-Sofwah kenapa? Kenapa saya tidak menerima? Karena Ja’far terkoreksi dari sisi kejujurannya, saya menolak khabar dari Ja’far bukan karena masalah lain tetapi karena telah masyhur bahwasanya Ja’far adalah seorang yang kadzab, yang tidak pernah jujur dalam beberapa masalah, khususnya dalam masalah seperti ini, maka itu saya menolak. Adapun ketika saya tahu tentang masalah As-Sofwah itu siapa, maka sayapun mensikapi, sayapun menjelaskan kepada sebagian kawan, kemudian dari sisi inilah timbul perpecahan Abu Mas’ud dengan kawan-kawannya yang dahulu, ini yang kita ketahui tentang masalah As-Sofwah.

Kemudian bersambung dalam masalah ini adalah masalah-masalah yang lain seperti mereka mengumbar bahwasanya saya adalah Ja’far kedua di Indonesia. Ini juga pernah didengar oleh Ibnu Yunus dari Cholid Bawazier : “Engkau jangan seperti Abu Mas’ud, Ja’far kedua”, ini diantaranya. Kemudian akhirnya terus timbul koreksi-mengkoreksi akhirnya sayapun termasuk tidak terima dalam masalah ini. Akhirnya sayapun memberikan suatu koreksi tegas terhadap siapa Yazid Jawas, maka sering saya lontarkan didepan kajian-kajian kita dan di depan kawan-kawan yang bertanya tentang masalah ini. Maka saya nilai bahwasanya orang-orang seperti Aunur Rofiq adalah orang-orang yang menuruti kemauan Yazid dan orang-orang yang punya kepentingan di dalam masalah ini seperti kawan-kawan mereka di Surabaya. Maka saya sendiri mempunyai koreksi jelas terhadap Aunur Rofiq bahwasanya dia termasuk orang yang mengekor Yazid dan juga turut bersekongkol dalam masalah ini. Bahkan sampai hari ini kita nggak mendapatkan koreksi dari mereka baik berupa kaset ataupun tulisan tentang As-Sofwa ataupun Ihya’ut Turots ataupun yang semisalnya.

Kemudian, masalah-masalah seputar Ihya’ut Turots, yang berkaitan dengannya adalah orang seperti Yazid. Permasalahannya hampir mirip, yaitu kejadian yang ada di Lampung bahwasanya di sana ada Ahmad Izza Abu Hammam. Beliau ini dulunya adalah seorang murid dan juga guru di al-Furqon, santri al-Furqon kemudian jadi guru di sana kemudian akhirnya pulang ke Lampung, ke kampung halamannya. Di sana, beliau ini berdakwah dalam sebuah Ma’had yang namanya Khidmatus Sunnah, Ma’had Khidmatus Sunnah ini adalah Ma’had yang dikelola oleh Ahmad Izza sebagai Mudirnya dan kawan-kawannya. Ada 4 orang sebagai gurunya dan ada santrinya. Ternyata Ma’had ini dalam masalah dananya dikelola oleh Cholid Bawazier atas rekomendasi Yazid dan juga Aunur Rofiq. Dengan pengelolaan dari Cholid Bawazier atas rekomendasi Aunur Rofiq dan Yazid juga dari dana operasionalnya, biaya operasionalnya ini dikirim dari sana. Pada suatu saat Ahmad Izza ini memang mensikapi Ihya’ut Turots Kuwait, dalam arti menghalangi sebagian kawan-kawannya agar jangan berhubungan dalam masalah dana ke Ihya’ut Turots Kuwait. Akhirnya terjadi perpecahan antara Ahmad Izza dan seorang guru yang ada di daerah dia di desa sekampung sana. Sebagian orang-orang yang ada di Ma’hadnya Ahmad Izza sendiri, dalam arti kalimat tidak satu dalam arti ada perselisihan dalam masalah ini. Ahmad Izza memberikan suatu ketegasan bahwasanya dia tidak membolehkan mengambil dana ke Ihya’ut Turots Kuwait karena melihat mudhorotnya lebih besar ketimbang manfaatnya bahkan termasuk perkara yang menjadikan terpecah belahnya dakwah Salafiyyah di Indonesia ini diantaranya. Masalah ini ternyata menjadikan tidak enaknya Yazid dan kawan-kawan. Bahkan sampai pernah turun ke sana Yazid, juga Aunur Rofiq dan juga yang lain sekitar 4 atau 5 guru-guru besar pergi di sana untuk sifatnya apa? Memberikan penjelasan terhadap Ahmad Izza, tapi Ahmad Izza tidak menerima, kenapa? Karena tidak jelas baginya, perkara yang jelas antara membolehkan dan tidak membolehkan, menurut mereka (Yazid dan kawan-kawan) kan jelas membolehkan sedangkan Ahmad Izza tidak membolehkan. Akhirnya Ahmad Izza tetap berdiri pada posisi tidak membolehkan. Akhirnya lambat laun, tahun 2002- sampai kemarin tahun 2004 akhir Ahmad Izza-pun dikeluarkan dari kemudiran di Ma’had Khidmatus Sunnah. Permasalahannya? Yaa mirip, karena Ahmad Izza mensikapi kawan-kawannya yang mengambil dana ke Ihya’ut Turots Kuwait. Dan juga karena Ahmad Izza tidak menghadiri dauroh Syaikh Ali cs pada tahun 2002 dan 2003. saya sendiri kurang tahu kenapa nggak hadir, yang jelas tidak menghadiri. Karena tidak menghadiri ini dianggapnya termasuk tidak mempunyai adab, nggak menghormati para ulama’. Kemudian dengan nggak hadirnya Ahmad Izza ke daurah Syaikh Ali cs th 2002 dan 2003 ini dianggapnya kurang adab dan juga tidak menghormati para Masyayikh. Akhirnya Ahmad Izza pun dikeluarkan, diberhentikan dari kemudiran, kemudian guru-guru yang lain masih dibiarkan untuk mengajar di situ, yang jelas Ahmad sebagai mudir diganti oleh sebagian ustadz yang ada di situ. Setelah itu Ahmad Izza mengirimkan 4 orang agar menyampaikan udzurnya tidak hadir pada tahun 2002-2003 ke Aunur Rofiq, kemudian ke Mubarok, kemudian ke Abdurrahman at-Tamimi, kemudian ke Yazid, ternyata Yazid nggak menerima: “Nggak ada udzur untuk Ahmad Izza!” Akhirnya terpaksa harus dibubarkan semuanya, akhirnya Ma’hadnya bubar.

Di sini kita mengetahui bahwasanya ternyata Yazid mempunyai ukuran al wala’ wal baro’, siapa saja yang menyikapi Ihya’ut Turots adalah termasuk orang yang harus dimusuhi, seperti kejadian tentang saya tadi pada tahun 2001 seperti kejadian Ahmad Izza pada akhir 2004, kemudian seperti kejadian dalam masalah ini yaitu atas Ismail, seorang santri al-Furqon kemudian (menjadi) santri saya disini kemudian pulang ke Lombok, daerah Bima sana. Itu juga kasusnya sama, dari sisi ini kita mengetahui bahwasanya Yazid termasuk orang yang bersikeras untuk jadi penguasa dalam masalah ini… sebagian kawan menceritakan kepada saya karena diketahui ternyata Ismail ini adalah satu dari murid-murid Abu Mas’ud. Maka disini kita melihat bahwasanya Yazid ini pemikirannya persis dengan Ja’far Umar Tholib , Abdurrahman Tamimi pemikirannya ini tidak ada bedanya: “siapapun yang menyelisihi mereka adalah harus di baro’. Dulu Ja’far pun seperti itu. Siapapun yang menyelisihi Ja’far Umar Tholib nggak peduli benar atau salah harus di baro’…. ternyata kita memiliki data-data yang seperti itu. Semoga saja orang-orang …yang lain(nya) semoga saja menjadi baik dalam arti tidak ambisi dalam kekuasaan. Kenapa kita lihat seperti ini? Apa masalahnya Abu Mas’ud dengan Yazid Jawas, apa permasalahannya Abu Mas’ud dengan dakwah Salafiyyah? Kalau mereka jantan dan ingin memang mencari kejelasan di atas al-Bayyinah, di atas terang benderang, kenapa mereka tidak menemui Abu Mas’ud ataupun membicarakan ataupun gimana? Diam-diam mereka berusaha memboikot si fulan, si fulan jangan dijadikan pengajar, kemudian si fulan di baro’ padahal permasalahannya adalah kadang-kadang dia tidak mengetahui nggak ada. Antara saya dengan Yazid nggak ada ngomong sebelumnya sama sekali! Kalau mereka menuntut bahwasanya antum mentahdzir fulan-fulan, apakah antum sudah kamu nasehati? Disini, pernahkah Yazid dan Aunur Rofiq, Abdurrahman Tamimi menasehati Abu Mas’ud dan yang semisalnya? Nggak pernah..! Sampai hari ini belum ada, sampai hari ini belum ada Abu Nida’ menasehati Abu Mas’ud , Aunur Rofiq, Abdurrahman Tamimi, Mubarak, Salim Ghanim, Yazid dan yang lainnya belum ada, sampai hari ini belum ada! Dan dari tuntutan mereka, katanya agar kita ini sebelumnya adalah nasehat dan macam-macam adalah mereka sendiri tidak mampu untuk memenuhi! Padahal permasalahan yang saya bicarakan tidak mengenai Yazid. Saya nggak pernah bicara tentang Yazid! Saya berbicara tentang LIPIA, As-Sofwah, Ihya’ut Turots Kuwait, al-Irsyad Tengaran! Saya tidak pernah membicarakan (tentang) Yazid itu siapa! Saya belum pernah menghizbikan Yazid sebelumnya! Ternyata tiba-tiba dia memberitakan, memproklamirkan, mengumumkan tentang dirinya adalah hizbi! Dengan tekanannya terhadap Aunur Rofiq agar saya diberhentikan! Bahkan sebagian pengakuannya kawan seperti Abdurrahman Buton (dimana Yazid berkata) desakannya terhadap Aunur Rofiq: “Kalau antum tidak mengeluarkan (Abu Mas’ud), kamu akan kami baro’!” Dan sebelumnya telah ditemui oleh ustadz Abdurrohim dari Sukoharjo, waktu itu aktif mengajar di al-Furqon, tujuannya untuk menjelaskan kepada Yazid tentang apa yang terjadi di Jogja pembicaraan antara Abu Mas’ud dengan kawan-kawan di Jogja. Tapi Yazid tidak mau menerima, dia tidak mau menerima karena dengan alasan, “Karena kamu (ustadz Abdurrohim) tidak alumni luar negeri!” Maka disini termasuk akhlak buruknya Yazid, padahal dia sendiri bukan alumni luar negeri! Dia dari mana? Dari PERSIS dan dari LIPIA! Kita tahu sendiri bahwasanya PERSIS akidahnya kaya’ apa? Manhajnya kaya’ apa? Fiqihnya kaya’ apa? AQLANIYYIN! Antum tahu sendiri LIPIA dan pemikirannya, dalam metode pengajarannya, siapa guru-guru mereka? Kemudian setelah itu kapan Yazid pernah belajar di depan para ulama’, pernah jadi TKI di Saudi Arabia waktu itu entah berapa bulan, dan dia sempatkan untuk bermajelis dengan Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala, dan ini (Yazid) adalah bukan santri-santri yang khusus (belajar sebagai santri) di depan beliau, (namun sekedar mustami’). Jadi pernahkah kita mengetahui bahwasanya orang yang bersikap congkak seperti itu, ketika ingin dijelaskan oleh sebagian kawan yang tahu masalah ini yaitu ustadz Abdurrohim dari Sukoharjo yang waktu itu beliau masih mengajar di al-Furqon, dia nggak mau, (dia) menolak! Jadi kita mendapati bahwa wataknya Yazid seperti itu! Jadi memang wataknya Ja’far dan Yazid ini wataknya memang mirip. Jadi orang-orang yang sifatnya ambisi dengan kekuasaan dalam masalah ini khususnya dalam masalah dakwah ini. Abdurrahman Tamimi? Kapan dia pernah belajar dakwah Salafiyyah? Ketika itu…baru-baru terakhir inilah dia mungkin dia pernah sering berkumpul dengan sebagian Masyaikh, sebelumnya mana tahu…bahkan dia mengakui sendiri dia sejak kecil sudah dibimbing dalam Ikhwanul Muslimin, tapi karena punya ambisi kekuasaan, kemudian diatasnamakan dakwah Salafiyyah maka orang-orang seperti ini ialah orang-orang yang berbuat tanpa berfikir, oleh karena itu kita nasehati sebagian kawan untuk jangan bermodel seperti orang yang suka kekuasaan (Hubbur-Riyasah). Maka kita nasehatkan sebagian kawan-kawan, …untuk janganlah jadi kaum Sayyid, minta dipertuan. Nah yang ini yang kita takutkan dari permasalahan ini, maka untuk itu nasehat kita untuk semua ikhwan, semuanya adalah harus mengagungkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar yaitu dari Salafush Sholeh. Kemudian di sana kita tidak memiliki kepentingan pribadi atau kepentingan Ma’had secara pribadi…walaupun akan menerjang dengan dalil-dalil yang shahih atau menerjang dengan perkara-perkara yang sifatnya itu jelas.

Adapun apa yang ditulis oleh Firanda dalam kitabnya itu adalah: dia mengatakan bahwasanya Ihya’ut Turots Kuwait ini adalah masalah-masalah ijtihadiyah masalah khilafiyyah yang tidak boleh dibangun di atasnya hajr. Ini termasuk perkara yang sifatnya itu menyelisihi waqi’! Bahkan dia telah termasuk orang yang berkomplotan dengan Yazid Jawas dan kawan-kawan Abu Nida’. Bahkan mereka sendirilah yang memiliki watak hajr! Buktinya hajr yang dilakukan terhadap Abu Mas’ud! Terhadap ustadz Nurul Yaqin! Terhadap Ismail dan juga terhadap Ahmad Izza dan kawan-kawannya di Lampung! Jadi yang memiliki tindakan hajr itu sebetulnya adalah dari pihak-pihak Yazid sendiri ketika adanya perkara-perkara yang tidak sepaham dengan otak mereka! Jadi permasalahan yang ditulis panjang lebar oleh sebagian kawan di buku-buku itu adalah sebetulnya membuat capek orang yang membaca! Tapi ringkasannya adalah kalau orang ingin tahu tentang keadaan yang terjadi di Indonesia yang mudah meng-hajr yang mudah men-tahdzir adalah mereka sendiri yang sifatnya tanpa adanya suatu keterangan sebelumnya tanpa adanya Iqomatul Hujjah! Nggak pernah seorang pun dari makhluk mereka atau kalangan mereka ini yang pernah menegakkan hujjah atas Abu Mas’ud atau atas yang lain dalam masalah ini! Bahkan tiba-tiba saja langsung pake’ kekuasaan. Jadi modal mereka adalah memakai kekuasaan. Jadi kalau memakai hujjah nampaknya mereka nggak mampu, maka karena nggak mampu nah pakai cara yang Fir’auniyah yaitu memakai kekuasaan! Nah dulupun Ja’far seperti itu karena nggak mampu untuk Iqomatul Hujjah. Jadi yaa memakai kekuasaan dia, maka mungkin kita perlu waspada dengan beberapa contoh ini agar kita bisa melihat ke belakang sesuatu yang telah berlalu, kemudian kita bisa mengambil I’tibar. Mungkin sampai disini dulu kita cukupkan…do’a kifaratul majelis. Selesai… " (Ditranskrip oleh Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al Malanji)

Siapakah Al Bilaly ? (Update 04/1/2007)

Filed under: Fakta

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh…

Perkenankan kali ini saya menyusun ulang tentang Abu Hanan Sabil Ar Rasyad Al Bilaly a.k.a Sabil Ar Rasyad a.k.a albilaly a.k.a bylal a.k.a bilal a.k.a Abu Hanan Alamat email albilaly@yahoo.com atau abuhanan@yahoo.com

Hal ini mengingat sbb :

- Al Bilaly adalah penulis di Muslim.or.id – situs Turotsi

- Al Bilaly teman akrab Abu Salma Irsyadi tulen

- Al Bilaly memfitnah ustadz Abal Mundzir Dzul Akmal

- Al Bilaly tidak segan mengkopi tulisan hizbi kontributor Wahdah Islamiyyah, rekomendasi situs yg campur baur, musik, lagu, film, televisi, dst.

- Al Bilaly menuduh Salafy dgn Haddadi

- Al Bilaly akrab dengan hizbi, tulisannya tampak ada kutipan buku Pustaka Al Kautsar – penerbit anti Salafy

- Kesalahan Al Bilaly diikuti oleh Abu Salma dgn asal tuduh, nampaknya Abdullah di situs turotsi.wordpress.com adalah Al Bilaly dgn bahasanya "Standar Ganda" dst. Ditambah informasi seorang rekan yang mendapatkan emailnya dgn istilah "Standar Ganda" dan gaya khasnya yg asal tuduh (Insya Allah keterangannya menyusul)

Berikut lebih lengkap dan detailnya :
1. Tuduhan Sabil Ar Rasyad Al Bilaly dgn nick name bilal/albilaly dengan email albilaly@yahoo.com di situs abusalma.blogspot.com bagian shout dan sekarang sudah dihapus.
———————
11:05 AM Apr 24, 2006 : pengikut haddadiyah pun berlindung di balik nama salafiyyah dan mencoba berlindung dibawah nama syeikh rabi padahal beliau sendiri berlepas diri mrk
11:08 AM Apr 24, 2006 : bahkan ustadznya pun mencatut umur dan memakai nama orang agr bisa ke madinah, menyedihkan
9:27 AM Apr 26, 2006 : ini nama ana asli kok, dan ana gak mau ikutin ustadz yg palsuin nama dan umurnya cman, Salafi itu jujur
9:32 AM Apr 26, 2006 : iya ana jahil, makanya ana blajar, salah satunya blajar jujur gak nyatut nama dan umur
5:07 PM Apr 28, 2006 : ana cman ksih contoh aja klakuan gurunya,klo model begitu gurunya pantes aja mrd2nya klakuannya lbih parah lagi
5:08 PM Apr 28, 2006 : mudah2an aja dah tobat,ato sapa tau ada muridnya yg bsa kasih klarifikasi
9:52 AM May 5, 2006 : buat mr x biasalah standar ganda, ane gak benci sesama salafy yg ane benci adalah kedustaannya abd wahab mreka mlh yg lbih langgar nsht syek muhsin
10:34 AM May 8, 2006 : antum tanyain aja masalah nyatut umur sama dia..dzul akmal itu nama tetangganya..dia catut nama waktu di lipia wahai ibn karmany nt tanya ke lipia sna
10:31 AM May 10, 2006 : saksinya bapaknya sama tetangganya yg namanya dicatut
10:34 AM May 10, 2006 : gw demen nih pada ilmiyyah, kemane aje mas…dari dulu gitu ilmiyyah..kok baru skrg2.skli dibikin gak ilmiyyah ustadnye kepanasan semua…

Jawaban : "WALLAAHI, ana Abu Zaid Nurijas bin Jamalius bersaksi bahwa Ustadz Abal Mundzir Dzul Akmal TIDAK MEMALSU NAMA ataupun MENCATUT UMUR untuk ke Madinah. Ana punya syahid dan syahidah yang masih hidup saat ini. Fastaghfirullaah…Wallaahu musta’aan, Abu Zaid Nurijas. Kepada sdr Bilal, ternyata nt hanya ghibah. "Bukti bagi penuduh, sumpah bg yg menolak"."

Atas Nama Nurijas bin Jamalius Nurijas bin Jamalius 9:24 AM May 9, 2006 : "APAKAH DAJJAL ITU BERANI BERSUMPAH ATAS TUDUHAN DAN SAKSI YANG DISEBUTKANNYA? ATAUKAH PEMILIK BLOG MENGETAHUI BAHWA WASHILAH YANG DIUSAHAKANNYA. SUDAH BERISI FITNAH, GHIBAH DAN KEDUSTAAN ? WALLAAHU MUSTA’AAN."

Nurijas bin Jamalius May 25, 2006 3:48 PM : "Ana termasuk murid Abul Mundzir Dzul Akmal, Lc. ana paham benar siapa beliau. Setau ana, beliau belajar dengan alumnus Jami’ah Islamiyyah Madinah yang ******* dengan sebutan Buya Jufri, selama belajar bersama Buya Jufri Rohimahullah, beliau (Abul Mundzir) belajar di SMEA Pekanbaru setelah tamat beliau masuk LIPIA Jakarta. Kemudian diterima di Jami’ah Islamiyah Madinah. Intinya, beliau sama sekali tidak pernah memalsukan ijazah. Barokallahu fik.. (Dijawab di buku tamu AbuSalma.blogspot.com dan disensor dgn tanda ****)."

Komentar : Jelas, Al Bilaly tukang fitnah yang berbahaya dari kalangan turotsi

———————
2. Dengan petunjuk alamat email, nama nick tsb maka didapatkan informasi sbb :
a. Nama lengkap : Abu Hanan Sabil Arrasyad Al Bilaly
Email albilaly@yahoo.com. Kadang memakai nick bylal / bilal / albilaly
Komentar : Jelas, siapakah dia.
b. Situsnya http://arrasyaside80.blogspot.com/
"Jalan Lugu Hatiku" "Selamat datang di Arrasyaside, potret hitam putih anak muda, belajar memperbaiki diri berusaha mengamalkan ilmu berjalan dengan lugu hati hanya tuk tetap berpijak dibumi agar diterima di langit sana"
Abu Hanan teman Abu Salma (abu_amman@yahoo.com) : Di link Taggie : 06.07.2005 Abu Salma [URL]: Ya Aba Hannan Keifal hal? lama tak bersua nih… )
Komentar : Jelas, pembuat situs ini adalah Abu Hanan
c. Sumber www.freegb.net/gbook.cgi?83807=2
Name: abu hanan al atsary E-mail: albilaly@yahoo.com
City: jakarta Country: indonesia
Homepage: www.arrasyaside80.blogspot.com Date: 31-Aug-2004 10:01:59
Message: assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh semoga sukses selalu…dan istiqomah di atas manhaj salaf

Komentar : Jelas, situs di atas diakui sbg miliknya

d. http://profiles.yahoo.com/albilaly

Nickname: meniti_sepi Yahoo! ID: albilaly Last Update: 10/10/2003

Komentar : Tampak fotonya, dia termasuk menghalalkan foto dipampang bebas di Internet

e. Berikut sebagian link yg direkomendasikan dalam situs arrasyaside80.blogspot.com seperti tampak pada hari ini tgl 9 Oktober 2006 pukul 17.06 sbb :

- http://www.nojil.8m.net/index.html : Tulisan Hartono A Jaiz (ikhwani), Adian Husaini (ikhwani), Abu Umar Abdillah (Majalah Ar Risalah berpaham Khawarij), merekomendasikan situs hizbi swaramuslim.net

- http://tholibah.com/index.php campur baur

- http://www.alfurqaan.cjb.net campur baur

- http://www.syiah.blogspot.com/ merekomendasikan situs ahya.org yg forumnya berisikan celaan pada masyayikh, salah satunya dgn istilah madkhaliyyah sbg celaan atas syaikh Rabi Ibn Haadi al Madkhali, syaikh Muhammad Ibn Haadi al Madkhali dan syaikh Zaid al Madkhali, juga http://www.ansar.org/english/index.htm full gambar, hakekat.com full gambar, dst.
Komentar : Jelas, roh-roh sejenis saling merekomendasikan.

f. Berikut sebagian link friends : (Diawali dgn ucapan Basmalah, baru merekomendasikan link di bawah ini…!) seperti tampak pada hari ini tgl 9 Oktober 2006 pukul 17.08 sbb :
– Fianissya – penuh puisi ala sufi
– Mifti – dalam linknya http://mifty-away.tripod.com/id95.html
tertulis Abu hanan Al-bilaly http://arrasyaside80.blogspot.com/, Abu Salma Al-Atsary http://abusalma.blogspot.com.
Maka jelas situs http://arrasyaside80.blogspot.com/ adalah punya Abu hanan Al-bilaly Sabil Arrasyad dan teman Abu Salma.
– Nadia – gambar, halalkan musik
– Pipi – puisi, halalkan lagu, film
– Widie bj – halalkan film, musik
– abu salma – jelas, irsyadi tulen
Komentar : Jelas, roh-roh sejenis saling merekomendasikan. Jelas sudah situs http://arrasyaside80.blogspot.com/ adalah punya Abu hanan Al-bilaly Sabil Arrasyad dan teman Abu Salma.
g. Al Bilaly adalah kontributor di berbagai milis dan situs :
– Situs LBI Al Atsary – muslim.or.id pada artikel ke 209 dgn judul Borok Demokrasi, Anda Mau Kemana Wahai Saudaraku?
– Banyak postingan dia ke milis assunnah@yahoogroups.com diloloskan karena seiya sekata dgn moderator tentunya Salah satunya posting ke 10832 dikirim dgn nama "Sabil Arrasyad" dgn email albilaly@yahoo.com, artikel berjudul "Hakikat Syiah di Libanon". Dalam artikel ini, Albilaly mengambil sumber dari Majalah Al Arabi, surat kabar Al Wathan Kuwait, surat Kabar republika Italia, surat kabar Sunday Times, Koran Al Anba’ Al Kuwaitiyah, Kantor berita Prancis, surat kabar New York Times, Kantor berita Reuter, An Nabathiyah, Surat kabar Yerusalem Post, Menteri Luar Negeri Swedia, Beir Obeirt, Robert Fisk penulis buku Pity the poor nation. Layakkah sumber ini sebagai rujukannya ?

Albilaly juga memposting pada posting ke 04177, BOLEHKAH RUQYAH SEBAGAI PROFESI. Salah satu sumber bacaannya adalah Aqidah Mukmin, karya Abu Bakar Al Jazairi seorang Tablighi.
Posting ke 10132, SISI PALING RAHASIA PENGGEMPURAN LEBANON pada Jul 27, 2006 2:11 PM. Artikel ini disusun oleh Muhammad Ihsan Zainuddin, selain kontributor Wahdah.or.id, juga khatib Al Sofwah dan penerjemah Darul Haq. Artikel yg sama lebih lama diposting oleh Wahdah Islamiyyah Kamis, 20 Juli 2006, kemungkinan besar Al Bilaly mengambil dari situs wahdah.or.id yg berpaham Khawarij ini. Wallahu a’lam

- Situs vbaitullah.or.id isinya campur, salah satunya tulisan Hidayat Nur Wahid, Hartono A Jaiz rekan Abduh Zulfidar Akaha, rekomendasi situs Muh. Sholeh Al Munajjid dst. Salah satu artikelnya disana

berjudul Tipuan Politik Syiah Rafidhoh Kepada Kaum Muslimin. Tulisannya ini ada kutipan dari buku terjemah terbitan pustaka Al-Kautsar, kita mengenal Pustaka Al Kautsar dikenal gemar memusuhi salafiyyin dan mendukung teroris dgn bedah bukunya "Siapa Teroris Siapa Khawarij", Abduh Zulfidar Akaha.
– Situs nofieiman.com (diposting oleh admin, diridloi oleh albilaly) Url bukti : http://nofieiman.com/stats.php?author=Abu+Hanan+Sabil+Arrasyad"Dibalik semua Fitnah yang terjadi ini, marilah sama-sama kita berdoa kepada Allah Ta’ala. Karena dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Comment Posted By Abu Hanan Sabil Arrasyad On 15.08.2006 @ 21:01

- Situs islamdotnet.com isinya campur baur. Salah satu artikelnya disana berjudul Pengkhianatan terhadap Ahlul Bait diposting sendiri dgn nickname bylal

- Situs Husada Inti Bumi (syirik) dalam posting ke 46 menukil artikel BOLEHKAH RUQYAH SEBAGAI PROFESI? sabil arrasyad, nampaknya dicomot begitu saja.

Sudah jelas, tulisan Al Bilaly sendiri dikutip oleh ahli syirik Situs Husada Inti Bumi, juga tersebar di tempat hizbi, bahkan mengkopi tulisan orang Wahdah Islamiyyah, sembari menasehati saudaranya di milis As Sunnah, situs Muslim.or.id. Berarti tipe orang ini ?

Suatu ketika ada postingan di situs sbb :
1. http://turotsi.wordpress.com/2004/03/25/siapakah-abu-qatadah-yang-mengaku-murid-syaikh-muqbil/
a. Hehe.. Abu Hamzah sendiri aja pengikutnya JIL..
Akhi, beilau menulis di atas dengan bukti-bukti kejadian nyata suatu dukungan Abu Qotadah kepada dedengkot hizbi ihyautturots, dan hal-hal lain sebagai indikasi yang kuat. kenapa antum masih menutup mata? Sedangkan apa yang antum katakan itu, jika tanpa bukti maka hanyalah tuduhan dan fitnah belaka! Datangkan bukti-buktinya jika engkau memang orang yang benar!

Comment by Abu Afifah | Juli 20, 2006

Komentar : Kemungkinan dia adalah Abu Afifah Eko Andry Prasetyo

admin@salafi.or.id alias hawariyyin@yahoo.com seperti informasi dari

nama situs miliknya soal-jawab.com, salafindo.com.

b. http://turotsi.wordpress.com/2004/03/25/siapakah-abu-qatadah-yang-mengaku-murid-syaikh-muqbil/

wajar sih kalau ada koment abu hamzah pengikutnya buktinya ,liat aja tuh bukunya Abu Hamzah "aku melawan teroris, kedustaan terhadap ulama ahlussunnah" yang nerbitin CMM (centre for moderate muslim) penerbit corongnya JIL di Indonesia….Allahu Yahdik sesama salafiyyin saling menyerang tapi dengan JIL bermesra-mesraan.
Comment by abdullah | September 13, 2006
Komentar : Majhul, tapi jelas turotsi yg membabi-buta tanpa tabayyun, tatsabbut.

c. http://turotsi.wordpress.com/2004/03/25/siapakah-abu-qatadah-yang-mengaku-murid-syaikh-muqbil/
mudah-mudahan gak ada yg nuduh abu hamzah…haus fulusnya CMM yg dibiayai oleh Asia Foundation. mana donk…..kok suruh tanya yg bersangkutan….? moso buat pernyataan dari orang lain , di internet yg juga majhul…..gak ilmiah…ah..klo emang belom tobat…dan standar ganda gak mau ditahdzir gak usah sebar2 tulisan kayak gini…

Comment by abdullah | October 2, 2006

Komentar : Majhul, hanya saja bahasanya mirip bahasa Al Bilaly di atas.

d. http://geocities.com/abu_amman/soaljawab

Risalah ini adalah terjemahan dari ceramah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu yang semula kami terjemahkan dari versi Inggris yang berjudul To The Muslim Youth : Fatwaas of Shaykh Naasirud-Din rahimahullahu yang diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Aminah Bilal Philips[5] hafizhahullahu. Setelah itu kami muroja’ahkan dengan kaset aslinya. Kami memiliki kaset ini yang merupakan hasil rekaman ulang yang direpro oleh L-Data (Lembaga Dakwah dan Taklim),

Jakarta, dengan judul Man huwa al-Kafir wa man huwa al-Mubtadi’, yang sayang sekali kualitas suaranya tidak begitu baik. Sebagai amanat ilmiah, Kami juga berpegang pada beberapa buku yang

mencuplik sebagian transkrip rekaman ini sebagai perbandingan, diantaranya sebagai berikut :

1. Al-Manhajus Salafiy ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani, Penyusun : Syaikh ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim, tanpa penerbit dan tahun, hasil fotokopi dari Ma’had Al-Furqon Gresik.
2. "Albani dan Manhaj Salaf" (terj. Al-Manhajus Salafiy ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani), Pent. Ahmad Yuswaji, Lc., Penerbit : Najla Press, cet. I, Oktober 2003.
3. "Muzilul Ilbas, Hukum Mengkafirkan dan Membid’ahkan", (terj. Muziul Ilbas fil Ahkam ‘alan Naasi) Penyusun : Sa’id bin Shabir ‘Abduh, Pent. Nurkhalis, Lc., Penerbit : Griya Ilmu, Cet. I, September 2005.
4. "Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan", Penyusun : al-Akh al-Ustadz Abu ‘Abdil Muhsin Firanda bin ‘Abidin, Penerbit : Pustaka Cahaya Islam, Cet. I, Februari 2006.
Di dalam buku-buku ini ada beberapa cuplikan transkrip (termasuk terjemahannya). Kami tidak berpegang pada terjemahan ini kecuali sebagai perbandingan saja. Perlu diketahui bahwa ada
kesalahan-kesalahan penterjemahan pada buku-buku terjemahan di atas (selain referensi no. 4 di atas), sebagai contohnya sebagai berikut :
– Dalam buku al-Manhajus Salafiy ‘indal Albani hal. 93, dikatakan bab ash-Sholatu wat Tarahhum ‘ala ahlil bida’ (Sholat dan mendo’akan rahmat bagi ahli bid’ah), namun dalam buku terjemahnnya
"Albani dan Manhaj Salaf", Ustadz Ahmad Yuswaji menterjemahkan dengan "Sholat dan Silaturrahim dengan Ahlul Bid’ah" (hal. 87). Padahal sungguh jauh makna antara tarahum dengan sillaturrahim.
– Dalam buku al-Manhajus Salafiy ‘indal Albani hal. 90, tentang penyebutan pepatah Syam dikatakan, Anta musakkirun wa ana mubaththilun (Jika kamu menutup pintu masjid maka aku tidak sholat), terjemahan al-Ustadz Firanda (lihat hal. 135 "Lerai Pertikaian) dan al-Ustadz Abu Aminah yang menterjemahkan "You’re Closed so I droped the prayer" adalah tepat, namun Ust. Abu Muqbil Ahmad Yuswaji menterjemahkan dengan "kamu pemabuk dan aku pelaku kebatilan" (lihat
hal. 85 "Albani dan Manhaj Salaf"). Mungkin ustadz membaca musakkir sebagai muskir, dan maknanya adalah jauh.
– Dalam "Muzilul Ilbas" (terj) hal. 269, tentang syair yang dinukil oleh Syaikh al-Albani yang berbunyi Awradahaa Sa’dun wa Sa’dun Musytamil… Ma Hakadza Ya Sa’du Tuuradul ‘Ibil (Sa’ad ingin menggiring unta sedangkan dirinya berselimut, Bukanlah demikian wahai Sa’ad caranya menggiring unta), Penterjemah buku ini, Ust. Nurkhalis menterjemahkan dengan "Mereka maksudkan itu Sa’ad padahal Sa’ad itu beragam, tidak demikian wahai Sa’ad cara menggembala Unta." Dan masih ada lagi beberapa yang mana bukanlah hal ini tujuan risalah ini sekarang. Juga, hal ini menunjukkan bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna, karena manusia itu tempatnya alpa dan lupa. Sehingga
apa yang kami lakukan pun pasti juga banyak kesalahannya melebihi dari mereka-mereka para penterjemah tersebut yang ilmu dan kapabilitasnya jauh melebihi kami.[6] Ada suatu hal yang menarik dan perlu dicermati di sini, Ustadz Abu Muqbil Ahmad Yuswaji, Lc. adalah orang yang sudah kita kenal sebagai salah seorang da’i ahlus sunnah (bersama Ust. Ja’far Sholih dkk di Jakarta) yang cukup aktif menterjemah buku, diantaranya –yang kami ketahui- adalah Tanwiiru azh-Zhulumaat bikasyfi Mafaasid wa Sybuhaat al-Intikhobaat karya Fadhilatus Syaikh Muhammad Abdillah ar-Rimi dengan judul "Menggugat Demokrasi dan Pemilu" yang diterbitkan oleh Darul Hadits dan Mahajjatul Baidha’ fi Himayaatis Sunnatil Gharraa’ karya Fadhilatus Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali dengan judul
"Obyektifitas dalam mengkritik" yang diterbitkan oleh Cahaya Tauhid Press. Selain itu, kami juga melihat beliau memiliki terjemahan yang diterbitkan oleh penerbit Azzam Group semisal Najla press. Diantaranya adalah buku "Albani dan manhaj salaf" tersebut di atas dan "Manhaj Ahlus Sunnah dalam bersikap terhadap penguasa dan pemerintah" karya Fadhilatus Syaikh Abdus Salam Barjas Alu Abdul Karim rahimahullahu (judul asli : Mu’amalatul Hukkam fi Dhou’il Kitaabi was Sunnah). Masih teringat dengan jelas akan sikap sebagian orang yang satu’haluan’ dengan Ustadz Yuswaji, yang mengkritik bahkan mencela penerbit-penerbit yang bukan berasal dari mereka. Penerbit-penerbit
selain penerbit mereka dikatakan sebagai ‘racun’ dan mereka juga mencela ustadz-ustadz salafiyin yang bukunya diterbitkan oleh penerbit seperti Pustaka Ibnu Katsir dan semisalnya. Padahal penerbit ini (Ibnu Katsir) jauh lebih baik daripada penerbit Najla Press yang bukunya masih ‘campur baur’. Yang paling "parah" lagi adalah al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf dari Bandung, beliau menulis buku "Aku Melawan Teroris : Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlussunnah"[7] yang diterbitkan oleh CMM (Centre for Moderate Muslim) tahun 2005[8]. Padahal CMM itu adalah penerbit yang berhaluan "liberal" yang berusaha memerangi Islam "fundamentalis" menurut definisi mereka. Lantas, maukah saudara-saudara kita yang senang menghujat dan mencela dengan gegabah tanpa landasan syar’i ini
mau kembali dan ruju’ ke manhaj yang haq?!
Komentar : Cara menuduh Abu Salma Muhammad Rachdie Pratama alias Abu Salma alias Abu Amman alias Abu Hudzaifah alias Ibnu Burhan adalah sama dengan Abu Hanan Sabil Ar Rasyad Al Bilaly alias Sabil Ar Rasyad alias albilaly alias bylal alias bilal. Dan memang keduanya berteman, bersahabat, seperti bukti diatas, saling merekomendasi dan saling menolong dalam fitnah pada al Ustadz Dzul Akmal pun pada ustadz Abu Hamzah Yusuf.

Lantas kita runut artikel/ucapan tersebut dari mana asalnya, kenapa Abu Salma, Turotsi mengatakan hal itu. Simak informasi berikut ini :
1. http://www.riaupos.com/web/content/view/567/36/
Buku Melawan Teroris Imam Samudra Diprotes
Jumat, 14 Oktober 2005
Laporan JPNN, Jakarta
SIAPA tak kenal Iman Samudra. Dia begitu populer, bukan hanya sebagai pelaku peledakan Bom Bali, tapi juga sebagai penulis buku. Nah, gara-gara buku karangannya yang berjudul: Aku Melawan Teroris, yang diluncurkan September 2004 lalu, kontan membuat sebagian umat Islam protes. Alasan protes itu, karena buku karangan Imam Samudra tersebut dinilai telah memfitnah dan membuat kedustaan atas nama ulama Ahlussunnah. ‘’Kita tidak bisa terima atas isi buku karangan Imam Samudra. Sebab isinya sangat tidak sesuai ajaran agama Islam,’’ kata KH Dr Tarmizi Taher, Dewan Direktur Centre for Moderate Muslim (CMM), baru-baru ini. Untuk meluruskan apa yang sudah ditulis Imam Samudra, lanjut mantan Menteri Agama itu, pihaknya kini sudah menerbitkan buku bantahan. Judul buku yang diterbitkan CMM adalah: Sebuah kedustaan atas nama ulama ahlussunnah. Penulisnya sendiri adalah Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary dkk. Menurut Tarmizi, ada delapan kesalahan besar terhadap isi tulisan Imam Samudra dalam bukunya Aku Melawan Teroris. Pertama Imam Samudra sudah menganggap tokoh-tokoh seperti Salman bin Fahd Al-Audah, Dr Safar Al-Hawai, Dr Aiman Azh-Zhawahiri, Sulaiman Abu Ghaits, Dr Abdullah Azzam, Usamah bin Ladin, serta Mualani Mullah Umar sebagai ulama mujahid dan berjalan di atas manhaf salaf. Padahal tokoh-tokoh ini, kata Tarmizi, adalah mereka yang perjalanan hidupnya penuh dengan catatan hitam. Sehingga mereka tidak layak
disebut sebagai ulama dari manhaj salaf. Iman Samudra juga mengatakan warga sipil dari bangsa penjajah yang asalnya tidak boleh diperangi, berubah menjadi boleh diperangi. Alasannya karena tindakan melampuai batas pembantaian atas warga sipil yang dilakukan oleh bangsa penjajah. Atas dasar itu Imam Samudra menilai tindakannya melalui bom Bali adalah jihad. Imam Samudra juga menganggap aksi bom Bali sebagai amalan memburu jihad (istisyhadiyyah). Tindakan itu dia anggap sudah serupa dengan peristiwa ledakan gadung WTC Amerika Serikat. Bahkan dia menganggap aksinya itu sebagai tindakan jihad offensive atau defoffensive. Lebih parahnya lagi Imam Samudra mengkafirkan Pemerintah Indonesia. Dia juga menganggap hukum di Indonesia tidak jauh beda dengan hukum Ilyasiq yang berlaku di zaman Jenghis-Khan. Menurut Tarmizi, ungkapan Imam Samudra itu jelas tidak benar. Bahkan buku yang dikarang Imam Samudra lebih pantas bila diberi judul: Aku adalah Teroris. Sebab tindakan-tindakan dan pemikirannya jauh dari syariat Islam. Sementara itu M Syafi’I Anwar PhD, Direktur Eksekutif International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), menilai buku Iman Samudra itu sangat berbahaya. Sebab bisa menimbulkan fitnah. Seperti diketahui, Imam Samudra pernah menulis buku berjudul: Aku Melawan Teroris. Buku itu tercetak 5.000 setebal 280 halaman. Sehari setelah buku itu selesai dicetak, tepatnya 1 September lalu, buku yang ditulis Imam Samudra selama di penjara tersebut laris. Tak hanya di Solo, buku itu juga laku keras di beberapa kota seperti Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Banten, dan Kalimantan.(azf)
2. http://www.padangekspres.com
By adminpadek Jum’at, 14-Oktober-2005, 05:06:41 Jakarta, Padek—Imam Samudra menuai protes. Terpidana mati kasus peledakan bom Bali I itu diprotes karena buku karangannya yang berjudul Aku Melawan Teroris. Buku yang diluncurkan pada September 2004 itu dinilai memfitnah dan berdusta atas nama ulama Ahlussunnah. "Kita tidak bisa terima atas isi buku tersebut. Isinya sangat tidak sesuai dengan ajaran agama Islam,’’ tegas KH Dr Tarmizi Taher, dewan direktur Centre for Moderate Moslem (CMM). Untuk meluruskan buku Imam Samudra itu, mantan Menag tersebut mengaku pihaknya menerbitkan buku bantahan. Buku terbitan CMM itu berjudul Sebuah Kedustaan atas Nama Ulama Ahlussunnah. Penulisnya Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary dkk. Menurut Tarmizi, ada delapan kesalahan besar isi tulisan Imam Samudra. Pertama, dia menganggap sejumlah tokoh sebagai ulama mujahid. Misalnya, Salman bin Fahd Al-’Audah, Dr Safar Al-Hawai, Dr Aiman Azh-Zhawahiri, Sulaiman Abu Ghaits, Dr Abdullah Azzam, Usamah Bin Laden, dan Mualani Mullah Umar Padahal, kata dia, tokoh-tokoh itu memiliki catatan hitam dalam perjalanan hidupnya. Karena itu, mereka tidak layak disebut ulama dari manhaj salaf. Dia menyebut Imam Samudra juga mengatakan bahwa warga sipil dari bangsa penjajah yang semula tak boleh diperangi jadi boleh diperangi. Alasannya, tindakan melampaui batas berupa pembantaian atas warga sipil yang dilakukan bangsa penjajah. Atas dasar itu, Imam Samudra menilai aksinya lewat bom Bali sebagai jihad. Menurut Tarmizi, pernyataan Imam Samudra itu tidak benar. "Buku yang dikarang itu lebih pantas diberi judul Aku Adalah Teroris. Sebab, tindakan dan pemikirannya jauh dari syariat Islam," tuturnya. Syafi’i Anwar, direktur eksekutif International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), juga menilai buku itu berbahaya. ‘’Sebab, bisa menimbulkan fitnah," ujarnya. Buku setebal 280 halaman itu dicetak 5.000 eksemplar. Sehari setelah dicetak, tepatnya 1 September tahun lalu, buku yang ditulis Imam Samudra selama di penjara tersebut laris. Selain di Solo, buku itu laku keras di kota-kota, seperti Surabaya, Jogja, Semarang, dan
Jakarta. (bud/jpnn) ..:: Padang Ekspres ONLINE : http://www.padangekspres.com Online version:
http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=3311

3. http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=P234_0_3_0_C
Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama Ahlussunnah 05-January-2006
Judul : Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama Ahlussunnah

Penulis : Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary

Cetakan I : Juli 2005

Penerbit : Center for Moderate Muslim

Tebal : 122 halaman
SIAPA tak kenal Imam Samudra? Ia begitu popular karena menjadi tersangka dalam kasus Bom Bali. Sebuah buku atas namanya meluncur, yang berjudul: AKU MELAWAN TERORIS. Repotnya, buku yang sarat subhat itu justru menggunakan berbagai ‘dalil’ yang kemudian ditafsiri seenak perut. Tujuannya tentu, mencari pembenaran atas aksi yang mengatasnamakan Islam itu. Buku itu lebih pas kalau diberi judul AKU ADALAH TERORIS, tentu saja dengan poster sang jagoan yang tengah mengacungkan jari telunjuknya. Sebab tindakan-tindakan dan pemikirannya jauh dari syariat Islam.
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan, "Orang-orang yang membunuh dan melukai manusia dengan cara yang tidak syar’i, mereka adalah irhabiyyun (teroris). Mereka adalah para perusak, mereka adalah orang-orang yang membuat kacau keamanan manusia dan menciptakan problem dengan negaranya." (Diambil dari Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah hal. 112-113)

4. www.harianterbit.com
12 October 2005 – 14:57
Dakwah melawan terorisme, kepak sayap Islam moderat
2 Tahun Center for Moderate Muslim
Publikasi CMM
Buku:
Tarmizi Taher dkk, Meredam Gelombang Radikalisme (Jakarta: Center for Moderate Muslim dan CV Karsa Rezeki, 2003) Tarmizi Taher dkk, Pluralisme Islam Harmonisasi Beragama (Jakarta: Center for Moderate Muslim dan CV Karsa Rezeki, 2004) M. Hilaly Basya dan David Krisna Alka, Amerika Perangi Teroris Bukan Islam (Jakarta: Center for Moderate Moslem, 2004) Ahmad Syafii Maarif, Meluruskan Makna Jihad, Cerdas Beragama Ikhlas Beramal, (Center for Moderate Muslim, 2005) Deny Suito, Radikalisme dalam Dunia Islam, (Center for Moderate Muslim, 2005) Abu Hamzah Al Atsary, dkk, Aku Melawan Teroris, Bantahan terhadap buku Imam Samudra, (Center for Moderate Muslim, 2005)
Jurnal:
Nama Jurnal : Moderat
Terbit : Tri wulan
Tema Pertama : Menguak Hubungan Islam dan Barat
Tema Kedua : Wajah Islam Moderat
Buletin:
Nama Buletin : Siratul Mustakim
Terbit : Setiap Hari Jumat
Tema: Wacana Islam moderat yang anti kekerasan dan kritik terhadap radikalisme
Wawancara tokoh : Suara Moderat

5. http://cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=124_0_3_10_M15

"BOM BALI ADALAH DEFOFFENSE JIHAD"
08-June-2005
No.77 Th.II Jum’at 4,18 Rabi’ul Awal 1426 H/27 Mei 2005 M
"BOM BALI ADALAH DEFOFFENSE JIHAD" Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlussunnah
Oleh: Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary Siapa tak kenal Imam Samudra? Ia begitu popular karena menjadi tersangka dalam kasus Bom Bali. Sebuah buku atas namanya meluncur. Repotnya, buku yang sarat subhat itu justru menggunakan berbagai ‘dalil’ yang kemudian ditafsiri seenak perut. Tujuannya tentu, mencari pembenaran atas aksi yang mengatasnamakan Islam itu.

Pada halaman 163, dia (Imam Samudra) mengatakan: "Jihad akan terus berlangsung hingga hari kiamat. Ketiadaan khilafah atau daulah Islamiyyah saat ini tidak menghalangi terselenggaranya jihad, seharusnya ketiadaan khalifah atau amir (pemimpin) Islam tidak pula menghalangi jihad, juga tidak menyebabkan jihad berhenti atau tertunda." Kemudian di halaman 170 katanya, "Jadi bom Bali adalah DEFOFFENSE JIHAD."

Bantahan
Di halaman sebelumnya (hal. 159), dia menuturkan bahwa faham jihad …
Wallahualambishawab.

Sumber : Majalah Asy Syariah, voll. I/No. 12/1425H/2005 dan www.asysyariah.com

Komentar : Yang bersangkutan hanya mencuplik-cuplik dari situs

6. Siapakah CMM ???
————-
http://cmm.or.id/cmm.php?id=P18&menu=eng Management of Center for Moderate Moslem (CMM)
Lembaga CMM berada di bawah naungan Yayasan Ummatan Washata, yang dibentuk para ulama dan tokoh agama dari NU, Muhammadiyah, dan perwakilan ulama/tokoh agama dari ASEAN dalam konferensi internasional Islam dan Radikalisme pada 13-15 Oktober 2003. Adapun para pengurus
yayasan sebagai berikut:
Dewan Penyantun:
Prof Dr A Syafii Maarif
KH Hasyim Muzadi
KH Ir Shalahuddin Wahid
Prof Dr Cecep Syarifuddin
Dewan Pendiri:
KH Dr Tarmizi Taher

KH Nuril Huda

Board of Director CMM
KH Dr dr Tarmizi Taher(Ketua/Indonesia)
KH Nuril Huda(Wakil Ketua/Indonesia)
Prof Dr Azyumardi Azra (Anggota/Indonesia)
KH At-Tabik Ali (Anggota/Indonesia)
Dr Zaenah Anwar (Anggota/Malaysia)
Muhammad Zakaria (Anggota/Singapura)
Abdul Qayum Yusuf, M.D (Anggota/Kamboja)

Prof Thaha Basman (Anggota/Philipina)

H. Abdul Ghani (Anggota/Malaysia)

Muhammad An-Nakhai (Anggota/Malaysia)

Prof Dr Alwi Shihab (Anggota/Indonesia)

Dr Candra Muzaffar (Anggota/Malaysia)

Board of Executive

Executive Director :

M Hilaly Basya, S.Ag

Deputy of Exc. Director :

David K Alka

Staff of Programmer :

Rahimi, S.Pd

Drs Syamsuddin

Office Mng.

Ir. Muchsin

Secretary:

Eva Dhela

[b]Associate Reseacher :
Zuly Qodir MA (Yogyakarta)
Rafiq Mazni, MA (Malang)
Drs.Saefuddin Simon (Jakarta)
——————-
Jelas sudah, ternyata tulisan Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf dikopi-paste tanpa menyebutkan url sumbernya yang lengkap, walaupun menulis edisi cetaknya. Jadi ujung-ujungnya, Al Bilaly mendukung Pustaka Al Kautsar juga, simak kutipan di bawah ini :
1. Hina syaikh Rabi ibn Haadi al Madkhali hafidhohullah dgn istilah Jamiyyun
http://al-ahkam.net/home/index.php?name=MDForum&file=viewtopic&t=8737
Tajuk Kebangkitan Gerakan Islam:Dari Masa Transisi Menuju Kematangan
Tajuk asal al-Shahwah al-Islamiyyah min al-Murahiqah ila al-Rusyd
Penulis Syaikh Yusuf al-Qaradhawi
Penerbit Pustaka al-Kautsar,Jakarta 2003
Pengedar Pustaka Indonesia (03-2692 3940,03-2698
1742) oleh Hafiz Firdaus Abdullah (www.al-firdaus.com)
Sepuluh poin utama yang digariskan dalam buku ini oleh Syaikh al-Qaradhawi kepada gerakan Islam mutakhir tanpa khusus kepada mana-mana aliran tertentu. Di dalam memberi poin-poin di atas, Syaikh al-Qaradhawi telah menegur secara positif beberapa aliran Islam mutakhir yang masyhur seperti Jamaah Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, Jamaah Jihadi, Jamaah Wahabiyyah, Jamaah al-Albaniyyun, Jamaah al-Jamiyyun (pengikut Syaikh Rabi’ al-Madkhali), Jamaah Syururiyyun, Jamaah Ikhwan al-Muslimun, Jamaah Sufisme dan tareqat-tereqat mereka dan pelbagai lagi.
*** Perhatikan bedah buku Siapa Khawarij Siapa Teroris yang mencela habis beliau, sama-sama khan benci ulama Salafi ***
2. Al Kautsar memiliki agen di Jogjakarta, Sarana Hidayah. Simak tulisan ttg Ridwan Hamidi sebelumnya. DAFTAR DISTRIBUTOR DI SELURUH INDONESIA MEDIA DAKWAH Jl.Kramat Raya No.45 Jakarta Pusat Telp.(021) 3153928 SARANA HIDAYAH Karang Asem CT III No.3 ( Utara Fakultas Kehutanan UGM) Yogyakarta Telp. (0274) 521637 Pesan sekarang via SMS : 0818 049 062 061 atau email : :kautsar@centrin.net.id

Kesimpulannya, dimana-mana hizbiyyun, turotsiyyun, selalu bergabung bila hendak mencela 1 golongan yg selamat yakni Ahlussunnah, walaupun mereka ada di 72 golongan yg terpecah-belah satu sama lainnya.

Mudah-mudahan data awal ini dapat menggugah ikhwah dan asatidzah untuk menuliskan jawaban syubhatnya yang fatal selama ini, yg terus ditiup-tiupkan terkait 2 ustadz kita al Ustadz Abal Mundzir Dzul Akmal dan Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf. Wallahul musta’aan

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh…

Ibrahim Abu Abdillah Al Andunusi

Tambahan :
Al Bilaly, seorang yg patut dibenci, dihina dan dilecehkan, sebagaimana kadar kebencian dia pada asatidzah padahal beliau berdua kita kenal tsiqah, tapi Al Bilaly tak segan menggelari dgn sebutan hina. Al Bilaly tidak cukup dgn menghina, menjelekkan, kini situsnya dihilangkan jejaknya dari FAKTA yang pernah ada, dihapus fotonya, dihapus link teman anehnya diganti link masyayikh. Link FRIENDS kini berisikan ::FRIEND
Imam Al Albani
Imam Ibn Baz
Imam Ibn Ustaimin
Syeikh Muqbil bin Hadi>
Syeikh Rabi bin Hadi>
Syeikh Ali Hasan Al Halaby>
dst.
Akan tetapi bukan ini poin pembicaraan kita, poinnya adalah dia suka berkelit dan menghindar, seakan FAKTA disini jadi seakan Falsu dan Tak Nyata adanya. Bisa jadi lain waktu dia punya kesempatan menjatuhkan asatidzah dan dakwah, lantas dia lakukan kembali. Wallahu a’lam.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham